HIDUP YANG MELAMPAUI KEMATIAN (Katuoan ulleanni Kamatean)

Bahan Khotbah Minggu ke-14, Prapaskah  V, 2 April 2017

HIDUP YANG MELAMPAUI KEMATIAN

(Katuoan ulleanni Kamatean)

 

Mazmur Mazmur 130
Bacaan 1 Yeheskiel 37:1-14
Bacaan 2 Roma 8:6-11
Bacaan 3 Yohanes 11:1-45 (Bahan Utama)
Nas persembahan Roma 8:12-13
PHB Yohanes 11:25-26

 

Tujuan:

1.    Memahami bahwa Allah adalah sumber kehidupan

2.    Menghayati bahwa penderitaan dan kematian Kristus adalah jalan menuju kehidupan

 

Pemahaman teks

Kitab Yohanes 11:1-45 berisikan tentang ucapan dan tindakan Yesus dalam mengungkapkan tentang jati diri-Nya. Ia mengatakan bahwa, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya…” (ay.25-26). Ucapan itu dibuktikan antara lain melalui tindakan-Nya membangkitkan Lazarus. Ada hal yang menarik dalam proses Lazarus dibangkitkan dari kematian, yaitu pertama-tama Yesus menyuruh orang yang ada disitu untuk mengangkat batu penutup makam. Berdasarkan kebiasaan orang Yahudi, orang yang sudah meninggal biasanya dikuburkan di dalam gua yang kemudian ditutup dengan batu (ay.38) yang dilabur warna putih (lih. Mat. 23:27). Dikatakan dalam Matius 23:37, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” Ini mengisyaratkan bahwa untuk mendapatkan anugerah kehidupan dari Tuhan (pengampunan dan kebangkitan), maka tahap pertama yang dilakukan oleh Yesus adalah membuka kedok praktek kehidupan kita yang seolah baik-baik saja dari luar, namun sesungguhnya di dalam hati kita penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan karena dosa.

Lazarus sudah empat hari meninggalnya, dan telah mengeluarkan bau (ay.39), namun Marta tahu bahwa hanya pada Yesuslah tempat yang paling tepat untuk mencurahkan isi hatinya mengenai duka yang dialaminya. Dan benar, Yesus mampu mengatasi duka yang dilalaminya. Lazarus bangkit kembali. Demikianlah halnya dengan dosa, apabila dibiarkan, maka akan mengeluarkan “bau busuk” (tabiat buruk) yang sulit hilang. Dan untuk menghilangkan dosa tidak ada cara lain kecuali membawanya ke tempat terang yaitu kepada Allah di dalam Kristus Yesus. Setiap orang harus membiarkan Kristus membuka hatinya, dan membawa seluruh apa yang ada di dalam kegelapan kepada terang, sehingga hal-hal buruk yang tidak terlihat jelas dapat terlihat sangat jelas. Kesadaran akan dampak buruk atas dosa dalam kehidupan ini, membuat seseorang menyadari dan mengakui dosa-dosanya di hadapan Tuhan, kemudian memperoleh pengampunan dan dimahkotai kehidupan yang sejati. Istilah "menangis" pada ayat 35, menunjukkan perasaan simpati mendalam yang Allah rasakan terhadap penderitaan umat-Nya. Simpati yang sama dinyatakan Kristus bagi kita seperti yang dinyatakan kepada keluarga Lazarus. Allah mempunyai kasih yang dalam, penuh emosi dan rasa simpati bagi kita, bahkan relah menderita karena menanggung dosa-dosa kita, menggantikan kita, supaya kita diselamatkan dan memperoleh kembali kehidupan.

