Malu Karena Berdosa
Seorang ahli antropologi mengatakan bahwa salah satu sifat khas orang Asia adalah menonjolnya rasa malu dalam diri seseorang karena melakukan sebuah kesalahan. Entah data tahun berapa yang di analisis untuk menemukan pandangan itu. Namun lepas dari teori itu, kita juga bisa memeriksanya dalam Alkitab bahwa Adam dan Hawa bersembunyi karena malu bercampur takut setelah makan buah pohon pengetahun baik dan jahat yang menyebabkan mata mereka terbuka dan sadar bahwa mereka telanjang. Ya, kesadaran terhadap dosa menyebabkan mereka sadar bahwa mereka telanjang dan karena itu menjadi malu. Jadi munculnya rasa malu setelah berbuat dosa adalah suatu efek wajar. Bahkan jika dipermalukan karena melakukan dosa, itupun efek wajar, karena tanpa dipermalukanpun, rasa malu itu seharusnya muncul dengan sendirinya.
Namun jika kita melihat kenyataan sekarang ini, tampaknya rasa malu karena berbuat dosa tidak lagi bukan lagi suatu efek wajar. Yang terjadi adalah : orang tidak malu lagi untuk berbuat dosa, bahkan juga tidak jera ketika dipermalukan. Lihatlah misalnya nama-nama yang dipampang di koran-koran mengenai koruptor yang dicaci maki, atau pekerja seks komersial yang bersedia diwawancarai oleh stasiun televisi. Jadi yang berkembang adalah berubahnya manusia menjadi makhluk yang tidak tahu malu. Padahal makhluk yang tidak tahu malu itu bukan manusia tetapi hanya binatang. Mungkin karena itulah muncul istilah ”bermuka badak” untuk orang yang tidak tahu malu, atau minimal tidak bergeming walaupun dipermalukan.
Rasa malu karena berdosa ini pula yang dicari Daniel di antara bangsanya. ”Ya Allah, engkaulah yang benar. Patutlah kami mendapat malu” (9:7), namun tidak ditemukannya. Yang ada adalah sifat keras hati yang seakan-akan bangga dengan perbuatannya yang seharusnya meunculkan rasa malu.
Hal ini menjadi tantangan hidup orang beriman untuk senantiasa membuka diri di hadapan Tuhan dan senantiasa mengakui segala kelemahannya dengan penuh rasa sesal dan malu. Sebelum kita mempermalukan diri sendiri dengan dosa yang kita tumpuk dalam hidup ini, mari kita memupuk rasa malu di hadapan Tuhan karena melakukan ha-hal yang tidak dikehendakinya agar oleh pengasihannya kita dikuatkan dan dengan kepala yang tegak menatap tahun ini dengan semangat pembaruan dalam diri.
Diposting tanggal 23 Mar 2016
