Bahan Khotbah Minggu ke-19 Tanggal 10 Mei 2020 MENJADI BATU HIDUP Mendadi Batu Tuo
Bahan Khotbah Minggu ke-19 Tanggal 10 Mei 2020
MENJADI BATU HIDUP
Mendadi Batu Tuo
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 31:1-9 |
| Bacaan 1 | : Kisah Para Rasul 7:54-60 |
| Bacaan 2 | : 1 Petrus 2:1-10 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Yohanes 14:1-14 |
| Nas Persembahan | : Ratapan 3:22-23 |
| Petunjuk Hidup Baru | : 1 Petrus 2:1-2 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami arti batu hidup dalam Kristus
2. Jemaat menjadikan hidupnya sebagai batu hidup yang menghidupi orang lain.
Pemahaman Teks
Kisah Para Rasul 7:54-60 menjelaskan bagaimana Stefanus menghadapi tantangan hidupnya. Ketika menghadapi penganiayaan, Stefanus melakukan dua hal penting. Pertama, ia berdoa kepada Yesus Kristus, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (ay. 59). Kedua, ia memberikan kata-kata pengampunan, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (ay. 60). Dari ayat ini, kita melihat bahwa Stefanus melakukan suatu hal yang luar biasa. Ia telah memperlihatkan kesabaran dan ketekunannya dalam menghadapi penganiayaan dari para musuhnya. Di saat orang-orang berteriak marah sambil melempar sekian banyak batu kepadanya, Ia tidak marah atau melawan. Sebaliknya Stefanus berdoa dan meminta pengampunan kepada Tuhan bagi orang-orang yang sedang menganiaya dirinya dengan lemparan batu. Stefanus menghadapi tantangan dan penderitaan ini dengan iman yang teguh akan kebenaran sejati, yaitu Yesus Kristus. Pada akhirnya, kematian Stefanus telah membawa berkat bagi banyak orang termasuk Paulus, yang saat itu masih bernama Saulus.
Surat I Petrus 2:1-10 menjelaskan identitas dari persekutuan orang-orang beriman yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, yang menjadi alamat dari surat ini. Gambaran yang dipakai untuk mengungkapkan identitas persekutuan mereka adalah sebagai “rumah rohani”, sebuah “bangunan”. Dalam identitas persekutuan orang-orang percaya yang bersekutu itu, pertama-tama Kristus disebut sebagai “batu yang hidup” (ay. 4). Sebagai batu yang hidup, Kristus adalah pusat dari peristiwa keselamatan melalui salib dan kebangkitan-Nya. Setiap orang yang datang kepada Kristus, yang telah mengecap kebaikan Tuhan (ay. 3), menerima satu tugas: “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (ay. 5). Gereja sebagai persekutuan iman adalah rumah rohani yang dibangun oleh Allah dan untuk itu Ia memanggil orang-orang percaya sebagai batu-batu hidup dari bangunan itu. Pelaku utama yang membangun persekutuan itu adalah Allah di dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus.
Yohanes 14:1-14 berisi bentuk penguatan kepada murid-murid-Nya bahwa akan tiba masanya, di mana Yesus akan meninggalkan mereka. Penguatan pertama yang dikatakan Tuhan Yesus adalah “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (ay.1). Kemudian Yesus berbicara tentang tempat tinggal yang tersedia di rumah Bapa-Nya dan juga diperuntukkan bagi murid-murid-Nya (ay.2-4). Yesus memberikan penegasan kepada murid-murid-Nya, bahwa dirinya adalah jalan untuk sampai di rumah Bapa. Melalui Dialah setiap orang dapat mengenal kebenaran dan dapat menemukan hidup sejati dan abadi bersama Allah (ay. 6). Tuhan Yesus juga meyakinkan murid-murid-Nya untuk percaya dan patuh menuruti perintah-perintah-Nya (ay. 10-12). Ajakan percaya ini diikuti dengan pernyataan Tuhan Yesus yang tegas, bahwa dirinya adalah sumber segala yang dibutuhkan oleh murid-murid-Nya (ay. 13-14).