Relevan dengan kisah yang kita baca dalam Yehezkiel 37:1-14, nabi Yehezkiel mendapatkan penglihatan tentang tulang-tulang yang dihidupkan, tentang pemulihan Israel. Nabi Yehezkiel diutus Tuhan untuk melayani umat-Nya yang saat itu ada dalam pembuangan di Babel karena dosa-dosanya di hadapan Tuhan. Yehezkiel amat gencar menyuarakan panggilan pertobatan umat dari kehancuran moral dan ketidaksetiaan terhadap Allah (mengandalkan bangsa Asyur daripada Allah, ibadah hanya sebagai rutinitas tanpa makna). Nubuat nabi Yehezkiel tentang kebangkitan Israel dalam perikop ini disampakaikan setelah ±10 tahun dalam pembuangan di Babel. Pada saat itu, Bait Allah telah dihancurkan oleh bangsa Babel, hal ini berarti secara politik mereka kalah dan secara spiritual mereka kehilangan hubungan yang baik dengan Allah. Sebab Bait Allah saat itu memiliki fungsi keagaaman yang paling utama, menjadi pusat kehidupan keagamaan umat Israel. Di tengah kondisi seperti ini, Yehezkiel mewartakan masa depan yang baru yang akan dilakukan Allah. Hal ini tentunya menjadi sebuah berita sukacita bagi bangsa Israel dalam pembuangan. Tulang-tulang kering yang berserakan menjadi gambaran akan keadaan bangsa Israel di dalam keterpurukannya di pembuangan yang tanpa harapan. Dalam penglihatan ini, Allah ingin menyatakan bagaimana akibat buruk dari dosa yang diperbuat oleh umat-Nya. Dosa akan membawa mereka kepada kondisi hidup yang tanpa harapan, seperti yang mereka katakan “Tulang-tulang kami sudah menjadi kering dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang” (ay.11). Namun demikian, tidak ada seorangpun yang dapat menghidupkan tulang-tulang kering yang telah berserakan itu selain dari kasih dan kuasa Allah. Sehingga, belas kasihan Allah sungguh diperlihatkan dalam penglihatan ini, bahwa Tuhan akan memberikan kembali kepada mereka harapan dan akan melakukan pembaharuan dalam kehidupan mereka.

Selanjutnya dari Roma pasal 8 ini, Rasul Paulus membedakan 2 pola prinsip kehidupan yang sangat berbeda dan saling bertentangan. Prinsip hidup yang pertama disebutnya dengan ”hidup menurut daging” dan prinsip hidup yang kedua disebutnya dengan “hidup menurut Roh”. Kata daging, yang sering dipakai dalam pengertian rasul Paulus sebagai suatu pola hidup yang melihat dan menyandarkan segala sesuatu dari segi manusiawi. Dengan demikian yang dimaksudkan oleh rasul Paulus dengan “hidup menurut daging” adalah bahwa ia sama sekali tidak bermaksud berbicara mengenai tubuh fisik manusia. Pengertian rasul Paulus mengenai “hidup menurut daging” lebih ditujukan untuk menggambarkan suatu pola hidup yang memiliki tabiat yang sangat rentan terhadap keinginan melakukan dosa. Jadi orang yang hidup menurut daging, pada hakikatnya orang yang lebih mengikuti kecenderungan nafsu dirinya untuk jatuh di dalam perbuatan atau tindakan yang melawan Allah. Itu sebabnya, di Roma 8:6 rasul Paulus berkata, ”Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”. Kedagingan adalah perseteruan dengan Allah dan kedagingan tidak taat pada Allah (ay. 7 ; Gal 5:16-22.). Orientasi kedagingan hanya pada perkara-perkara duniawi (ay.5). Itu sebabnya, orang yang hidup dalam kedagingan tidak mungkin berkenan kepada Allah (ay.8 ). Semua keinginan daging cenderung menjadi cobaan yang membawa kekecewaan dan kesengsaraan hidup (Yakobus 1:13-15) dan Firman Allah berkata semuanya itu akan lenyap (1 Yoh. 2 :16,17). Roh Kudus akan memimpin orang percaya dan mengarahkan pikirannya pada hal-hal sorgawi dan mematahkan keinginan daging (ay. 10) serta memberikan hidup sorgawi bagi kita (ay.13). Itulah sebabnya mengapa kita diperintahkan untuk mencari dan mengarahkan pikiran kita ke atas, di mana Kristus ada (Kol 3:1,2). Roh Kudus memusatkan perhatian orang percaya pada Tuhan Yesus Kristus (Yoh 14: 26; 15:26).

Pokok-pokok yang dapat dikembangkan:

Kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Kristus menjadikan iman setiap orang percaya tidaklah sia-sia (lih.1 Kor.15:14). Sama seperti Lazarus, sesungguhnya kita semua sudah mati (karena dosa), dan pembebasan dari kematian akibat dosa hanya dimungkinkan terjadi kalau Kristus memberikan rahmat-Nya kepada kita. Dan pada saat yang bersamaan, kita juga mau keluar dari kegelapan dosa menuju terang kasih Tuhan.

Pertama, kita harus percaya kepada Kristus, Sang kebangkitan dan sumber hidup, karena di dalam Kristus tidak ada kematian. Selama kita percaya kepada Kristus dan taat mengikuti segala jalan-Nya, termasuk siap menghadapi penderitaan seperti Dia, maka kita akan hidup walaupun kita sudah mati. Hanya dengan berfokus pada Kristus yang terlebih dahulu menderita, maka kita akan mempunyai perspektif yang berbeda dalam menghadapi penderitaan, bahkan kematian. Karena bagi Kristus, kematian bukanlah akhir dari segalanya, namun merupakan awal kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang memungkinkan kita melihat kemuliaan Allah. Hanya dengan percaya kepada Kristus, maka orang yang hidup tidak akan mati dan yang mati akan tetap hidup.

