Bahan Khotbah Minggu Ke-6 Tanggal 9 Februari 2020 IBADAH BUKAN SEKEDAR SEREMONI Ia Tu Kamenomban Tangia Simata Pangalukan

Bahan Khotbah Minggu Ke-6 Tanggal 9 Februari  2020
IBADAH BUKAN SEKEDAR SEREMONI
Ia Tu Kamenomban Tangia  Simata Pangalukan

Bacaan Mazmur : Mazmur 112:1-10
Bacaan 1   : Yesaya 58:1-12 (Bahan Utama)
Bacaan 2   : 1 Korintus 2:6-16
Bacaan 3 : Matius 5:13-16
Nas Persembahan   : 1 Tesalonika 5:18
Petunjuk Hidup Baru : Yesaya 58:1

Tujuan:

  1. Jemaat memahami bahwa ibadah yang berkenan bukan sekedar upacara (ritual).
  2. Jemaat semakin memaknai ibadah yang sejati dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman Teks
Mazmur 112 menyatakan bahwa  orang yang berbahagia adalah orang yang takut  akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang hormat, mengasihi dan mengabdi kepada Tuhan, selalu mencari, taat beribadah dan merenungkan Firman Tuhan. Kebahagiaan orang yang takut  Tuhan, mengasihi dan mengabdi bagi Tuhan dan mengasihi sesamanya  terletak dalam  hubungannya yang benar dengan Tuhan dan sesama. Dalam hubungan yang benar dan baik dengan Tuhan melalui sikap setia merenungkan firman Tuhan, kita akan menemukan nilai kebenaran, kasih dan keadilan yang hakiki (sejati). Hubungan itu akan nampak dalam hubungan yang baik, benar, adil dan kasih dengan sesama. Orang demikian akan tetap teguh, tidak goyah, keturunannya perkasa, rumahnya diberkati dengan harta kekayaan.

Yesaya 58:1-12 berbicara tentang kesalehan Israel yang hanya pura-pura. Sesudah kejatuhan Yerusalem pada tahun 586 SM, menjadi kebiasaan bagi mereka melakukan empat hari puasa yakni bulan keempat, kelima, ketujuh dan kesepuluh (Zak.7:5; 8:19). Menurut Yesaya upacara (ibadah, puasa) itu adalah respon dan pengakuan atas karya pembebasan, penyelamatan dari Tuhan, seperti : pembebasan dari Mesir dan Babel. Nilai ibadah tidak dapat dipisahkan dari terciptanya masyarakat yang adil, sejahtera dan damai. Ibadah yang berkenan kepada Tuhan menurut Yesaya adalah  membebaskan orang tertindas, memberi makan orang lapar, memberi tumpangan bagi orang yang tidak punya rumah dan memberi pakaian bagi orang yang telanjang (bdk. Mat. 25:35-46; Luk. 4:18-19). Ibadah tanpa keadilan, kebenaran dan kasih, merupakan ibadah yang tidak berkenan kepada Tuhan.

1 Korintus 2:6-16 menjelaskan betapa Rasul Paulus bekerja memberitakan Injil dengan tidak mengandalkan kekuatan dan hikmat manusia, melainkan oleh kuasa Roh Allah. Dia sangat sadar akan kelemahan yang ada dalam dirinya (bdk. 2 Kor.12:7): “Injil yang kami beritakan, bukan dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kuasa Roh Kudus” ( 1 Tes. 1:5).

Matius 5:13-16 menjelaskan, bahwa sekalipun orang percaya mengalami banyak kesulitan, dan tidak mendapat perhatian dalam masyarakat, tetapi mereka mempunyai peranan yang amat penting. Yesus menjelaskan peranan itu melalui ilustrasi: garam dan terang, ”kamu adalah garam dunia” (ay. 13), “kamu adalah terang dunia” (ay. 14).  Pengikut Yesus memerankan dua fungsi yang sangat mempengaruhi dan membentuk nilai kehidupan dalam dunia. Sebagai garam meresap dan menyatu dengan makanan, membuat masakan menjadi enak, menghindarkan dari pembusukan, ada rasa walau tidak kelihatan. Sama seperti garam yang biasanya bercampur dengan zat-zat yang lain dapat menghilangkan rasa asin, sehingga menjadi tawar. Sebagai terang (pelita-lampu), para pengikut Yesus (gereja) bagaikan  kota yang terletak di atas gunung sehingga dapat menerangi  dunia sekelilingnya. Tetapi orang yang menyembunyikan diri, tertutup oleh kuasa duniawi terangnya tersembunyi. Garam yang tawar dan terang yang tersembunyi tidak ada gunanya. Fungsi dan peran dari garam dan terang itu harus nyata mewarnai seluruh segi kehidupan.

Garis Besar Khotbah :
Bila memperhatikan kehidupan keagamaan, terutama warga gereja sekarang ini ada kegembiraan tersendiri. Semangat membangun sarana peribadahan yang besar, megah dan mewah dengan biaya yang sangat besar. Semangat dan kegiatan beribadah pun sangat menggembirakan. Gedung gereja, ruangan ibadah, penuh dengan warga, bahkan sering tak mampu menampung warga. Ruangan parkir penuh dengan kendaraan.  Semangat memberi persembahan cukup besar. Tetapi hal tersebut sering berbanding terbalik dalam kenyataan kehidupan sehari-hari.  Kejahatan juga semakin meningkat bukan hanya dari segi kuantitas tetapi juga kualitasnya sangat tinggi. Pelakunya juga bukan hanya orang yang jarang beribadah, tetapi juga mereka yang rutin beribadah.

