STOLA Dalam Gereja Toraja
Stola (Yunani: Stole) berarti "tatanan" atau "kelengkapan". Ada banyak teori mengenai asal-usul stola, tetapi yang populer dan relevan sekarang adalah bahwa stola itu berasal dari semacam kain lap liturgis yang disebut "orarium". Stola dihubungkan dengan kain lap yang digunakan oleh Tuhan Yesus tatkala membasuh kaki muridmurid-Nya, yang kemudian disimbolkan sebagai kuk Kristus / kuk pelayanan.
Di beberapa Gereja (Anglikan, Katolik dan beberapa denominasi Protestan) stola hanya dikenakan kepada para pejabat Gereja (para tertahbis) karena stola adalah simbol kehormatan pejabat Gereja, bukan untuk awam.
Bagi Gereja Toraja, memakai stola adalah simbol kesediaan mengangkat pelayanan (menjadi hamba) dalam liturgi hari Minggu atau Hari Raya Gerejawi. Stola Kuning dalam ibadah syukur, dan Stola Ungu di ibadah Pemakaman. Oleh karena itu, stola dapat dipakai bukan hanya oleh Pelayan Firman tetapi oleh semua yang mengambil peranan khusus dalam liturgi.
Sebaiknya stola dibedakan dalam dua bentuk yaitu Stola pundak lebar untuk Pelayan Firman dan Lector. Hal ini melambangkan beban pelayanan dengan pemberitaan Firman Tuhan sebagai pusatnya. Pelayan Firman dan Lector dituntut untuk melayani dengan kelapangan hati, penuh kesabaran dan dengan kerendahan hati. Sedangkan Stola dengan pundak sempit dapat dibuat untuk pemandu Liturgi, Pemandu Nyanyian (Procantor dan Cantor), Pemusik, dan semua yang mengambil peranan khusus dalam liturgi, sekalipun mereka bukanlah Majelis Gereja.
Pemasangan Stola sebagai simbol penyerahan pelayanan, dipasangkan oleh majelis gereja kepada Pelayan Firman (merepresentasikan kesediaan semua pelayan untuk mengangkat pelayanan) di Konsistori sebelum berprosesi.
Gereja Toraja menggunakan 4 warna Stola :
1. Stola Putih
Warna Putih selalu dikaitkan dengan kehidupan baru. Putih adalah simbol kebersihan, kemurnian, ketidaksalahan, kesucian, terang yang tak terpadamkan dan kebenaran mutlak. Stola Putih dipakai pada Liturgi Kamis Putih, Hari Kenaikan Tuhan Yesus, Minggu-minggu Trinitas dan Kristus Raja.
2. Stola Kuning
Warna Kuning dikaitkan dengan bentuk lebih kuat dari makna kemuliaan dan keabadian. Stola Kuning dipakai untuk Liturgi Hari Kebangkitan (Paskah) sampai minggu sebelum pentakosta, Liturgi Masa Adven dan Natal, dan Liturgi perayaan-perayaan Syukur.
3. Stola Merah
Warna Merah merupakan warna api dan darah yang artinya keperwiraan, keberanian, kesetiaan, dan kepahlawanan. Merah dihubungkan dengan penumpahan darah para martir sebagai saksi iman, sebagaimana Tuhan Yesus sendiri yang tertumpah darahNya bagi kehidupan dunia. Stola Merah dipakai untuk hari : Minggu Palma, Jumat Agung, Pentakosta selama empat minggu berturut-turut dalam rangka mengenang karya Roh Kudus dan semangat penginjilan Gereja mula-mula
4. Stola Ungu
Ungu merupakan simbol kebijaksanaan, keseimbangan, sikap berhati-hati dan mawas diri. Ungu adalah warna pertobatan. Stola ungu adalah untuk masa prapaskah karena pada masa itu semua warga gereja diundang untuk bertobat, mawas diri, dan mempersiapkan diri bagi perayaan Paskah. Stola ungu dapat juga dipakai dalam konteks kedukaan.
Diposting tanggal 14 Nov 2016
