Bahan Khotbah Minggu ke-6 Tanggal 10 Februari 2019 ALLAHKU DAHSYAT (Inang Matande tu Puangku)
Bahan Khotbah Minggu ke-6 Tanggal 10 Februari 2019
ALLAHKU DAHSYAT
(Inang Matande tu Puangku)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 138:1-8 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 6:1-8 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Korintus 15:1-11 |
| Bacaan 3 | : Lukas 5:1-11 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 138:1-2 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Mazmur 138:8 |
Tujuan:
- Warga jemaat semakin sadar akan kedahsyatan Allah.
- Warga jemaat mengandalkan kedahsyatan Allah.
Pemahaman Teks
Yesaya 6:1-8 menceritakan tentang begitu dahsyatnya kemuliaan Tuhan yang menyadarkan Yesaya bahwa ia akan binasa karena dirinya penuh dengan kenajisan. Yesaya sadar bahwa ia adalah seorang yang najis bibir dan tinggal berada di antara mereka yang juga najis bibir. Hal itu sekaligus mau mengatakan bahwa ia sebenarnya bukan orang yang layak untuk mendapat kesempatan dan penglihatan itu. Ia juga bukanlah orang yang berbeda dengan orang sekitar pada zamannya. Ketakutan Yesaya akan binasa muncul, setelah ia menyadari akan dirinya yang penuh dosa dan seharusnya tidak layak melihat Tuhan Sang Raja alam semesta.
I Korintus 15:1-11 menjelaskan pokok masalah tentang kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kebangkitan Tuhan Yesus di hari ketiga membuktikan kedahsyatan-Nya mengalahkan kuasa dosa, Iblis dan juga maut. Oleh karena Jemaat Korintus diganggu oleh orang-orang yang tidak percaya akan kebangkitan, maka penting bagi Paulus untuk membahasnya (ay.3). Keraguan orang-orang Korintus akan kebangkitan Kristus dijawab oleh Paulus dengan memberikan bukti meyakinkan, bahwa ada banyak orang yang telah melihat Kristus setelah peristiwa kebangkitan, antara lain Kefas (Petrus), kedua belas rasul (ay. 5), lebih dari lima ratus saudara sekaligus (ay.6), Yakobus, kemudian semua rasul (ay. 7), dan Paulus sendiri (ay. 8). Mereka semua adalah saksi dari kebangkitan Kristus. Paulus pun yang sudah diubahkan adalah saksi otentik dari kuasa kebangkitan Kristus (ay. 9-10). Di sini jelas bahwa kedahsyatan kuasa Allah sanggup mengubah kehidupan anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh seperti Paulus, sehingga ia bekerja melebihi orang lain. Sekalipun menganggap diri seorang yang paling kecil, tetapi Paulus mampu mempersembahkan hidup yang luar biasa bagi Allah. Bukan karena ia kuat, tetapi karena kuasa Allah itulah yang mendorongnya lebih bersemangat.
Lukas 5:1-11 juga menceritakan kedahsyatan kuasa Allah di dalam Yesus yang mengubah pengalaman seluruh hidup Simon Petrus dan teman-temannya dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Dikisahkan dalam perikop ini, bahwa Simon Petrus dan teman-temannya sedang membereskan jalanya. Mereka adalah nelayan profesional yang semalaman menjala ikan tetapi tidak mendapatkan hasil. Hidup mereka sangat tergantung dari hasil tangkapan ikan. Di tengah kesibukan mereka membereskan jala, datanglah Yesus menghampiri mereka. Setelah terjadi dialog sejenak, Yesus bersama Petrus dan teman-temannya bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala. Hasilnya sungguh di luar dugaan, mereka mendapat banyak ikan bahkan jala mereka nyaris koyak. Hal menarik dari kisah ini ialah bahwa Simon menyadari keadaan dirinya yang tidak pantas mendapat perhatian serta sapaan dari Yesus. Yesus tahu akan ketulusan hati Simon, sebab itu Ia berkata: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjadi penjala manusia.” (ay. 10). Semenjak itu hidup Simon berubah haluan, dari seseorang yang hanya memikirkan untuk kepentingan dirinya sendiri, mencari ikan, mendapat untung dari hasil jualan ikan, menjadi seorang yang memikirkan misi dan perutusan Tuhan, sekalipun untuk itu ia masih harus menjalani proses selama tiga tahun bersama-sama dengan Yesus. Tiga tahun ia hidup bersama Yesus. Ia melihat apa yang dilakukan Yesus, mendengarkan segala pengajaran Yesus, bahkan menyaksikan peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus.
