Bahan Khotbah Kenaikan Yesus ke Sorga Kamis 21 Mei 2020 KAMU ADALAH SAKSI DARI SEMUA INI Kamumo la dadi sa’bi diona te Mintu’na
Bahan Khotbah Kenaikan Yesus ke Sorga Kamis 21 Mei 2020
KAMU ADALAH SAKSI DARI SEMUA INI
Kamumo la dadi sa’bi diona te Mintu’na
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 47:1-10 |
| Bacaan 1 | : Kisah Para Rasul 1:1-11 |
| Bacaan 2 | : Efesus 1:15-23 |
| Bacaan 3 | : Lukas 24:36-53 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Mazmur 30:5 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Kisah Para Rasul 1:8 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami tugas sebagai saksi Kristus.
2. Jemaat menjadikan hidupnya sebagai saksi Kristus.
Pemahaman Teks
Kisah Para Rasul 1:1-11 adalah kesaksian tentang kenaikan Yesus ke surga. Kisah ini diawali penampakan Tuhan Yesus kepada para murid selama empat puluh hari. Bahkan saat Yesus melarang para murid meninggalkan Yerusalem (ay. 4), para murid merespon dengan bertanya tentang restorasi Israel (ay. 6). Nampak bahwa mereka belum memahami jati diri Tuhan Yesus. Mereka masih saja memahami Yesus sebagai mesias, dalam arti politis, yang dapat menggembalikan kerajaan Israel seperti zaman Daud. Kerajaan yang dibicarakan Tuhan Yesus selama ia menampakkan diri, menunjuk pada Kerajaan Allah yang ditegakkan melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan penggunaan kata “tetapi” (ayat 8), Tuhan Yesus menghendaki para murid fokus pada hal yang lain, yakni tugas menjadi “saksi Tuhan Yesus” di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Para murid akan memberi kesaksian tentang Tuhah Yesus yang sudah menegakkan Keraaan Allah, melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Untuk dapat menjalani tugas itu, mereka akan dibekali dengan Roh Kudus. Meski begitu, mereka tetap terpana ketika Yesus naik ke Sorga. Sampai dua orang yang berpakaian putih “memperingatkan” mereka (ay. 11). Pertanyaan yang mereka sampaikan, seakan menegaskan agar para murid bersiap untuk menjalankan tugas menjadi saksiNya.
Efesus 1:15-23 berisi penekanan Rasul Paulus bahwa Jemaat Efesus adalah gereja, persekutuan orang-orang percaya, yang dipanggil keluar untuk bersaksi dan melayani. Oleh karena itu, untuk bisa melakukan hal tersebut diperlukan kesatuan orang percaya yang telah mendapat anugerah dan pengorbanan Yesus Kristus. Pertanyaan mendasar, bagaimana mereka hidup sebagai “gereja”? Dalam teks ini, Rasul Paulus yang telah mendengar kesaksian iman jemaat tentang Tuhan Yesus dan kasih jemaat kepada semua orang, selalu bersyukur dan berdoa untuk jemaat supaya mengenal Allah dengan benar (ay. 15-17).
Lukas 24:44-53 berkisah tentang penampakan diri Tuhan Yesus kepada para murid dan dilanjutkan sampai pada kisah kenaikan Yesus ke surga. Tuhan Yesus membuka pikiran para murid agar mereka mengerti Kitab Suci. Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Oleh karena itu para murid mempunyai tugas menjadi saksi atas semuanya itu. Untuk melakukan tugas ini Tuhan Yesus memberikan “bekal” kepada mereka, yaitu memperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi. Tuhan Yesus juga memberkati mereka. Sehingga mereka kembali dengan sangat bersukacita.
Korelasi: Panggilan hidup orang Kristen yang paling mendasar adalah bersaksi dan melayani di tengah-tengah kehidupan di dunia. Sekalipun, seringkali mengalami tantangan, pergumulan, bahkan sampai ancaman yang bisa membuat ragu, putus asa, bahkan takut, namun, pengorbanan Tuhan Yesus mampu memberi semangat untuk meneladani-Nya, dan berkat-Nya menjadi sumber kekuatan di dalam hidup.
