MATI UNTUK DIBANGKITKAN (1 Kor. 15 : 35 – 44)

Harus diakui, bahwa kematian merupakan sebuah realitas yang seringkali sulit dipahami dengan baik. Tak heran jika kematian seseorang sering membawa rasa putus asa bagi orang-orang yang ditinggalkan. Kematian Yesus pun demikian. Rasa putus asa juga sempat hadir dalam diri para murid, yang kemudian membuat mereka sempat pula menjauh dan meninggalkan Yesus (Mrk.14 : 50).
Rasul Paulus sendiri menjelaskan, bahwa kematian bukanlah sebuah akhir! Peristiwa kebangkitan Yesus memberikan sebuah penjelasan penuh makna, bahwa kematian hanyalah sebuah tahapan proses menuju kebangkitan. Perjalanan dan karya Allah dalam diri Yesus Kristus, tidak berhenti hanya dalam kubur, melainkan masih diikuti dengan sejumlah peristiwa lainnya. Dalam hal ini, kebangkitan adalah seperti benih yang harus mati terlebih dahulu, sebelum kemudian mengalami pertumbuhan! Itu sebabnya, kebangkitan orang mati tidak perlu diragukan. Tentang bagaimana bentuk tubuh orang yang mengalami kebangkitan, tidak perlu dipersoalkan lebih jauh. Satu hal yang pasti, bahwa Paulus menyebut tubuh tersebut sebagai tubuh sorgawi yang memang berbeda dengan tubuh duniawi (15 : 40).
Makna semuanya ini jelas: kematian atau apapun persoalan lainnya yang dihadapi, tidak harus membuat seseorang kehilangan pengharapan. Persoalan dan pergumulan yang dihadapi sesungguhnya hanya merupakan sebuah proses untuk menuju kehidupan yang lebih baik. John Maxwell sendiri pernah mengemukakan sebuah hal penting: “ada satu hal yang sama dari semua mujizat, yakni kenyataan bahwa setiap mujizat pasti didahului dengan sebuah persoalan”! Maknanya jelas, dalam tiap persoalan sesungguhnya terbuka kesempatan besar merasakan kuasa Allah!
Diposting tanggal 14 Apr 2016