Benang merah dari ketiga bacaan di atas terletak pada kedahsyatan kuasa Allah yang mengubah pengalaman hidup setiap orang, mulai dari yang merasa dirinya najis dan lemah (Yesaya), hina (Paulus) sampai kepada mereka yang hanya mementingkan darinya sendiri (Simon), menjadi orang yang memikirkan dan melaksanakan panggilan Allah. Hal ini juga menegaskan kedahsyatan kuasa Allah bisa berlaku bagi siapa saja, kapan dan dimana saja. Kedahsyatan kuasa Allah tidak dapat dibatasi oleh apapun.
Pemahaman bahan utama
Yesaya 6 (juga 8:1-18) berisi sebuah kesaksian yang merupakan otobiografi Yesaya tentang pengalamannya sebagai nabi. Pasal-pasal ini (6:1-8:18) merupakan pengumpulan nubuat-nubuat Yesaya sepanjang waktu tertentu, yaitu sejak pemanggilannya sampai zaman perang Syro-Efraimi (734-733 SM), di mana Raja Ahas menolak nasihat Nabi Yesaya dan lebih mengandalkan diri pada kekuatan manusia dan politik duniawi. Dapat diterima bahwa dalam pasal 6 ini Yesaya sendiri melukiskan dan menceritakan tentang segala pengalamannya secara rohani dan psikologis, yang pada satu pihak dapat berhubungan erat dengan Allah yang dahsyat karena kekudusan-Nya, akan tetapi pada pihak lain menginsyafi betapa besar perbedaan antara Allah yang mahakudus dengan manusia yang najis dan lemah.
Penglihatan itu terjadi dalam tahun matinya Raja Uzia (740 SM). Sebenarnya Raja Uzia dari awalnya adalah seorang raja yang saleh dan takut akan Tuhan, sehingga ia sukses dan berhasil. Umat Israel pun penuh damai dan sejahtera dalam pemerintahannya. Namun dalam tahun-tahun berikutnya ia menjadi sombong dan angkuh. Ia melakukan hal yang tidak benar di hadapan Tuhan dengan menyerobot tugas Imam besar di bait Allah yang seharusnya tidak boleh ia lakukan (2 Taw. 26:18-21). Walau para Imam sudah memperingatkannya untuk tidak melakukan pembakaran ukupan kudus itu dan supaya tidak masuk ke tempat kudus tersebut (sebab hanya orang-orang yang dikuduskanlah yang boleh melakukannya), ia tidak mau mengindahkannya. Justru ia berbalik memarahi Imam Azarya dan rombongan Imam lainnya, sehingga akhirnya ia dihukum Tuhan. Raja Uzia tidak mendapat kehormatan lagi di hadapan Allah. Ia kena penyakit kusta, sehingga dikucilkan sampai pada kematiannya. Perilaku raja Uzia yang tidak menghormati kekudusan Allah dan yang mengotori kekudusan Tuhan, bahkan sebaliknya mengotori dan mempermainkan kekudusan Tuhan, telah membawa petaka baginya, yakni menjalani hidup yang berujung pada kehinaan dan kematian.
Dalam penglihatan itu, Yesaya melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi menjulang dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Pandangan ini memperlihatkan keagungan Tuhan yang tentunya jauh melebihi keagungan raja-raja yang ada dan terutama yang memerintah ketika itu. Pada peristiwa kematian Raja Uzia itu, Israel merasa terpukul dan penuh kesedihan, sebab di bawah pemerintahan Raja Uzia mereka boleh menikmati kemakmuran dan kesejahteraan. Ketika mendengar bahwa Raja Uzia dihukum dan mati, Israel pun berada dalam suasana ketakutan. Mereka sebelumnya memahami bahwa Raja Uzia dapat membawa kemakmuran bagi mereka. Karena itu, jika Allah kemudian memperlihatkan kekuasaan-Nya yang jauh mengatasi keagungan raja-raja khususnya Raja Uzia, maka Ia hendak mengatakan bahwa bukanlah keagungan Raja Uzia dan kekuasaanya yang menjamin dan sumber kemakmuran tersebut, tetapi Tuhanlah yang membangkitkan Raja Uzia dan yang memberkatinya. Itu sebabnya, ketika Uzia sudah berlaku tidak setia, serta mempermainkan pelayanan dan kekudusan Tuhan, maka Tuhan menghukumnya. Demikian juga Israel yang telah diberkati Tuhan dengan berbagai bentuk kemakmuran. Sumber kemakmuran mereka bukanlah dari raja Uzia ataupun dari diri mereka sendiri. Karena itu, ketika mereka tidak mau bertobat dan memperbaiki kerohanian mereka yang penuh kebobrokan, maka Tuhan akan menghukum mereka.
