Kamis, 3 oktober 2019 Ratapan 3:18-26 TUHAN ADA (Manassa den tu Puang)
Kamis, 3 oktober 2019 Ratapan 3:18-26
TUHAN ADA
(Manassa den tu Puang)
Beberapa saat setelah pembunuhan Van de Loosdrecht, sang istri, Ida, pindah ke Solo dan bekerja di sebuah Rumah Sakit. Di sana ia kembali mengalami dukacita. Anak laki-lakinya, Boby, meninggal dunia. Suatu pagi, dalam keadaan pilu dia naik ke sebuah perbukitan. Dia duduk dipinggiran tebing dengan perasaan dan pikiran yang kacau. Pada saat itulah dia mendengar bisikan, “Aku tidak meninggalkan engkau. Aku tidak akan pernah meninggalkan engkau”. Suara ini menuntunnya kembali ke Rumah Sakit di mana orang-orang mulai panik mencarinya.
Pengalaman Ida menolong kita memahami kondisi bangsa Israel di pembuangan. Dalam kebingungan, bangsa Israel bertanya-tanya tentang kasih setia Tuhan kepada mereka (ay.18). Mereka mendapat jawabannya. Pengalaman perjalanan nenek moyang mereka bersama Tuhan meyakinkan mereka bahwa tidak berkesudahan kasih setia Tuhan, rahmat-Nya tidak habis dan selalu baru setiap hari (ay.22). Karena itulah mereka menolak putus asa. Mereka sungguh tidak berdaya, namun mereka masih punya satu hal yaitu pengharapan. Mereka tahu bahwa Tuhan baik kepada orang yang berharap kepada-Nya (ay.25). Dalam pengharapan mereka menantikan pertolongan Tuhan (ay.26).
Pengharapan itu tidak mengecewakan. Kita boleh kehilangan banyak hal. Namun, jangan pernah kehilangan pengharapan. Seperti Ida dan bangsa Israel, dalam pengharapan mereka dimampukan melihat kasih setia Tuhan. Bangsa Israel dalam pengharapan sanggup berkata, Tuhan itu baik. Dalam pengharapan, Ida diyakinkan bahwa Tuhan itu ada dan tetap ada. Karena itu, percayalah bahwa dalam pengharapan kepada Tuhan kita akan mendapat kekuatan dan topangan. Amin
Diposting tanggal 24 Sep 2019
