Mene-mene Tekel : Tafsiran Daniel 5:1-30 dan Mental Politik Berasas Agama Di Indonesia

Mene-mene Tekel :

Tafsiran Daniel 5:1-30 dan Mental Politik Berasas Agama Di Indonesia

A. Pengantar

Kitab Daniel ditulis dalam konteks pergumulan orang Yahudi pada pemerintahan Antiokhus Epifanes IV1. Menurut Boland2, perjuangan itu adalah perjuangan ganda yaitu masalah religius dan politik. Jadi ada pengadaian bahwa cerita-cerita dalam Kitab Daniel dengan setting waktu 400 tahun yang lalu, merupakan penghiburan dan kekuatan bagi orang Yahudi yang tengah bergelut dalam pergumulan mereka.3 Jadi teks Daniel 5 dengan latar belakang historis penulisan kitab Daniel secara umum, dapat memunculkan suatu prapaham bahwa Daniel pasal 5 merupakan suatu cerita yang dibingkai dialektika antara agama dan politik dalam zaman Daniel. Hal inilah yang melatarbelakangi pemilihan topik ini.

Dalam tulisan ini, penulis mencoba melangkah lebih lanjut dari sebuah tafsiran dengan sebuah kerangka berfikir interkontekstual, di mana penulis mencoba menghubungkan makna Daniel 5 dengan mental politik di Indonesia dalam hubungannya dengan agama, untuk selanjutnya menempatkan gereja di dalamnya.

B. Tulisan Di Dinding dalam Teks Daniel 5:1-30

Daniel pasal 5 ditempatkan dalam konteks kejatuhan Kerajaan Babel, di mana penguasa pada saat itu adalah Raja Belsyazar4, sementara orang Israel berada di sana sebagai buangan. Sebenarnya fakta tentang pemerintahan Belsyazar sebagai raja di Babel, menimbulkan beberapa persoalan historis5. Yang pertama, adalah sebutan “raja” untuk Belsyazar. Masalahnya, Babel tidak pernah memiliki raja yang bernama Belsyazar. Seow6 merujuk Nabodius Cronicles yang mencatat bahwa sebenarnya Belsyazar adalah anak tertua Raja Nabodius. Kepada dia dipercayakan pemerintahan ketika Nabodius meninggalkan kerajaan selama hampir 10 tahundi gurun Arabia. Jadi dia memimpin kerajaan ketika ayahnya tidak ada, tetapi dia tidak pernah disebut sebagai raja.8 Penyimpangan historis ini bisa menjadi alasan untuk berpendapat bahwa penulis Daniel lebih cenderung memaparkan makna sebuah peristiwa ketimbang sebuah kronologi sejarah9. Robert A.Anderson menyebutnya story, bukan history.10 Collins bahkan menganggap bahwa kisah ini adalah kisah khayalan.11

Masalah kedua adalah keterangan ayat 2 yang mencatat bahwa Belsyazar adalah anak Nebukadnezar, yang bisa menimbulkan kesan seolah-olah Belsyazar memerintah sebagai pengganti Nebukadnezar. Masalahnya ada rentang waktu yang cukup besar antara masa pemerintahan Nebukadnezar dengan kejatuhan Babel12. Tetapi kesan relasi ayah anak antara Nebukadnezar dan Belsyazar dalam bagian ini sebaiknya tidak menjadi masalah berdasarkan asumsi bahwa istilah ayah-anak tidak melulu merujuk pada sebuah relasi biologis. Seow menegaskan bahwa dalam bahasa Semitis, sebutan ayah bukan melulu menyangkut hubungan biologis atau pengangkatan menjadi anak, tetapi bisa juga menyangkut leluhur atau nenek moyang, juga untuk menyebut pengganti atau anggota dari sebuah kelompok13.

Pokok utama yang dikemukakan dalam Daniel 5 adalah tindakan Belsyazar di sela-sela kemeriahan perjamuan besar yang digelarnya di hadapan seribu orang pembesarnya. Beberapa penafsir mengidentifiasi perjamuan ini sebagai festival keagamaan yang merupakan pesta tahunan di Babel14.

Dalam kemabukan anggur Belsyazar memerintahkan orang untuk mengambil perkakas emas dan perak yang telah diambil oleh Nebukadnezar dari Yerusalem(1:2). Sepintas kita bisa beranggapan bahwa Belsyazar tidak sadar dengan tindakannya karena sedang mabuk. Tetapi Seow15 menyatakan bahwa dalam teks Aram, kita tidak bisa mengidentifikasi bahwa dia tidak sadar dengan tindakannya. Jadi di tengah perjamuan politik itu, Belsyazar dengan sengaja melakukan sebuah tindakan yang menghujat Allah. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, Belsyazar menggunakan perkakas dari emas dan perak -yang biasanya dipakai dalam Bait Suci untuk kegiatan peribadatan kepada TUHAN- untuk minum anggur bersama tamu, istri-istri serta selirnya. Bahkan jamuan itu ditujukan untuk menyembah dewa yang terbuat dari emas, perak, tembaga, besi, kayu dan batu.

