Bahan Khotbah Minggu ke-9 Tanggal 3 Maret 2019 Minggu Transfigurasi MEMANCARKAN WAJAH TUHAN (Umpaparrang lindoNa Puang Matua)
Bahan Khotbah Minggu ke-9 Tanggal 3 Maret 2019
(Minggu Transfigurasi)
MEMANCARKAN WAJAH TUHAN
(Umpaparrang lindoNa Puang Matua)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 37:1-11 |
| Bacaan 1 | : Kejadian 45:1-15 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Korintus 15:42-50 |
| Bacaan 3 | : Lukas 6:27-36 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 136:26 |
| Petunjuk Hidup Baru |
: Lukas 6:36 |
Tujuan:
-
Jemaat memahami arti dan makna wajah Allah
-
Jemaat menghidupi dan memancarkan wajah Tuhan dalam hidup keseharian
Pemahaman Teks
Mazmur 99:1-9menjelaskan kemuliaan Allah yang disaksikan oleh umat-Nya. KemuliaanNya luar biasa, jauh tinggi mengatasi segala bangsa. Itu sebabnya, Tuhan patut disembah dan ditinggikan. Ia adalah Raja yang kuat, yakni yang menegakkan kebenaran, serta keadilan bagi umat-Nya. Ia pun setia menjawab seruan umat-Nya.
Keluaran 34:29-35 menjelaskan peristiwa saat Allah menyatakan kemuliaan-Nya melalui Musa. Muka Musa jadi bercahaya. Kata Ibrani untuk bercahaya merupakan kata yang aneh, yakni berasal dari kata Ibrani yang artinya “tanduk” (arti harafiahnya adalah memancar). Jerome dalam Vulgata menerjemahkan kalimat itu dari segi arti pokok akar katanya = “ditanduk”. Karena itu kadang-kadang para pelukis seringkali melukis Musa dengan kepala yang bertanduk. Sebelumnya Musa bertemu dengan Allah selama empat puluh hari dan selama itu ia berpuasa (bnd. Mat. 4:1-11). Hasilnya ialah Musa mendapat kemilau kemuliaan Tuhan yang terpancar dari wajahnya. Kemuliaan ini disaksikan oleh Harun dan seluruh bangsa Israel. Kharisma kepemimpinannya semakin jelas. Kemuliaan itu berasal dari Tuhan Allah sendiri. Musa menekankan semua hukum-hukum Allah yang harus ditaati oleh umat-Nya. Jika dahulu, Harunlah juru bicaranya, tetapi sekarang Musa sendirilah yang langsung menyampaikan Firman Tuhan itu.
Lukas 9:28-36 menceritakan kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus Kristus, sehubungan dengan karya penyelamatan Allah melalui penderitaan Yesus Kristus. Pengakuan Petrus yang mewakili para murid bahwa Yesus adalah Mesias, ternyata tidak serta merta berarti bahwa mereka mengerti misi Mesianik Yesus yang harus melalui jalan penderitaan. Untuk itulah pemuliaan Yesus menjadi peneguhan bagi mereka, bahwa Yesus memang adalah Mesias yang dijanjikan Allah sejak Perjanjian Lama dan yang akan menempuh jalan penderitaan.
Dalam 2 Korintus 3:12-18, Paulus menekankan tentang kemuliaan Tuhan yang tidak terselubung pada warga jemaat. Paulus menyoroti tindakan Musa dalam Keluaran 34 sebagai tindakan yang berani (ay.12-13) bandingkan (Kel.34:33-35). Keberanian itu berasal dari Tuhan (Kis.4:29). Paulus menegaskan bahwa karena tindakan Musa yang menutupi mukanya pada saat ia turun dari gunung Sinai, orang Yahudi pun tidak bisa memahami secara utuh Perjanjian Lama itu, meskipun orang Yahudi merasa sangat mengerti isi perjanjian itu. Sampai hari ini pun, selubung itu masih tetap menyelubungi mereka (ay.14-15) dan yang bisa menyingkapkan selubung itu hanya Kristus. Karena itu mereka harus berbalik pada Tuhan supaya selubung itu diambil dari mata mereka (ay.16). Pada saat itulah penglihatan rohaninya tidak akan terhalang lagi.
Di sinilah terletak makna kehadiran Yesus yang memerdekakan kita dari selubung yang mengisolasi kita dari anugerah Kristus dan memerdekakan kita dari jajahan dosa (ay.17 bnd.Rm.10:4). Kemerdekaan itu tidak akan memudar, tetapi akan terus mentransformasi hidup kita makin menyerupai cahaya Kristus.
Pemahaman bahan utama
Ayat 28-30 mengisahkan peristiwa yang terjadi saat Yesus naik ke atas gunung untuk berdoa bersama tiga murid-Nya, yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus. Saat Yesus berdoa, rupa wajah-Nya berubah. Berbeda dengan Injil Matius dan Markus, Lukas tidak menggunakan kata “berubah rupa” (transfigurasi atau metamorphosa), seperti istilah yang sudah digunakan oleh agama-agama yang ada di sekitarnya. Tetapi Lukas menggunakan istilah “rupa wajah-Nya lain daripada rupa sebelumnya”. Dalam hal ini wajah-Nya menjadi sangat bercahaya jauh melebihi cahaya wajah Musa. Pakaian-Nya pun putih berkilau-kilauan.
