Antara Makan dan Makna (1 Korintus 15;30-34)
Menurut Paulus, kehidupan orang percaya sangat berbeda dengan kehidupan orang tidak percaya. Perbedaannya dapat diungkapkan melalui kata MAKNA dan MAKAN. Maksudnya, hidup orang percaya mestinya hidup yang ”penuh makna” sementara hidup orang tidak percaya adalah hidup yang hanya memperhitungkan ”MAKAN-an”. Hidup yang BERMAKNA adalah hidup yang terus menerus memberitakan dan memperjuangkan kebenaran ; yang senantiasa bersemangat, kuat, dan penuh ketabahan serta pengharapan ; melihat jauh ke depan yang menjangkau hidup abadai/kekal ; yang konsisten, berani menanggung resiko, meskipun seorang diri jika dami kebenaran ; yang ”menghargai pergaulan yang benar” demi lingkungan yang sehat bagi kehidupan bersama.

Sebaliknya, hidup yang hanya memperhitungkan MAKAN-an saja adalah hidup yang sesat, berlumuran dosa, tidak melihat jauh ke depan, persahabatan yang dangkal, dan penuh kemunafikan serta pengkhianatan. Hidup seperti itu menjadikan suasana hidup bersama dan lingkungan yang buruk dan kacau.Singkatnya tidak membahagiakan dan menyejahterakan.Menurut Paulus, hidup seperti mestinya diubah, dibaharui, dan kalau terpaksa ditinggalkan atau dijauhi. Bagi Paulus, kebangkitan Yesus menjadi dasar bagi orang percaya untuk ”senantiasa membaharui” hidupnya dan sedapatnya membarui kehidupan bersama.
Kebangkitan Kristus menjadikan hidup pribadi kita berharga dan bermakna oleh sebab itu setiap orang percaya mestinya mengupayakan 3 hal sebagai berikut:Pertama, ”bertobat” dari segala kesalahan dan kedosaan masa lalunya.Kedua,menyadari bahwa hidup ini sungguh-sungguh tergantung pada kebaikan dan kemurahan Allah dan bukan hanya tergantung pada ”kebutuhan dan kepentingan sehari-hari saja seperti makanan.Ketiga, orang percaya dipanggil untuk membarui lingkungan dan hidup bersama yang ”borok/rusak”.Orang percaya diselamatkan untuk membawa damai sejahtera bukan menjadi korban lingkungan/kebersama yang rusak dan buruk.
Diposting tanggal 18 Apr 2016