Kedua, Paulus menjelaskan bahwa karena Kristus bangkit dari antara orang mati, maka Roh yang sama yang diam di dalam kita akan menghidupkan tubuh kita yang fana itu. Itu berarti, seperti kebangkitan tubuh Kristus, maka tubuh kita pun akan dibangkitkan juga kelak. “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”(ay. 11)

Kedua, Tuhan tidak tidur dalam penderitaan umat-Nya. Ia mau bertindak dan berbuat karena kasih-Nya yang besar kepada umat ciptaan-Nya. Tuhan tidak menginginkan manusia mati karena keberdosaannya. Sebagaimana Tuhan mengambil inisiatif membuka jalan pemulihan bagi umat Israel, maka Tuhan pun mengambil inisiatif menyelamatkan kita melalui kesediaan-Nya menderita bahkan mati di kayu salib menggantikan umat-Nya. Di dalam Tuhan tidak akan ada akhir yang menyedihkan, yang ada hanyalah sukacita dan kehidupan kekal.

Aplikasi:

Setelah merenungkan firman Tuhan, mari kita berkomitmen untuk hidup oleh Roh dan tidak hidup lagi oleh daging yang menghasilkan kematian? Karena Kristus berkuasa membangkitkan orang yang telah mati, maka oleh-Nya kita pun setelah mati akan dibangkitkan juga kelak. Mari kita mengintrospeksi diri kita, sudahkah kita hidup bagi Kristus dan tidak lagi hidup memperhambakan diri pada dunia dan segala hal yang bersifat fana. Hidup menurut Roh berhubungan erat dengan satu syarat, yaitu ” Kristus ada di dalam kita, dan kita di dalam Dia”. Di sini pengertian iman kepada Kristus dihayati bukan sekedar suatu tindakan percaya secara ritual (formalitas saja) dan rasional (pengetahuan dengan akal) belaka, tetapi iman sebagai suatu persekutuan personal yang intim dengan Kristus. Manakala Kristus hidup di dalam diri kita, maka kita dimampukan untuk mengalahkan kuasa dosa berupa keinginan untuk hidup menurut daging. Sebab ketika Kristus tinggal dan hidup di dalam diri kita maka kita dikuasai oleh Roh Kristus. Di mana ada Roh Kristus berkuasa, maka keinginan hidup menurut daging menjadi tidak berdaya. Itu sebabnya, rasul Paulus berkata: ”Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran” (Roma 8:10). Ketika Roh Kristus berkuasa dalam hati kita, walau kita memang telah mati karena dosa, namun kita akan beroleh hidup kekal, melampaui kematian. Amin! (RPM)


Diposting tanggal 27 Mar 2017

Daftar Artikel

Bangsa Israel berada dalam pembuangan di Babel karena pemberontakan mereka. Dalam keadaan seperti it.....

Selengkapnya ..

Nubuatan tentang pelepasan bagi bangsa itu merupakan sebuah pengharapan yang datang bagi umat piliha.....

Selengkapnya ..

Mazmur 146:6-10 merupakan bentuk pengakuan pemazmur terhadap kemahakuasaan Allah. Disini Pemazmur me.....

Selengkapnya ..

Tidak ada kekuatan abadi yang dimiliki oleh umat manusia di dunia. Kekuatan manusia tidak akan mampu.....

Selengkapnya ..

Yehezkiel 37:1-14 merupakan nubuat Yehehezkiel ketika ia berada dalam pembuangan bersama umat Israel.....

Selengkapnya ..

Gereja Toraja lahir dan tumbuh dalam zaman yang membara namun penuh harapan. Ia lahir pasca reruntuh.....

Selengkapnya ..

Melalui nabi Yeremia, Allah mengenang bagaimana Israel mengasihi Tuhan ketika ia masih muda dan kese.....

Selengkapnya ..

Peristiwa Yakub merebut hak kesulungan Esau, membuat ibu Yakub menyuruhnya untuk pergi menghindar da.....

Selengkapnya ..

Allah berbicara kepada bangsa Israel agar menaati aturan yang akan diberikan kepada mereka ketika me.....

Selengkapnya ..

Mazmur 81:1-8 merupakan pujian pengajaran yang dinyanyikan oleh asaf dengan tujuan mengingat-ingat k.....

Selengkapnya ..

Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria adalah hal yang tidak biasa dalam tradisi Yahudi jika seor.....

Selengkapnya ..

Sejak zaman Yesus, orang Yahudi memahami bawah mereka adalah umat yang kudus, umat pilihan Allah. Ka.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...