Pemahaman Bahan Utama
Lukas 24:44-53 berisi tiga hal penting. Pertama, Yesus memberikan tugas kepada para murid-Nya untuk menyaksikan segala sesuatu tentang Dia (ay. 44-48). Kedua, Yesus menjanjikan Penolong, yakni Roh Kudus (ay. 49). Ketiga, Yesus memberkati murid-murid-Nya dan kemudian naik ke sorga (ay. 50-53).
Bagian pertama mengisahkan bahwa sebelum Yesus naik ke sorga, para murid kembali diberitahukan bahwa Dialah Mesias yang telah ditulis dalam kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Mesias harus menderita, mati disalibkan dan pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati. Semuanya ini dilakukan dalam rangka penyelamatan dan keselamatan bagi manusia. Tentang semuanya ini para murid telah menyaksikannya. Oleh karena itu, Yesus mengamanatkan agar sebagai murid-murid-Nya yang telah menyaksikan semuanya itu, setelah kepergiannya naik ke sorga, memberitakan semuanya itu mulai dari Yerusalem. Ayat 48 mengatakan: “Kamu adalah saksi dari semuanya ini”.
Apa makna saksi dari semua ini? Pertama, para murid harus memahami bahwa Yesus telah menggenapi nubuat Allah dalam Perjanjian Lama. Yesus berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur” (ay. 44). Percakapan terakhir menjelang Yesus naik ke sorga merupakan percakapan yang menentukan, sebab tanpa percakapan tersebut para murid Yesus tidak akan memahami seluruh makna Perjanjian Lama tentang nubuat Allah yang terjadi dalam diri Yesus. Hal ini juga mau menegaskan kedudukan Perjanjian Lama yang sangat penting bukan hanya karena penyataan Allah yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan umat Israel pada zaman dahulu, tetapi juga terdapat korelasi yang tidak terputus dengan karya keselamatan Allah di dalam diri Yesus. Kehidupan Yesus, karya-karya-Nya, sengsara, wafat, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke sorga dipahami sebagai rencana keselamatan Allah yang terlebih dahulu diberitakan oleh para Nabi Perjanjian Lama. Karena itu, penyataan dan nubuat Allah yang diberitakan oleh para Nabi pada zaman dahulu pada akhirnya mencapai puncaknya dalam diri Yesus. Dalam konteks ini Yesus menyatakan: “harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur”. Yesus menyadari bahwa Diri-Nya merupakan kulminasi (puncak) seluruh penyataan Allah, sehingga nubuat para nabi Perjanjian Lama digenapi di dalam Dia. Makna “menggenapi” berarti Yesus memulihkan kembali maksud Allah yang sesungguhnya, sebab hati umat terhalang mengenal kebenaran Allah yang membebaskan. Karena itu Yesus membuka mata rohani dan pikiran para murid untuk mengenal makna Kitab Suci yang sesungguhnya. Di Lukas 24:45 menyatakan: “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci”.
Kedua, murid-murid harus memahami bahwa selama ini mereka telah bersama-sama dengan Yesus, Sang Mesias. Untuk mewujudkan pertobatan dan pengampunan dosa, Yesus telah berkarya secara nyata. Yesus hadir bagi mereka yang sakit, tersisih, kaum pinggiran, oran-orang yang tertindas dan sebagainya. Kehadiran-Nya adalah dalam rangka mewujudkan kerajaan Allah. Ungkapan “Kamu adalah saksi dari semuanya ini” adalah panggilan Yesus supaya para murid mempersaksikan kabar gembira kepada semua orang. Nilai-nilai kerajaan Allah, yakni keadilan, kemanusiaan, damai sejahtera, keutuhan ciptaan, telah dinyatakan di dalam Dia.
Berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa di dalam-Nya, dan ini dilakukan mulai dari Yerusalem. Mengapa dalam nama-Nya? Pertama, karena dalam nama-Nya ada kuasa yang menolong orang untuk menyesali dosa-dosanya dan bertobat. Kedua, karena hanya dalam nama-Nya pengampunan dosa diberikan bagi siapa saja yang menyesali dosa-dosanya sehingga manusia boleh selamat.
