Bahan Khotbah Minggu ke-7 Tanggal 16 Februari 2020 PERSEKUTUAN YANG MEMBAWA DAMAI Kasipulungan Tu Umpabu’tu Kamarampasan
Bahan Khotbah Minggu ke-7 Tanggal 16 Februari 2020
PERSEKUTUAN YANG MEMBAWA DAMAI
Kasipulungan Tu Umpabu’tu Kamarampasan
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 119:1-8 |
| Bacaan 1 | : Ulangan 30:11-20 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Korintus 3:1-9 |
| Bacaan 3 | : Matius 5:21-37 |
| Nas Persembahan | : Roma 12:1 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Kolose 3:2 |
Tujuan :
1. Jemaat memahami bahwa persekutuan dengan Tuhan dan sesama membawa kedamaian.
2. Jemaat tidak membeda-bedakan dan menilai pelayanan setiap orang dalam jemaat.
Pemahaman teks:
Mazmur 119:1-8 adalah mazmur yang terpanjang dalam Kitab Mazmur. Mazmur ini terdiri atas 176 ayat, 22 bagian dan setiap bagian terdiri atas 8 ayat. Mazmur ini berisi bermacam-macam jenis sastra dan merupakan kumpulan puisi yang memuji Taurat. Begitu pentingnya Taurat Tuhan (Firman, perintah, ketentuan, ketetapan, hukum), sehingga harus diajarkan kepada umat, terutama bagi generasi muda. Makna Taurat (Firman) itu menjadi pelita dan terang pada jalan yang benar (kebenaran). Ayat 1 – 8, sama seperti Mazmur 1 menyatakan bahwa orang yang setia merenungkan dan hidup menurut jalan yang diajarkan oleh Taurat Tuhan hidupnya diliputi bahagia. Mereka disebut orang yang bijaksana; berhikmat.
Ulangan 30:11-20 menguraikan tentang pentingnya menentukan pilihan sekarang ini. Pilihan atau keputusan hari ini dapat mempengaruhi kehidupan anak cucu. Kita diperhadapkan pada dua pilihan: hidup (kehidupan) dan mati (kematian). Sebenarnya Musa mendorong agar umat memilih kehidupan, tetapi karena setiap pilihan mempunyai tanggungjawab dan menyangkut masa depan, maka Musa menyerahkannya kepada umat. Masa depan Israel tergantung pilihan dan keputusan sekarang. Hidup menunjuk kepada suasana persekutuan dengan Tuhan, sedangkan mati menunjuk pada hidup yang terpisah jauh dari Tuhan. Ungkapan hari ini menunjukkan bahwa menentukan pilihan dan keputusan itu tidak bisa ditunda lagi. Dengan demikian mari kita memutuskan memilih hidup bersama Tuhan
1 Korintus 3:1-9 memuat sapaan Rasul Paulus bagi orang Kristen di Korintus, yakni sebagai manusia duniawi dan anak-anak bayi. Ciri-ciri manusia duniawi mereka nampak dalam sikap mereka yang masih dikuasai irihati, hawa nafsu, egoisme, perselisihan dan persaingan. Dalam menghadapi berkembangnya pengelompokan berdasarkan pelayan, Rasul Paulus menegaskan agar jangan membanding-bandingkan pelayan. Mereka semua adalah pelayan. Yang penting bukan siapa yang menanam dan menyiram, melainkan siapa yang membuatnya bertumbuh dan berbuah.
Matius 5:21-37 menjelaskan arti hukum taurat secara luas, terutama yang berhubungan dengan sesama, yakni hukum keenam jangan membunuh, hukum ketujuh jangan berzinah dan hukum kesembilan jangan mengucapkan saksi dusta (jangan bersumpah palsu). Yesus memperlihatkan arti yang lebih dalam dan luas tentang hal membunuh. Orang dapat membunuh dalam hati, dengan kata-kata yang mengandung rasa dendam, sikap dan ucapan yang menimbulkan penderitaan dan luka dalam batin, perasaan orang lain. Begitu pula hal berzinah, yang bukan soal hanya hubungan seksual secara langsung, melainkan juga perasaan ingin memiliki.
Garis Besar Khotbah
Manusia ditempatkan oleh Tuhan dalam taman (dunia) yang subur dan kaya. Tuhan Allah memberi perintah dan menjelaskan apa yang menjadi tanggungjawab dan kewajibannya. Di taman itu manusia diperhadapkan kepada kebebasan dalam memilih, menentukan dan memutuskan tujuan hidupnya (bnd. Kej. 2:15-17).
