Bahan Khotbah Minggu ke-27 Tanggal 5 Juli 2020 KEBEBASAN SEJATI Katilendokan Sundun
Bahan Khotbah Minggu ke-27 Tanggal 5 Juli 2020
KEBEBASAN SEJATI
Katilendokan Sundun
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 145:8-13 |
| Bacaan 1 | : Zakaria 9:9-17 |
| Bacaan 2 | : Roma 7:13-26 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Matius 11:20-30 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 145:10 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Amsal 11:19 |
Tujuan:
- Jemaat menghayati makna pembebasan sejati yang diterima dalam Yesus Kristus.
- Jemaat menjalani kehidupannya dengan sukacita sebagai orang beriman.
Pemahaman Teks
Zakaria 9:9-17 berisi salah satu dari nubuatan tentang datangnya Raja Mesias. Ia adil dan jaya (bdk. Yes.9, 11). Keadilan adalah prasyarat pertama Mesias untuk jabatan-Nya sebagai Raja yang menjadi dasar bagi damai sejahtera di dunia (bdk. Yes. 45:21; Yer. 23:5, 6; Mal. 4:2). Ia jaya, sehingga melenyapkan kuda dan busur perang (ay.10). Raja adil ini membawa penebusan yang adil bagi orang-orang milik-Nya. Ia lemah lembut, berbeda dengan Aleksander (pada waktu itu) yang sombong. Mesias ini pun datang dengan kerendahan hati dan itu diwujudkan dalam cara-Nya melakukan perjalanan, yaitu dengan mengendarai keledai, bukan kereta perang. Ini adalah pertanda bahwa kedatangan-Nya adalah untuk membawa perdamaian bagi Yerusalem dan bangsa-bangsa lain bahkan sampai ujung-ujung bumi. Itulah alasan utama mengapa kedatangan-Nya patut disambut dengan penuh sorak-sorai.
Roma 7:13-26 terbagi dalam dua bagian yaitu ayat 13-20, dan ayat 21-26. Pada bagian pertama, Paulus menegaskan bahwa Hukum Taurat itu baik (ayat.14: rohani) karena berasal dari Allah dan menggambarkan kehendak Allah yang sempurna, namun Paulus adalah manusia yang berdosa dan tidak sempurna sehingga menjadi hamba dosa. Selanjutnya pada bagian kedua Paulus secara jujur dan terbuka mengungkapkan pergumulannya yang luar biasa berkaitan dengan pertentangan dalam dirinya. Ia tahu bahwa Hukum Taurat itu baik, sehingga ia pun berjuang untuk melakukannya. Namun bersamaan dengan itu, keinginan-keinginan daging membuatnya ingin berontak melawan Hukum Taurat dan berbalik kepada dosa. Paulus sadar bahwa tidak ada seorangpun yang terbebas dari keinginan seperti itu sehingga tidak ada seorangpun yang mampu menaati Hukum Taurat secara sempurna, walaupun ia tahu bahwa itulah yang harus dilakukannya
Matius 11:16-19 berisi kecaman Yesus terkait penolakan orang-orang Yahudi terhadap Yohanes Pembaptis dan diri-Nya. Penolakan ini disebabkan kekerasan hati dan “mind set” mereka yang salah. Yohanes ditolak karena dianggap sebagai manusia aneh dan kerasukan setan, karena ia tidak makan roti dan minum anggur, makanan dan minuman yang umum pada waktu itu. Sementara Yesus ditolak karena dianggap sebagai teman dari orang berdosa dan pemungut cukai.
Dalam Matius 11:20-30 berisi pengakuan Yesus bahwa segala hal tentang Injil dan Kerajaan Allah sudah terpenuhi dalam diri-Nya, karena itu ayat 28-30 Yesus mengajak para pendengar-Nya untuk datang kepada-Nya karena adanya jaminan bahwa mereka akan mendapat kelegaan, serta belajar tentang kelemah-lembutan, rendah hati dan ketenangan jiwa.
Korelasi bacaan: Mesias yang dinubuatkan nabi Zakaria dengan sifat yang adil, jaya dan lemah lembut mewujud dalam Yesus Kristus. Yesus tampil dengan dan dalam kerendahan hati serta menawarkan kelepasan bagi setiap orang yang terbeban karena dosa. Hal ini jugalah yang membuat Paulus bersyukur bahwa Allah telah mengutus Yesus Kristus untuk melepaskan manusia dari belenggu dosa, sehingga tetap berusaha mewujudkan kehendak Tuhan.
