Bahan Khotbah Minggu Ke-20 Tanggal 17 Mei 2020 PEGANGLAH PERINTAHKU DAN LAKUKANLAH Toe manda’i tu parentaku ammi pogau’i
Bahan Khotbah Minggu Ke-20 Tanggal 17 Mei 2020
PEGANGLAH PERINTAHKU DAN LAKUKANLAH
Toe manda’i tu parentaku ammi pogau’i
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 66:8-20 |
| Bacaan 1 | : Kisah Para Rasul 17:22-34 |
| Bacaan 2 | : 1 Petrus 3:13-22 |
| Bacaan 3 | : Yohanes 14:15-21 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Mazmur 66:13-14 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Yohanes 14:21 |
Tujuan:
1. Jemaat Memahami perintah Allah dalam kehidupannya.
2. Jemaat mampu mempraktikkan perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman Teks
Mazmur 66:8-20 merupakan ajakan pemazmur bagi segala bangsa untuk memuji Allah. Pada ayat 8-12 berisi ajakan untuk memuji Allah, karena Allah telah mempertahankan jiwa dan kehidupan manusia, memurnikan manusia dan menghantarkan manusia melintasi pengalaman-pengalaman berat. Pada ayat 13-15 merupakan kesediaan pemazmur (manusia) untuk mempersembahkan korban-korban syukur atas kemurahan Allah, seperti dalam tradisi Israel dan diatur di dalam kitab Imamat. Dalam ayat 16-20 terdapat ajakan pemazmur agar orang mendengar apa yang telah dirasakan dan dialami oleh orang yang menyembah Tuhan. Menurutnya, seandainya terdaoat niat jahat dalam hatinya, tentulah Tuhan tidak akan mau mendengar. Semua ungkapan tersebut menandai bahwa Tuhan berkenan dekat dan akrab dengan manusia.
Kisah Para Rasul 17:22-34 Paulus harus menghadap di depan sidang Aeropagus di kota Atena Yunani, dan memberitakan perihal Allah yang tidak dikenal oleh penduduk kota Atena, bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Allah yang menjadikan manusia hidup, bergerak, dan ada. Paulus meminjam pemikiran pujangga kota Atena untuk lebih mendekatkan hal tentang Allah kepada penduduk Atena. Paulus menjelaskan tentang Allah yang menetapkan pengadilan atas manusia oleh seorang yan telah ditentukan-Nya dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.
1 Petrus 3:13-22 berisi nasihat Petrus bagi orang beriman agar bersabar dalam penderitaan, karena Kristus telah menderita, mati dan bangkit untuk menebus dosa manusia. Menguduskan Kristus di hati sebagai Tuhan tentu mengupayakan keadaan hati yang bening dan memuliakan Kristus itu dengan penghayatan hati dan perilaku hidup yang baik. Hati merupakan simbol dari pusat kehidupan manusia dalam pikiran dan perasaan, dan dari tempat itulah akan lahir keberanian-keberanian mengambil keputusan dan perbuatan mana yang akan dilakukan. Jika Kristus ada di hati orang, maka orang akan lebih memiliki potensi kebaikan, dan kebaikan itupun harus diwujudkan dengan cara tahan menderita. Peringatan Petrus secara khusus kepada jemaat untuk memelihara hidup mereka di dalam kasih dan perdamaian dengan semua orang sekalipun jemaat tidak diperlakukan dengan baik oleh mereka (ay. 8-9). Memang orang yang berbuat baik tidak seharusnya menderita (ay. 13). Akan tetapi, Petrus mengingatkan jemaat bahwa sekalipun mereka telah melakukan apa yang benar dan baik sesuai dengan kehendak Allah, namun tetap harus mengalami penderitaan, maka hal ini bukanlah hukuman dari Allah, melainkan sebuah kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk memurnikan iman mereka (bdk. 1:7-9).
Yohanes 14:15-31 Arti hidup menjadi orang percaya kepada Kristus tidak hanya berhenti pada pengakuan percaya (bdk. Mat. 7:21, Luk. 11:28, Yoh. 13:17). Kristus menjelaskan bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya harus pula mentaati segala perkataan-Nya. Berisikan janji penyertaan Tuhan yang pasti bagi orang yang melakukan segala perintah-Nya. Melakukan segala perintah-Nya adalah tanda bahwa orang itu mengasihi Tuhan. Janji penyertaan Tuhan diungkapkan oleh Tuhan Yesus dengan menyebutkan seorang Penolong yang lain. Seorang penolong ini bukan serta merta sebagai pribadi manusia genetik (manusia biologis) setelah Yesus, melainkan ditandaskan oleh Yesus sebagai Roh Kebenaran yang tidak dikenal oleh dunia, namun hanya dikenal secara khusus oleh orang beriman saja.
