Bahan Khotbah Minggu ke-6 Tanggal 11 Februari 2018 Minggu Transfigurasi KEMULIAAN ALLAH NYATA DALAM KRISTUS (Kamala'biranna Puang Matua Manassa Lan Kristus)

Bahan Khotbah Minggu ke-6 Tanggal 11  Februari  2018
Minggu Transfigurasi
KEMULIAAN ALLAH NYATA DALAM KRISTUS
(Kamala’biranna Puang Matua Manassa Lan Kristus)

 

Bacaan Mazmur : Mazmur 50:1-6
Bacaan 1   : 2 Raja-Raja 2:1-12
Bacaan 2   : 2 Korintus 4:1-6
Bacaan 3 : Markus 9:2-9 (Bahan Utama)
Nas Persembahan   : Mazmur 50:5
Petunjuk Hidup Baru : 2 Korintus 4:6

 

Tujuan

  1. Jemaat  semakin mengenal  Kristus

  2. Jemaat mampu menyatakan kemuiaan Allah dalam kehidupan sehari-hari

Pendahuluan

Dalam kalender gerejawi, hari ini diperingati sebagai Minggu Transfigurasi. Berdasarkan Leksionari Eukumenis, Minggu Transfigurasi diperingati pada hari Minggu sebelum peringatan Rabu Abu, atau satu minggu sebelum Minggu Pra-Paskah pertama. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Transfigurasi diartikan sebagai: (1) perubahan bentuk atau rupa; (2) metamorfosis; (3) penjelmaan. Dalam kamus Teologi Ingris-Indonesia yang disusun Henk ten Napel, kata transfiguration berasal dari kata trans yang berarti berubah atau memberi, dan figurare yang berarti bentuk. Transfigurasi diartikan sebagai memberi bentuk, yang menunjuk kepada peristiwa penjelmaan, pemuliaan Yesus di atas bukit.

Transfigurasi adalah peringatan peristiwa perubahan bentuk atau rupa Tuhan Yesus yang terjadi di atas sebuah gunung yang tinggi. Tuhan Yesus berubah rupa yaitu wajah-Nya bercahaya seperti Matahari (Mat. 17:2), dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat (Mark.9:3). Transfigurasi juga dikenal sebagai peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung. Peristiwa tersebut tercatat dalam ketiga Injil Sinoptik, yaitu dalam Matius 17:1-13; Markus 9:2-13; Lukas 9:28-36.

Pemahaman Teks
Mazmur 50:1-6 adalah mazmur yang dibuat oleh keluarga Asaf. Menurut catatan Alkitab Edisi Studi, Asaf adalah keturunan Lewi yang mendapat tugas dari raja Daud untuk menyiapkan musik dan sebagai pemimpin dalam ibadah di Kemah Suci maupun ibadah di Bait Allah. Pada bagian ini, Asaf menggambarkan tentang penampakan kekuasaan Allah sebagai hakim yang akan mengadili umatNya. Dari Sion, Allah akan tampil dalam cahaya kemuliaanNya, juga dalam bentuk api yang menjilat-jilat serta badai yang dahsyat. Rupanya, Asaf ingin menggambarkan tentang kemuliaan Allah yang akan tampak dalam bentuk badai demi menegakkan keadilanNya.

Kemuliaan Tuhan juga tampak dalam peristiwa Elia naik ke sorga sebagaimana tercatat dalam 2 Raja-Raja 2:1-18. Tercatat dalam ayat 1 bahwa Tuhan memang sudah menentukan suatu waktu untuk menaikkan Elia ke sorga. Rupanya Elisa, sebagai nabi yang akan menggantikan Elia, sudah mengetahui bahwa Elia akan segera meninggalkan dia. Karena itu, ketika dalam perjalanan dari Gilgal, Elisa tidak mau dan tidak akan berpisah dari Elia. Karena kegigihan Elisa untuk terus mengikuti Elia, akhirnya Elisa dapat menyaksikan peristiwa yang sangat hebat. Allah menyatakan kemuliaan-Nya dan menaikkan Elia ke sorga dengan menggunakan kereta berapi dengan kuda berapi serta dalam angin badai. Allah menggunakan angin badai untuk menampakkan kemuliaan-Nya.