Situasi yang mirip gegap gempita diskotik dengan Wein, Weib und Gesang16 itu tiba-tiba dikagetkan oleh munculnya jari-jari yang menulis di kapur dinding istana raja (ayat 5) dengan punggung tangan yang terlihat oleh Belsyazar17. Dia menjadi pucat, gelisah, sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan (ay 6) Pancaran kebanggaan, kesombongan dan keceriaan Belsyazar dalam pesta itu berubah menjadi kepanikan. Hal ini mengingatkan kita pada kebingungan dan kegelisahan Nebukadnezar ketika bermimpi (ps 2). Tindak lanjut dari kegelisahan keduanya pun hampir sama, yaitu memanggil para Kasdim dan ahli nujum untuk membaca dan mengartikan tulisan itu. Tetapi berbeda dengan Nebukadnezar yang mengeluarkan ancaman jika ternyata para penafsir gagal (2:5-6), Belsyazar hanya menjanjikan kekuasaan politis yang disimbolkan dengan kain ungu, kalung emas dan dijadikan orang ketiga dalam kerajaan. (5:7). Belsyazar tidak memberi penjelasan tentang siapa orang pertama dan kedua. Bisa jadi hal itu menunjuk kepada Nabodius dan Belsyazar, ataupun Belsyazar dan permaisuri. Tetapi Collins menegaskan bahwa angka tiga bukan urut-urutan, tetapi simbol kedudukan tinggi.18

Ternyata sama seperti teka-teki seputar mimpi Nebukadnezar (ps 2), tidak ada seorangpun dari para Kasdim dan ahli nujum yang bisa membaca tulisan itu apa lagi memberitahukan maknanya (ay 8). Menjawab persoalan mengapa orang Kasdim tidak bisa membaca apalagi mengartikan tulisan itu, Seow mengidikasikan hal itu disebabkan karena tulisan itu adalah tulisan tidak biasa karena mungkin tertulis secara vertikal. Lagi pula karena tulisan itu tanpa vocal. Penambahan vokal dalam sederet konsonan dapat memberi arti yang berbeda-beda, tergantung vocal yang dimasukkan. Collin bahkan menyebutnya sebagai kalimat yang misterius.19

Hal ini membuat raja semakin cemas dan mukanya menjadi pucat. Hegemoni kekuasaan yang tadinya begitu ekspresif dan seolah-olah mengatasi segala sesuatu, kini diselimuti kebingungan. Bukan hanya Belsyazar, tetapi juga kolega politiknya. Situasi ini dibaca oleh permaisuri20. Dia kemudian merekomendasikan Daniel yang rupanya tidak dikenal oleh Belsyazar. Mungkin karena Daniel telah pensiun dari jabatan yang 25 tahun lalu diberikan oleh Nabukadnezar. Menariknya, rekomendasi permaisuri diikuti serangkaian catatan reputasi Daniel dalam bidang religius (penuh dengan roh para dewa yang kudus, ay 11), bidang politik (yaitu sebagai kepala orang berilmu, ahli jampi, para kasdim, dan para ahli nujum) dan bidang ilmu pengetahuan (ay 12).

Jadilah Daniel diundang masuk dalam kancah pegumulan Belsyazar yang telah mengalami kebuntuan. Kepada Daniel, Belsyazar menjanjikan kedudukan politik jika berhasil memecahkan teka-teki tulisan di dinding. Tetapi Daniel menanggapinya dengan sebuah keputusan yang bisa dibilang sebuah keputusan politis : menolak janji-janji penguasa (ay 17). Penulis menyebutnya keputusan politis, sebab pada akhirnya dia menerima jabatan yang dihadiahkan Belsyazar.

Daniel memulai memperdengarkan suara kenabiannya dengan meriwayatkan kembali kisah jatuh bangunnya Nebukadnezar. Bagaimana Nebukadnezar menjadi besar, namun tinggi hati dan keras kepala (ay 18-20). Kemudian Nebukadnezar jatuh lalu akhirnya berdiri kembali setelah mengakui kedaulatan Tuhan (ay 21). Jadi walaupun Nebukadnezar telah merampas perkakas Baik Suci, tetapi dia tidak menajiskannya21. Daniel menegaskan bahwa Belsyazar sebenarnya mengetahui semuanya itu (ay 22). Setelah itu Daniel mulai mengarahkan pembicaraannya menyoal sikap tinggi hati Belsyazar dan tindakannya yang menajiskan perkakas bait suci dengan mengajak para pembesar, istri dan gundiknya minum anggur dari perkakas itu. Daniel menegaskan bahwa Belsyazar telah meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga (ay 23), dan bahwa punggung tangan yang dilihat Belsyazar adalah suruhan penguasa Sorga sebagai reaksi atas tindakan Belsyazar yang memakai perkakas dibait-Nya untuk minum anggur bersama tamu, istri dan selirnya (ay 24). Menurut Lynne, perlakuan Belsyazar terhadap perkakas Bait Suci, bukan sebuah hanya sebuah foya-foya yang secara kebetulan melibatkan piring dan gelas yang ternyata bagi orang Israel sakral adanya. Tetapi tujuan Belsyazar menyuruh membawa perkakas itu, memang dilatarbelakangi oleh sebuah sentimen religius22.

