HANYA KARENA PERCAYA KEPADA ALLAH ( Belanna Kama’patonganan Lako Puang Matua )

Bahan Khotbah Minggu Ke-11, Prapaskah II , 12 Maret 2017

HANYA KARENA PERCAYA KEPADA ALLAH

( Belanna Kama’patonganan Lako Puang Matua )

 

Mazmur Mazmur 121:1-8
Bacaan 1 Kejadian 12:1-4a
Bacaan 2 Roma 4:1-5,13-17 (Bahan Utama)
Bacaan 3 Yohanes 3:1-17
Nas Persembahan Mazmur 9:2
Petunjuk Hidup Baru Mazmur 121:7-8

 

Tujuan     :

1.  Jemaat memahami dan menghayati bahwa hanya jika orang percaya maka ia akan mengikuti perintah-Nya dan harapannya hanya pada Allah.

2.  Jemaat menghayati bahwa hidup kekal diperoleh hanya jika percaya kepada Yesus

3.  Jemaat  sungguh-sungguh hidup sebagai orang percaya yang taat dan kepada Allah.

 

Pendahuluan

Keselamatan adalah salah satu pokok ajaran yang penting dalam agama-agama. Hampir semua agama, kecuali kekristenan, mengajarkan bahwa keselamatan itu adalah hasil usaha manusia dalam berbuat baik. Jika seseorang ingin selamat maka ia mesti berusaha melakukan sebanyak mungkin kebaikan dan menghindari berbuat dosa. Semakin banyak berbuat baik dan semakin sedikit berbuat dosa, maka akan semakin terjamin keselamatannya. Jadi dapat dikatakan bahwa oleh banyak agama mengajarkan bahwa keselamatan itu adalah upah dari berbuat baik.

Kekristenan mengajarkan hal yang berbeda dengan kebanyakan agama-agama yang lain. Kekristenan mengajarkan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah kepada manusia. Allah memberikan kepada manusia secara gratis, tanpa harus membayarnya dengan apapun. Ia dianugerahkan tanpa harus membayar dengan kebaikan atau amal. Meskipun merupakan anugerah, tapi semua orang tidak dapat memperolehnya, karena semua telah berdosa. Untuk memperoleh anugerah Allah itu, maka manusia dibenarkan di dalam Yesus Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya untuk menebus dosa manusia. Oleh karena itu barang siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Namun demikian percaya kepada Yesus, tidak sekadar percaya tetapi sungguh hidup menurut kehendak-Nya. Dengan demikian perbuatan baik dalam kekristenan bukan dalam rangka memperbesar jaminan untuk selamat, melainkan perbuatan baik adalah buah dari percaya kepada Allah di dalam Yesus Kristus yang telah mengaruniakan keselamatan itu.

 

Pokok-pokok yang dapat dikembangkan

1. Mengikuti perintah Tuhan karena percaya (Kejadian 1:1-4a)

Seorang penduduk Ur-Kasdim bernama Abram dipanggil oleh Allah meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, dan orang tuanya menuju suatu negeri yang belum diketahuinya. Jika kita perhatikan dalam Alkitab, tidak disebutkan alasan-alasan mengapa Abram yang dipanggil Allah dan bukan orang tuanya atau saudara-saudaranya. Juga tidak disebutkan keistimewaan Abram sehingga Allah tertarik memanggilnya untuk mengikat suatu perjanjian. Jika ditelusuri asal-usulnya maka sesungguhnya Abram berasal dari keluarga yang menyembah berhala. Dalam Yosua 24:2 dikatakan bahwa, Terah ayah Abraham dan Nahor yang berasal dari seberang sungai Efrat, adalah penyembah atau beribadah kepada ilah lain. Panggilan kepada Abram diikuti dengan janji dari Allah bahwa ia akan dijadikan suatu bangsa yang besar dan akan diberkati serta akan menjadi berkat.

Setelah mendengar panggilan dan janji Allah, Abram pergi seperti yang difirmankan Tuhan. Sekalipun ia belum mengetahui negeri yang akan ditujunya, bahkan tidak ada gambaran sekilas tentang negeri yang akan dituju itu, namun ia bersedia pergi karena Allah sendiri yang akan menunjukkan kepadanya. Abram bersedia meninggalkan semua sahabat, tetangga dan keluarganya. Jika kita perhatikan bacaan ini, Abram sangat percaya kepada firman dan janji Allah itu, padahal mungkin ia baru mengenal-Nya. Ia pasrah kepada perintah Tuhan dan mengikutinya tanpa keraguan. Tidak ada tanya jawab, Abram langsung mengiyakan perintah itu dan mengamini janji itu. Abram juga tidak berdiskusi dengan Sarai, istrinya. Abram mengajak isterinya untuk mengikuti perintah Allah. Abram percaya janji Allah itu pasti akan dinyatakan dan karena itu ia mau mengikuti perintah itu.

