Bahan Khotbah Minggu Ke 7 Tanggal 18 Februari 2018 Prapaskah I BAPTISAN TANDA PENGAMPUNAN (Pa’dioran Masallo’ Iamo Tanda Kadipagarrisan)
Bahan Khotbah Minggu Ke 7 Tanggal 18 Februari 2018
Prapaskah I
BAPTISAN TANDA PENGAMPUNAN
(Pa’dioran Masallo’ Iamo Tanda Kadipagarrisan)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 25:1-10 |
| Bacaan 1 | : Kejadian 9:8-17 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Petrus 3:18-22 |
| Bacaan 3 | : Markus 1:9-15 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 25::15 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Markus 1:15 |
Tujuan:
-
Jemaat memahami bahwa baptisan adalah tanda pertobatan
-
Jemaat menikmati hidup dalam pengampunan Kristus
Pemahaman Teks
Mazmur 25:1-10 mengutarakan pengakuan Daud mengenai kerinduan jiwanya akan Allah sebab Ia percaya bahwa Allahlah sumber kebahagiaanya yang sejati. Ia sangat yakin bahwa Allah sajalah yang patut diandalkan. Ia sangat percaya bahwa semua orang yang mengandalkan Allah tidak akan dipermalukan. Malahan sebaliknya yang akan dipermalukan ialah mereka yang berbuat khianat. Oleh karena itu, ia memohon kiranya Allah memberitahukan dan mengajarkan jalan-jalan-Nya senantiasa kepadanya. Selain itu, ia juga bermohon kiranya Allah tidak lagi mengingat masa mudanya yang penuh pelanggaran dan dosa. Ia memohon kiranya Allah senantiasa menyatakan kasih setia dan kebenaran-Nya yang akan menuntun pemazmur pada jalan Allah.
Kejadian 9:8-17 mengisahkan bagaimana Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Nuh pasca air bah. Perjanjian Allah dengan Nuh disimbolkan melalui “busur di awan” (pelangi). Perjanjian itu tidak hanya berlaku bagi Nuh dan keturunannya tetapi juga mencakupi seluruh ciptaan lainnya. Melalui perjanjian itu, Allah menyatakan untuk tidak mendatangkan air bah lagi di bumi. Pelangi ini menandakan pemeliharaan Allah melingkupi (melengkung) di atas segala ciptaan.
Markus 1:9-15 menguraikan peran Roh Kudus dalam karya keselamatan sangat nyata melalui pembaptisan Yesus di sungai Yordan oleh Yohanes. Ketika Yesus dibaptis, Roh Kudus dalam bentuk burung Merpati turun ke atas-Nya dan menegaskan bahwa, Dialah yang dikasihi Allah untuk merealisasikan karya keselamatan dari Allah. Setelah diurapi oleh Roh Kudus, Yesus kemudian menjalani pencobaan di padang gurun selama 40 hari lamanya. Selanjutnya Yesus memulai misi memberitakan Injil Allah dan menyerukan perlunya pertobatan sebagai syarat mutlak memasuki Kerajaan Allah yang akan digenapi melalui kehadiran-Nya.
1 Petrus 3:18-22. Petrus menjelaskan kepada para pembacanya bahwa penderitaan yang harus mereka tanggung sebagai konsekuensi mengikut Yesus tidak harus membuat mereka takut dan gentar. Menderita karena kebenaran justru merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang percaya kecuali menderita karena berbuat kejahatan. Penderitaan yang harus ditanggung orang Kristen karena kebenaran bukanlah sesuatu yang asing melainkan sesuatu yang telah juga dijalani oleh Yesus. Ia menderita bahkan mati karena dosa manusia. Ia yang benar untuk membenarkan orang yang tidak benar. Namun sekalipun menderita, mati tetapi dibangkitkan oleh Roh Allah. Sama seperti zaman Nuh mereka diselamatkan melalui bahtera pada saat terjadi air bah demikian pula orang percaya diselamatkan oleh karya Yesus Kristus. Dan sebagai kiasaannya ialah baptisan. Baptisan bertujuan bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani manusia, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus.
Korelasi: Perjanjian Allah merupakan sebuah anugerah bagi manusia untuk memperoleh keselamatan. Perjanjian itu nyata melalui kiasan pelangi pada zaman Nuh dan perjanjian kasih setia Allah terhadap semua ciptaan khususnya manusia makin nyata melalui pengutusan Yesus melaksanakan misi penyelamatan dari Allah. Tanda pertobatan dan pengampunan dosa bagi orang percaya ialah baptisan kudus.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan:
Kejadian 9:8-17 merupakan bagian kedua dari kisah terjadinya air bah pada zaman Nuh. Perikop ini sebenarnya lanjutan dari kejadian 1:1-7 yang menguraikan tentang mandat atau tanggungjawab yang harus diemban oleh Nuh pasca peristiwa air bah. Nuh diberi tugas sama seperti kepada adam dan hawa (Kej.1) untuk memenuhi bumi dengan keturunannya, juga menguasai dan memelihara bumi.
