Rabu 7 Februari 2018 Ayub 6:1-13 SUKACITA DI TENGAH DUKACITA
Rabu 7 Februari 2018 Ayub 6:1-13
SUKACITA DI TENGAH DUKACITA
Banyak orang yang mengatakan bahwa hidup itu silih berganti, kadang suka dan kadang duka. Lalu apakah keduanya bisa menyatu dalam waktu yang bersamaan? Tentunya ini bukan sesuatu yang mudah. Sekalipun demikian, penting rasanya untuk belajar dari salah satu pepatah Cina, yang mengatakan “Satu kegembiraan menghancurkan seratus kedukaan.” Kedukaan biasanya di rasakan oleh seseorang bila ia mengalam sebuah pergumulan hidup, entah itu kehilangan, kegagalan, sakit, derita, dan berbagai pergumulan lainnya.
Ayub, dalam perikop ini merasakan dua hal tersebut di atas. Mungkin tak mudah bagi orang lain. Lalu apa yang membuat Ayub dapat berkata “bahkan aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan?” (ay.10a). Bagaimana mungkin ada orang yang sanggup melompat kegirangan di waktu kepedihan? Ya, Ayublah orangnya! Ia dapat melakukan itu, sebab ia tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus (ay.10b). Inilah bukti bahwa Ayub dapat merasakan kegirangan di tengah situasi yang tidak memungkinkan untuk bergirang. Maukah saudara merasakan suasana seperti itu?
Ingatlah selalu bahwa kita tidak dapat menanggung dan menghadapi situasi yang berat dengan kekuatan kita sendiri. Logika, tenaga, perasaan, bahkan apa yang kita miliki sangatlah terbatas untuk mengerti setiap persoalan yang kita alami. Ayub pun tak dapat melewati semua itu dengan baik jika ia tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan. Saudara, betapa pentingnya kita memiliki keyakinan kepada Tuhan, bahwa Dialah yang dapat memberi kita kekuatan dan kemapuan untuk membawa kita ke dalam suasana sukacita di tengah dukacita. Percaya dan setialah kepada-Nya, maka Dia akan terus memampukan kita berjalan maju.Amin
Diposting tanggal 06 Feb 2018
