PENDERITAAN YANG MEMBAWA KEMENANGAN (Kamaparrisan umpabu'tu kapataloan)
Bahan Khotbah Minggu ke-15, Prapaskah VI,
9 April 2017
PENDERITAAN YANG MEMBAWA KEMENANGAN
(Kamaparrisan umpabu’tu kapataloan)
| Mazmur | Mazmur 31:9-16 |
| Bacaan 1 | Yesaya 50:4-9a |
| Bacaan 2 | Filipi 2:5-11 |
| Bacaan 3 | Matius 27:11-54 (Bahan Utama) |
| Nas persembahan | Filipi 2:4 |
| PHB | Filipi 2:5 |
Tujuan:
1. Memahami penderitaan karena dosa dan menghayati bagaimana Tuhan menebus kita dari kuasa dosa, lewat jalan salib, darah yang tertumpah.
2. Meneladani Yesus dalam memikul salib-Nya dalam rangka memikul salib masing-masing: Setiap orang (keluarga) punya salibnya sendiri.
Pemahaman teks
Kitab Yesaya lebih lazim dikenal sebagai kitab nubuatan. Melalui kitab ini, sebagai utusan Tuhan, dan atas bimbingan Roh Allah, Yesaya menyampaikan “penglihatannya” mengenai peristiwa yang akan terjadi sehubungan dengan rencana penyelamatan dari Allah terhadap umat-Nya. Khusus dalam Yesaya pasal 50 ini, kita menemukan sikap hidup dan keimanan sosok pribadi seperti Yesaya; yang layak untuk direnungkan dan diteladani. Mengenai dia, dalam Alkitab diberi judul ketaatan hamba Tuhan. Karakter dirinya digambarkan sebagai sosok yang sangat sederhana, namun memiliki hati yang kuat, tabah, taat, relah berkorban sekalipun harus menderita karena ia memiliki hubungan yang sangat akrab dengan Tuhan. Atas pengutusan yang diberikan oleh Allah kepadanya, hamba ini mengklaim bahwa ia telah menanggapi dengan taat apapun yang telah dikatakan oleh Allah karena percaya sepenuhnya pada rencana dan karya Allah. Ketaatannya terhadap panggilan Allah dalam misi perutusannya telah membawa sejumlah konsekuensi baginya. Ia mengalami banyak penghinaan dan perlakuan kasar dan tidak manusiawi. Meski mengalami banyak penderitaan karena ketaatan dan kesetiaannya pada misi pengutusan Tuhan atasnya, hamba Tuhan itu tetap mengungkapkan keyakinannya akan pertolongan Tuhan yang pasti terjadi baginya (ay. 7a). Ia juga menyakini bahwa dirinya tidak akan dipermalukan. Sekalipun orang lain mempertanyakan keputusan dan tindakannya, ia mengetahui bahwa dirinya sedang melakukan kehendak Allah.
Melalui ucapannya, kita dapat memahami keyakinan iman yang dianutnya dan itulah yang mampu memberinya dorongan untuk tekun melakukan misinya. Ia bersyukur diberikan oleh Tuhan suatu karunia, yaitu memiliki lidah sebagai seorang murid supaya dapat memberi semangat baru kepada yang letih lesu. Sebagaimana Tuhan yang menjadi Gurunya, maka hamba itu dengan perkataannya telah menghibur sesamanya, memberi dorongan serta pengharapan kepada yang berputus asa. Setiap hari ia juga belajar untuk mendengar dengan penuh pemahaman, dan patuh melaksanakan kehendak Guru dan Tuhannya tanpa memberontak. Kesediaannya melayani orang lain sedemikian besar sampai ia rela dipukuli punggungnya, dan diludahi wajahnya. Inilah contoh konkret ketaatan hamba Tuhan. Ia memilih jalan penderitaan secara sukarela dengan memberikan punggungnya kepada orang-orang yang ingin memukulnya, yakni orang-orang yang memperlakukannya sebagai seorang penjahat. Ia membiarkan dirinya diperlakukan seperti umumnya yang dialami oleh para penjahat, walaupun fakta sebenarnya ia tidak melakukan kebenaran. Lukisan penderitaan hamba Tuhan ini sangat mirip dengan kisah penderitaan Yesus. Oleh karenanya, dapat dipahami bahwa pribadi dalam Yesaya 50 ini adalah nubuat yang menggambarkan Kristus. Kristus melakukan begitu banyak hal penting dalam misi pelayanan-Nya selama di dunia. Antara lain:
- Dengan lidah-Nya, Dia senantiasa menyampaikan berbagai pengajaran, khotbah, teguran, penghiburan serta memberi dorongan kepada yang letih lesu dan berputus asa, walaupun Dia sendiri sedang menghadapi penderitaan.