Korelasi
Beriman kepada Tuhan berarti hidup. Beriman kepada Tuhan akan membawa pada penyerahan hidup sepenuhnya. Sekalipun ada berbagai ancaman dan tantangan dalam kehidupan ini, beriman kepada Tuhan menjadi dasar mengambil sikap dalam hidup. Karena iman maka Stefanus menyerahkan diri kepada Allah dan mengampuni mereka yang melemparinya dengan batu sampai mati. Stefanus pun pergi dalam damai ke rumah Bapa meskipun jalan kematiannya dengan menerima lemparan batu.
Pemahaman teks bahan utama
Surat I Petrus adalah surat yang tergolong pada surat Am, yaitu surat-surat yang dikirim kepada kepada jemaat-jemaat yang tersebar di beberapa tempat: Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (ay. 1), yaitu jemaat-jemaat yang kehidupan berimannya masih relatif muda. Maksud penulisan surat ini ialah untuk meneguhkan iman umat yang sedang mengalami hambatan sebagai orang Kristen pendatang.
Teks I Petrus 2:1-10 tidak bisa dipahami terlepas dari konteks pembangunan gereja di zaman para Rasul, yakni suatu zaman di mana gereja ditempa untuk semakin mengakarkan keberadaannya di dalam masyarakat. Dalam hal itu, masalah jati diri atau identitas adalah aspek penting bagi gereja. Gereja memang perlu membangun penjatidirian yang baru di dalam konteks masyarakat yang majemuk kala itu. Pada zaman itu, gereja bukanlah suatu lembaga agama yang otonom, seperti dewasa ini, melainkan suatu organisasi sosial yang mencoba tampil dengan warnanya yang khas.
Dalam rangka membangun suatu identitas baru dari kelompok sosial yang bernama gereja, penulis surat ini menggunakan beberapa terminologi yang penting, antara lain: batu hidup, batu penjuru, bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan Allah.
Terminologi ‘batu hidup’ menunjuk kepada kelompok gereja yang adalah kaum marginal, tetapi yang telah perbaharui. Peristiwa pembaharuan itu terjadi melalui akta penebusan oleh Yesus (bnd. I Ptr. 1:18). Karena itu frasa “dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan rumah rohani…” (ay. 4-5b), menggambarkan bahwa memang kelompok gereja itu adalah kaum marginal yang dimarginalisasi dalam masyarakat. Gereja diminta supaya mereka bersedia ‘dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani bagi suatu imamat kudus’ (ay. 5a). Terjemahan yang sesuai dengan bahasa asli (Yunani) adalah: ‘Biarlah kamu juga menjadi batu-batu yang hidup yang dibangun menjadi sebuah rumah rohani, bagi suatu imamat yang kudus’. Kata kerja “dibangun” berarti bukan manusia yang membangunnya tetapi Allah. Dengan kata lain, rumah yang dibangun itu bukan buatan tangan manusia tetapi Allah. Rumah yang dimaksud ialah jemaat/gereja-Nya sendiri. Simbol ini menggambarkan batu-batu yang dulunya terpisah-pisah kini dihubungkan secara erat menjadi satu persekutuan yang hidup. Ini mau menekankan hakekat gereja sebagai satu persekutuan yang erat dan berkenan kepada Allah. Persekutuan ini menerima jabatan imam-imam yang kudus. Menurut Petrus, seluruh umat Tuhan menjadi imam-imam yang kudus. Hak istimewa ini dikaruniakan kepada semua orang yang datang dan menyambut Kristus dalam hidupnya. Kalau dalam PL hanya para imam yang dipanggil untuk mempersembahkan binatang kepada Tuhan, maka I Petrus menyebutkan tubuh, yaitu semua umat Tuhan, menjadi persembahan rohani yang berkenan kepada Allah (bnd. Rm. 12:1).
Dengan simbol ‘batu hidup’ tadi, penulis surat ini sebenarnya hendak membangun identitas yang baru di kalangan gereja tadi. Faktor identitas ini penting bagi kelompok gereja di dalam tekanan sosial yang begitu hebat dan diskriminatif. Setidaknya, simbol ‘batu hidup’ itu bisa membuat mereka memahami bahwa mereka memiliki sesuatu yang khas, berbeda dari orang lain, termasuk dari kelompok sosial lain yang cenderung korup dan menindas. Faktor ini bisa memberi kepada mereka suatu keyakinan bahwa mereka adalah ‘bangsa yang dipilih Tuhan’ (bnd. ay. 10).
