Bahan Khotbah Minggu ke-33 Tanggal 19 Agustus 2018 HIKMAT YANG BENAR (Kakinaan Tongan)
Bahan Khotbah Minggu ke-33 Tanggal 19 Agustus 2018
HIKMAT YANG BENAR
(Kakinaan Tongan)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 111:1-10 |
| Bacaan 1 | : 1 Raja-Raja 3:3-14 |
| Bacaan 2 | : Efesus 5:15-21 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Yohanes 6:51-58 |
| Nas Persembahan | : Efesus 5:20 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Yohanes 6:55 |
Tujuan:
- Jemaat mengerti dan memahami hikmat yang benar
- Jemaat menghidupi dan melakukan kehendak Tuhan berdasarkan hikmat dari Allah
Pemahaman Teks
Mazmur 111 menjadi contoh bagaimana pemazmur menaikkan ungkapan syukurnya: “Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaat” (ayat 1). Pemazmur tidak hanya memuji Allah secara pribadi tetapi juga secara berjemaah (ayat 1). Pemazmur memuji Tuhan karena menikmati kebaikan dan pertolongan Tuhan dan melihat dunia ini penuh dengan perbuatan ajaib Tuhan yang patut digemakan (ayat 2-4). Perbuatan Allah yang tidak berubah menjadi dasar bahwa perjanjian-Nya itu kekal (ayat 7-9) dan hanya orang berhikmatlah yang melandaskan hidupnya pada Tuhan (ayat 10).
1 Raja-Raja 3:3-14 mengisahkan tentang kehidupan Salomo yang hidup menunjukkan kasihnya kepada Tuhan dengan menuruti ketetapan-ketetapan ayahnya Daud. Karena itu, Salomo meminta kepada Tuhan untuk mengerti hikmat Allah sehingga dapat melakukan kehendak Tuhan. Untuk mengerti hikmat Allah ini, maka manusia memintanya kepada pemberi hikmat. Pemberi hikmat itu sendiri diterima dari Yesus sang pemberi hidup. Hidup dalam Yesus membuat kita mengerti dan melakukan kehendak Allah. Karena itu dalam Yohanes 6:51-58 Yesus menegaskan bahwa Ia adalah roti sejati yang turun dari sorga yang member hidup.
Efesus 5:15-20, menjelaskan bahwa rasul Paulus memberi penekanan tentang bagaimana anak-anak Tuhan hidup dalam terang dengan mengutamakan kehendak Tuhan dalam seluruh hidupnya. Untuk bisa melakukan hal itu, anak-anak Tuhan harus memiliki hikmat yang berasal dari Allah. Dalam PL, hikmat (khokhma), berarti kepintaran mencapai hasil yang dikehendaki. Tempat kedudukannya ialah hati, pusat keputusan moral dan intelektual[1] (bnd. 1 Raja-Raja 3:9,12). Hikmat dalam arti utuh dan mutlak hanyalah milik Allah. Hikmat alkitabiah sekaligus bersifat agamawi dan praktis dan berasal dari takut akan Tuhan (Ayub 28:28; Mzm 111:10; Ams.1:7; 9:10).
Dalam PB, hikmat (Sophia) bersifat praktis sama seperti dalam PL orang yang berhikmat ialah mereka yang kepadanya Allah memberi hikmat sebagai karunia seperti Salomo (Mat.12:42; Luk.11:31), Stefanus (Kis.6:10), Paulus (2 Pet. 3:15). Hikmat diberikan bukan saja bagi pemimpin Gereja (Kis.6:3), tapi juga bagi orang-orang percaya untuk memahami maksud-maksud Allah dalam penyelamatan (Ef.1:8,9) dan supaya dapat berjalan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Dalam ayat 15, kata yang digunakan adalah “Sophos” orang arif, bijak, dan “asophos” orang bebal. Paulus menekankan, penting untuk memiliki hikmat agar dapat hidup dengan bijaksana dan tetap mempertahankan ciri sebagai anak-anak terang (mengerti kehendak Tuhan, tidak mabuk oleh anggur yang dapat menimbulkan hawa nafsu, berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohani).
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
- Hidup dengan hikmat yang benar (15-18)
Rasul Paulus menekankan kepada jemaat di Efesus, bahwa dalam menyandang status sebagai anak-anak terang, mereka hendaknya hidup dengan hikmat yang benar. Karena itu, umat Allah harus hidup menuruti kehendak Allah (ayat 1), hidup di dalam kasih seperti yang diteladankan Kristus kepada mereka (ayat 2). Dalam ayat 15 Paulus kembali memberi penekanan kepada umat di Efesus bagaimana semestinya mereka hidup. Rasul Paulus mengarahkan mereka untuk hidup sebagai orang bijak (Sophos), dengan mempergunakan waktu yang ada dengan sebaik mungkin sambil mengusahakan bagaimana mereka mengerti dan hidup dengan melakukan kehendak Allah. Menjadi orang berhikmat berarti mengutamakan kehendak Allah, hidup dalam kepenuhan Roh di dalam seluruh hidup (ayat 17-18)
- Buah dari hidup berdasarkan hikmat yang benar (ayat 19-21)
Rasul Paulus tidak berhenti hanya pada hidup menuruti kehendak Allah, namun lebih jauh ia pun menekankan dampak apa yang mereka dapat peroleh ketika hidup mereka benar-benar berdasarkan hikmat dan melakukan kehendak-Nya. Di sini Paulus menekankan bagaimana respons mereka yakni berkatalah seorang dengan yang lain dengan mazmur dan pujian. Mazmur 111 menjadi gambaran bagaimana pemazmur terdorong untuk menaikkan pujian syukurnya kepada Allah ketika ia menyaksikan perbuatan dan kebajikan Allah yang begitu luar biasa dalam hidupnya. Terlebih lagi ketika umat bukan hanya menyaksikan perbuatan ajaib Allah, tetapi lebih dari itu, mereka menerima sang Pemberi hidup yaitu Yesus Kristus. Hidup dalam kerendahan hati satu dengan yang lainnya, dan takut akan Tuhan.
Diposting tanggal 15 Aug 2018