Ibadah bukan sekedar seremoni (upacara ritual). Ibadah itu adalah perjumpaan dan dialog, yakni berjumpa dengan Tuhan dan dengan sesama. Melalui ibadah kita menghadap Tuhan, mendengar  dan merespon Firman Tuhan. Mendengar apa yang Tuhan ingin supaya kita dengar dan lakukan. Dari diri manusia harus ada kesediaan, kesiapan dan keterbukaan mendengar dan membiarkan Tuhan (firman) berbicara, menegur, menghibur, mengajar, mendidik, menunjukkan dan memperbaikan kesalahan ( 2 Tim. 3:16).

Nabi Yesaya menyoroti dan mengeritik kehidupan keagamaan dan spiritualitas umat Israel.  Kelihatannya sangat meyakinkan, sebab mereka rajin beribadah, berpuasa dan berdoa, berusaha meneliti hukum dan aturan Tuhan dan tidak meninggalkan Allahnya. ( Yes. 58:2-3). Tetapi kejahatan juga semakin meningkat, kesenjangan sosial semakin melebar, penyiksaan terhadap kaum lemah meningkat. Mereka berdoa dan berpuasa tetapi pada saat yang sama mereka berkelahi, bertengkar, berbantah,  melakukan tindakan kekerasan: saling memukul dengan tinju. (Yes. 58:4).

Ibadah itu hendaknya membentuk dan mempengaruhi karakter, kepribadian dan kehidupan sehari-hari, membentuk karakter hubungan yang akrab dengan Tuhan dan sesama bahkan dengan alam semesta. Ibadah itu harus berdampak dalam kehidupan nyata. Orang Israel  dan hal yang sama bagi banyak orang, mereka beribadah hanya untuk menarik perhatian manusia dan terutama Tuhan, dan menyembunyikan kemunafikan dan kejahatan mereka. Ibadah seperti itulah yang ditolak, tidak berkenan kepada Tuhan. Ibadah yang sejati menyangkut seluruh kehidupan kita (Rm. 12:1). Ibadah yang sejati itu harus membebaskan. Pertama-tama membebaskan diri sendiri dari kejahatan, kemunafikan, kebohongan dan membebaskan diri dari berbagai sikap, serta pikiran yang membelenggu diri sendiri. Lebih jauh lagi ibadah seharusnya  berdampak dalam tindakan membebaskan sesama dari berbagai belenggu, kemiskinan, penderitaan, tekanan, termasuk yang disebabkan oleh sesama manusia (Yes. 58:5-7).

Ibadah yang sejati dan berkenan kepada Tuhan harus membebaskan dari kejahatan, kemiskinan, kebodohan dan kegelapan. Karena itu orang yang tekun beribadah, mestinya kehadirannya berdampak positif dalam kehidupan sosial. Iman bukan sesuatu yang hanya dalam  ruang tertentu, tidak sebatas kata-kata yang indah. Iman yang hidup nampak buahnya dalam praksis, membarui, membebaskan. Kehadiran umat Tuhan dalam kehidupan sosial membebaskan dari kegelapan, dari virus dan kuman yang merusak kehidupan manusia dan alam, membebaskan dari pembusukan, menunjukan jalan yang benar (Mat. 5:13-16).

Tuhan Yesus  diutus dan hadir ke dalam dunia untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada  orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang-orang tertindas. (Luk. 4:18-19). Tuhan Yesus juga mengutus murid-murid-Nya (kita) untuk melakukan hal yang sama membawa pembaruan dan perubahan dalam kehidupan sosial, dan alam sekitar.  Dengan demikian ibadah itu ternyata lebih dari dari seremoni. Ibadah melewati batas ruangan gedung, menembus batas golongan, kelompok dan menyangkut lingkungan masyarakat yang sesungguhnya. Memang tugas itu berat, menuntut  semangat juang, kerja keras dan pengorbanan. Karena itu, tentu tidak cukup hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri. Semua itu hanya mungkin oleh pertolongan Roh Kudus.


Diposting tanggal 04 Feb 2020

Daftar Artikel

Kejadian 9:8-17 mengisahkan bagaimana Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Nuh pasca air bah. Perjan.....

Selengkapnya ..

Ibrani 2:1-4 merupakan peringatan terhadap orang-orang yang telah menerima keselamatan agar sunggu.....

Selengkapnya ..

Ketika kita di percaya untuk melakukan tugas yang belum pernah kita kerjakan, umumnya kita merasaka.....

Selengkapnya ..

Kesuksesan menjadi tujuan banyak orang, tapi tidak jarang orang menjadi lupa ketika sudah sukses. Ad.....

Selengkapnya ..

“Saya bersyukur di izinkan Tuhan melayani di usia muda, sebab dulu saya hidup jauh dari kehend.....

Selengkapnya ..

“Pada jaman sekarang seringkali kita mendengar istilah PHP (Pemberi Harapan Palsu). Istilah in.....

Selengkapnya ..

Banyak orang yang mengatakan bahwa hidup itu silih berganti, kadang suka dan kadang duka. Lalu apaka.....

Selengkapnya ..

Transfigurasi juga dikenal sebagai peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung. Peristiwa tersebut terc.....

Selengkapnya ..

Mazmur 102:2-12 menjadi sebuah catatan yang sangat kental dengan curahan hati pemazmur. Dalam ayat 2.....

Selengkapnya ..

Menyembah kepada berhala bukan hanya ketika membuat patung, lalu menyembahnya. Tetapi juga ketika ha.....

Selengkapnya ..

Dalam perkembangan pelayanan gereja saat ini, sering terdengar rumor tak sedap tentang hamba Tuhan y.....

Selengkapnya ..

Ada banyak orang yang belum mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidupnya, sehingga kerap.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...