Selasa, 10 September 2019 1 Timotius 4:1-16 KETAATAN YANG MENDEWASAKAN (Kamengkaolan mepamatona’)
Selasa, 10 September 2019 1 Timotius 4:1-16
KETAATAN YANG MENDEWASAKAN
(Kamengkaolan mepamatona’)
Dalam tradisi masyarakat Toraja, wewenang menimbang perkara umumnya ada pada orang-orang tua atau yang di tuakan. Kata dituakan menegaskan bahwa tua yang di maksud tidak selalu terkait dengan usia. Seseorang di tuakan, bisa saja karena kepandaian (kinaa), keberanian (barani) atau karena statusnya. Karena itu, tepatlah ungkapan yang mengatakan, “tua itu pasti, namun dewasa itu pilihan”. Timotius bisa menjadi teladan dalam hal ini.
Dalam usia muda, Timotius sudah sangat di percaya oleh Paulus. Tidak tanggung-tanggung, ia dipercaya meluruskan berbagai ajaran sesat yang berkembang di tengah-tengah jemaat (ay.1-2). Ajaran sesat dalam konteks pelayanan Timotius mungkin seperti maraknya hoaks dalam situasi kita saat ini. Pertanyaannya, bagaimana bisa seorang anak muda seperti Timotius mampu menangani persolan penyesatan dalam Jemaat? Apakah karena kepandaian, keberanian, atau karena statusnya? Ternyata bukan itu. Timotius menjadi pemuda yang sangat dewasa dan di percaya menimbang perkara di dalam jemaat karena ketaatannya kepada Allah (ay.6). Ia bertekun dalam ibadah dan mempergunakan dengan baik karunia yang ada pada dirinya (ay.13-15). Seperti yang diyakini Paulus, tidak ada yang akan merendahkannya sekalipun ia masih muda (ay.12). Ia akan menjadi teladan bagi banyak orang.
Semakin dewasa seseorang menyikapi berbagai realitas kehidupan, maka semakin kecil peluang munculnya persoalan yang besar. Hari ini, kita belajar dari Timotius bahwa tidak perlu menunggu hingga tua untuk menjadi dewasa. Caranya latihlah diri beribadah kepada Tuhan dalam kebenaran dan ketaatan. Ini adalah latihan seumur hidup. Amin
Diposting tanggal 03 Sep 2019
