Bahan Khotbah Minggu Ke-21 Tanggal 24 Mei 2020 Minggu syukur HUT PGI BERTEKUN DI DALAM DOA BERSAMA Tontong sanginaa massambayang
Bahan Khotbah Minggu Ke-21 Tanggal 24 Mei 2020 Minggu syukur HUT PGI
BERTEKUN DI DALAM DOA BERSAMA
Tontong sanginaa massambayang
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 68:1-10 |
| Bacaan 1 | : Kisah Para Rasul 1:6-14 |
| Bacaan 2 | : 1 Petrus 4:12-19 |
| Bacaan 3 | : Yohanes 17:1-11 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Ulangan 12:26 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Kisah Para Rasul 1:14 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami pentingnya bertekun di dalam doa bersama.
2. Jemaat hidup bertekun di dalam doa bersama.
Pemahaman Teks
Dalam Mazmur 68:1-10, pemazmur mendeklarasikan otoritas kuasa Allah yang tidak terbantahkan, bahwa Allah melindungi dan memberkati orang yang hidup dalam kebenaran Allah, serta selalu tekun berserah dan mengandalkan-Nya (Mzm. 68:4-5, 8-9). Orang yang tekun bernyanyi dan bermazmur bagi Allah, pastilah orang yang tekun pula berdoa (ay. 5), karena sangat tidak mungkin kita setia bermazmur dan bernyanyi bagi Allah kalau kita tidak disiplin dalam berdoa. Ingat; “disiplin berdoa merupakan penciri adanya hubungan yang intim, dekat dan khusus antar orang percaya dengan Allah.” Pemazmurpun memperingatkan bahwa Allah pun akan melawan dan menghukum orang-orang fasik (ay. 2-3), dan pemberontak kepada Allah (ay. 7.b). Tetapi Allah akan berpihak dan melindungi anak yatim-piatu, para janda, orang-orang sebatang kara dan orang-orang tahanan yang sadar dan bertobat (ay. 6-7.a), bahkan Allah akan memberkati tanah orang yang taat berserah kepada-Nya (ay. 10).
Dalam Kisah Para Rasul 1:6-14 menegaskan tentang respons kesetiaan para rasul dengan sehati, tekun berdoa bersama di Yerusalem dalam menantikan ketuangan Roh Kudus (Kis. 1:7-8, 14). Ketekunan mereka berdoa bersama dan sehati, bukan hanya menunjukkan adanya hubungan yang intim, dekat dan khusus antara para rasul dengan Yesus Kristus, tetapi juga menunjukkan adanya ikatan sosial yang begitu kuat, solider dan penuh cinta kasih di antara para rasul. Ketekunan para rasul berdoa bersama pun merupakan implementasi dari buah iman dan keyakinan mereka akan akurasi janji dan kata-kata Yesus. Para rasul sungguh menghidupi iman dan kepercayaan mereka dan mereka pun sangat sadar banhwa kebersamaan diantara mereka itu amat penting. Murid-murid tidak lagi menentukan sikap sendiri-sendiri, sama seperti waktu sebelum Yesus naik ke sorga. Mereka mengedepankan kesetiaan dan kebersamaan dalam mempersiapkan diri menerima urapan Roh Kudus, maupun penugasan untuk menjadi saksi TUHAN, yaitu memberitakan Injil damai sejahtera.
Dalam 1 Petrus 4:12-14 ditegaskan bahwa kuasa TUHAN di dalam Yesus, akan memampukan orang Kristen menjalani hidup sebagai orang percaya, meskipun mereka akan mengalami penderitaan dan penistaan sebagai konsekuensi percaya kepada Yesus. Bukan hanya kuasa Allah di dalam Yesus yang akan memampukan dan menolong umat menjalani penderitaan itu, tetapi umat akan tetap bersukacita dan bergembira menjalani hidup di dalam TUHAN dengan segala macam tantangannya karena TUHAN setia berjalan bersama dengan umat percaya. Keyakinan umat percaya, tentulah punya dasar, bahwa Yesus Kristus telah mengalahkan segala macam penderitaan.