Dalam dunia Perjanjian Baru, sudah terjadi peralihan yang sangat signifikan. Bahwa kemuliaan Allah tidak hanya dinampakkan secara umum pada alam dengan segala tanda-tandanya (api, badai, dll), tetapi dengan sangat khusus dalam diri Yesus Kristus. Dalam surat 2 Korintus 4:1-15, Rasul Paulus menceritakan bahwa kemuliaan Allah memang telah nampak pada wajah Kristus. Bahkan seluruh karya dan pelayanan Yesus Kristus di dunia ini adalah perwujudan kemuliaan Allah. Menerima dan percaya kepada kebenaran tersebut, dianggap Paulus sebagai sebuah harta yang sangat berharga. Kebenaran ini hanya dapat dipahami apabila hati diterangi oleh cahaya dari Tuhan. Tanpa mendapat karunia dari Tuhan, manusia tidak akan mampu mempercayai kemuliaan Allah dalam diri Yesus Kristus. Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka sangat fokus untuk memberitakan kemuliaan Allah dalam diri Yesus Kristus sebagai Tuhan. Walaupun mereka mengalami banyak ancaman dan penderitaan karena pemberitaan itu, namun mereka dapat melalui semua itu karena bersandar sepenuhnya kepada kekuatan dari Tuhan. Tujuan dari pemberitaan mereka ialah supaya semakin banyak orang percaya kepada Allah di dalam diri Yesus Kristus, dan supaya Allah semakin dimuliakan.

Petrus, Yakobus dan Yohanes telah menjadi saksi penampakan kemuliaan Allah dalam diri Tuhan Yesus di atas gunung (Markus 9:2-13). Keterangan waktu dalam ayat 2 yang mengatakan enam hari kemudian, menjadi petunjuk untuk menelusuri konteks waktu dan situasi menjelang terjadinya peristiwa ini. Dua peristiwa penting yang mendahului peristiwa ini dapat menjadi pedoman untuk menelusuri konteksnya. Dua peristiwa tersebut ialah pengakuan Petrus (Mark. 8:27-30) dan pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus (Mark. 8:31-9:1). Pengakuan Petrus terjadi di daerah sekitar Kaisarea Filipi. Pada saat Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus memberi jawaban sebagai bentuk pengakuannya: “Engkau adalah Mesias!” Memang bangsa Yahudi sedang menantikan kedatangan Mesias yang telah dinubuatkan sejak saman nabi-nabi. Apabila menyimak pengakuan Petrus, berarti Petrus mengatakan bahwa Yesus adalah jawaban atas penantian bangsa Yahudi.

Untuk merespons pengakuan Petrus, Tuhan Yesus melarang keras para murid-Nya untuk memberitahukan kepada siapapun juga tentang kebenaran bahwa Dia adalah Mesias yang dinantikan. Tuhan Yesus justru memberikan pernyataan yang bisa jadi tidak pernah dibayangkan oleh para muridNya. Bahwa ternyata Tuhan Yesus akan mengalami banyak penderitaan, ditolak, bahkan sampai dibunuh, namun akan bangkit pada hari yang ketiga. Karena itu, Petrus secara spontan mengutarakan keberatannya kepada pernyataan Tuhan Yesus. Naluri Petrus tidak terima bahwa Yesus yang baru saja diakuinya sebagai Mesias, harus memberitakan bahwa ternyata Dia akan mengalami banyak penderitaan dan pada akhirnya akan dibunuh. Tuhan Yesus pun menegor dengan sangat keras reaksi Petrus yang dipandang bertentangan dengan pikiran Allah tersebut.

Dalam konteks dua peristiwa di ataslah, maka enam hari (satu minggu) kemudian Tuhan Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke atas sebuah gunung yang tinggi. Dalam ketiga Injil yang mencatat peristiwa ini, tidak ada yang mencantumkan nama gunung yang dimaksud. Yang digambarkan hanya suasananya, bahwa di atas gunung itu hanya ada Tuhan Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes. Peristiwa dahsyat terjadi. Tuhan Yesus berubah rupa. Injil Matius mencatat bahwa wajah Yesus bercahaya seperti matahari. PakaianNya sangat putih berkilat-kilat. Terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini mengatakan: “Tidak ada seorang penatu (tukang cuci) pun di dunia ini yang dapat mencuci seputih itu.” Tuhan Yesus memancarkan cahaya kemuliaanNya sebagai Tuhan, baik wajah maupun pakaianNya. Cahaya ini mau menegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan. Tujuannya supaya para murid, minimal tiga orang murid yang menyaksikan peristiwa ini, dibuat semakin mengenal siapa sesungguhnya Sang Guru mereka.

