Bahan Khotbah Minggu ke-8 Tanggal 24 Februari 2019 7 minggu setelah Epipani MENGHAYATI KEHADIRAN ALLAH (Unnanung mandalan kama’diorenanNa Puang Matua)
Bahan Khotbah Minggu ke-8 Tanggal 24 Februari 2019
(7 minggu setelah Epipani)
MENGHAYATI KEHADIRAN ALLAH
(Unnanung mandalan kama’diorenanNa Puang Matua)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 37:1-11 |
| Bacaan 1 | : Kejadian 45:1-15 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Korintus 15:42-50 |
| Bacaan 3 | : Lukas 6:27-36 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 136:26 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Lukas 6:36 |
Tujuan:
-
Warga Jemaat memahami kehadiran Allah dalam berbagai situasi kehidupan
-
Warga jemaat dapat bersikap mengampuni dalam menyikapi perlakuan jahat yang dialami
Pemahaman Teks
Kejadian 45:1-15 merupakan kelanjutan pasal 44 tentang Yehuda yang berbicara membela Benyamin, yakni dengan menjelaskan betapa pentingnya Benyamin bagi Yakub ayah mereka, yang juga merupakan ayah Yusuf. Yakub sangat mengasihi Benyamin, sehingga tanpa Benyamin, Yakub yang sudah tua itu tentu akan sangat berdukacita.
Penjelasan Yehuda membuat Yusuf tak kuasa lagi menahan tangisnya. Ini adalah air mata kelembutan dan kasih sayang yang amat dalam. Setelah menyuruh semua orang lain keluar, ia pun menangis amat keras, seraya memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya, “Akulah Yusuf! Masih hidupkah Bapa?”. Saudara-saudara Yusuf menjadi amat takut dan gemetar, khususnya karena mengingat perbuatan jahat mereka dahulu terhadap Yusuf. Namun demikian, Yusuf ternyata tetap mengasihi mereka, sehingga bagi saudara-saudara Yusuf, peristiwa ini merupakan saat yang paling membahagiakan, yakni saat bagaikan mereka bangkit dari kematian mereka. Mereka sama sekali tidak menyangka adanya perubahan sikap Yusuf, seorang yang berwibawa dan sangat berpengaruh dalam istana Firaun, menjadi sikap seorang saudara yang sangat akrab dan intim dengan mereka. Yusuf memerintahkan agar semua pelayannya menyingkir, demi mewujudkan sebuah suasana percakapan pribadi di antara saudara bersaudara, yakni percakapan yang akrab, intim, bebas dan terbuka, serta tidak perlu didengarkan oleh orang lain.
Waktu itu nama Ibrani Yusuf sudah tidak dikenal lagi di kalangan kerajaan, Yusuf hanya dikenal dengan nama Mesir-nya yakni Zafnat-Paaneah. Karena itu ia memperkenalkan nama Ibraninya yang sudah hilang dan dilupakan oleh orang Mesir,“Akulah Yusuf,saudaramuyang kamu jual ke Mesir”.Ia menjelaskan siapa dirinya, sekaligus membesarkan hati mereka. Yusuf meyakinkan mereka. Namun sebaliknya saudara-saudara Yusuf semakin merendah karena mengingat akan perbuatan mereka yang telah menjual Yusuf. Saudara-saudaranya terkejut, gemetar,ketakutan. Tetapi Yusuf dengan ramah dan akrab menggapai mereka dan mengatakan: “marilah dekat-dekat”. Yusuf berusaha keras untuk menghilangkan ketakutan dan dukacita mereka, “janganlah bersusah hatimu dan janganlah janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu” (ay. 5). Terlihat jelas bagaimana Yusuf memahami tindakan saudara-saudaranya dari sudut pandang rencana Tuhan yang jauh lebih besar. Meskipun dilatar belakangi oleh rancangan dan perbuatan jahat dari saudara-saudaranya, Yusuf tetap yakin bahwa kehadirannya di Mesir memiliki makna yang mulia, tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bahkan untuk keselamatan Mesir dan mempertahankan kelangsungan kehidupan Israel.
Itu sebabnya Yusuf juga berjanji untuk mengurus ayah dan seluruh keluarga selama masa kelaparan (karorian). Ia menyuruh saudara-saudaranya untuk secepatnya kembali ke Kanaan dan memberitahukan kepada ayahnya bahwa Yusuf masih hidup dan kini ia menjadi tuan tanah di Mesir. Yusuf tahu bahwa berita ini akan membuat mereka memperoleh harapan hidup lagi. Ia mau berbagi tempat tinggal di Gosyen, kawasan Mesir yang berhadapan dengan Kanaan, supaya mereka tidak melupakan daerah asalnya. Ia benjanji untuk memenuhi seluruh kebutuhan Yakub dan seluruh keturunannya (ay. 9-13). Dua nama yang disandang oleh Yusuf yaitu Yusuf (nama Ibraninya[1]) yang berarti: Allah akan menambahkan dan Zafnat-Paaneah (nama Mesirnya [2]); yang berarti raja kehidupan dari zaman ke zaman (Kej. 41:45), memperlihatkan bagaimana Yusuf memang harus menyelamatkan keturunannya dan juga bangsa-bangsa lain.
