Bahan Khotbah Minggu ke-2 Tanggal 12 Januari 2020 AKU MENARUH ROH-KU KE ATAS-NYA Kupatamaimo Penaang-Ku
Bahan Khotbah Minggu ke-2 Tanggal 12 Januari 2020
AKU MENARUH ROH-KU KE ATAS-NYA
Kupatamaimo Penaang-Ku
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 29:1-11 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 42:1-9 |
| Bacaan 2 | : Kisah Para Rasul 10:34-43 |
| Bacaan 3 | : Matius 3:13-17 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Mazmur 29:1-2 |
| Petunjuk Hidup Baru | : 1 Tesalonika 5:15-18 |
Tujuan:
- Jemaat memahami bahwa Kristus, Anak Allah adalah pribadi yang sungguh dikenan Allah memanifestasikan diri-Nya (mengepifani, teofani) dan menyatakan kehendak-Nya.
- Jemaat meneladani Kristus untuk menjadi bukti pribadi-pribadi yang dikenan Allah dan sebagai tanda kesaksian bahwa Kristus hidup di antara kita oleh kuasa Roh Kudus.
Pemahaman Teks
Mazmur 29:1-11 merupakan puisi tentang kebesaran Allah yang hadir dalam badai, fenomena alam paling dahsyat, yang kemudian digambarkan oleh berbagai penyair dengan kata-kata yang indah tak terkecuali penyair yang teolog. Daud pun mengalami badai topan. Namun ada perbedaan yang mencolok antara Daud dengan penyair yang lain. Bagi Daud, suara gemuruh dalam bentuk badai topan bagaikan suara Tuhan, serta tanda kehadiran Allah dan aktivitas dari Allah yang hidup. Artinya, Daud mampu melihat dan mau mengakui bahwa di balik kedahsyatan alam, ada Allah yang berkuasa atas seluruh alam semesta. Daud menuliskan mazmur ini untuk mengajak pembaca melihat kebesaran dan kemuliaan Allah, kemudian mengajak datang untuk memuliakan dan mengagungkan Allah (ay.1-2). Daud mengajak manusia untuk senantiasa kembali pada tujuan ciptaan diciptakan, yakni memuliakan dan mencerminkan Allah. Daud membuat puisi sebagai sarana membimbing orang datang memuliakan dan mengagungkan Allah. Apa yang bisa kita lakukan untuk membimbing orang datang memuliakan dan mengagungkan Allah atau datang beribadah kepada Allah senantiasa?
Yesaya 42:1-9 menjelaskan siapa sebenarnya hamba Tuhan itu. Setiap orang percaya dipanggil menjadi hamba Tuhan dengan tugas pelayanan yang spesifik. Pembacaan ini memperkenalkan sosok hamba Tuhan yang berbeda dengan hamba-hamba Tuhan umumnya. Yesaya mengungkapkan jati diri, panggilan dan misi Sang hamba. Tuhan yang memilih, Tuhan pula yang menyatakan pengurapan-Nya atas hamba-Nya (ay.1). Tuhan mengurapi, Tuhan pula yang membentuk karakter yang harus menjadi ciri khas, yakni dengan menaruh Roh-Nya ke dalam diri sang hamba. Hamba Tuhan harus tangguh meski dari luar nampak sederhana dan ringkih (lemah/rapuh). Ia harus setia menegakkan hukum, serta kokoh dan tegar menopang mereka yang tertindas. Allah berpihak pada orang yang lemah, karena pada diri mereka tidak ada yang diandalkan untuk membela diri mereka. Demikian pula tentang panggilan dan misi hamba Tuhan itu sepenuhnya berasal dari Tuhan. Tugas hamba Tuhan berat karena di atas pundaknyalah, Allah mempertaruhkan nama-Nya. Hamba Tuhan harus menyatakan perang terhadap ilah-ilah yang memperdaya Israel dan bangsa-bangsa lain. Ia harus senantiasa memproklamasikan bahwa hanya Tuhan saja Allah yang sejati. Tugas hamba Tuhan adalah mencelikkan mata rohani yang dibutakan ilah-ilah dunia. Hanya melalui hamba Tuhan semua manusia dapat datang dan menyembah Allah satu-satunya.
Kisah Para Rasul 10:34-43 menjelaskan, bahwa kalau kita mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka jadilah saksi-Nya. Itulah misi orang percaya. Berita tentang Yesus adalah berita yang berlaku secara universal bagi seluruh umat manusia, bukan hanya milik budaya atau bangsa tertentu. Berita semacam itulah yang disampaikan Petrus kepada Kornelius. Petrus menyampaikan kepada Kornelius dan keluarga besarnya berita yang bukan saja ia percayai, tetapi juga telah ia lihat dan alami sendiri.
Matius 3:13-17 menguraikan baptisan Tuhan Yesus yang menandakan inkarnasi bahwa Allah sungguh menjadi manusia dan sekaligus kesaksian Trinitas ilahi: Bahwa Dialah yang diperkenankan Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (ay. 16b). Dialah yang diurapi Roh Kudus melaksanakan misi penebusan (ay.16a). Baptisan Tuhan Yesus juga menunjuk pada ketaatan hamba Allah kepada hukum Allah sebagai yang dikuasai Roh untuk memberi kesaksian tentang Allah lewat kehidupan-Nya.