Dalam peristiwa tersebut, muncul dua tokoh sejarah bangsa Israel, yaitu Musa dan Elia. Injil Lukas mencatat bahwa terjadi percakapan di antara mereka (Yesus, Musa dan Elia) tentang tujuan kepergian Yesus yang akan digenapi di Yerusalem (Luk. 9:31). Kehadiran dua tokoh berbeda saman ini seakan menggambarkan bahwa Tuhan Yesus akan segera menyempurnakan pekerjaan yang pernah mereka lakukan bagi bangsa Israel. Petrus menganggap bahwa pertemuan tersebut sangat membahagiakan. Petrus ingin mengabadikan kejadian tersebut sehingga secara spontan menawarkan kepada Yesus untuk diisinkan mendirikan tiga tenda. Satu untuk Tuhan Yesus, satu untuk Musa dan satu untuk Elia. Tidak ada jawaban dari Tuhan Yesus. Justru yang terjadi, awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Tentu ini suara dari sorga, suara dari Allah Bapa. Seolah menjadi jawaban atau petunjuk bagi usulan Petrus, bahwa untuk mengabadikan momen bahagia tersebut cukup dengan meyakini Yesus sebagai Anak Allah dan mendengarkan Dia.

Yesus dan ketiga muridNya segera turun dari gunung tersebut. Dia tidak menginginkan murid-muridNya terbuai dalam perasaan bahagia karena baru saja menyaksikan penglihatan sorgawi. Yesus mengajak mereka untuk segera turun ke lembah. Berjumpa dengan realitas kehidupan dengan segala tantangan yang sedang menanti mereka. Dan memang, di bawah lembah mereka sedang dinantikan berbagai macam persoalan yang membutuhkan uluran tangan mereka. Contohnya orang-orang yang mengalami berbagai macam penyakit yang membutuhkan penyembuhan (ayat 14-29).

Pokok-pokok yang dapat dikembangkan

                Berkesempatan menyaksikan kemuliaan Tuhan. Petrus, Yakobus dan Yohanes memang beberapa kali diajak oleh Yesus secara terpisah ke suatu tempat. Salah satunya ialah mereka di ajak naik ke atas gunung, yang dalam Lukas 9:28 dicatat bahwa tujuannya untuk berdoa dan kemudian terjadilah peristiwa pemuliaan itu. Mereka bertiga adalah murid yang dekat kepada guruNya. Menjadi murid kesayangan dan kepercayaan Sang Guru. Ada hubungan yang sangat dekat atau relasi yang mendalam dengan Sang Guru. Relasi tersebut menjadikan mereka murid yang berkesempatan menyaksikan penglihatan tentang kemuliaan Tuhan. Ini adalah keuntungan tersendiri bagi mereka yang menjalin relasi yang dekat dengan Guru-Nya.

Relasi antar sesama dan terutama relasi dengan Tuhan sesungguhnya terbukti sangat efektif untuk membangun kualitas hidup. Banyak persoalan-persoalan yang diselesaikan secara efektif karena dilandasi relasi yang baik. Namun juga sebaliknya. Banyak persoalan sepeleh yang akhirnya berkembang menjadi rumit karena relasi yang tidak terbangun dengan baik. Begitu juga relasi dengan Tuhan. Memang Tuhan yang paling dominan berkarya dalam hidup kita. Tetapi Tuhan juga memberikan porsi kepada kita untuk membangun relasi denganNya. A.W. Tozer mengatakan “Tuhan akan mengambil sembilan langkah menuju kita, tetapi Dia tidak akan mengambil langkah kesepuluh.” Dia membuka kesempatan kepada kita untuk membangun relasi yang baik demi menyaksikan karyaNya bagi hidup kita. Sebuah karya bukti kemuliaanNya.

Keinginan mengabadikan momen berbahagia. Menyaksikan penglihatan dahsyat yang terjadi, Petrus secara spontan mengungkapkan responnya. Bagi Petrus peristiwa tersebut adalah momen berbahagia. Dia bergebu-gebu mau mengabadikan momen tersebut.Cara mengabadikannya tidak tanggung-tanggung. Petrus mau mendirikan tiga tenda yang akan diperuntukkan satu bagi Tuhan Yesus, satu bagi Musa dan satu bagi Elia. Mungkin Petrus ingin mengabadikan terang cahaya ilahi yang tampak pada Tuhan Yesus, atau mungkin juga mau mengabadikan kehadiran dua tokoh penting yaitu Musa dan Elia.

Apabila kita membandingkan dengan kebiasaan kita pada zaman modern sekarang ini, maka kita bisa memahami respon spontanitas Petrus. Zaman modern sekarang ini memperlihatkan kecenderungan orang bahwa setiap momen bahagia selalu diabadikan. Apalagi dimudahkan dengan peralatan canggih yaitu kamera dalam segala bentuk, sangat memudahkan untuk mengabadikan momen-momen bahagia. Momen bahagia yang diabadikan itu tidak untuk dinikmati sendiri melainkan untuk dibagikan, minimal diposting ke dalam media-media sosial.

