YESUS ADALAH TERANG DUNIA (Puang Yesu Iamo Arrangna lino)
Bahan khotbah Minggu ke-13 Prapaskah IV, 26 Maret 2017
YESUS ADALAH TERANG DUNIA
(Puang Yesu Iamo Arrangna lino)
| Mazmur | Mazmur 23:1-6 |
| Bacaan 1 | 1 Samuel 16:1-13 |
| Bacaan 2 | Efesus 5:8-14 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | Yohanes 9:1-41 |
| Nas Persembahan | Mazmur 141:2 |
| PHB | Efesus 5:8-10 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami bahwa Allah adalah penuntun kepada kehidupan yang baik
2. Jemaat menghayati bahwa Yesus adalah terang yang menuntun kepada Bapa
3. Jemaat memberi diri untuk dituntun kepada hidup yang benar dihadapan Allah
Pendahuluan
Terang dan gelap adalah bentuk pengungkapan identitas yang selalu bertolak belakang (kontra-versi). Terang dipakai untuk menyatakan hal yang baik, benar dan kudus sedangkan gelap selalu diasumsikan dengan hal-hal yang tidak baik, jahat dan cemar. Iman Kristen menekankan bahwa ketika seseorang memutuskan untuk percaya kepada Yesus Kristus maka saat itu pula ia telah masuk dalam terang dan menjadi anak-anak terang. Dengan demikian Yesus Kristus adalah terang itu sendiri yang menuntun kepada Bapa.
Keterkaitan dengan semua bacaan hari ini: Mazmur 23:1-6 menjelaskan tentang posisi Allah sebagai gembala yang menuntun kepada kehidupan dan kebahagiaan. 1 Samuel 16:1-13 menjelaskan pengurapan Daud sebagai raja atas Israel yang akan menuntun mereka kepada pengenalan yang benar tentang Allah. Efesus 5:8-14 berbicara tentang nasihat Paulus untuk hidup sebagai anak-anak terang dan menjauhi perbuatan kegelapan. Dan Yohanes 9:1-41 merupakan cerita tentang orang buta sejak lahir yang disembuhakn sekaligus menjelaskan bahwa untuk melihat kemuliaan Allah maka mata khususnya mata iman perlu dicelikkan terlebih dahulu. Allah adalah satu-satunya penuntun kepada kebenaran dan kebenaran yang menjadi sempurna di dalam Yesus Kristus.
Pemahaman Teks
Efesus adalah kota pelabuhan yang cukup terkenal pada zaman Rasul Paulus dan menjadi salah satu simpul ekonomi di Asia Kecil. Salah satu kuil yang terkenal di kota ini ialah Kuil Diana atau Dewi Artemis yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia pada zaman purba. Ratusan pelacur wanita melayani di kuil ini sebagai salah satu bentuk penyembahan berhala. Itulah sebabnya Paulus banyak berbicara tentang pentingnya perlengkapan rohani untuk mengalahkan iblis (Ef. 6:10-18). Hubungan Paulus dengan jemaat Efesus sedikit berbeda jika dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain. Rupanya Paulus memiliki hubungan emosional yang kuat dengan jemaat Efesus, mungkin karena Paulus 3 (tiga) tahun lamanya tinggal dan melayani di jemaat ini (lih. Kis. 20:31). Jadi Paulus mengenal betul kondisi jemaat Efesus termasuk kesulitan dan hambatan yang dialami dalam pemberitaan Injil di sana. Paulus melayani dengan cucuran air mata, menandakan betapa beratnya pergumulan yang ia hadapi waktu berada di Efesus. Kitab Efesus mau menekankan keseimbangan kehidupan kristiani, yakni antara doktrin atau apa yang dipercayai (pasal 1-3) dan penerapan dari doktrin itu sendiri atau etika (pasal 4-6). Salah satu penerapan ajaran Kristus ialah hidup sebagai anak-anak terang yakni hidup dalam kebenaran yang berpusat pada Kristus sejak pembaptisan (ayat 14). Rupanya percabulan yang menjadi modus penyembahan berhala dan bentuk-bentuk perbuatan kegelapan lainnya menjadi perhatian utama Paulus dalam surat ini. Jemaat dinasehati agar menampakkan pola hidup berbeda dengan mereka yang hidup dalam kegelapan. Jangan mau disesatkan oleh mereka (ayat 6) dan jangan kamu berkawan dengan mereka (ayat 7). Paulus menghendaki agar persekutuan jemaat benar-benar berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah sebab dengan cara demikian mereka dapat menelanjangi (ayat 13) setiap kebodohan dan kebobrokan moral yang sedang terjadi dalam masyarakat (terang Kristus akan menelanjangi yang gelap). Dan pada akhirnya mereka dinasehati untuk hidup bergantung kepada Allah dengan penuh syukur dan bijaksana akan kebajikan-Nya (ayat 15-20).