Simbol ‘bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, dan umat kepunyaan Allah’ adalah sifat fungsional dari ‘batu hidup’ tadi. Konsep ini menegaskan bahwa gereja dipanggil oleh Tuhan untuk suatu maksud ‘memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia’ (ay. 9), yaitu tindakan pengorbanan Yesus menebus manusia (I Ptr. 2:11-17).
Terpilih artinya dipilih dan dipanggil dari antara segala bangsa. Imamat yang rajani berarti mereka semua diangkat menjadi imam-imam yang diperbolehkan menghampiri Allah dan membawa persembahan diri. Rajani berarti satu persekutuan imam yang diberi semacam martabat pemerintahan pada waktu yang akan datang (bnd. Kel. 19:6, Why. 5:10) yang akan memerintah sebagai raja. Sebagai gereja yang kudus, ia disendirikan, diasingkan bagi Allah untuk hidup dalam persekutuan dengan Dia.
Simbol-simbol seperti: imamat yang rajani, bangsa yang kudus, menimbulkan pertanyaan: Bukankah dengan gelar-gelar itu orang Kristen mudah menjadi sombong secara rohani? Jawabnya ialah bahwa mereka dipilih dan dikuduskan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia. Karena itu tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Inilah pilihan Allah tapi pilihan ini harus dijawab. Mereka diangkat dan diutus untuk memasyurkan perbuatan-perbuatan Allah. Injil Allah ialah mengangkat dan mengutus. Ini memerlukan respons. Injil itu bermakna kalau ada respons manusia yaitu kesediaan memasyurkan perbuatan Allah. Inilah tugas gereja menjawab kasih karunia Allah.
Pokok-pokok pengembangan khotbah
- Menjadi batu hidup berarti membuang manusia lama kita. Ayat 1 mengatakan, “buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala kemunafikan, kedengkian dan fitnah”. Perkataan ‘buanglah’ di sini menunjukkan perbuatan yang dilakukan sekali, tetapi berlaku untuk selama-lamanya. Artinya, ketika dikatakan ‘buanglah’ itu berarti kita membuang segala perbuatan yang tidak disenangi Tuhan sekali saja untuk selama-lamanya. Kejahatan di sini dalam arti terbatas adalah amarah yang tersimpan di dada orang, yang yang sudah berurat akar dan memuncak, yang siap membakar orang itu untuk merencanakan kejahatan, melakukan kejahatan, atau bergembira dengan kejahatan yang menimpa orang lain. Tipu muslihat adalah penipuan melalui perkataan. Hal ini mencakup sanjungan yang bersifat menjilat, kepalsuan, dan kata-kata khayal yang dengan licik memperdaya orang lain karena ketidaktahuan atau kelemahannya, sehingga orang lain menderita kerugian. Segala macam kemunafikan, yakni berbagai jenis kemunafikan sebagai kebalikan dari kesalehan. Di dalam perilaku sehari-hari, kemunafikan adalah kebalikan dari persahabatan, yang sering kali dilakukan orang-orang yang suka memberikan pujian setinggi langit tanpa ketulusan, membuat janji yang tidak pernah ditepati, atau pura-pura bersahabat padahal mempunyai niat jahat di dalam hati mereka. Segala macam kedengkian adalah perasaan gusar karena kebaikan dan kesejahteraan orang lain, dengan kemampuan, kemakmuran, kemasyhuran, atau keberhasilan orang lain. Sedangkan fitnah adalah kata-kata yang mencela, menentang, atau mencemarkan nama baik orang. Tujuan utama hidup kita adalah agar bisa menjadi saksi bagi orang lain, sehingga orang lain melihat diri kita ada sesuatu yang dapat dicontoh atau diteladani. Sebagai umat yang telah dihidupkan, kita harus membuang segala kejahatan, dan belajar seperti bayi, supaya bertumbuh dan juga menjadi batu yang hidup, untuk pembangunan rumah rohani di dalam Yesus Kristus. Namun tanpa kita sadari, acapkali justru kita menjadi “batu sandungan” dan bukan menjadi “batu yang hidup” bagi orang lain.