Selanjutnya Daniel mulai membaca tulisan di dinding itu dengan menambahkan vokal kedalamnya sehingga berbuyi mene-mene tekel ufarsin (25). Tetapi tampaknya rahasianya tidak terletak pada bagaimana tulisan itu dibaca, tetapi pada maknanya. Jadi, kalaupun para Kasdim dan ahli nujum sebelumnya bisa membaca tulisan itu, pastilah mereka bingung dengan maknanya. Lagipula padanan kata Aram itu dalam bahasa Ibrani kata-kata itu justru menunjuk pada satuan berat. Kata Mene equivalen dengan Mina yang setara dengan enam puluh syikal23. Tekel equivalen denganSyikal. Dan parsin berarti setengan mina atau tiga puluh Syikal24 Tetapi Daniel justru membuat interpretasi (ay 26-28) dengan menjadikan nilai-nilai timbangan dan nilai mata uang itu menjadi sebuah simbol tindakan Allah yang tidak ada sangkut pautnya dengan uang tetapi dengan makna politis. Mene: masa pemerintahan Belsyazar dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; Tekel: Belsyazar ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan Babel dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia. Jadi, tulisan di dinding menyampaikan pesan penghakiman dan penghukuman terhadap Belsyazar secara menyeluruh. Mulai dari pribadinya (yang didapati terlalu ringan), jabatannya (yang dihitung dan telah diakhiri), dan wilayah kekuasaannya (yang dipecah dan diberikan kepada pihak lain). Hegemoni kekuasaan yang awalnya dipertontonkan mampu mengatasi segala sesuatu mulai dari ranjang sampai seluruh Babel bahkan juga mengandaikan penaklukan terhadap kekuasaan dan kekudusan Tuhan melalui penajisan perkakas Bait Suci, kini dihadapkan dengan kehancuran.

Interpretasi Daniel jelas-jelas menghantam pribadi Belsyazar bahkan mengancam kehidupannya secara total. Namun uniknya, Belsyazar tidak bergeming dari sikap angkuhnya. Dia masih sempat “menepati” janjinya untuk memberi kekuasaan kepada Daniel yaitu memberikan kekuasaan politik. Bagaikan seorang politikus yang tidak tahu malu, Belsyazar masih mengambil tindakan politis pada saat kedudukan bahkan hidupnya akan segera berakhir, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Dan benar saja, malam itu Dia terbunuh. Babel runtuh. Lynne Newel mencatat tanggal yang pasti yaitu 12 Oktober 539 sebelum masehi25. Dengan demikian berakhirlah sebuah hegemoni kekuasaan yang menghina kekudusan Tuhan.

Dalam konteks Sejarah, Herodotus dan Xenophon mencatat bahwa para pemimpin Babel sementara bersenang-senang ketika mereka dikejutkan dengan sebuah serangan orang Persia yang menggali parit di sekeliling kota. Mereka kemudian merangsek masuk dan membunuh para penjaga yang sedang mabuk dan juga sang pemimpin yang tidak pernah disebutkan namanya, tetapi dijelaskan dengan ungkapan “anak muda yang tidak bertuhan dan ceroboh”.26

Catatan akhir pasal ini yang menyebut pemerintahan Darius orang Media memberi kesan seolah-olah dialah yang membunuh Belsyazar dan menaklukkan Babel. Namun menurut Seow27, Darius orang media hanyalah karakter hayalan. Masalahnya, jika yang dimaksud adalah Darius Hystaspes 1, dia adalah orang Persia. Lagipula, dia memerintah setelah Cyrus (Koresy), bukan sebelumnya. Artinya lagi-lagi ada gap antara masa pemerintahan Raja Darius dan keruntuhan Babel.28

C. Analisa Tafsiran: Mental Politik Belsyazar dan Daniel

Dari uraian di atas, penulis melihat bahwa Belsyazar telah memerankan sebuah mental politik kekuasaan yang mengorbankan apapun untuk melanggengkan kekuasaannya, bahkan kekudusan Tuhan pun di injak-injak. Dia tidak pernah belajar dari sejarah bahwa Nebukadnezar jatuh ketika mulai merampas wewenang yang sebenarnya hanya dimiliki oleh Allah : yaitu membunuh siapa yang dikehendakinya dan dibiarkannya hidup siapa yang dikehendakinya, serta meninggikan siapa yang dikehendakinya dan merendahkan siapa yang dikehendakinya (5:19)29. Setelah dia mengakui dan menghormati kekuasaan Allah, barulah keadaannya dipulihkan. Belsyazar bukan hanya merampas wewenang Tuhan dan seakan-akan ingin menjadi “tuhan kecil”. Malah dia menghujat Tuhan dengan menyalahgunakan perkakas yang sebenarnya hanya boleh dipergunakan untuk menyembah Tuhan. Bahkan sampai pada titik yang paling kritis ketika kehancurannya telah dinyatakan, Belsyazar tetap bersikukuh dengan dada terbusung untuk memberi kekuasaan kepada Daniel, seolah-olah dia masih memiliki segalanya.

Pada sisi lain, Daniel memperlihatkan sebuah mental politik yang sangat melekat dengan keberadaannya sebagai orang yang memiliki ”roh yang luar biasa”. Ketika sebuah kekuasaan politik ditawarkan kepadanya terkait dengan kehebatannya sebagai orang yang penuh dengan roh, dia menepis godaan itu dan tetap memusatkan pikirannya pada hal yang harus dikatakan dan lakukan dan katakan tanpa motifasi apapun. Kalaupun pada akhirnya dia memperoleh kekuasaan sebagaimana dijanjikan oleh Belsyazar, hal itu bukanlah hasil dari sesuatu yang dikejar. Daniel tidak menggunakan reputasinya dalam pentas politik di Babel sebagai sebuah komoditas yang dapat mendongkrak status politiknya. Padahal, jika dihubungkan dengan keberadaannya bersama saudara sebangsanya sebagai orang buangan yang minoritas, Daniel memiliki kesempatan itu untuk mengatakan “ini dadaku” kepada Belsyazar yang dengkulnya sudah lemas gara-gara tulisan di dinding. Namun yang dia senantiasa kedepankan adalah nama Tuhan, bukan kelompok minoritas Yahudi yang sedang berada di Babel. Jika kita membedakan aliran politik moral dan politik kekuasaan, maka Daniel telah menjalankan suatu politik moral yang didasarkan pada ketundukan kepada Tuhan.