Injil Yohanes 17:1-11 mengajarkan warisan keteladanan Yesus kepada murid-murid-Nya tentang doa. Yesus menegaskan bahwa kemuliaan Bapa-Nya memancar pula di dalam diri-Nya (ay. 1); kemuliaan Kristus dipancarkan dalam karya penyelamatan manusia dan dunia dengan symbol Yesus berkuasa atas segala yang hidup, Yesus pun akan memberikan hidup yang kekal kepada mereka (ay. 2); umat harus mengenal Allah, satu-satunya Allah yang benar (ay. 3); doa Yesus agar umat yang dipercayakan kepada-Nya mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan, sehingga umat menjadi satu (ay.11.b); keesaan Allah harus ditunjukkan dengan kebersatuan hati dan perjuangan menjalani hidup yang penuh tantangan (ay. 10 dan 11.b); keesaan antara Bapa dan Anak harus menjadi teladan bagi umat percaya agar tekun membangun iman dan pengharapan yang sama atau hidup dalam keesaan umat percaya (ayat 11b bnd. ayat 21.a).
Korelasi Bacaan: Salah satu korelasi dari ketiga bacaan leksionari di atas adalah pemaknaan terhadap doa. Tuhan Yesus sangat menegaskan pentingnya bertekun di dalam doa bersama, hal itu dikatakan dalam Injil Matius 18:19-20 “Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka”. Dalam Yohanes 17:1-11 dikemukakan tentang doa Yesus agar murid-murid-Nya mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan di tengah-tengah pencerai-beraian oleh dunia. Karena itulah, para murid harus memperkuat persekutuan dan persaudaraan di antara mereka. Dalam Kisah Para Rasul 1:6-14 dijelaskan respons kesetiaan para rasul dengan sehati tekun berdoa bersama di Yerusalem menatikan urapan Roh Kudus dan amanat memberitakan Injil. Meskipun 1 Petrus 4:12-19 dan Mazmur 68:1-10, tidak menyebut kata ”doa”, tetapi harus disadari bahwa orang yang tekun berdoa berarti orang tersebut memiliki hubungan yang intim, dekat dan khusus dengan TUHAN. Karena itulah Mazmur 68 menjelaskan ekspresi hidup keimanan seperti itu, bahwa umat yang bersukacita, bersyukur dan bermazmur, karena mereka memiliki hubungan yang intim, dekat dan khusus dengan TUHAN. 1 Petrus 4:12-19 lebih jauh menegaskan bahwa umat yang mengandalkan pertolongan dan kuasa TUHAN meskipun mengalami tantangan dan penderitaan, hendaknya dihayati sebagai bagian menerima penderitaan Kristus, lalu mereka sangat layak mendapatkan kekuatan bahkan penyelesaian yang terbaik dari Tuhan. Ekspresi hidup keimanan seperti itu menunjukkan hubungan yang intim, dekat dan khusus dengan TUHAN.
Pokok-Pokok Pengembangan Khotbah
Orang yang sangat tekun berdoa menunjukkan kedisiplinan spiritualitas yang tinggi. Tekun berdoa juga menjadi penciri adanya hubungan yang intim, dekat dan khusus antara orang percaya dengan TUHAN. Doa Yesus dalam Yohanes 17 pun menunjukkan adanya hubungan yang sangat intim, dekat dan khusus antara Yesus dengan murid-murid-Nya. Yesus tahu bahwa tak selamanya Ia ada di dalam dunia bersama murid-Nya. Setelah selesai karya penyelamatan dikerjakan di kayu salib, kematian-Nya, lalu berpuncak pada peristiwa kebangkitan-Nya (paskah). Selanjutnya Yesus akan kembali ke sorga, kepada sang Bapa yang memberi mandat pengutusan (Yoh. 14:1-3; 16:4.b-7, 16-19 bnd. Yoh. 17:8). Yesus pun sungguh tahu bahwa dunia tempat umat percaya sangat tidak aman, karena penuh godaan, tantangan dan cobaan yang bisa membuat manusia setiap saat jatuh ke dalam dosa. Dalam Yohanes 14:16-17 dikatakan, bahwa Yesus menjanjikan Roh Penolong atau Roh Kebenaran (Roh Kudus) untuk melanjutkan pekerjaan dan perlindungan kepada umat percaya. Tetapi sangat dibutuhkan respons yang baik dan konsisten memelihara hubungan yang baik dari umat percaya dengan hidup dalam perintah Allah dan melakukannya (Yoh. 14:15). Karena itulah Yesus menaikkan doa syafaat sebagaimana yang dituliskan dalam Yohanes 17.