- Menjadi batu hidup berarti hidup dalam pembangunan rumah rohani. Secara harafiah, ayat 5 berbunyi: “Kamu sendiri seperti batu-batu hidup sedang dibangun sebagai sebuah bangunan rohani”. Di sini gereja sebagai persekutuan orang percaya digambarkan melalui metafora bangunan rohani. Dalam metafora ini, aspek kebersamaan dari setiap orang percaya sangat ditekankan. Sama seperti sebuah bangunan dibuat dari banyak batu yang bentuknya berbeda-beda; yang ukurannnya juga berbeda, ada yang besar ada yang kecil, ada yang kasar ada yang halus, demikian pula bangunan rohani hanya dapat berdiri apabila ada keterkaitan antar bagiannya. Batu yang terdiri dari berbagai macam ini akan dipersatukan dalam suatu bangunan supaya membentuk bangunan yang benar-benar kuat, kokoh dan tahan. Jika kita sudah diletakkan, kita akan tahu batu-batu mana saja yang ada di bawah kita dan bagaimana kita saling mendukung, maka batu yang paling atas tidak bisa menyombongkan diri, sebab justru karena batu dari bawah mendukungnya barulah ia bisa berada di atas. Karena itu, antara batu yang satu dengan yanag lain saling membutuhkan dan saling kontak satu dengan yang lain. Tidak ada yang berusaha mementingkan diri sendiri, sebab sebuah batu yang tersingkir di tepi jalan sendiri, tanpa bergabung satu dengan yang lain maka batu itu tidak bermanfaat sama sekali Gereja juga demikian, kita tidak seharusnya mempertahankan diri kita, kesombongan kita, sebab kita adalah satu keluarga, satu rumah, bangunan rohani. Kita hanya perlu mempertahankan kualitas kita masing-masing, supaya tatakala digabung dan dipersatukan benar-benar utuh sebagai suatu bangunan. Hanya batu-batu yang hidup saja yang pantas dipergunakan. Tanpa pertobatan yang sungguh kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, seseorang tidak akan berguna bagi pembangunan rumah rohani. Dengan kata lain, pembangunan secara bersama harus dimulai dari pertobatan secara pribadi dan keinginan untuk bertumbuh. Membangun rumah rohani membutuhkan orang-orang yang mau datang kepada Kristus (ay. 4a). Dengan kata lain, proses pembangunan rumah rohani sedang terjadi pada saat orang-orang datang kepada Kristus.
- Menjadi batu hidup berarti beriman kepada Yesus. Ayat 4 berbunyi: “Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah”. Sesuai konteksnya, ayat ini menegaskan kerinduan yang besar terhadap kebernilaian Kristus dalam kehidupan kita. Sama seperti bayi yang selalu membutuhkan dan menginginkan air susu (ay. 2), demikian pula kita harus menginginkan Kristus (ay. 4a). Kita menginginkan Dia karena Kristus sangat berharga. Dari-Nya kita mengecap kebaikan demi kebaikan (ay. 3). Dia adalah batu pilihan dan batu yang berharga di mata Allah (ay.4). Bagi kita pun, Dia begitu bernilai (ay. 7). Kita hanya bisa menjadi batu-batu yang hidup (ay. 5) apabila kita terus-menerus datang kepada Batu Hidup dan Yang Menghidupkan, yaitu Yesus Kristus. Lagipula, sebuah rumah rohani sangat bergantung pada batu penjuru, yakni Yesus Kristus (ay. 6-7). Sebuah batu penjuru merupakan kepala dari sudut rumah. Jadi, Kristus bukan sembarang batu. Tidak peduli berapa banyak batu yang digunakan untuk membangun sebuah rumah, tetapi tanpa batu penjuru semua batu lain akan menjadi percuma.
Diposting tanggal 07 May 2020