Persoalannya ialah maksud Petrus untuk mengabadikan momen tersebut akan menjadi sangat egois. Tanpa disadari, dengan keinginan mendirikan tiga tenda di atas gunung itu, berarti Petrus ingin membatasi ruang gerak Guru-Nya termasuk orang yang sudah dimuliakan di sorga yaitu Musa dan Elia. Akibatnya bisa sangat besar, misalnya: misi Tuhan Yesus yang akan dikerjakan di Yerusalem bisa batal dan murid-murid yang ada di lembah bisa dibuatnya menanti dalam kegalauan. Karena itu, terdengarlah suara sorgawi tentang cara yang bisa ditempuh Petrus dan teman-temannya untuk mengabadikan momennya yaitu: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Tidak perlu membuat tenda, cukup percaya kepada Sang Anak dan mendengarkan sabdaNya.

Larangan menceritakan penglihatan. Petrus, Yakobus dan Yohanes tentu memiliki kerinduan untuk menceritakan peristiwa luar biasa yang baru saja mereka alami. Ini dapat menjadi sebuah kesaksian yang sangat menarik. Namun, dengan tegas Tuhan Yesus melarang mereka menceritakannya sebelum misi penyelamatan yang akan dikerjakanNya selesai. Mengapa Tuhan Yesus melarang mereka? Bukankah jauh lebih baik apabila semakin banyak orang yang mengenal bahwa Yesus adalah Tuhan, Anak Allah? Ternyata Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa Dia sudah memiliki cara tersendiri untuk memperkenalkan kemuliaanNya kepada dunia. Dan cara tersebut ialah melalui jalan salib, jalan penderitaan. Melalui jalan yang akan ditempuh dan diselesaikanNya di Yerusalem, kemuliaan Allah akan dinyatakan dalam diri Yesus Kristus.

Kita masih ingat peristiwa beberapa tahun yang lalu, pada saat munculnya berita penampakan Tuhan di berbagai tempat. Sepertinya semua orang terhipnotis untuk juga menjadi bagian dari yang menyaksikan peristiwa tersebut. Seolah-olah ada anggapan bahwa apabila tidak menyaksikan penampakan-penampakan tersebut berarti Kristen yang gagal. Tuhan tidak harus menampakkan kemuliaanNya dalam peristiwa-peristiwa yang dahsyat seperti itu. Tuhan sudah punya cara tersendiri untuk memperkenalkan diri dan menjangkau kehidupan kita. Termasuk melalui jalan penderitaan. Di sanalah kita akan bertemu dengan kemuliaan Tuhan. Karena demikian juga jalan yang ditempuh Tuhan Yesus. Amin!


Diposting tanggal 06 Feb 2018

Daftar Artikel

Dapat kita bayangkan bagaimana orang Farisi dan para imam sebagai pemuka agama yang buta kebenaran m.....

Selengkapnya ..

Bagian dari surat Yohanes yang pertama ini, sesungguhnya berisikan nasihat yang sejak zaman PL telah.....

Selengkapnya ..

Pertanyaan penting untuk direnungkan: “mengapa ada pencobaan, mengapa ada ujian?” Tentu .....

Selengkapnya ..

Tanpa nasihat/teguran, manusia tidak akan pernah tahu kesalahan yang dilakukannya. Dalam perikop saa.....

Selengkapnya ..

Dalam pembacaan kita saat ini, jutru hal yang berbeda ditunjukkan oleh kedua rasul Allah yakni Paulu.....

Selengkapnya ..

Dalam peristiwa pembangkangan yang dilakukan oleh bangsa Israel terhadap Allah, tentunya membuat All.....

Selengkapnya ..

Dalam perikop ini, pemazmur menyatakan kebahagiaan orang-orang yang hidup menurut taurat Tuhan. Pema.....

Selengkapnya ..

Yesaya 58:1-12 berbicara tentang kesalehan Israel yang hanya pura-pura. Sesudah kejatuhan Yerusalem .....

Selengkapnya ..

Tradisi najis dan tidak najis sangat kuat dianut oleh orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Merek.....

Selengkapnya ..

Yesaya berseru: "Celakalah Ariel ..." Ini menunjukkan bahwa kota Daud yang merupakan pusat.....

Selengkapnya ..

Dilahirkan menjadi anak-anak Allah berarti dipersilakan masuk ke dalam relasi kasih. Relasi kasih de.....

Selengkapnya ..

Dalam mengemban misi pelayanan, Yesus melibatkan para murid-Nya. Ia mengawali dengan doa semalaman k.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...