Doa syafaat Yesus itu terdiri atas tiga bagian, yaitu: pertama, ayat 1-8 merupakan doa untuk diri Yesus; kedua, ayat 9-19 merupakan doa untuk murid-murid-Nya; ketiga, ayat 20-26 merupakan doa untuk semua orang percaya. Yesus memberikan teladan yang luar biasa, Yesus punya hubungan keesaan dengan Bapa, keesaan itu juga hendak diturunkan kepada umat percaya. Alasan mendasar mengapa orang percaya harus tekun berdoa, baik secara pribadi dan secara bersama, yaitu:
a. Menuju “ut omnes unum sint,” dalam bahasa Indonesia: "agar mereka semua menjadi satu," bahasa Yunani: ἵνα πάντες ἓν ὦσιν, ina pantes hen ōsin; bahasa Inggris: “That they all may be one.” Frasa itu diambil dari ayat “amanat perpisahan,” yaitu pengajaran terakhir Yesus dalam Yohanes 17:21, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Lalu dilanjutkan dalam ayat 22, Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu. Kedua ayat tersebut menunjukkan adanya hubungan keesaan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus (keesaan Allah Tritunggal), keesaan Allah Tritunggal dengan umat percaya dan keesaan antara umat percaya agar tekun membangun iman dan pengharapan yang sama atau hidup dalam keesaan umat percaya (Yoh. 17:11.b)
b. Menghadirkan TUHAN dalam pergumulan, rencana, permohonan dan syukur kita
Doa Yesus di taman Getsemani, Matius 26:39 kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki". Doa Yesus ini hendak mengajarkan kepada kita agar hanya TUHAN yang dipermuliakan dalam hidup kita, janganlah nama TUHAN dipermalukan dalam hidup kita. Dalam frame berpikir seperti itulah kita berdoa menghadirkan TUHAN dalam pergumulan, rencana, permohonan dan syukur kita.
c. Menyejukkan hati dan pikiran
Jika kita berdoa dengan tulus dan sungguh berserah, maka kita hendak mengizinkan Tuhan untuk hadir dalam rencana, pergumulan, permohonan dan syukur kita. Dengan berserah, berarti kita mau meminta kuasa pengasihan-Nya untuk melindungi dan memberkati kita, maka hati dan pikiran kita akan menjadi sejuk dan damai. Damai yang melampaui pikiran kita manusia (bnd. Fil. 4:6-7). Meskipun kita belum mendapatkan apa yang diminta kepada Tuhan, tetapi kita telah mendapat hati dan pikiran yang tenteram karena berserah kepada-Nya. Orang yang dapat merangkai kata dalam doa adalah mereka yang mampu menguasai dirinya dengan tenang, firman: “kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Petrus 4:7).
d. Menjadi saluran berkat Tuhan
Lewat doa kita bisa menikmati kasih, berkat, dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita. Firman-Nya berkata: “kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa,” (Yak. 4:2)
e. Sarana datang kepadan TUHAN setiap saat
Tuhan selalu rindu kepada kita dan rindu kita selalu datang kepada-Nya. Doa menjadi sarana kita bisa datang berjumpa TUHAN setiap saat. Firman-Nya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:28-29).
f. TUHAN mau agar umat tekun berdoa dan bersyukur kepada-Nya
Penciri umat yang percaya kepada Yesus adalah tekun berdoa (Roma 12:12, Kol 4:2.a, 1 Tes. 5:17) dan menaikkan syukur kepada-Nya (Kolose 4:2.b, 1 Tes. 5:18,dsb)
g. Sarana pengakuan dosa dan solidaritas persekutuan
TUHAN menyiapkan sarana doa agar kita gunakan untuk mengaku dossa dengan tulus, membagun gerakan solidaritas bersama melalui gerakan doa, untuk menikmati kuasa Allah lewat doa. Firman-Nya: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yak. 5:16)
h. Sarana menyaksikan mujizat TUHAN
Lewat doa, Yesus mengijinkan kita menikmati mujizat kuasa-Nya. Misalnya: ceritera Yesus yang membangkitkan Lazarus yang sudah 4 hari mati (Yoh.11:41-42), Yesus menyembuhkan orang, lumpuh, cacat, buta, tuli dan lain-lain.
Aplikasi: Dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke 70 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada tanggal 25 Mei 2020, maka firman Tuhan yang dibaca hari ini menjadi sangat monumental untuk direfleksikan dalam memaknai perjalanan semangat gerakan oikumene dalam gereja-gereja yang tergabung dalam wadah PGI. Spirit “ut omnes unum sint” atau "agar mereka semua menjadi satu," menjadi landasan dan energy inti gerakan ekumenikal dalam kekristenan menuju keesaan denominasi Kristen di dunia. Bahkan di Indonesia digaungkan sejak 1980-an dengan frasa: Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia (GKYE). Spirit itu pun banyak mewarnai topik-topik khotbah dan renungan untuk mengkampanyekan keesaan gereja.
Diposting tanggal 22 May 2020