D. Mencermati Mental Politik dengan Simbol Agama di Indonesia

Ketika melayani di Bontang Kalimantan Timur, seorang warga jemaat bernama Darius Pasaribu mengajukan pertanyaan kepada saya: Dari sudut pandang etika, apa perbedaan antara agama dan politik ? Saya mencoba menjelaskan dengan berbagai definisi dan teori. Tetapi kemudian dia mempunyai jawaban sendiri. Katanya : dalam politik, orang boleh salah dan boleh bohong. Tapi dalam agama, orang tidak boleh salah dan tidak boleh bohong. Dengan statemen ini, jelas dia setuju dengan pandangan bahwa “politik itu kotor”. Atau paling tidak, kreatifitas berfikirnya lahir dari pandangan itu.

Saya selalu merenungkan diskusi tersebut ketika mulai berbicara tentang hubungan antara agama dan politik. Dan memang relasi antara keduanya senantiasa menjadi diskusi yang seakan tidak ada habisnya. Bernard Adeney-Risakotta menyebutkan dua ekstrim sepanjang sejarah agama dan politik30. Pada satu pihak, agama dan politik tidak bisa di pisahkan, dan pada pihak lain agama dan politik adalah dua hal yang harus dipisahkan jauh-jauh. Tetapi menurutnya, kedua ekstrim ini Belum pernah berhasil di capai.

Dalam konteks Indonesia, relasi politik dan agama telah melalui berbagai dinamika. Sebelum zaman kemerdekaan, ada sebuah pengandaian yang sangat tegas dari kelompok fundamentalis Islam yang hendak menjadikan agama (Islam) sebagai dasar negara. Dan mencapai puncaknya pada polemik Piagam Jakarta dan terjadinya serangkaian pemberontakan karena kegagalan penerapan Piagam Jakarta. Pada masa Orde Baru, penguasa cukup awas dan menganggap bahwa kelompok Islam fundamentalis sebagai kelompok yang harus dijinakkan. Dalam hal ini, Pancasila dapat dianggap sebagai jalan tengah. Kekuatan Islam yang mengandaian suatu pengaruh agama yang besar dalam ketatanegaraan sempat “dikurung” selama rezim Orde Baru. Namun ceritanya menjadi lain sejak bergulirnya Reformasi. Kekuatan-kekuatan politis agama seakan-akan lepas dari sangkar dan mengepakkan sayap dengan begitu liar. Kemunculan aneka partai politik berazas agama menjadi bukti bangkitnya kembali semangat politik dengan panji-panji agama.

Saya tidak alergi kenyataan itu sejauh yang dimaksudkan dengan agama adalah bentukan mental yang berkiblat pada kehendak Yang Kuasa sambil mengusung kepentingan masyarakat lemah. Dalam hal ini ada pengandaian bahwa keterlibatan agama dalam politik akan mengusung gaya politik moral, bukan kekuasaan. Namun yang terjadi di Indonesia tidaklah demikian. Ada dua kecenderungan yang sedang menggejala di Indonesia. Yang pertama, ada keinginan untuk mengobarkan lagi bendera negara agama yang telah dilipat pada rezim lalu. Dalam upaya ini, mau tidak mau kelompok agama lain harus dikorbankan walaupun teorinya diharapkan tidak demikian. Yang kedua adalah dijadikannya agama sebagai komoditas politik yang sangat potensial. Padahal motifasi dibalik bendera agama itu adalah sebuah politik kekuasaan yang justru menginjak-injak eksistensi agama untuk melanggengkan kekuasaan politik. Jadinya kita bisa menyaksikan kedua wajah agama yang diidentifikasi oleh Haryatmoko.31

Secara tegas Bahtiar Effendy sebagai salah satu pemerhati masalah Islam dan politik mencoba menelusuri mental politik Islam yang baru di Indonesia dan tiba pada suatu konsep yang sepertinya tampak ideal. Tetapi saya ragu, apakah dalam pelaksanaannya para politisi Islam akan sebaik yang digambarkan Effendy32.

E. Nasib Gereja : Belajar dari Strategi Gereja Masa Lalu

Dalam gambaran konstelasi politik diatas, sadar atau tidak, Gereja diperhadapkan pada kebangkitan Belsyazar di Indonesia. Strategi apa yang perlu diterapkan oleh Gereja ? E.G.Singgih mencatat tiga strategi gereja dalam hubungannya dengan politik pada masa lalu. Yang pertama adalah adanya upaya untuk memasukkan, atau setidaknya berharap agar sebanyak mungkin orang Kristen ke dalam kedudukan strategis dalam pemerintahan dan politik33. Jadi ada harapan bahwa keterlibatan orang Kristen dalam politik akan membersihkan politik dari berbagai kekotoran dalam rangka membangun suatu civil society dengan bahasa Alkitab:menggarami. Jika dihubungkan dengan konteks Daniel, diharapkan bahwa ada politikus-politikus Kristen yang menjadi Hamaskilim dalam kancah politik di Indonesia. Kita bisa mencatat beberapa nama yang sering menjadi kebanggaan. Tetapi pada kenyataannya mereka tidak mampu berbuat banyak dalam sistem yang begitu kuat. Bahkan kadang-kadang mereka justru terseret dalam lingkaran mental politik kekuasaan.

