Bahan Khotbah Minggu ke-4, Tanggal 28 Januari 2018 KASIH YANG MEMBANGUN KEHIDUPAN UMAT (Pa’kaboro’ Iamo Napotibangun Katuoanna Kombongan)
Bahan Khotbah Minggu ke-4 Tanggal 28 Januari 2018
KASIH YANG MEMBANGUN KEHIDUPAN UMAT
(Pa’kaboro’ Iamo Napotibangun Katuoanna Kombongan)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 111:1-10 |
| Bacaan 1 | : Ulangan 18:15-20 |
| Bacaan 2 | : 1 Korintus 8:1-13 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Markus 1:21-28 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 111:1 |
| Petunjuk Hidup Baru | : 1 Korintus 8:3 |
Tujuan :
-
Jemaat memahami tentang kasih yang membangun
-
Jemaat menerapkan kasih yang membangun kehidupan sebagai orang beriman.
Pemahaman Teks
Mazmur 111, ini adalah mazmur Puji-pujian yag menyiratkan bahwa setiap orang yang datang pada Tuhan, hendaknya dengan hati yang ingin memuji Allah. Dengan kata lain, Mazmur ini mau menjelaskan cara untuk menjadi seorang yang dapat menyenangkan hati Tuhan, dan bertumbuh dalam pengertian akan kebenaran. Mazmur ini juga hendak mengatakan bahwa makin rendah seseorang menunduk di hadapan Tuhan, makin besar kesempatan Tuhan mengajar. Oleh sebab itu, sebaiknya seseorang langsung kepada sumber kebenaran itu. Di sini sang pemazmur menasehatkan untuk memuji Allah denga menempatkan dirinya sebagai teladan (ayat 1) serta memperlengkapi dengaan puji-pujian mengenai pekerjaan-pekerjaan Allah. Bahkan juga pemazmur menasehatkan bahwa ketakutan yang kudus tehadap Allah , dan ketaatan yang sepenuh hati terhadap perintah-perintah-Nya adalah cara memuji Allah yang paling mendapat perkenaan-Nya (ayat 10) dengan kata lain, Kasih Allah terhadap umatnya melahirkan puji-pujian
Ulangan 18:15–20 ini memperhatikan perkebangan yang sudah ditempuh bangsa Israel dibidang hidup kemasyarakatan dan keagamaan. Pada dasarnya kitab Ulangan pasal 18 ini ingin menyerukan agar umat Tuhan harus menjadi umat yang peka, yang mendengarkan Firman, menerima dan menaatinya. Oleh karena itu dalam bagian ini, Musa mengemukakan ketetapan tentang nabi-nabi yang benar untuk melengkapi pembahasan tentang para pemimpin pemerintahan teokratis seperti hakim, imam dan orang Lewi serta raja agar melaksanakan peraturan hukum dan dan keadilan dengan benar. Sangat jelas Musa pada bagian pengharapan mesianis ini memberitahukan tentang seorang pengganti dalam pelayanannya sebagai nabi, dimana orang Yahudi pada zaman Yesus juga menantikan kedatangan Nabi besar ini (Yohanes 1:21,45; 4:19,29; 6:14; Kisah Para Rasul 3:22 ; 7:37. Seperti Musa, nabi ini akan menjadi seorang Israel yang memberitakan Firman Allah (Ulangan 18:18-19). Dengan kata lain, atas dasar kasih-Nya, Allah membangkitkan nabi-nabi Khusus untuk menuntun Umat-Nya mengetahui masa depan dan kehendak Allah. Bahkan Allah telah membuat diri-Nya dikenal oleh manusia melalui Dia yang melebihi semua nabi.
Markus 1:21-28, Kristus ditampilkan sebagai seorang sosok yang tidak seperti ahli-ahli Taurat yang menguraikan hukum Musa secara detail, bahkan dalam pengajarannya mereka bukan berasal dari dalam hati, oleh sebab itu tidak menampakkan kuasa atau wewenang. Mereka hanya mengajar hukum-hukum yang tertulis dalam Perjanjian Lama sehingga otoritas ahli taurat diterima masyarakat berdasarkan tradisi dan sejarah. Berbeda dengan Kristus yang mengajar sebagai orang yang mengenal pikiran Allah dan ditugaskan untuk menyampaikannya. Bahkan Markus menjelaskan bahwa Yesus mengajar tidak seperti ahli taurat, karena Yesus mengajar dengan menunjukkan otoritas rohani yang berasal dari Allah. Terbukti dalam banyak pengajaran-Nya terdapat banyak hal yang menakjubkan seperti halnya dengan kisah dimana Ia membebaskan dari kuasa roh jahat . Dengan kata lain , Markus mau mengajarkan dengan jelas bahwa Yesus jauh lebih berkuasa dari roh-roh jahat.