Pada bagian ini Allah membuat perjanjian dengan Nuh dan keturunannya serta seluruh makhluk yang selamat dari bencana air bah (ayat 9-10). Perjanjian atau kesepakatan yang dibuat oleh Allah dengan Nuh sangat berbeda dengan perjanjian yang pada umumnya dibuat oleh manusia. Perjanjian yang dibuat oleh Allah merupakan inisiatif atau prakarsa Allah sendiri tanpa campur tangan Nuh dan makhluk lainnya. Pada umumnya perjanjian yang ada melibatkan dua pihak. Dan tentu ada syarat-syarat yang menyertainya. Syarat adalah sanksi yang diberlakukan jika ada salah satu pihak yang mengingkari atau tidak setia kepada isi perjanjian yang dibuat. Perjanjian yang dibuat Allah kepada Nuh tidak mungkin diingkari oleh Allah karena Dia adalah Allah yang setia. Allah yang tidak pernah ingkar janji.
Dengan demikian, tindakan Allah mengikat perjanjian dengan Nuh dan seluruh mahkluk yang selamat dari air bah merupakan tindakan kasih karunia dari Allah semata-mata. Nuh dan keluarganya tidak melakukan apa-apa sehingga layak memperoleh perjanjian dari Allah. Prakarsa itu sepenuhnya dilakukan oleh Allah dengan sukarela tanpa tekanan atau paksaan dari siapapun.
Perjanjian Allah dengan Nuh dan seluruh mahkluk yang selamat dari air bah ialah Allah berjanji untuk tidak mendatangkan air bah lagi ke bumi (ayat 11). Janji itu ditandakan melalui pelangi “busur” (ayat 12-13). Busur adalah menjadi pengingat perjanjian Allah dengan Nuh. Tanda merupakan jaminan dari ikatan rohani yang ada, yang menjamin kepastian tanpa akhir. Busur atau pelangi yang ditaruh oleh Allah di langit itulah yang akan merupakan “tanda”. Tanda pelangi memberi pengertian bahwa Allah meletakkan senjatanya dan tidak akan memerangi atau menghukum manusia lagi dengan air bah. Atau dengan perkataan lain Allah mengumumkan atau memproklamasikan bahwa Ia berdamai dengan manusia serta ciptaan lainnya di muka bumi. Busur tersebut menyimbolkan pemeliharaan Allah melingkupi (melengkung) di atas seluruh ciptaan-Nya. Tanda tersebut menjadi pengingat akan kasih karunia Allah terhadap manusia dan seluruh ciptaannya yang telah dipulihkan/ disucikan kembali melalui peristiwa air bah.
Perjanjian Allah sebagai wujud kasih karunianya terhadap manusia dan alam semesta ini semakin sempurna terwujud melalui rencana pemulihan dunia ini secara total. Pemulihan yang sejati dari Allah terhadap dunia ini dilakukan oleh Allah melalui jalan mengutus anak-Nya. Penetapan Yesus sebagai yang diperkenan oleh Allah untuk mengemban misi atau amanat dari Allah sangat jelas melalui peristiwa turunnya Roh Kudus ketika Yesus dibabptis oleh Yohanes di sungai Yordan. Pada saat itu ada suara yang berseru dari sorga “Engkaulah Anak-Ku yang kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Mrk.1:11).
Karya pemulihan yang dikerjakan oleh Allah melalui pengorbanan Yesus itulah yang diuraikan lebih lanjut oleh Rasul Petrus kepada orang percaya yang mengalami penderitaan di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia. Petrus menjelaskan bagaimana Yesus menderita bahkan mati karena dosa manusia. Ia yang benar untuk membenarkan orang yang tidak benar. Namun sekalipun menderita, mati tetapi dibangkitkan oleh Roh Allah. Sama seperti zaman Nuh mereka diselamatkan melalui bahtera pada saat terjadi air bah, demikian pula orang percaya diselamatkan oleh karya Yesus Kristus. Dan sebagai kiasaannya ialah baptisan. Baptisan bertujuan bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani manusia, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus (ayat 21).
Penerapan
Kisah air bah pada zaman Nuh merupakan kisah pemulihan atau penyucian dunia yang telah makin rusak oleh dosa dan pemberontakan manusia. Setelah peristiwa air bah Allah kemudian membuat perjanjian dengan Nuh. Perjanjian Allah pasca peristiwa air bah melalui tanda pelangi merupakan tanda pengingat bahwa Allah memulihkan hubungannya dengan Nuh dan seluruh mahkluk yang selamat. Perjanjian itu menjadi simbol bahwa Allah mengampuni dosa-dosa manusia dan tidak mengingat lagi pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukannya. Busur atau pelangi adalah tanda kemurahan Allah atau kasih karunia Allah. Pelangi kasih Allah secara sempurna itu telah diwujudkan dengan jalan mengutus anak-Nya, Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus manusia yang berdosa dipulihkan oleh Allah. Manusia berdosa didamaikan dengan Allah. Sebagai tanda pertobatan dan pengampunan dosa bagi orang yang menerima dan mengakui karya keselamatan dari Allah di dalam Yesus Kristus maka ada baptisan kudus. Jadi, baptisan Kudus merupakan tanda pertobatan sekaligus pengampunan dosa bagi manusia yang mengakui dan menerima bahwa Kristus telah mati karena dosa manusia. Tetapi juga telah bangkit dari antara orang mati sebagai jaminan kebangkitan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Diposting tanggal 17 Feb 2018