Strategi kedua adalah mengambil sikap atau posisi sebagai anak yang manis terhadap penguasa dengan kesadaran diri sebagai kelompok minoritas. Dengan strategi ini memang kadang-kadang ada gugatan kecil-kecilan ketika merasa adanya kebijakan penguasa yang dianggap merugikan. Namun jika gugatan itu diabaikan, maka Gereja kembali bersikap seperti anak yang manis dengan senantiasa tergantung di bawah pemerintah, sembari mengelus dada dan mengatakan “semuanya harus terjadi supaya genaplah Firman Tuhan bahwa dunia membenci kita.Dalam konteks Daniel, mental yang demikian tidak kita temukan. Bahkan penulis menemukan suatu hal yang unik bahwa sebelum melakukan apa yang diperintahkan Belsyazar yaitu membaca dan menerangkan makna tulisan di dinding, Daniel justru berkhotbah dan mengecam habis-habisan kebijakan politik Belsyazar yang telah merendahkan kekudusan TUHAN.

Strategi yang ketiga adalah memperjuangkan kepentingan Kristen termasuk kepentingan gereja-gereja dan persekutuan-persekutuan saja. Dengan strategi ini, pergumulan gereja senantiasa berpusat pada diri sendiri. Ketika merasa aman, maka gereja akan diam. Kalaupun ada ketimpangan, maka gereja tidak akan berbuat apa-apa maka sejauh ketimpangan itu tidak merugikan gereja. Dalam konteks Daniel, kita tidak pernah menemukan bahwa Daniel berbicara tentang kepentinganya atau kepentingan orang Israel. Bahkan ketika Daniel diiming-imingi kekuasaan, Daniel tidak tertarik. Fokus Daniel dalam khotbahnya adalah Tuhan dan kekudusannya. Hal yang demikian tidak akan kita temukan dalam pergumulan politis gereja di Indonesia, di mana kiblat dari perjuangan adalah keamanan dan keadilan bagi gereja, bukan bagi manusia, apa lagi untuk menjaga kebenaran dan kekudusan Tuhan.

F. Strategi Baru Pasca-reformasi: Positif ?

Setelah memasuki zaman reformasi di Indonesia, tampaknya semangat politik di kalangan orang Kristen seakan-akan terbangun dari tidur. Kekuatan politik yang selama orde baru seakan-akan hanya bergelanyut di bawah pundak penguasa tiba-tiba berusaha melepaskan diri dan menyusun suatu strategi baru. Hal yang paling nyata kita dapat lihat dalam dua pesta demokrasi dalam orde ferormasi yang seakan-akan menjadi era baru kebangkitan kembali kekuatan politik Kristen. Partai politik berbendera Kristen bermunculan dengan misi-misi yang seakan-akan tampil sebagai tandingan terhadap berkibarnya panji-panji agama lain dengan sederet nama partai politik. Bersamaan dengan itu, tampil pula figur-figur yang mewakili kekuatan politik Kristen. Yang paling mencolok adalah menonjolnya sebuah Partai berasas Kristen dengan semboyan yang sangat khas Kristen: damai sejahtera, dengan perolehan kursi parlemen yang cukup signifikan. Hal itu kemudian diikuti dengan tampilnya sosok Ruyandi Hutasoit sebagai calon presiden RI dari partai berasas Kristen yang dalam polling sms TV7 yang dicatat Gerit Singgih34 mengungguli sosok terkenal seperti Gus Dur, Wiranto, Sultan Hamengkubuwono, Mbak Tutut dan A.A.Gym. Hal ini memberikan indikasi tumbuhnya strategi baru di kalangan orang Kristen yang telah melampaui tiga strategi yang disebutkan sebelummnya.

Selain itu, kegairahan politik juga mulai merambah para pemimpin Gereja. Dalam konteks yang lebih dekat dengan penulis (Tana Toraja), fenomena ini cukup mencolok. Sederet nama calon legislatif mulai dari DPRD, DPRD I, DPR Pusat dan DPD tampil dengan berhiaskan “Pdt” di depan. Jika dia bukan pendeta, maka dalam profil yang dicantumkan dalam materi kampanye, simbol-simbol kekristenan dari caleg yang bersangkutan seolah-olah menjadi daya tarik. Maka jadilah, Ketua DPRD adalah Pendeta, caleg untuk DPRD I adalah Pendeta. Calon anggota DPD favorit adalah seorang pendeta dan akhirnya “lolos ke Senayan”. Dan tidak terhitung pendeta yang menjadi caleg DPRD II (walaupun tidak terpilih) atau menjadi juru kampanye35.

Mencermati perkembangan strategi politis gereja di atas, pada satu sisi gereja mungkin mulai merajut sebuah optimisme bahwa inilah era kebangkitan Gereja untuk mewujudkan misi kerajaan Allah di Indonesia. Tetapi jika kita terbuka terhadap kenyataan yang lebih luas, penulis justru melihat tiga dampak yang sebenarnya cukup rawan.