Korelasi
Salah satu korelasi dari teks bacaan leksionari di atas ialah tentang bagaimana hidup mengasihi Tuhan. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus, maka secara otomatis kita mengenal Dia, mengenal perintah-perintah-Nya dan menurutinya. Jadi, mengasihi Yesus menjadi dasar melakukan segala perintah-Nya. Melakukan perintah-perintah Kristus itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak tantangan dari dalam dan dari luar diri yang akan dihadapi para murid. Untuk itulah Yesus menjanjikan seorang Penolong lain yang akan menyertai para murid selama-lamanya. Penolong itu adalah Roh Kebenaran yang menjadi jaminan para murid untuk merasa aman. Tapi kehadirannya bukan sekedar untuk dijadikan jaminan rasa aman bagi diri sendiri, melainkan juga menjadi kekuatan untuk terus melakukan perintah Tuhan dalam berbagai tantangan yang ada.
Garis besar khotbah:
Banyak orang mengaku percaya dan mengasihi Yesus. Tetapi tidak sedikit yang mengaku percaya dan mengasihi Yesus sebatas kata-kata yang indah. Banyak orang mengaku percaya dan sangat baik kalau berbicara tentang Yesus, tetapi dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya tidak mengenal dan tidak percaya Yesus. Mengaku mengenal, percaya dan mengasihi Yesus tidak cukup dengan kata-kata yang indah melainkan harus nampak dalam tindakan. Kalau kita mengaku percaya dan menerima Dia menjadi Tuhan dan Juruselamat yang satu-satunya, maka kita mesti setia memegang dan melakukan apa yang perintah-Nya. Identitas seorang murid Yesus adalah melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Yesus (Mat.28:20). Kita mengenal dan dikenal dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. Hal itu dapat kita lihat dari apa yang dikatakan oleh Yesus: “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku” (Yoh.8:31); ”Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh. 15:14).
Banyak orang rajin mendengar firman dan tampak kelihatan serius mendengar, tapi sesungguhnya tidak mendengarkan. Mendengar memang perlu, tetapi itu belum cukup kalau tidak dilakukan. Hal itu ditegaskan oleh Yesus. “jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya” (Yoh. 13:17). “yang berbahagia adalah mereka yang mendengar dan memeliharanya” (Luk. 11:28). “ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku, ialah mereka yang mendengarkan firman dan melakukannya” (Luk. 8:21). Rasul Yakobus juga menyaksikan: “herndaklah kamu menjadi pelaku firman, bukan pendengar saja” (Yak. 1:22). Jelas bahwa percaya pada firman Tuhan (pada Yesus) harus dilanjutkan dengan melakukan perintah Yesus.
Dalam percakapan-Nya dengan Simon Petrus, Yesus bertanya: “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini? Simon menjawab: benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”. Kata Yesus: Gembalakanlah domba-domba-Ku (Yoh. 21:15). Yesus menuntut komitmen dan kesetiaan. Menjadi orang percaya pada Yesus tidak berhenti pada pengakuan saja, tidak cukup dengan mendengar saja, lalu melupakannya. Hal seperti itu belum bisa menjadi jaminan bahwa kita menjadi pewaris kerajaan Allah. Hal itu jelas dalam penegasan Yesus: “bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”, (Mat. 7:21). Memang memegang dan melakukan perintah Yesus bukanlah hal yang mudah. Kita menghadapi banyak tantangan dan kesulitan baik dari dalam dan maupun dari luar. Yesus sebenarnya sudah tahu semua itu.
Untuk itulah Dia berjanji tidak akan meninggalkan murid-murid. Janji kehadiran dan penyertaan-Nya menjadi sumber kekuatan, semangat, motivasi dalam memberikan pertanggungjawaban iman dan pengharapan kita. Hal itu menuntut kesabaran, kesetiaan, komitmen dan pengorbanan. Tetapi kepada mereka yang setia memegang teguh dan melakukan segala perintah-Nya, Yesus menjanjikan seorang penolong, yakni Roh Kudus, yang juga disebut Roh Kebenaran, Roh Penghibur akan menyertai umat-Nya. Dialah yang akan memberi jaminan rasa aman, tenang dan damai. Dia akan menyertai kita selama-lamanya. Rasul Paulus menyatakan, “dalam segala hal kami ditindas, dianiaya, dihempaskan, namun kami tidak terjepit, tidak putus asa, dan tidak ditinggalkan sendirian” (2 Kor.4:7-9). Itulah yang menjadi sumber kekuatan, semangat dan komitmen kita untuk tetap memegang teguh dan setia melakukan perintah-Nya.
Diposting tanggal 12 May 2020