Pokok-pokok pengembangan khotbah
1. Menentukan pilihan terhadap sesuatu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pada kasus-kasus yang sederhana, menentukan pilihan mau begini atau begitu, pergi ke sana atau ke situ, pergi atau tidak, pakai baju ini atau baju itu dan sebagainya, boleh jadi merupakan persoalan sepele bagi sebagian orang. Tetapi bagi sebagian orang lainnya, hal-hal tersebut kadang juga cukup membingungkan. Namun terlepas dari sepele atau tidak, sesungguhnya setiap pilihan yang ditetapkan dapat berdampak besar bagi kehidupan seseorang dan atau bagi banyak orang. Ada kasus yang kelihatannya sederhana, tetapi dampaknya bisa berakibat fatal karena salah dalam menyikapi dan merespon persoalan. Oleh karena itu orang bijak mengatakan, bahwa pilihan dan keputusan hendaknya ditetapkan dengan kepala dingin dan hati yang tenang. Jangan mengambil keputusan saat hati sedang emosi dan pikiran lagi kalut.
2. Roma 3:13-26 mengungkapkan dengan jelas pergumulan riil yang dialami Paulus. Ia tahu dan sadar sepenuhnya bahwa Hukum Taurat itu baik dan berasal dari Allah. Namun ia pun jujur mengakui, bahwa sebagai manusia biasa, ia masih dikuasai oleh dosa. Pada satu sisi ia tahu apa yang baik dan ingin ia lakukan, namun justru hal sebaliknya yang dia perbuat. Bagi Paulus, Hukum Taurat itu kudus, baik dan benar (Rm 7:12). Ia menjadi cermin bagi orang percaya untuk mengetahui betapa dalamnya kuasa dosa yang membelenggu manusia. Paulus mengalami pertentangan dalam dirinya tentang apa yang baik menurut kehendak Allah dengan hal buruk yang justru diperbuatnya. Dalam ilmu jiwa, Paulus mengalami apa yang dikenal dengan istilah splited mentality yaitu kondisi saat seseorang mengalami semacam kepribadian terpecah (terbagi), yakni pada satu sisi ingin melakukan sesuatu, tetapi pada saat yang sama apa yang dilakukannya justru bertolak belakang dengan yang dinginkannya. Ia merasa sebagai manusia yang celaka, namun ia pun bersyukur karena tidak dibiarkan berada dalam situasi seperti itu. Paulus sangat bersyukur dan lega, bahwa Allah telah mengutus Yesus Kristus untuk menyelamatkannya dan orang-orang lain dari keadaan yang sulit tersebut. Baginya, hanya dalam dan melalui Yesus, ia bisa memperoleh kebebasan yang sejati. Yesus sebagai pembebas yang sejati telah dinubuatkan para nabi dalam perjanjian lama seperti yang disampaikan oleh Zakaria. Mesias itu akan datang sebagai raja yang adil dan jaya, lemah lembut dan rendah hati. Raja yang adil dan jaya ini akan melenyapkan perang, membawa damai sejahtera bagi Yerusalem dan bagi bangsa-bangsa lain. Yesus menegaskan bahwa Mesias yang dijanjikan ini terpenuhi dan terwujud dalam diri-Nya sebagaimana penegasan-Nya sendiri dalam Matius 11:25-27. Karena itu Ia mengajak semua orang datang kepada-Nya untuk memperoleh kelegaan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan ketenangan jiwa. Dalam Dia-lah manusia dibebaskan dari akar segala persoalan yaitu dosa. Inilah kebebasan sejati yang dianugerahkan secara cuma-cuma kepada manusia.
3. Orang Kristen adalah orang-orang yang sangat beruntung, karena telah menerima anugerah keselamatan dengan cuma-cuma di dalam Yesus Kristus yang membebaskan dari kuasa dosa yang membelenggu kehidupan manusia. Kita menjadi manusia baru oleh karya Penebusan Yesus, sehingga dosa tidak lagi berkuasa atas kehidupan kita. Sekalipun demikian dalam menjalani hidup karunia Tuhan ini, jujur kita mengakuinya bahwa kadang (mungkin lebih dominan) kita melakoninya dengan pola hidup yang masih dikuasai dosa. Kita tahu dan sadar benar bahwa”sesuatu” itu tidak berkenan kepada Allah, namun justeru kita lebih tertarik untuk melakukannya. Dengan demikian, kita juga selalu mengalami apa yang Paulus rasakan dan alami sebagaimana yang diungkapkan dalam pembacaan kita dari kitab Roma hari ini. Kehidupan yang kita jalani adalah hidup dalam perjuangan yang terus menerus untuk sedapat-dapatnya dijalani dalam ketaatan kepada Allah. Karena itu seperti Paulus, kitapun senantiasa bersyukur bahwa oleh dan hanya di dalam Yesus Kristus, kita memperoleh kebebasan sejati. Dibutuhkan semangat dan keyakinan yang teguh untuk menjalani kehidupan ini agar tidak takluk dan dikuasai dosa, namun selalu mengimplementasikan pengucapan syukur atas pembebasan sejati yang telah diterima dan dialami dalam Yesus Kristus.
Diposting tanggal 30 Jun 2020