- Dengan telinga-Nya yang tajam, Dia senantiasa siap mendengar keluhan, permohonan, dan menyatakan kepedulian kepada umat-Nya dengan kasih yang tulus.
- Dalam sikap taat kepada Bapa, dengan konsisten, relah menderita; mengorbankan jiwa raga serta kemuliaan-Nya demi kasih-Nya kepada umat manusia yang berdosa.
Apa yang kita baca dalam injil Matius, menunjukkan betapa Kristus berada dalam situasi yang serius, kondisi yang menegangkan, pergumulan yang berat, ancaman yang membahayakan jiwa karena serangan dari luar dan dalam, yang mengarah pada penyiksaan, penyaliban dan kematian-Nya! Mungkin kita mengatakan bahwa semua itu memang sudah merupakan misi dan tujuan-Nya ketika datang ke dalam dunia ini. Tapi kalau kita sungguh-sungguh merenungkannya lebih mendalam, bagaimana jika kita yang mengalaminya? Adakah seseorang yang mampu bahkan relah berkorban seperti itu demi kepentingan dan kehidupan orang lain?
Untuk menyelamatkan kita dari dosa, Dia relah mempertaruhkan segala keberadaan-Nya, bahkan nyawa-Nya sekalipun. Itulah bukti kasih-Nya. Pengorbanan Kristus harus kita hayati sebagai suatu fakta dan bukan kisah fiktif. Di sini kita dapat menyaksikan ketaatan dan pengorbanan Kristus, yang membuat kita semakin menghargai dan mengagumi pribadi-Nya. Seorang anak manusia yang taat kepada Bapa, yaitu Tuhan, dan Tuhan yang taat menderita, bahkan relah mati demi keselamatan manusia. Manusia sejati dan Tuhan sejati yang telah memberikan teladan ketaatan dalam kerelaan dan kesadaran-Nya yang begitu mulia. Kita disuguhi pelajaran kasih yang luar biasa, kasih yang mampu menghapus segala dosa dan pelanggaran kita. Kasih yang mampu menyangkal dan mengorbankan identitas illahi sebagai milik-Nya yang paling mulia itu, untuk ditukarkan dengan identitas seorang hamba. Seorang hamba yang taat kepada Tuan-Nya, yang adalah Bapa-Nya sendiri.
Oleh karena itu, sebagai orang yang telah diselamatkan dari dosa dan telah dimahkotai kemenangan hidup di dalam Kristus Yesus, setiap orang percaya dipanggil untuk senantiasa meneladani sikap hidup yang telah dipraktekkan oleh Yesus, melalui kesediaan kita untuk taat sebagai seorang hamba dalam menyatakan kebenaran Allah sekalipun harus menghadapi penderitaan.
Rasul Paulus, melalui suratnya (Filipi 2:5-11) senantiasa memberikan semangat dan motivasi kepada orang percaya di Filipi yang sementara mengalami gejolak, agar senantiasa setia dengan imannya sekalipun harus menghadapi tantangan dan penderitaan. Nasihat yang Rasul Paulus berikan untuk jemaat di Filipi ini bukanlah nasihat yang gampangan, karena suratnya ini ia tulis dari balik penjara di Roma pada masa tahanannya karena memberitakan Injil Kristus. Paulus menyemangati jemaat dengan teladannya bahwa ia juga telah menghidupi “ketaatan yang relah berkorban” itu.