 

2. Orang percaya hanya berharap kepada Tuhan (Mazmur 121)

Jika kita perhatikan perikop ini, rupanya pemazmur sedang menghadapi sesuatu yang tidak bisa diatasi sendiri. Ia merasa membutuhkan bantuan dari pihak lain yang dianggap lebih besar kuasanya. Oleh karena itu, pemazmur mengawali dengan pertanyaan, dari manakah akan datang pertolonganku? Menurut tafsirannya Marie Claire Barth dan B.A. Pareira, setelah mengikuti ibadah hari raya di Yerusalem, peziarah hendak pulang dan akan melewati gunung dan wilayah yang sunyi. Ancaman binatang buas dan para penyamun sewaktu-waktu bisa ditemui. Dalam buku Tafsiran Alkitab Masa Kini, dituliskan bahwa serangan tiba-tiba di ngarai-ngarai dan di cela-cela bisa muncul. Itulah yang dikuatirkan oleh pemazmur dan karena itu ia membutuhkan pertolongan. Tapi pemazmur sadar bahwa pertolongan itu hanya datang dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Pemazmur meyakini rasa takut terhadap ancaman bahaya dapat disingkirkan oleh kepercayaan kepada Tuhan. Pemazmur percaya bahwa kuasa Tuhan saja yang dapat mengatasi bahaya yang akan dihadapi. Dalam perikop ini, pemazmur juga menggambarkan kekuasaan Allah yang tidak tertandingi oleh apapun. Memang di gunung-gunung terdapat pohon-pohon yang dikeramatkan dan mezbah untuk dewa-dewa tetapi pemazmur hanya percaya kepada kuasa Allah. Ada tafsiran yang mengatakan bahwa gunung tinggi itu bisa juga melambangkan kuasa supranatural yang dimiliki dukun-dukun, kuasa teknologi modern, atau kuasa politik, tapi bagi pemazmur hal-hal itu tidak bisa diandalkan. betapapun tingginya gunung menjulang ke langit, tetap ia bagian dari bumi ciptaan Allah yang tidak punya kuasa untuk menolong. Pemazmur percaya bahwa hanya Allah yang dapat menolongnya, yang dapat memberi keamanan sejati karena Dia adalah pemilik dan penguasa alam semesta. Jadi, percayanya kepada Allah memampukannya menghadapi tantangan di depannya.

 

3. Orang percaya beroleh hidup kekal (Yohanes 3:1-17)

Perikop ini mengisahkan perjumpaan Nikodemus dengan Yesus. Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi dari golongan Farisi yang mendatangi Yesus untuk melakukan percakapan pribadi. Ada tafsiran yang mengatakan bahwa Nikodemus ini adalah seorang yang terdidik, seorang cendekiawan, salah seorang anggota majelis, anggota dewan penasihat di Yerusalem. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang yang berpengaruh di Yerusalem. Rupanya Nikodemus mendatangi Yesus untuk mendengarkan perkataan-Nya di tempat di mana ia merasa bisa bebas berbicara dengan-Nya. Nikodemus mendatangi Yesus pada waktu malam agar tidak ketahuan oleh imam-imam kepala. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ia mendatangi Yesus secara sembunyi-sembunyi. Kedatangannya secara sembunyi-sembunyi, mungkin juga disebabkan karena ia merasa takut atau malu jika ketahuan bahwa ia yang berasal dari keluarga terhormat harus datang dan bertemu dengan Yesus yang dikenal sebagai anak dari si tukang kayu dari Nasaret.

Kalau kita perhatikan perikop tadi, rupanya ia mendatangi Yesus bukan untuk membicarakan masalah politik dan kenegaraan, melainkan masalah keselamatan. Jika kita renungkan pertanyaan yang disampaikan oleh Nikodemus, mungkin kita akan mengatakan mengapa ia mempertanyakan soal keselamatan? bukankah ia seorang tokoh agama? Tidakkah ia seorang pengajar? (ay.10) yang mengajarkan bagaimana seseorang bisa selamat menurut ajaran agamanya? Ataukah ia mulai meragukan ajaran dalam agamanya sendiri? Atau ia hanya ingin menguji Yesus? Apapun motivasinya, ternyata Yesus melayaninya untuk berdiskusi. Yesus yang ia sapa dengan Rabi mengatakan bahwa seseorang tidak akan dapat melihat Kerajaan Allah jika ia tidak dilahirkan kembali. Pernyataan Yesus ini membingungkan bagi Nikodemus, sehingga bertanya bagaimana mungkin dilahirkan kalau ia sudah tua. Tidak mungkin seseorang dapat masuk kembali ke rahim ibunya. Kelahiran kembali dipahaminya secara harafiah padahal ia seorang cendekiawan. Dalam ayat 10 Yesus mengatakan:“engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu”. Sesudah itu Yesus menjelaskannya mengenai diri-Nya, dan puncaknya Yesus mengatakan bahwa karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Artinya, untuk memperoleh hidup kekal itu hanya dengan percaya kepada-Nya. Jadi hidup kekal itu adalah hadiah karena percaya kepada-Nya. Hidup kekal tidak bisa diuasahakan oleh manusia yang berdosa. Hidup kekal bukan diperoleh setelah ternyata kebaikan lebih banyak daripada dosa. Hidup kekal adalah anugerah dari Allah yang diperoleh dengan percaya kepada-Nya.