Semua pilihan dan keputusan ada tanggungjawab dan resikonya. Pilihan dan keputusan akan menentukan dan berdampak pada kehidupan masa depan. Melalui Musa, Tuhan menghadapkan dua pilihan yang saling bertolak-belakang, yakni kehidupan dan keberuntungan ataukah kematian dan kecelakaan. Sebagai pemimpin yang diutus Tuhan, Musa mengharapkan dan memerintahkan agar umat Israel memilih hidup: “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu”. Syaratnya adalah mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya.
Pengertian hidup dan mati itu sangat luas. Hidup menunjuk pada suasana kehidupan dan kegiatan manusia yang dilindungi dan diberkati Allah. Sementara mati itu menunjuk pada kegiatan dan kehidupan manusia yang menolak kehadiran dan campur tangan Tuhan. Tetapi menyadari bahwa pilihan dan keputusan itu mempunyai tanggungjawab dan akibat, maka Musa menyerahkan kepada umat Israel. Memilih hidup berarti hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, membiarkan dan menyerahkan seluruh hidup dituntun oleh Firman, ketetapan, peraturan dan perintah Tuhan, hidup mengasihi Tuhan dan sesama, mendengarkan suara-Nya (Firman). Memilih mati berarti hidup dan berada di luar persekutuan dengan Tuhan. Itu berarti terpisah dari Tuhan, kecelakaan, kutuk dan kematian.
Hidup dalam tuntunan Firman Tuhan, perintah, ketetapan dan peraturan Tuhan, itu berarti hidup pada jalan benar dan kebenaran. Dan itu membebaskan dari berbagai bentuk ketakutan, kecemasan, kegelisahan dan kekuatiran. Hidup tenang dan damai. Sementara hidup di luar Tuhan dan jauh terpisah dari Tuhan, tidak taat pada perintah, peraturan, ketetapan dan Firman Tuhan, tidak mengasihi Tuhan dan sesama, akan membawa pada kehidupan yang diwarnai dengan ketakutan, kegelisahan dan kecemasan, serta jauh dari ketenangan dan kedamaian.
Setiap pilihan dan keputusan itu menuntut tanggungjawab dan berdampak dalam kehidupan. Sekali kita memilih bersekutu dan beribadah kepada Tuhan, berarti harus setia mengasihi dan mengikuti perintah-Nya. Itu menyangkut apa yang dipikirkan, direncanakan, dikatakan dan apa yang dibuat secara nyata. Setiap pilihan dan keputusan harus dipertanggungjawabkan, karena itu disaksikan oleh Tuhan dan manusia, “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu” (ay.19). Jika mereka melanggar janji, tidak mau mendengar firman-Nya, tidak mengasihi, tidak taat, tidak setia pada perintah dan ketetapan-Nya, serta sujud menyembah beribadah kepada allah lain, maka Tuhan akan murka dan pastilah mereka akan binasa. Itu akan berdampak buruk dalam kehidupan umat turun temurun, sampai keturunan keempat (bnd. Kel.20:5).
Mazmur 119 menyatakan bahwa orang yang berjalan menurut jalan yang benar, menurut taurat Tuhan, memegang teguh ketetapan, perintah, hukum yang ditetapkan oleh Tuhan, merenungkan taurat Tuhan siang dan malam, hidupnya akan bahagia dan berkat Tuhan mengalir terus bagaikan air jernih yang mengalir melalui batu-batu kerikil (bdk. Mzm. 1:1-3).
Mereka yang memilih beribadah kepada Tuhan, memilih kehidupan dan mengasihi Tuhan itu akan nampak dalam kehidupan sehari-hari, yakni dalam pekerjaan dan hubungannya dengan sesama. Kalau ada masalah diselesaikan dengan damai, serta menerima dan memperlakukan semua orang penuh kasih. Orang-orang demikianlah yang selalu merasa tenang, damai dan bahagia dalam seluruh hidupnya. Karena hidup bahagia, damai, tenang dan sejahtera menyangkut hari ini dan masa depan, maka pilihan dan keputusan itu harus diambil hari ini! Segera dan jangan ditunda lagi. Pilihlah kehidupan. Putuskan segera untuk hidup mengasihi Tuhan dan sesama, taat pada firman Tuhan, agar kita dapat mengalami suasana hidup, batin dan fisik yang damai dan bahagia.
Diposting tanggal 12 Feb 2020