Pertama, tampilnya kekristenan sebagai suatu kekuatan Politik dengan panji-panji Kristen yang eksklusif dapat dianggap sebagai ancaman serius bagi mayoritas Islam yang merasa sebagai arus utama dalam pembawa pengaruh kebijakan politik di Indonesia, sekaligus merasa “terpanggil” untuk mewujudkan masyarakat madaniberdasarkan nilai-nilai Islami. Respon terhadap ancaman itu bisa berimplikasi pada dikembangkannya manufer-manufer politik yang bertujuan meredam kekuatan politik Kristen. Akibatnya bukan hanya menyangkut konstelasi politik, tetapi juga menyentuh sendi sosial yang memang menempatkan orang Kristen sebagai kelompok minoritas secara kuantitas. Itu berarti bahwa jawaban Gereja terhadap tantangan politik di Indonesia justru akan membangkitkan kembali Belsyazar di Indonesia. Mungkin ada yang justru berkata dengan iman bahwa justru dalam keadaan demikianlah gereja pun dapat menampilkan diri sebagai Daniel baru yang oleh kekuatan iman mampu berdiri membongkar kebusukan mental Belsyazar. Namun penulis jadi pesimis karena hal itu akan segera berhadapan dengan dampak kedua.

Dampak kedua yang penulis maksud adalah dengan menguatnya mental politis di kalangan orang Kristen dan adanya bukti bahwa simbol agama bisa menjadi daya tarik untuk menjadi komoditas politik, dapat merangsang pelaku-pelaku politik Kristen untuk berlindung dibalik panji-panji agama demi mencapai tujuan politiknya. Meminjam istilah Rasul Paulus, “Tuhan mereka adalah perut mereka” (Fil 3:19; Roma 16:18). Agama dijadikan kendaraan politik yang bisa saja terlupakan setelah tiba di tujuan Itu berarti, dalam konteks Daniel 5, Gereja di Indonesia bukannya berdiri untuk menyuarakan kebenaran seperti Daniel, tetapi justru ikut serta perburuan posisi “orang Ketiga”, kalau perlu menjadi orang nomor satu. Bahkan lebih ekstrim lagi, Gereja dapat memerankan tokoh Belsyazar yang melakukan pesta politik sambil menginjak-injak simbol kekudusan dan kemuliaan Tuhan. Simbol itu dapat berupa jabatan imamat dalam gereja, bisa juga kepentingan umat yang seharusnya dinomor-satukan. Kalaupun pernah Gereja melarang peredaran buku Il Principe karangan Marchiavelli (1512) karena mengajarkan sistem politik yang kotor36, tetapi tanpa sadar buku itu justru sekarang diambil dan dipelajari oleh Gereja. Dengan pandangan ini, penulis agak pesismis, bahkan sampai sekarang kesulitan untuk menaruh simpati dengan partai berbasis Kristen37.

Ketiga, menguatnya mental politik yang telah menyeret gereja dalam sebuah pergumulan politik, bisa membuat kegairahan institusi gereja terjebak dalam sebuah situasi yang berwajah politik. Gaya kepemimpinan di gereja mulai mengadopsi gaya politik kekuasaan. Contoh sederhana adalah pemilihan pimpinan dalam sebuah gereja. Walaupun Alkitab tidak pernah mengajarkan sistem voting, tetapi sistem itu telah berlaku dalam gereja. Saya belum pernah mendengar bahwa ada pemilihan pimpinan gereja yang dilakukan dengan berdoa dan setelah itu membuang undi seperti yang biasa dilakukan dalam dunia Alkitab, lalu mengatakan “Keputusan Roh Kudus adalah keputusan Kami (Kis 15:28)38. Tetapi nyatanya politik telah menjadi mainan yang mengasyikkan dalam Gereja. Intrik telah menjadi salah satu wajah pemimpin39. Walaupun kita tidak dapat begitu saja menghakimi keadaan ini sebagai situasi yang semata-mata negatif, namun didalamnya kita bisa berhadapan dengan kenyataan seperti ungkapan Y.Triono : Pemimpin bisa berbuah tapi bisa membusuk40.

G. Penutup

Jika demikian, strategi apa yang harus dijalankan gereja dalam konteks kemunduran mental politik di Indonesia ? Cukuplah disini kita menyebutkan semboyan almarhum Eka : let the church, be the curch,41 sebuah ungkapan yang mengandaikan kemurnian keberadaan gereja dalam segala situasi, termasuk dalam dunia politik. Sebagai penjabaran konsep ini dalam terang Daniel 5, penulis memimpikan sikap gereja termasuk para pemimpinnya untuk melakukan apa yang harus dilakukan, mengatakan apa yang harus dikatakan, demikian pula sebaliknya. Janganlah gereja menjadi serupa dengan dunia, tetapi harus berubah menurut pembaharuan budinya. Dan ketika ada tuntutan untuk terlibat dalam dunia politik praktis, gereja tidak perlu alergi, dengan syarat bahwa kalaupun istilah politik praktis menunjuk pada suatu usaha memperoleh kekuasaan politik42, namun kekuasaan itu adalah untuk menerapkan suatu politik moral, bukan untuk menumpuk kekuasaan politis semata-mata. Bagaimanapun juga, politik sebagai realitas hidup merupakan cakupan etika Kristen43. Tetapi gereja tidak harus membuat kerajaan baru. Untuk mewujudkan damai sejahtera, tidak perlu menjadi partai damai sejahtera. Untuk menciptakan keadilan, tidak harus masuk partai keadilan. Untuk mewujudkan kasih, tidak perlu dipolitisir menjadi partai kasih. Gereja harus mewaspadai, jangan sampai ketika mereka berupaya menjadi Daniel, tetapi justru memainkan watak Belsyazar yang menginjak-injak kekudusan Tuhan demi nafsu dan kekuasaan. Atau ketika berhadapan dengan situasi yang mirip dengan keadaan yang ditimbulkan Belsyazar, Gereja justru lumpuh.