Dalam penglihatan itu, Yesaya melihat para Serafim (kata kerja Ibrani saraf yang berarti “menyala” atau “membakar”) yang mengawal dan menjaga kekudusan Tuhan. Para Serafim ini adalah golongan makhluk yang menyerupai malaikat. Tugas para Serafim ialah senantiasa siap untuk melaksanakan segala perintah Tuhan dengan segera dan dengan semangat yang bernyala-nyala. Enam sayap para Serafim menjadi simbol dari mobilitas dan gerak cepat mereka. Arti kata Serafim itu sendiri, yakni “menyala” atau “membakar”, menunjukkan bahwa mereka bertindak juga seperti kilat yang membakar dan bernyala-nyala. Demi kekudusan dan kemuliaan Tuhan, mereka para Serafim itupun tidak dapat memandang wajah Tuhan. Mereka menutupi muka mereka dan kaki mereka (di sini dalam arti ketelanjangan mereka).
Tugas lain para Serafim yang dilihat oleh Yesaya ialah memuji-muji Tuhan (ay.3). Para Serafim bernyanyi silih berganti dan saling menjawab. Mereka memuji-muji hakikat Tuhan yang kudus. Tuhan adalah Yang Kudus di surga, di alam semesta dan di bumi. Kekudusan Tuhan ini mau menegaskan bahwa Tuhan melebihi segala makhluk dan alam semesta; dan Tuhan tidak mengenal dosa dan kenajisan, sehingga Dia akan menghukum umat-Nya yang najis (ay.9-13a). Sebaliknya, Dia yang Mahakudus merupakan juga Penyelamat bagi umat-Nya; Dia menguduskan Yesaya dan mengutusnya sebagai nabi kepada umat-Nya. Maka kekudusan itu pada satu pihak menimbulkan jarak yang mutlak antara Tuhan dan manusia, akan tetapi pada pihak lain juga menunjukkan hubungan persekutuan Tuhan dengan umat-Nya.
Pernyataan Tuhan mengenai kekudusan-Nya yang dinamis itu menggetarkan alas ambang pintu Bait Allah. Inilah pernyataan kehadiran Tuhan yang mahakudus. Dengan ini Bait Allah itu seolah-olah dalam penglihatan itu berubah menjadi sebuah balai surgawi, tempat Allah bersemayam.
Ayat 5-8 berisi penyucian dan pengutusan Yesaya. Di hadapan kekudusan Tuhan, Yesaya sekonyong-konyong menjadi sadar mengenai keadaan dirinya sendiri dan bangsanya. Rasa takut dan gelisah meliputi hati sanubarinya. Dia teringat akan akibat yang dahsyat yang dapat menimpa dirinya, karena dia sudah melihat Tuhan yang dahsyat dalam kekudusan-Nya (bnd.Kel.33:20). Yesaya berteriak: “Celakalah aku; aku binasa! Sebab aku adalah orang yang najis dan dari bangsa yang najis!” Yesaya dan bangsanya tidak dapat ikut bernyanyi bersama-sama dengan para Serafim itu, karena mereka adalah najis bibir. Walaupun mereka dapat memenuhi segala peraturan seremonial yang berlaku untuk kebaktian di dalam Bait Allah yang di atas bumi itu, namun pada hakekatnya mereka masih belum pantas untuk dapat mengambil bagian dalam kebaktian yang tertinggi di dalam balai surgawi yang nampak di dalam penglihatan itu. Yesaya benar-benar menyadari dan berhadapan dengan kenyataan ilahi yang ada di belakang segala bentuk dan tata ibadah yang nampak secara lahiriah.
