MENUJU KEHIDUPAN KEKAL (1 Kor. 15 : 12 – 19)
"Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”

Pilihan sikap hidup para martir memang tidak mudah untuk dimengerti, utamanya dari sudut pandang banyak orang yang cenderung berjuang untuk sebuah kebahagiaan sesaat. Kehidupan Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan teolog asal Jerman, yang menjadi martir dalam usia 40 tahun, merupakan sebuah contoh. Betapa tidak, Bonhoeffer sesungguhnya memiliki pilihan untuk dapat hidup dengan lebih enak, ketimbang harus berjuang melawan rezim Nazi pimpinan Hitler yang membinasakan jutaan orang Yahudi. Dengan kecerdasannya yang brilian, ia dapat tetap menjadi dosen muda yang hebat di Universitas Berlin. Demikian pun saat ia menetap di Inggris. Di sana ia bisa terhindar dari ancaman Hitler. Namun demikian, dengan yakin ia kembali ke Jerman dan terus berjuang meski dari penjara sekalipun!
Surat Paulus kepada jemaat di Korintus sesungguhnya dapat memberi makna tentang hal-hal seperti itu. Menurut Paulus, kebangkitan Kristus merupakan dasar keyakinan dan pengharapan pasti, bahwa manusia pun akan dibangkitkan (ayat 12). Kebangkitan yang dimaksud adalah kebangkitan tubuh manusia sepenuhnya, yakni yang oleh Paulus disebut sebagai Tubuh Sorgawi (bnd. 1 Kor.15 : 35, 40, 44). Karena itulah, pengharapan pada Kristus hendaknya tidak hanya dikaitkan dengan kehidupan kini, melainkan juga untuk sebuah kehidupan kekal (15:52).
Bulan April 1945, Bonhoeffer akhirnya dieksekusi mati! Namun, satu hal yang menarik, ialah keyakinannya saat menuju tempat eksekusi. Saat itu ia berkata : “Inilah akhirnya bagiku, sebuah awal kehidupan!”
Diposting tanggal 14 Apr 2016