Ayat 31-33 mengisahkan tentang percakapan Elia dan Musa yang menegaskan maksud perjalanan Yesus ke Yerusalem yang akan segera terwujud, yakni yang menunjuk pada kematian Yesus. Pada sisi lain, Petrus justru merasa bahagia dan ingin tetap tinggal di atas gunung dengan cara membuat kemah bagi Yesus, Musa dan Elia.
Ayat 34 menjelaskan tentang awan yang menaungi mereka sebagai tanda kehadiran Allah. Kejadian inipun pernah terjadi dalam peristiwa lain, misalnya dalam Keluaran 40:34-35. Di dalam awan, Allah menjadikan Kemah Suci dan Bait Suci sebagai milik-Nya. Lalu ketika awan itu menutupi kemah pertemuan dan hinggap di atas kemah, Musa tidak dapat memasuki kemah pertemuan itu. Demikian pula dalam 2 Tawarikh 5:14, ketika awan itu memenuhi Bait Suci, imam-imam itu tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu. Awan seperti inilah yang tampak di sini yang membuat para murid ketakutan. Mereka tidak berani masuk ke dalam awan itu.
Ayat 35-36 mengisahkan tentang suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia". Meskipun kalimat ini tidak selengkap dengan kalimat yang ada dalam Matius 3:17, Mrk. 1:11 dan 2 Pet. 1:17, tetapi maksud utama sudah jelas, bahwa Yesus sungguh adalah Anak Allah.
Para murid merahasiakan apa yang telah mereka saksikan di bukit itu. Mereka menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya.Mereka kini sementara diproses untuk menjadi murid yang lebih berani. Mereka akan diutus untuk memberitakan apa yang telah mereka saksikan secara langsung. Mereka menantikan pengutusan dari Yesus. Mereka memang harus memegang teguh rahasia yang mereka telah saksikan di bukit itu, namun bukan berarti mereka tetap tinggal di gunung itu. Mereka tidak boleh membuat kemah di gunung itu, karena mereka harus turun untuk memberitakan kepada sesisi dunia setelah mereka sudah diperlengkapi.
Banyak orang baru mau percaya pada Yesus apabila sudah cocok dengan logikanya.Pokokpembacaan kita tidak hanya fokuspada siapa Yesus(Kristologi), sehingga kita tidak usah menghabiskan waktu untuk memperdebatkanapakah Dia Musa baru, Elia baru, atau siapa. Tetapi yang lebih utama, adalah apa yang harus dilakukan oleh pada murid dan bagaimana menanggapi, serta menindaklanjuti berita tentang penderitaan yang harus ditanggung oleh Yesus (Ekklesiologi).
Kehadiran Musa dan Elia di atas gunung bukan bertujuan untuk menyempurnakankeabsahan Yesus sebagai Tuhan, karena sejak dari awal Yesus adalah Tuhan. Tetapi kehadiran Musa dan Elia yang membicarakan kepergian-Nya dan kematian Yesus di Yerusalem, lebih pada upaya untuk menegaskan tentang jalan penderitaan yang memang harus dilalui oleh Yesus.
Di dalam Kristus kita berjumpa dengan Allah dengan bermacam-macam cara. Ada yang dramatis dan ada yang biasa-biasa saja, baik dalam doa, perenungan Firman, ataupun dalam berbagai bentuk lain sesuai dengan cara Allah sendiri. Perjumpaan itu harus menghasilkan kemuliaan Tuhan yang terpancar dari dalam diri kita dan disaksikan oleh sesama.
Pokok-pokok pengembangan khotbah
- Aplikasi 1. Kewajiban untuk berdoa adalah kewajiban yang mengubah bukan hanya rupa tetapi lebih dari itu dituntut perobahan sikap, cara hidup yang merendahkan diri. Melalui doa kita memperoleh hikmat, anugerah dan sukacita yang menjadikan wajah bercahaya.
- Kehadiran Musa dan Elia adalah dalam kaitan dengan pembebasan bangsa Israel dari Mesir dari rumah perbudakan. Keluaran 34:35 Apabila orang Israel melihat muka Musa, bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan TUHAN. Pembebasan dan keberangkatan mereka dari Mesir adalah keberangkatan yang penuh kemenangan. Musa, Elia dan kitab nabi-nabi yang lain selalu menyebutnya dalam berbagai tulisannya, yaitu penderitaan-Nya, kemenangan-Nya dan disusul dengan kemuliaan-Nya (Luk. 24:26-27 dan 1 Ptr. 1:11).
- Aplikasi 2. Pekerjaan berat, pergumulan, penderitaan, sakit penyakit, dan berbagai macam tantangan sekalipun, tidak akan menghalangi kita untuk senantiasa memancarkan wajah cerah dan kehidupan yang memperlihatkan kemuliaan Allah. Keinginan Petrus untuk mendirikan tiga kemah ternyata tidak ditanggapi oleh Yesus. Artinya jelas, yakni mereka hendaknya tidak tinggal menetap di gunung. Sebaliknya mereka harus pergi dan turun menjadi saksi Kristus di tengah-tengah kehidupan yang sesungguhnya.
- Aplikasi 3. Kita sering lalai dalam memanfaatkan betapa berharganya berkat yang kita terima. Kita baru sadar ketika berkat itu berlalu percuma. Perubahan wajah mengajak kita untuk merenungkan kematian kita sebagai kepergian kita dari dunia ini menuju Rumah Bapa, juga kita harus renungkan dalam kondisi baik seperti ini. Dalam kemuliaan yang tengah kita alami, jangan ada yang meninggikan diri. Kita senantiasa mengingat bahwa kita tidak akan tinggal abadi dalam dunia ini.
Diposting tanggal 28 Feb 2019
