MENYAMBUT MASA DEPAN PERLU PERUBAHAN POLA PIKIR
Kalau kita melihat kehidupan warga jemaat yang terdampak bencana banyak mengalami pergumulan khususnya dalam soal bagaimana bangkit dari persoalan ekonomi keluarga. Dalam kondisi demikian maka kegiatan pembinaan yang dilakukan pada hari ini (14/9/2019) dalam rangka ketahanan pangan amatlah tepat dan perlu berkesinambungan. Artinya, warga jemaat perlu dituntun dan didampingi untuk melihat potensi apa yang ada disekitarnya, bahkan ada bahan atau potensi yang selama ini menjadi sebuah masalah bagi petani dan masyarakat yang ada di desa, dan ternyata setalah warga jemaat dituntun dalam pembinaan ternyata itu merupakan sebuah potensi yang luar biasa dan dapat diolah demi peningkatan kesejahteraan anggota jemaat. Hal ini tentu memerlukan bimbingan atau pendampingan sama seperti yang dilakukan saat ini dengan kehadirian fasilitator Pnt. Aleksander Mangoting dari Gereja Toraja. Hal tersebut diungkapkan oleh Pdt. Karlos, Pither, Markus, Martha dan beberapa lagi warga jemaat Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) sesaat sesudah pembinaan yang dilaksanakan di Jemaat Kalvari Simoro pada tanggal 14 September 2019 diikuti sejumlah warga jemaat Simoro dan sekitarnya berlangsung penuh kehangatan walaupun untuk pertama kali Fasilitator bertemu dengan warga yang hadir.
Lebih jauh diungkapkan oleh Pdt. Karlos, Direktur Pendidikan dan Pelatihan GPID bahwa pembinaan saat ini amat penting karena fasilitator memberikan tantangan tetapi juga menuntun warga jemaat untuk melihat potensi, mengenali masalah lapangan kemudian dapat mengelola hal tersebut menjadi sebuah potensi yang dapat diolah menjadi potensi pengembangan ekonomi jemaat. Juga memberikan pandangan baru dan perubahan pola pikir (kalau Bapak Presiden Joko Widodo menyebutnya Revolusi mental, Red) yang amat penting bagi warga jemaat untuk memandang masa depan khususnya untuk menumbuhkan semangat penuh harapan menyambut masa depan yang lebih baik.
Pelatihan
Berdasarkan diskusi dan kesepakatan dalam pembinaan yang berlangsung penuh kekeluargaan ini disepakati antara peserta dari jemaat dengan fasilitator yang akan dikoordinir oleh Ketua III Sinode GPID untuk ke depan dilakukan pelatihan atau praktik berdasarkan kebutuhan Jemaat. Artinya langsung praktik sesuai kebutuhan dan akan disiapkan lebih awal. Jadi kegiatan pelatihan ini yang akan langsung diaplikasikan dalam kehidupan warga jemaat sebagai bagian dari bentuk kegiatan ketahanan pangan bagi warga Gereja.
Untuk memenuhi harapan warga jemaat yang terdampak secara khusus titik-titik yang menjadi tempat pembinaan menurut Pdt. Karlos akan diusahakan bekerjasama dengan berbagai pihak guna mewujudkan harapan warga jemaat untuk ke depan melakukan pelatihan atau praktik langsung di lapangan berdasarkan potensi yang sudah gali bersama warga jemaat.
Penyadaran warga jemaat
Proses yang berlangsung dalam pembinaan kali ini cukup penting dan bagus untuk menyadarkan warga jemaat bahwa begitu banyak potensi yang ada disekitar kita tetapi memerlukan perubahan pola pikir untuk dapat memanfaatkan. Apa yang dipaparkan dan proses yang berlangsung dipandu oleh Fasilitator Aleksander Mangoting, bagi kami amat penting untuk membangun kesadaran warga jemaat dan untuk merubah pola pikir. Ini amat penting dan tidak sekedar memberi pengetahuan. Model pembinaan ini kiranya kita terus kembangkan untuk merubah pola pikir warga jemaat untuk melihat potensi dan masa depan penuh harapan.
Bahkan kalau memungkinkan, ke depan untuk dapat ditularkan ke jemaat lain khususnya yang terdampak bencana di Sulawesi Tengah, karena proses untuk menemukan sendiri potensi-potensi yang selama ini kurang diberi perhatian, tetapi hal itu amat potensial kalau dikelola dengan baik oleh warga jemaat.
Diposting tanggal 24 Sep 2019