Sementara dalam konteks jemaat Filipi, mereka sedang mengalami gejolak. Dari luar, jemaat menghadapi penganiayaan dari orang-orang yang tidak menyukai keberadaan mereka. Dari dalam, ada beberapa orang anggota jemaat yang saling berseteru satu sama lain (Flp. 4:2). Belum lagi guru-guru palsu yang membingungkan gereja dengan ajaran-ajarannya yang menyesatkan (Flp. 3:2). Gejolak kehidupan gereja seperti itu bisa saja menggoda jemaat untuk tidak lagi taat iman. Oleh sebab itu menjadi perlu, jemaat ini mengingat kembali “ketaatan yang berkorban”, yang telah ditunjukkan oleh Kristus, agar mereka dapat berdamai dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan orang lain.
Rasul Paulus menganjurkan kepada jemaat di Filipi supaya mereka senantiasa menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat di dalam Kristus Yesus. Artinya, hanya dengan senantiasa menyelaraskan pikiran dan perasaan mereka dengan pikiran dan perasaan Kristus maka mereka dimungkinkan untuk mampu melakukan penyangkalan diri, lalu setia mengikuti keteladanan Kristus yang relah menderita bahkan mati demi kebenaran Allah dan untuk keselamatan umat-Nya.
Pokok-Pokok yang dapat dikembangkan:
- Kita pada umumnya tidak mudah menerima penderitaan sebagai jalan yang dikehendaki Allah. Oleh karenanya, kita lebih cenderung mengelak, protes dan memberontak kepada Tuhan ketika penderitaan menghampiri hidup kita.
- Sikap Yesus dan hamba Allah yang kita baca dan renungkan ini memang sulit ditemukan padanannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketaatan Yesus bukanlah ketaatan yang mudah dilakukan-Nya, tetapi melalui perjuangan yang sangat berat dan menantang. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkan diri-Nya kepada Allah, Bapa yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.
Aplikasi:
Iman menghasilkan pengharapan hidup. Jika kita, dalam segala hidup bahkan dalam penderitaan sekalipun, senantiasa yakin akan kasih dan kuasa Allah, maka kita percaya bahwa Dia yang akan menguatkan, menghiburkan dan membebaskan kita. Di sinilah dibutuhkan iman agar kita tabah dan kuat untuk menunggu Dia sampai kapan pun, karena kita yakin bahwa Dia pasti menyatakan kehadiran-Nya menolong kita. Karena Dia Maha mendengar dan begitu peduli kepada kita. Jalan salib/penderitaan yang telah ditempuhnya merupakan sebuah jalan yang pasti bagi sebuah kemenangan yang sejati.
Iman harus diwujudkan di dalam kasih yang selaras dengan pikiran dan perasaan Kristus. Penderitaan dan pengorbanan Yesus di kayu salib adalah contoh yang sempurna. Berkorban berarti tidak mementingkan diri sendiri tapi mampu mendengar rintihan orang lain, dan peka melihat penderitaan orang lain. Sebab orang yang tidak mau berkorban dalam melihat penderitaan orang lain, pasti akan mendapati dirinya sendirian. Yang dia jumpai dan pikirkan hanya dirinya sendiri, oleh karena itu biasanya orang yang hanya memikirkan diri sendiri selalu merasa kesepian. Tetapi bagi orang yang mau berkorban dan menderita demi orang lain akan mendapati dirinya dengan kehidupan yang berkualitas dengan hubungan yang baik dengan orang lain maupun lingkungannya. Disinilah ketaatan kita sebagai seorang hamba diuji. Oleh karena itu, dalam kita merenungkan kasih dan penderitaan serta pengorbanan Yesus dalam minggu ini kita juga dipanggil untuk senantiasa hidup di dalam kasih; tidak hanya untuk pribadi kita, keluarga kita, jemaat kita tetapi pada seluruh ciptaaan-Nya. Roh Kudus menyertai Kita. Amin! (RPM)
Diposting tanggal 27 Mar 2017