 

  1. Membaca John Locoque, The Book Of Daniel, (London, SPCK, 1979), p. 92
  2. B.J. Boland, Kuntji Kitab Daniel, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1956), p. 9
  3. Kisah-kisah diseputar perjuangan Matatias dan kelima anaknya (dalam kitab Makabe) yang kemudian dikenal dengan Revolusi Makabe menunjukkan salah satu upaya dari orang-orang yang berjuang dalam bingkai agama dan politik ini. Namun karena keterbatasan ruang pembahasan, penulis tidak dapat membahas epik Yahudi yang satu ini.
  4. Nama Belsyazar berarti : Bel melindungi Raja.
  5. Bahkan Dharmawijaya mengatakan bahwa Dari segi sejarah, kitab ini tidak bisa dipertahankan. Lih. St. Dharmawijaya, Daniel dan Pesannya (Yogyakarta, Kanisius, 1990), p. 55.
  6. C.L. Seow, Daniel, (London, 2003), p.76
  7. Ada juga yang mengatakan 17 tahun. Mis D.S.Russel, The Daily Study bible Series, Daniel, (Kentucky 1916), p.85
  8. Collins menggarisbawahi data dari Nabodius Cronicle(Catatan sejarah Nabodius) yang secara konsisten menyebut Nabodius sebagai the king dan Belsyazar sebagai the son of the king. John J. Collins, A Commentary on the Book of Daniel, Augsburg Fortress, 1993, p. 243
  9. Dalam konteks yang lebih luas, Boland menyebutkan bahwa memang kitab Daniel bukanlah sebuah kitab sejarah melainkan sebuah kitab keagamaan. Artinya motifasi penulis Daniel dalam menguraikan peristiwa yang berada dalam bingkai sejarah, sebenarnya tidak bermaksud memberi sebuah keterangan sejarah, melainkan lebih kepada sebuah ajaran yang bersumber dari peristiwa yang terjadi dalam sejarah. B.J. Boland, Kuntji Kitab Daniel, p. 61
  10. Robert A.Anderson, Daniel: Sign and Wonders, (Edinburg, The Hansel Press, 1970), p. 52
  11. John J. Collins, Tafsir Deutrokanonika 4: Daniel, (Yogyakarta, 1990), p. 48
  12. Seow dan sebagian besar penafsir mengurutkan sejarah suksesi pemerintahan BaBelsyazar mulai dari Nebukadnezzar (606-562), Amel Marduk (562-560), Neriglissar (560-556), Labashi Marduk (556), dan terakhir, Nabodius ayah Berzsyazar (556-439). Jadi ada rentang waktu 25 tahun antara Nebukadnezar dengan Belsyazarsyazzar. C.L. Seow, Daniel , p.76
  13. Seow kemudian mengajukan tiga interpretasi terhadap penggunaan istilah “ayah-anak” ini. 1) mengidentifikasi bahwa narrator kitab Daniel hendak menggambarkan awal dan akhir Kemahajaraan BaBelsyazar; 2) Bisa jadi bahwa dengan bahasa “ayah-anak” narator hendak membawa kita pada pemahaman karakter Nebukadnezar dan Belsyazarsyazar yang disatukan dalam keluarga penindas dan orang sombong. Dan 3) kita dituntun untuk memahami bahasa “ayah-anak” ini dengan perlakuan terhadap peralatan Bait Suci. Ayah mengambil, anak menggunakan. C.L. Seow, Daniel , p.77
  14. Edwar Joung mengatakan bahwa Belsyazar menggelar sebuah festival keagamaan yang sebenarnya bukan wewenangnya. Hanya Raja yang boleh melakukannya. Lih. Edwar J. Young, The Prophecy of Daniel, (Michigan, Ertmans Publishing, 1949), p.117.
  15. C.L. Seow, Daniel , p.77
  16. B.J. Boland, Kuntji Kitab Daniel, p. 61
  17. Seow menilai bahwa dalam kejadian ini, hanya Belsyazar yang melihat kejadiannya. Walaupun pada akhirnya tulisan itu pada akhirnya terlihat oleh hadirin setelah Belsyazar bereaksi. C.L. Seow, Daniel 78
  18. Collins, A Commentary on the Book of Daniel, p. 247, juga Boland, Kuntji Kitab Daniel, p. 63
  19. Collins, A Commentary on the Book of Daniel, p. 242-243
  20. Permaisuri yang dimaksud di sini tentulah bukan istri Belsyazarsyazar, tetapi mungkin Istri Nabodius. Dan dia tidak ikut dalam perjamuan itu.
  21. S.M.Siahaan dan RM Paterson, Tafsiran Alkitab, Kitab Daniel,(Jakarta, 2001), p. 188
  22. Membaca Newell, Seri Tafsiran Alkitab, Kitab Daniel (Malang, 1990), p 158-159.
  23. Ada juga yang mengatakan 50 syikal. Mis dalam Ensik 474
  24. C.L. Seow, Daniel, p. 83
  25. Lynne Newell, Seri Tafsiran Alkitab, Kitab Daniel, p.255.
  26. Goldingay, John E., Word Biblical Commentary, Volume 30: Daniel, (Dallas, Texas: Word Books, Publisher) 1998
  27. C.L. Seow, Daniel, p. 77
  28. Ada yang mengatakan bahwa Darius orang Media bisa diidentikkan dengan Gaubaruwa (ada yang menyebut Ugbaru), Panglima Balatentara Persia yang mempimpin penyerangan ke Babel. Gaubaruwa adalah Gubernur Gutium, suatu daerah yang dalam sejarah kemudian, disebut sebagai Media. Jadi “Darius orang Media“ adalah nama samaran kerajaan untuk Gaubaruwa.
  29. C.L. Seow, Daniel, p. 82
  30. Bernard Adeney-Risakotta, “Agama dan Politik:Interaksi dalam Sejarah Dunia Umumnya dan Indonesia Khsusnya” dalam Teologi dan Politik: Gema Duta Wacana Edisi 59, ed. Yusak Tridarmanto dkk (Yogyakarta: Fakultas Theologia UKDW, 2004. p 7
  31. Haryatmoko, Etika Politik dan kekuasaaan (jakarta, Penerbit Kompas, 2003), p. 62-64.
  32. Membaca Bahtiar Effendy, Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama,Negara dan Demokrasi, Yogyakarta, Galang Press, 2001.
  33. E.G.Singgih, Iman dan Politik dalam Era Reformasi di Indonesia (Jakarta, 2002), p. 28
  34. E.G.Singgih, Mengantisipasi Masa Depan (Jakarta 1994), p. 158
  35. Hal ini menyebabkan Gereja Toraja menjadi kelimpungan dan akhirnya mengeluarkan sebuah fatwa yang dituangkan dalam Tata Gereja Toraja pada tahun 2001 bahwa setiap pendeta yang beralih ke lapangan lain (salah satu yang dimaksud adalah lapangan politik), jabatan kependetaannya akan digugurkan oleh Sinode Gereja Toraja.
  36. A.Sudiarja, “Politik Itu Kotor” dalam Majalah Rohani, Nomor 3 Tahun ke-51, Maret 2004.
  37. Menurut Luisi P.I, secara teoretis penekanan aspek politis dalam keterlibatan religius di tengan masyarakat tidak dipermasalahkan. Namun jika sampai pada pelaksanaan konkrit, makan segera timbul masalah dan bisa saja cenderung mudah terseret oleh kekuatan poilitik tertentu sehingga kegiatan religius menjadi kegiatan politik praktis. Luisi P.I., MenentukanPilihan Politis (yogyakarta, Kanisius, 1990), p. 41.
  38. Membaca Victor Tambunan, Gereja dan Orang percaya, (Pematang Siantar, L.SAPA STT HKBP, 2006), p. 88.
  39. Masaah kepemimpinan dalam Gereja menjadi pergumulan Sonny Eli Zaluchu yang kemudian dituangkan dalam tulisan Intrik dalam Gereja, (Jakarta, Menatoia, 2004).
  40. Y. Triono, “Pemimpin bisa berbuah tapi bisa membusuk”, dalam Majalah Rohani, Nomor 4 Tahun ke-52, Oktober 2005
  41. Membaca Martin Sinaga dkk (peny), Pergulatan Kristen di Indonesia: Teks-teks terpilih Eka Darmaputera, (Jakarta 2001), p.339-530
  42. Pengertian yang diberikan oleh soedjati Djiwandono, Gereja dan Politik: Dari Orde Baru ke Reformasi (Yogyakarta, Kanisius, 1999), p.48
  43. Saut Sirait, Politik Kristen di Indonesia (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2001), p. 88.