Berita kebangkitan Yesus bukan berita yang harus dirahasiakan atau disembunyikan melainkan haruslah disaksikan ke seluruh suku bangsa. Kebangkitan Yesus tidak hanya mensahkan fakta bahwa pengampunan dosa berlaku bagi semua suku bangsa, tetapi juga mengarahkan umat percaya pada pertobatan. Dosa tidak lagi menjadi penghalang persekutuan manusia dan Allah. Kebangkitan Yesus menjadi bukti bahwa utang dosa telah dibayar lunas oleh Yesus. Inilah tugas semua murid Yesus.
Bagian kedua perikop ini menjelaskan tentang Yesus yang memperlengkapi murid-murid-Nya sebelum diutus. Ayat 49 mengatakan: “Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi”. Ayat ini menunjukkan cara Yesus memperlengkapi, yaitu dengan Roh Kudus. Roh Kudus menjadi jiwa kehidupan murid-murid-Nya. Kehadiran Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan Yesus bukan hanya puncak kepenuhan janji-Nya, melainkan juga berperan bagi kehidupan murid-murid-Nya. Mereka harus tinggal di Yerusalem hingga semua diperlengkapi. Mengapa Yerusalem begitu penting di mata penulis Injil Lukas? Bagi Lukas, Yerusalem memiliki makna yang penting. Penyelamatan Allah bagi dunia tidak dapat dilepaskan dari kota ini. Pengalaman kehidupan iman dari Yerusalem bersama Yesus akan menjadi titik tolak pewartaan keyakinan iman para murid. Pewartaan itu akan dibawa hingga seluruh dunia. Untuk dapat mewartakan keyakinan iman itu para murid harus menantikan yang dijanjikan oleh Bapa. Bapa menjanjikan akan mengutus Roh Kudus.
Bagian ketiga perikop ini berisi berkat Yesus bagi murid-murid-Nya dan kenaikan-Nya ke sorga. Usai mengatakan petuah-petuah itu, Yesus mengajak murid-murid pergi ke Betania. Di Betania itu Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati murid-murid-Nya. Ketika Yesus memberkati murid-murid-Nya, Ia terangkat ke sorga. Berkat adalah bentuk penyertaan Tuhan pada murid-murid-Nya. Mereka yang diutus adalah mereka yang diberkati oleh Allah. Usai menerima berkat dan perutusan itu, para murid bersujud dan kembali ke Yerusalem dengan gembira. Kegembiraan itu tampak dalam antusiasme para murid berada di Bait Allah dan memuliakan Allah. Paling tidak ada tiga makna kenaikan Yesus ke sorga. Pertama, kenaikan Tuhan Yesus ke sorga menegaskan bahwa benar Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu, di luar Dia tidak ada keselamatan. Kedua, dengan kenaikan-Nya berarti Yesus menyediakan tempat bagi orang beriman. Ketiga, kenaikan Yesus ke Sorga memberi kesempatan dan peluang bagi orang percaya untuk menjadi saksi Yesus di dunia ini, setelah mendapat urapan dan curahan Roh Kudus.
Pokok-pokok pengembangan khotbah
- Menjadi saksi=memberitakan kebenaran Kitab Suci. Tujuan Yesus membuka pikiran murid-murid-Nya adalah supaya mereka mengerti Kitab Suci dengan baik. Tujuannya bukan agar mereka berhikmat melebihi apa yang tertulis di sana, tetapi supaya mereka menjadi lebih berhikmat mengenai apa yang tertulis, dan menjadi bijaksana sehingga mau menerima keselamatan yang ditawarkan di sana. Roh yang ada di dalam firman dan Roh yang bertakhta dalam hati mengatakan hal-hal yang sama. Di dunia ini, murid-murid Kristus tidak boleh mencari-cari hal yang lebih dari apa yang diajarkan Alkitab, tetapi harus terus belajar lebih lagi dari Alkitab mereka dan bertumbuh menjadi lebih siap dan bijak dalam firman Allah. Untuk memiliki pikiran-pikiran yang benar mengenai Kristus dan memperbaiki dugaan-dugaan mereka yang salah tentang diri-Nya, tidak ada lagi yang diperlukan selain daripada memahami firman Allah. Mereka harus mengabarkan Kitab Suci; mereka harus menyampaikan Perjanjian Baru sebagai penggenapan menyeluruh dari Perjanjian Lama. Mereka harus membawa Alkitab mereka, dan harus memperlihatkan kepada orang-orang apa yang tertulis mengenai Mesias dalam Perjanjian Lama, kemuliaan dan karunia kerajaan-Nya, lalu memberi tahu bagaimana semuanya digenapi dalam diri Tuhan Yesus, sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Kebenaran Kitab Suci yang agung mengenai kematian dan kebangkitan Yesus Kristus ini harus dikumandangkan kepada segala bangsa.