 

4. Orang percaya dibenarkan karena imannya (Roma 4:1-5;13-17)

Melalui perikop ini Paulus menjelaskan bahwa seseorang benar di hadapan Allah bukan karena ketaatannya mengikuti hukum Taurat melainkan karena percayanya kepada Allah. Paulus memberi contoh tentang Abraham yang dibenarkan bukan karena perbuatannya melainkan karena percayanya. Paulus mengatakan, seandainya Abraham dibenarkan karena perbuatannya maka ia dapat bermegah di hadapan Allah. Kepada Abraham yang percaya itu, Allah memberikan janji untuk menjadi bangsa yang besar dan oleh dia semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat (Kej.12:2,3). Allah berjanji kepada Abraham bukan karena Abraham menaati hukum Taurat, tetapi hukum Taurat diberikan untuk menjadi pola hidupnya sebagi orang yang telah percaya yang telah menerima janji dari Allah. Bagi Abraham dan keturunannya diberi hukum Taurat untuk ditaati yang akan membedakannya dengan bangsa-bangsa lain. Paulus menegaskan hal ini karena rupanya dalam jemaat ada pemahaman bahwa orang dapat mengharapkan janji Allah jika ia menaati hukum Taurat. Padahal mestinya orang menaati hukum Taurat karena keyakinannya terhadap janji Allah.

Jadi, sekali lagi, tidak ada pembenaran tanpa percaya kepada Tuhan. Hanya karena percaya kepada Allah yang menyelamatkan itu di dalam Yesus Kristus kita dibenarkan, bukan berdasarkan perbuatan baik atau ketaatan kepada aturan agama. Dalam Pengakuan Gereja Toraja Bab V butir 4 dikatakan bahwa di dalam iman, sebagai hubungan yang akrab antara kita dengan Allah, kita mengaminkan pembenaran kita dalam Yesus Kristus, dan kita memercayakan seluruh kehidupan kita dalam tangan Allah sebagai ibadah kita yang sejati. Melalui doa, kita menyatakan dan merasakan hubungan kita yang erat dengan Allah. Jadi beramal dan berbuat kebajikan adalah pola kehidupan baru sebagai persembahan syukur kita. Moralisme dan legalisme bukanlah suatu pengudusan hidup yang digerakkan oleh keselamatan di dalam Yesus Kristus.[1]

 

[1] Kepustakaan: Tafsiran Masa Kini,Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Yohanes dan Roma,Ensiklopedia Alkitab,Tafsir Alkitab Perjanjian Lama,Tafsiran Alkitab : Mazmur 73 – 150,Pengakuan Gereja Toraja,Internet

 


Diposting tanggal 28 Feb 2017

Daftar Artikel

Kisah Para Rasul 2:22-32 menjelaskan tentang keberadaan Petrus yang tidak lagi memiliki keraguan ber.....

Selengkapnya ..

Paulus menasihatkan kepada Jemaat di Efesus, bahwa kehidupan manusia didalam dunia ini adalah sebuah.....

Selengkapnya ..

Daud sedang mengalami pergumulan yang membuatnya begitu cemas dan hampir putus asa. Ia sedang dikeja.....

Selengkapnya ..

Daud adalah pribadi yang dekat dengan Tuhan, juga pernah mengalami situasi demikian. Daud merasa tid.....

Selengkapnya ..

Dalam teks bacaan kita saat ini, sangkakala yang ketujuh yang dilihat oleh Yohanes mengarahkan kita .....

Selengkapnya ..

Sama halnya dalam menjalani kehidupan ini, dimana terkadang kualitas hidup seseorang kerap kali diuk.....

Selengkapnya ..

Mazmur ini berisi nyanyian syukur Daud, saat pentahbisan bait suci (ay.1). Sebuah kesaksian dari Da.....

Selengkapnya ..

Bangsa Israel berada dalam pembuangan di Babel karena pemberontakan mereka. Dalam keadaan seperti it.....

Selengkapnya ..

Nubuatan tentang pelepasan bagi bangsa itu merupakan sebuah pengharapan yang datang bagi umat piliha.....

Selengkapnya ..

Mazmur 146:6-10 merupakan bentuk pengakuan pemazmur terhadap kemahakuasaan Allah. Disini Pemazmur me.....

Selengkapnya ..

Tidak ada kekuatan abadi yang dimiliki oleh umat manusia di dunia. Kekuatan manusia tidak akan mampu.....

Selengkapnya ..

Yehezkiel 37:1-14 merupakan nubuat Yehehezkiel ketika ia berada dalam pembuangan bersama umat Israel.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...