Sama Kelirunya

Di kalangan orang Yahudi, sesuatu dianggap benar dan sah jika disaksikan oleh setidaknya dua orang. Kalau kesaksian dua orang saja sudah cukup kuat, apalagi kalau kesaksian orang banyak.
Peristiwa kebangkitan Lazarus disaksikan oleh orang banyak. Mereka itu bersaksi sebagai saksi mata dan berhasil meyakinkan banyak orang. Ungkapan “seluruh dunia” dalam ayat 19 menunjuk pada keberagaman orang yang telah melihat, mendengar kesaksian, dan kemudian mengikut Yesus. Di antaranya hadir orang-orang bukan Yahudi yang telah menganut agama Yahudi, yang dikenal dengan sebutan Yahudi proselit.
Ketika saksi mata (ayat 17) dan saksi yang percaya karena mendengar (ayat 18) bergabung melakukan dan memeriahkan penyambutan Yesus, wajarlah jika pemimpin Yahudi semakin kuatir, semakin merasa terancam, dan merasa sudah gagal untuk menghambat perkembangan pengaruh Yesus dan pengikut-pengikut-Nya (ayat 19). Kalau yang bersaksi masih terbatas pada teman dekat dan atau keluarga, mungkin masih dapat dilawan dengan menyebar gosip. Tetapi kalau yang bersaksi adalah orang dari berbagai penjuru dunia, tidak ada cara halus untuk melawannya.
Semakin jelas dan semakin terbentuklah dua kelompok yang berbeda dalam menanggapi kehadiran Yesus. Yang satu menjadi pendukung yang amat antusias, dan semakin tidak sabar menunggu saat-saat Yesus mulai memerintah sebagai raja. Kelompok yang lain menjadi kelompok penentang yang semakin dikuasai oleh perasaan kalah dan gagal, perasaan marah, iri hati, dan niat jahat.
Dua kelompok itu memang berbeda tetapi sesungguhnya mereka memikirkan Yesus dengan cara yang sama. Keduanya berpikir secara sosial dan politis saja, bahwa Yesus sedang dalam perjalanan menuju takhta kerajaan di Yerusalem. Hanya saja, yang satu sangat mengharapkan dan merindukan sedangkan yang lain membenci dan berusaha menggagalkannya. Tetapi, mereka semua keliru.
Diposting tanggal 09 Apr 2016
