Ekonomi Alkitabiah (Nehemia 5:10-13)

Rasanya tidak ada orang di dunia ini yang tidak punya utang maupun piutang. Entah dalam bentuk materi, uang, jasa, waktu, presensia, kebaikan hati dll. Jangankan masyarakat pengusaha, orang di desa saja hidup dan berinteraksi dengan utang. Jadi utang maupun piutang adalah lumrah.
Walaupun sudah ada bunga dan denda, namun masalah menjadi muncul apabila kesepakatan-kesepakatan mulai dilanggar, baik waktu juga kapasitas. Orang Kristen yang kaya maupun yang miskin tidak luput dari utang. Tidak sedikit yang mengambil kredit di bank/koperasi, bahkan banyak orang Kristen kaya yang menjadi rentenir/bank gelap, membungakan uangnya kepada saudara-saudaranya. Ada yang wajar ada pula yang keterlaluan.
Pada masa lalu, banyak orang Toraja yang tidak mampu melunasi utangnya (entah karena kalah judi atau hal lain) terpaksa menjadi budak. Ada juga yang kehilangan aset-aset tongkonan (dipaletta’) karena masalah utang yang semakin besar. Biasanya status utang dibebankan di pihak lemah (kalah) lalu piutang pada pihak yang berada (kuat dan kaya). Sekali lagi utang tetap utang dan lumrah saja. Perikop memperhadapkan sebuah situasi, jikalau kita memiliki piutang pada saudara-saudara kita yang lain (ayat10b-11).
Apabila utang saudara-saudara kita telah membuat mereka mengeluh dan menjerit (a. 1-5) maka sikap dan keputusan yang harus diambil jelas, “hapuskan utang dan kembalikan aset”. Ya, naluri dan hasrat bisnis bertentangan dengan sikap ini, namun di sini letak perbedaan orang Kristen dibanding orang lain. Secara alamiah bila kita menggantungkan diri pada harta dan kekayaan duniawi tentu kita keberatan mengambil keputusan itu. Renungkanlah perkataan Kristus “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaan itu” (Luk. 12:15). Allah Mahakaya, Dialah sumber rahmat dan berkat yang melimpah. Kasih setia Tuhan terbukti tiada pernah putus, jadi gantungkan hidup saudara kepada Allah. Kepada siapa saudara mengabdi? Allah atau mamon?
Doa: Kiranya Allah memberikan kita keberanian, hikmat dan kekuatan untuk selalu memegang teguh prioritas nomor satu di dalam hidup kita, yaitu “mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannnya,” serta mengerti hidup di dalam ketulusan dan kesederhanaan.
Diposting tanggal 18 Apr 2016