Korelasi Bacaan
Mazmur 37:1-11, menegaskan pesan agar umat Tuhan tetap bertahan dalam Tuhan, meskipun orang fasik sepintas kelihatan lebih sejahtera. Kejadian 45:1-15 menjelaskan perjalanan hidup Yusuf yang begitu berat. Meskipun Yusuf amat disayangi oleh Yakub ayahnya (Yusuf adalah anak kesebelas), namun ia amat dibenci oleh saudara-saudaranya. Oleh saudara-saudaranya, Yusuf dijual kepada saudagar-saudagar dari Midian. Saudagar-saudagar Midian itu kemudian menjualnya lagi kepada Potifar, kepala pegawai istana Firaun di Mesir. Meski sempat menarik hati Potifar majikannya, Yusuf kemudian harus masuk penjara sebagai akibat dari fitnah yang dilakukan oleh istri Potifar atas dirinya. Luar biasa pergumulan hidup Yusuf. Namun demikian, dalam perjalanan hidupnya, Yusuf ternyata mampu merasakan kehadiran Allah yang terus menyertainya hingga menjadi seorang penguasa di Mesir.
Kisah Yusuf dapat dilihat dalam perspektif surat 1 Kor. 15:42-50. Pada bagian ini Paulus menjelaskan bahwa orang yang ditaburkan dalam kelemahan akan dibangkitkan dalam kekuatan. Pesannya jelas, penyertaan Tuhan dapat memastikan dipulihkannya umat Tuhan yang berada dalam kelemahan dan penderitaan.
Jika dikaitkan dengan bacaan Lukas 6:27-36 tentang ajaran untuk mengasihi musuh dan tetap berbuat baik bagi mereka, maka kisah Yusuf dapat dilihat sebagai contoh dari ajaran Tuhan Yesus tersebut. Yusuf sama sekali tidak membalas kejahatan saudara-saudaranya. Sebaliknya, ia justru mengampuni mereka dan berkomitmen untuk memelihara hidup mereka. Kejahatan saudara-saudaranya yang menjadi awal penderitaan panjangnya di Mesir ternyata mampu dilihat Yusuf dalam terang kasih dan rencana Tuhan sendiri. Ia percaya Tuhanlah yang menuntun dirinya hingga tiba di Mesir. Kepada saudara-saudaranya, Yusuf berkata, “jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah” (ay.8).
[1].Yusuf" adalah sebuah nama pemberian maskulin yang berasal dari bahasa Ibrani, yang tercatat dalam Alkitab Ibrani, sebagai יוֹסֵף, Ibrani Standar Yossef, Ibrani Tiberias dan Aram Yôsēp̄. Dalam bahasa Arab, termasuk dalam al-Qur'an, namanya dieja menjadi يوسف atau Yūsuf. Nama tersebut diterjemahkan dari kata Ibrani יהוה להוסיף YHWH Lhosif yang artinya "ALLAH akan menambahkan".
[2].Nama Mesir yg diberikan oleh Firaun kepada Yusuf pada pelantikannya (Kej 41:45); upaya mencari asal usul kata itu dalam bh Mesir menghasilkan pendapat yg berbeda-beda. Usul Steindorff D(d) p'-nt(r)lw f-'nh secara fonetis adalah baik, tapi tidak pas dalam hal artinya, lagipula berasal dari kurun waktu yg terlalu kemudian. Pendapat-pendapat lain kebanyakannya secara fonetis tidak dapat diterima, atau tidak sejajar dengan kata Mesir yg sebenarnya. Tapi, bentuk konsonantal Ibrani Tsp-n-t p-'n-kh adalah mungkin, dengan satu perubahan kecil (demi eufoni Ibrani) menjadi Ts-t-n p p-'n-h, yang berarti (Yosef) dd-n. f 'Ip-'nh (Yusuf) yang dipanggil 'Ip`ankh'; dd-n. f agaknya merupakan konstruksi yg terkenal untuk memperkenalkan nama kedua, yaitu 'Ip`ankh', suatu nama yg lazim pada periode-periode Kerajaan Pertengahan dan Hyksos, yakni pada Zaman Bapak-bapak leluhur dan Zaman Yusuf. KAK/BS/HAO. Zafnat-Paaneah (bahasa Inggris: Zaphnath-Paaneah; bahasa Ibrani: צָפְנַת פַּעְנֵחַ) adalah nama yang disebutkan dalam Alkitab Ibrani (dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen) dalam Kitab Kejadian pasal 41:45 sebagai nama baru yang diberikan oleh Firaun Mesir kepada Yusuf ketika diangkat menjadi orang kedua di Mesir. Nama ini merupakan alih aksara dari nama dalam bahasa Mesir kuno ke dalam tulisan dan pelafalan bahasa Ibrani yang berarti raja kehidupan dari zaman ke zaman.
Diposting tanggal 20 Feb 2019