- Menjadi saksi = bertobat. Apakah bertobat itu? Kata “bertobat” (ay. 47) adalah terjemahan dari kata metanoian (Bhs. Yunani) atau syub (Bhs. Ibrani), yang berarti kembali, berbalik arah, dan berubah pikiran. Jadi “tobat” adalah kondisi saat manusia berubah pikiran, berbalik, dan kembali ke arah sebelum berbuat dosa, yaitu kembali ke Tuhan, kemudian pertobatan pikiran tersebut diikuti dengan perubahan nyata (perbuatan, sikap, tindakan). Emosi penyesalan bukan unsur utama dari suatu pertobatan, walau hal itu sering terjadi. Sebagai contoh, jika seseorang sebelumnya berjalan ke arah utara lalu menyesal, berubah pikiran, dan berbalik arah ke selatan menuju ke titik sebelumnya berjalan ke arah utara, maka titik seseorang menyesal, berubah pikiran, dan membalikkan badan adalah titik pertobatan tersebut. Jadi sekali lagi bertobat tidak sekadar kata-kata, perasaan menyesal, tetapi juga harus diikuti sikap, perbuatan dan tindakan. Kewajiban yang diperintahkan dalam Kitab Suci mengenai pertobatan harus diberitakan kepada segala bangsa. Pertobatan dari dosa harus disampaikan dalam nama Kristus dan dengan kuasa-Nya. Segala bangsa di mana pun harus dipanggil dan diperintahkan untuk bertobat. Mereka harus segera berbalik dari segala berhala mereka, dan menyembah Allah yang telah menciptakan mereka. Tidak hanya itu, mereka juga harus berhenti mementingkan perkara duniawi dan kedagingan. Mereka harus berbalik dan menyembah Allah di dalam Kristus, dan harus menghentikan segala kebiasaan dan perbuatan dosa. Hati dan hidup mereka harus diubahkan, dan mereka semuanya harus dibentuk dan diperbarui. Namun harus diingat, bahwa mereka sendiri harus lebih dulu menjadi orang yang telah bertobat dari dosa-dosanya.
- Menjadi saksi = mengampuni. Yesus menjanjikan datangnya Roh Kudus ke atas murid-murid-Nya. Roh Kudus akan menolong mereka dalam menjalankan tugas sebagai saksi. Dan, yang tidak kalah penting dari kehadiran Roh Kudus adalah adanya kuasa untuk ‘mengampuni’ dosa. Kuasa ini hanya datang dari Roh Kudus yang diberikan Yesus kepada kita. ‘Mengampuni’ di sini bukan berarti kita dapat mengganti posisi Yesus. Hanya Yesuslah yang dapat mengampuni dan menyelamatkan orang dari dosanya. Akan tetapi dalam kuasa Roh Kudus kita dapat menjaminkan pengampunan itu bagi orang lain. Lebih-lebih di tengah masyarakat yang menganut ajaran dan budaya “gigi ganti gigi dan mata ganti mata”, “pembalasan lebih kejam dari tindakan.” Semua hukum, peradilan dan kehidupan diatur dengan paradigma saling balas ini. Jikalau dibiarkan terus, maka makin lama permusuhan dan kebencian itu akan makin besar dan merajalela. Semua ini akan menjadikan rusak, tidak hanya bagi si pendendam sendiri, tetapi juga orang lain, malahan generasi selanjutnya yang tidak mengetahui permasalahan yang sebenarnya. Sungguh dunia membutuhkan kekuatan pengampunan yang dapat memutus lingkaran setan itu, dan kita dikaruniai kuasa itu. Tinggal kita mau hidup dari kuasa yang menghidupkan itu, atau tetap dikuasai kuasa hukum balas dendam yang membinasakan.
Diposting tanggal 20 May 2020