1 Korintus 8:1-13, Rasul Paulus menangani pertanyaan jemaat Korintus mengenai daging persembahan berhala dan apakah dibenarkan untuk membeli atau makan daging itu dan ikut serta dalam pesta pora di kuil berhala (ayat 10). Dalam menangani pokok ini, ia menyatakan prinsip penting yang semestinya harus dinyatakan oleh seorang Kristen di segala zaman. Misalnya pada kegiatan yang diperkirakan dapat mencobai beberapa orang percaya untuk berdosa dan membawa mereka kepada kehancuran rohani. Dengan kata lain, ini adalah sebuah nasehat untuk membatasi diri atas kebebasan yang dapat menimbulkan batu sandungan. Paulus menekankan kasih sebagai dasar persekutuan untuk saling melengkapi dan saling membangun .
Korelasi: Mengasihi Tuhan dalam wujud ketaatan adalah hal yang mutlak. Itu adalah baik dan benar (Ulangan). Begitu pula di saat seseorang memuji Dia atas segala karya dan perbuatan-Nya yang ajaib (Mazmur). Namun hubungan yang harmonis terhadap sesama dalam tindakan nyata tidak boleh dikesampingkan (1 Korintus). Yesus telah mengajarkan kebenaran tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga lewat tindakan nyata. Kasih yang benar telah dipertontonkan Yesus sebagai keteladanan yang sempurna. Ia sungguh peduli kepada manusia sebagai wujud empati Yesus yang tidak hanya menyembuhkan fisik tetapi juga luka batin. ( Markus )
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
- Umat Tuhan harus menjadi umat yang murah hati, peka mendengarkan Firman, menerima serta menaatinya. Karena itu , Roh Kudus melalui Paulus telah mengarahkan orang Kristen untuk selalu bertindak dengan kasih bagi orang percaya lain yang mungkin menuntut penyangkalan diri. Penyangkalan diri yang dimaksudkan di sini ialah, membatasi kebebasan diri dan menyingkirkan segala kegiatan yang meragukan agar tidak mengganggu pikiran atau melemahkan keyakinan tulus orang percaya lainnya yang memang benar-benar berdasarkan prinsip-prinsip alkitabiah.
- Kehidupan itu harus dikendalikan oleh hati nurani. Mengapa? Sebab hati nurani adalah hakim di dalam hati yang memuji di saat kita berbuat benar dan menghukum saat kita berbuat salah ( Roma 8:14-15 ). Oleh karena itu, ketika kita berdosa dengan melawan hati nurani, sebenarnya kita membuat kerusakan yang sangat besar terhadap manusia batiniah kita .
- Apa yang aman bagi seseorang bisa saja tidak aman bagi orang lain. Ada hal yang mungkin tidak merupakan godaan bagi kita, tetapi bagi orang lain hal itu adalah merupakan godaan yang berat sekali. Oleh karena itu, dalam mempertimbangkan apakah kita akan atau tidak akan melakukan sesuatu, sebaiknya berpikir tidak hanya mengenai akibatnya bagi kita, tetapi bagi orang lain juga.
- Pengetahuan harus diseimbangkaan oleh kasih. Begitupun dengan pengetahuan rohani. Sebab bisa saja pengetahuan rohani yang dimiliki seseorang akan menjadi senjata untuk melukai orang atau sarana untuk membangun orang. Jika pengetahuan membuat seseorang sombong, dan merasa unggul dan bersikap tidak simpatik dengan memandang rendah orang lain yang tidak setaraf dengan dirinya. Pengetahuan semacam ini bukanlah merupakan pengetahuan sejati sebab hanya kesadaran akan keunggulan intelektual yang bisa saja dapat menghancurkan orang lain. Oleh sebab itu, tingkah laku seseorang seharusnya selalu dikendalikan bukan oleh pemahaman kita mengenai pengetahuan kita yang unggul, tetapi oleh kasih yang simpatik dan penuh perhatian kepada sesama. Kasih tahu kapan dan bagaimana menerima orang lain tanpa mempromosikan kebenaran. Yesus telah mencontohkannya melalui kasih yang benar bahkan telah dipertontonkan Yesus sebagai keteladanan yang sempurna. Ia sungguh peduli kepada manusia sebagai wujud empati Yesus yang tidak hanya menyembuhkan fisik tetapi juga luka batin.
Diposting tanggal 26 Jan 2018