Oleh karena itu Yesaya menyadari dan mengakui kekecilannya dan kenajisannya. Ia telah dilahirkan dan hidup di tengah-tengah bangsa yang najis. Kenajisan adalah mutlak dan tidak ada titik-titik kesucian sedikitpun pada dirinya. Perasaan dan pengakuan Yesaya ini memang bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan karena demikianlah sebenarnya hakekat manusia yang berdosa (bnd. Rm. 7:24). Dalam ayat 6-7, seorang dari para Serafim secara simbolis menyucikan Yesaya karena perintah TUHAN yang mahakudus itu. Bara diambil dari mezbah dan disentuhkan pada mulut Yesaya. Ini berarti, bahwa Allah berkenan mengampuni kesalahannya dan menghapus kenajisannya. Penyentuhan mulut dengan api dihubungkan dengan tugas kenabian Yesaya yang menuntut kemurnian dalam memberitakan Firman Tuhan (bnd. Zef. 3:9). Demikianlah Yesaya disucikan dan disiapkan untuk mengemban tugas pengutusannya.
Dengan demikian Yesaya tidak lagi najis bibir. Ia pun diperbolehkan ambil bagian dalam ibadat dan pelayanan yang suci. Rahmat yang diterimanya tidaklah untuk dinikmati oleh diri sendiri saja, melainkan juga telah memberi dorongan yang kuat untuk dapat menyaksikannya kepada bangsanya. Yesaya tidak lagi merasa takut. Sebaliknya ia menyadari suatu tugas baru yang dipercayakan padanya. Terdorong oleh semangat yang kudus, Yesaya memberi jawabannya yang spontan: “Inilah aku, utuslah aku!” Jawaban ini pun menunjukkan segi-segi yang menarik, yaitu sebagai suatu jawaban pribadi dan spontan. Yesaya tidak lebih dahulu minta penjelasan atau keterangan-keterangan lebih lanjut mengenai panggilan itu. Lebih-lebih Yesaya tidak mengadakan “tawar-menawar” seperti halnya Musa atau Yeremia. Sebaliknya, jawabannya menunjukkan penyerahan diri yang sebulat-bulatnya bagi pelayanan dan pengabdian diri kepada Tuhan yang kudus.Tugas panggilan missioner semacam itu juga tetap diberikan kepada setiap orang percaya. Untuk itu, Tuhan juga menantikan respons yang tegas dan relah dari orang percaya di zaman modern ini juga.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
- Belajar dari kisah panggilan Tuhan bagi Yesaya, Simon dan Paulus, tampak jelas betapa Tuhan pertama-tama tidak mencari orang saleh dan benar untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia. Yang dibutuhkan oleh Tuhan adalah orang yang mau diubahkan oleh Firman dan kekudusan-Nya. Dewasa ini banyak pengikut Yesus Kristus terpesona akan kasih dan kebaikan Allah, tetapi tidak banyak yang mau berpikir tentang kekudusan-Nya. Tanpa sadar, kita pun bisa terjebak dalam kenyamanan hidup seperti Raja Uzia. Memiliki harta, asuransi, suami, istri, anak, kepandaian, karier, kedudukan, tentu saja tidaklah salah. Namun di atas semuanya itu, harus disadari betapa Tuhan sumber segala berkat dan satu-satunya yang patut disembah.
- Tuhan mengubah hidup Yesaya dengan pengudusan yang dilakukan oleh Allah terhadap pribadinya. Allah perlu menguduskan bibirnya terlebih dahulu, supaya bibir itu layak untuk menyampaikan kehendak Tuhan dengan benar. Seringkali kita juga mempergunakan bibir kita untuk hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, misalnya dengan mengeluh, berkata sia-sia, marah dan membicarakan keburukan orang lain. Kita perlu membuka diri supaya Tuhan menguduskan bibir kita dengan Firman-Nya, sehingga bibir kita jadi kudus dan bisa dipakai oleh Tuhan untuk bernubuat dengan benar dan tepat.
- Kedahsyatan Tuhan hanya akan jika kita mau diubahkan oleh Firman Allah dan menguduskan diri bagi-Nya. Memberi diri dikuduskan untuk Tuhan, bukan pertama-tama menjadi pendeta atau menjadi Majelis Gereja, tetapi lebih dari itu kita memberikan hidup untuk Tuhan. Sejalan dengan itu, kita juga harus memiliki batas teritorial dalam hidup kita yang menyatakan bahwa jelas kita adalah milik Allah dan bukan milik dunia. Kita harus memiliki batasan yang jelas antara dosa dan kebenaran, antara yang baik dan yang jahat.
Diposting tanggal 08 Feb 2019
