ADA KAWAN YANG ABADI (Kisah Rasul 1:12-14)

Seperti anak ayam kehilangan induknya. Kita sering mendengar ungkapan ini. Setiap insan yang kehilangan orang terdekat, kekasih atau pribadi junjungan pasti akan lemah dan gamang bila hanya sendirian menghadapi situasi tersebut. Namun hal ini sepertinya tidak lagi terlalu mewarnai situasi para murid kendati ditinggalkan Sang Guru. Kuncinya adalah karena mereka bertekun dalam persekutuan. Hal ini menunjukkan pentingnya persekutuan bagi pertubuhan iman seseorang. Karena itu persekutuan yang ala kadarnya bukanlah jawaban untuk menjaga pertumbuhan iman. Mesti ada karakter bersama, yakni ‘bertekun dan sehati dalam doa’ (a.14). Tanpa itu, maka persekutuan pasti mudah pecah dan melahirkan perseteruan. Walaupun persekutuan mula-mula itu belum punya gedung gereja (hanya tempat menumpang) namun roh bertekun dan sehati dalam doa menjadikan mereka saksi Kristus yang sejati dan kokoh.
Gampang sekali mendirikan group-group pemuda dengan berbagai kesamaan (entah hobby, idola, tempat tinggal, kendaraan, profesi, golongan, suku, politik dll.) namun ternyata tidak ada kelompok/organisasi pemuda di dunia ini yang abadi. Mengapa? Kekekalan yang mereka miliki ada di dalam “roh kepentingan”. Jika demikian memang tidak ada kawan yang sejati atau tidak ada persekutuan yang abadi. Camkan ini: agama Kristen bisa tetap ada hingga sekarang karena roh bertekun dan sehati dalam doa, sekaligus organisasi keristenan mulai terpecah dan tercabik-cabik karena mulai kehilangan roh atau karakter Kristen mula-mula. Berbagai denominasi Kristen lahir dan mati mengikuti hidup mati pemimpin kelompok masing-masing, bila sang ketua umum mangkat maka bubarlah denominasinya.Tanpa ketekunan maka yang dihasilkan hanya perpisahan, bila tidak bersehati maka yang lahir hanya perpecahan dan perseteruan.
Lihatlah kehidupan orang Kristen mula-mula, walau induk pergi namun persekutuan mereka makin kuat, kendati pemimpin mereka menghilang dari pandangan tetapi perkumpulan semakin nampak dan membesar. Untuk mulai menikmati persekutuan, kita butuh sahabat sejati karena kita sering lemah, bukankah suatu saat kita pasti mengalami dukacita? Dari Alkitab kita belajar, kita punya sahabat sejati yang mau peduli, ternyata ada kawan sejati yang selalu mau berbagi. Ingin melanggengkan persekutuan ? Yesuslah yang harus ada di tengah persekutuan kita.
Diposting tanggal 25 Apr 2016