Pokok yang dapat dikembangkan.
Pertama, Jauhilah Perbuatan Kegelapan (ayat 11,12). Dengan sangat ekstrim Paulus menasihatkan agar sebagai orang yang telah diperdamaikan dan dipersatukan dalam Kristus hendaklah menjauhi perbuatan-perbuatan kegelapan yang pernah dilakukan sebelum mengenal terang (ayat 8). Perbuatan-perbuatan kegelapan itu antara lain percabulan, kecemaran, keserakahan, kata-kata kotor yang kosong dan yang sembrono. Menurut Paulus menyebut saja tidak boleh apalagi melakukannya (ayat.3,4). Orang-orang yang terus melakukan perbuatan kegelapan akan binasa sebab tidak ada tempat bagi mereka dalam Kerajaan Kristus dan Allah (ayat 5). Bagaimana dengan kehidupan orang-orang peraya pada zaman ini? Apakah iman mereka kepada Kristus telah berpadan dengan pola hidup mereka sehari-hari dengan menjauhi semua perbuatan-perbuatan kegelapan? Bagaimana dengan lokalisasi pelacuran dibeberapa tempat yang agak sulit untuk ditutup dengan berbagai alasan? Misalnya: alasan ekonomi, termasuk perjudian dalam berbagai modus, perselingkuhan dan lain-lain. (silahkan dikembangkan sesuai konteks masing-masing)
Kedua, Jadilah Anak-Anak Terang (ayat 8). Terang tidak mungkin bersatu dengan kegelapan. Terang sejatinya mengalahkan yang gelap bahkan terang seharusnya mengubah kegelapan menjadi terang. Inilah inti nasihat Paulus kepada jemaat Efesus. Janganlah kamu mengambil bahagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak menghasilkan apa-apa (ayat 11). Dahulu kamu memang kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan, sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang (ayat 8). Menurut Paulus, menjadi anak-anak terang adalah keniscayaan bagi pengikut Kristus. Karena itu perhatikanlah cara hidupmu, hiduplah dengan arif, pergunakanlah waktu sebaik mungkin, jangan bodoh, tetapi usahakanlah mengerti kehendak Tuhan, jangan mabuk oleh anggur tetapi hendaklah kamu hidup dalam Roh (lihat ayat 15-17).
Matius 5:8 menggambarkan bahwa setiap orang yang mengikut Yesus haruslah menjadi terang dunia. Menjadi teladan bagi dunia, menjadi berkat bagi dunia, mentransformasi dunia dengan teladan Kristus sehingga terang dapat menerangi yang gelap. Orang menyalakan terang untuk ditempatkan di atas kaki dian bukan dibawah gantang. Gereja diutus ke dalam dunia untuk menjadi terang dengan berani dan tegas menyatakan kebenaran kehendak Allah dalam berbagai medan pelayanannya termasuk konsisten berpihak kepada mereka yang kurang beruntung. Dan bukan bersembunyi atau berdalih dibalik kelemahan dan ketidakberdayaan karena alasan organisasi, konstitusi dan sejenisnya. Terang Kristus janganlah menjadi redup karena alasan kelemahan kita baik sebagai pribadi maupun secara lembaga. (contoh: jemaat A tidak bisa membantu korban kebakaran yang terjadi karena tidak ada anggaran untuk itu). Kesepakatan konstitusi itu penting, tetapi tujuan dan hakekat gereja dalam hal pelayanan kasih jauh lebih penting.
Ketiga, Yesus Kristus adalah terang yang menuntun kepada Bapa. Kaitannya dengan PIGT bab VI butir 3 bahwa umat Allah diutus ke dalam dunia untuk menjadi berkat bagi dunia dan Bab V butir 6 bahwa orang beriman sebagai ciptaan baru tidak dapat lagi hidup dalam dosa melainkan kehidupannya merupakan suatu persembahan hidup. Yesus Kristus yang adalah terang dunia (Yoh.8:12) melalui pengorbanan-Nya di kayu salib menjadi satu-satunya petunjuk atau penuntun untuk sampai kepada Bapa yang adalah kebenaran dan hidup (Yoh.14:6). Dalam dunia ada banyak hal yang dapat menjadi penuntun hidup tetapi apakah itu membawa kepada kebenaran? Petunjuk adat misalnya (Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’) atau harta benda, kekuasaan, popularitas dan sebagainya. Semua itu memang bisa mengantar orang kepada kepuasan, tetapi hanya Yesus satu-satunya terang yang menuntun kita kepada Bapa dan satu-satunya petunjuk untuk hidup dalam kebenaran. (YP)
Diposting tanggal 28 Feb 2017