Korelasi keempat teks
- Roh Allah yang berkuasa di dalam diri seseorang menjadikannya menjadi hamba Tuhan yang setia melaksanakan hukum Allah sehingga seluruh hidupnya menjadi kesaksian akan Allah.
- Setiap hamba Allah mengemban misi menjadi saksi Allah dari dalam seluruh kehidupan, bahkan Daud tetap dimampukan memberikan kesaksian tentang Allah dari fenomena-fenomena alam seperti topan badai. Tuhan Yesus bersabda: “Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:21). Dibutuhkan kemampuan hamba Allah untuk mentransendensi kehidupan sehingga setiap orang dimampukan melihat dan mengalami Allah dalam setiap perkara kehidupan, suka maupun duka.
Garis Besar Khotbah
Dalam kalender gerejawi, hari minggu setelah Epifani dirayakan sebagai hari pembaptisan Tuhan Yesus. Itu sebabnya empat bacaan hari ini terfokus pada Injil Matius 3:13-17 tentang pembaptisan Tuhan Yesus. Baptisan pada kalangan Yahudi di zaman Tuhan Yesus adalah tanda orang bersedia meninggalkan dosa-dosanya dan bertobat kepada Tuhan. Lalu untuk apa Tuhan Yesus dibaptis? Yohanes sendiri merasa tidak pantas membaptis Yesus. Yesus tidak berdosa. Ia tidak memerlukan pertobatan, bahkan sebelumnya Yohanes sudah memberitakan bahwa baptisan air yang ia lakukan itu menunjuk kepada baptisan Roh Kudus yang akan Yesus berikan kepada orang yang sungguh bertobat.
Lalu mengapa Tuhan Yesus meminta Yohanes membaptis diri-Nya? Pertama, sebagai tanda identifikasi diri-Nya dengan orang berdosa. Yesus memang tidak berdosa tetapi Ia datang untuk menjadi Juruselamat orang berdosa. Untuk itu Ia perlu menempatkan diri-Nya di posisi orang berdosa. Ia dibaptis untuk mewakili orang berdosa (ay.15). Itu sebabnya, sama seperti manusia lainnya, segera setelah dibaptis, Yesus pun dicobai (ps.4:1-11). Kedua, pembaptisan Yesus merupakan peneguhan diri-Nya dari Allah Tritunggal bahwa Dialah yang diperkenan Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (ay. 16b). Dialah yang diurapi oleh Roh Kudus untuk melaksanakan misi penebusan (ay.16a). Bagi Tuhan Yesus, peneguhan itu penting, karena Ia sadar betapa pelayanan-Nya sebagai Juruselamat manusia bukanlah pelayanan biasa. Pelayanan itu adalah pelayanan yang menuntut pengorbanan hidup-Nya. Ia harus mati agar manusia beroleh hidup. Oleh sebab itu perkenan Allah dan pengurapan Roh menjadi kekuatan Yesus memulai pelayanan-Nya.
Jadi melalui baptisan Tuhan Yesus, kita beroleh jaminan sekaligus teladan. Sebagai jaminan, yakni bahwa Yesus sungguh datang dari Allah, seluruh hidup-Nya untuk Allah, dan setelah selesai pun Ia akan kembali pada Bapa (Yoh.16:28). Sebagai teladan, yakni bahwa kita sebagai hamba Tuhan memiliki Tuhan yang juga taat sebagai Hamba kepada Allah. Karena itu kita pun harus taat sebagai hamba Allah mengikuti teladan-Nya, “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh.13:15). Seperti juga yang dikatakan oleh Rasul Petrus ketika ia berkata, “Sebab untuk itulah kamu di panggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1 Pet. 2:21). Hamba-Hamba Allah juga seperti Daud, Yesaya, Musa dan lain-lain telah meninggalkan teladan bagi kita bagaimana menjadi hamba Allah yang sesungguhnya: seluruh kehidupan kita yang setia melakukan hukum Allah sebagai pertanda bahwa Allah dalam Kristus terus hidup lewat pekerjaan Roh Kudus di dalam diri setiap orang percaya. Tuhan Yesus bersabda, “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”.
Roh Kudus memampukan kita melihat dan mengalami itu. Itu sebabnya Paulus berkata, “Jangan padamkan Roh” (1 Tes 5:19 - bandingkan kehidupan Saul setelah ditinggalkan oleh Roh Tuhan 1 Samuel 16:14-23). Setelah kita mengenal Tuhan dalam kehidupan kita, kita pun diundang terus menerus bersekutu dengan Dia, memuliakan Dia dan menyaksikan Dia. Mazmur bacaan hari ini mengajak kita melihat kemuliaan Allah, serta mengajak kita datang memuliakan dan mengagungkan Allah (ay.1-2). Melalui mazmurnya, Daud mengajak manusia untuk senantiasa kembali pada tujuan ciptaan diciptakan yakni memuliakan dan mencerminkan Allah. Apa yang bisa kita lakukan untuk membimbing orang datang memuliakan Allah senantiasa, sesuai dengan potensi yang dianugerahkan Tuhan pada kita?
Diposting tanggal 07 Jan 2020