Diposting tanggal 28 Mar 2016

Daftar Artikel

Persoalan dan pergumulan pernah dialami pula oleh umat Tuhan. Bangsa Israel mengalami kondisi yang s.....

Selengkapnya ..

Bacaan kita hari ini mengungkapkan tindakan Allah kepada manusia dan sekaligus lanjutan dari bacaan .....

Selengkapnya ..

Bacaan kita hari ini merupakan suatu simbol cawan. Malapetaka-malapetaka yang Allah datangkan di pas.....

Selengkapnya ..

Hakim-hakim 4:1-10 Sebelum Israel dipimpin oleh seorang raja, maka ketika mereka masuk dan berdiam d.....

Selengkapnya ..

Bagaimana dengan Allah? Israel sudah mengingkari perjanjian dengan Allah. Mereka memberontak kepada .....

Selengkapnya ..

Demikian pula bacaan kita hari ini yang disampaikan oleh Asaf. Firman-Nya hari ini kembali mengingat.....

Selengkapnya ..

Lan te pa’basanta Pa’pudian 78 , na pasan Asaf lako mintu’ tarukna Yakub kumua ann.....

Selengkapnya ..

Mazmur ini merupakan catatan yang luar biasa dari generasi ke generasi yang mengarahkan telinga dan .....

Selengkapnya ..

Tuhan Yesus dalam khotbah-Nya tentang akhir zaman menggambarkan situasi yang akan dihadapi oleh muri.....

Selengkapnya ..

Yohanes menyaksikan apa yang akan terjadi ketika kekuatan jahat dilepaskan oleh Tuhan. Kekuatan jaha.....

Selengkapnya ..

1 Tesalonika 4:13-18 selain berisi pujian atas iman jemaat Tesalonika, bagian yang juga amat penting.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...