Bahan Khotbah Minggu Ke-49 Tanggal 9 Desember 2018 (Minggu Adven II) TAK BERCACAT MENANTI KEDATANGAN KRISTUS (Tang Attangan Untayan Kasaeanna Kristus)
Bahan Khotbah Minggu Ke-49 Tanggal 9 Desember 2018
(Minggu Adven II)
TAK BERCACAT MENANTI KEDATANGAN KRISTUS
(Tang Attangan Untayan Kasaeanna Kristus)
| Bacaan Mazmur | : Lukas 1:68-79 |
| Bacaan 1 | : Maleakhi 3:1-3 |
| Bacaan 2 | : Filipi 1:3-11 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Lukas 3:1-6 |
| Nas Persembahan | : 1 Tawarikh 29:14 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Lukas 3:3 |
Tujuan:
- Warga jemaat memahami arti utusan Tuhan.
- Warga jemaat hidup sebagai utusan yang benar dan tak bercacat.
Pemahaman Leksionari
Maleakhi 3:1-5 mengemukakan tentang “utusan” yang akan tampak di hadapan pengadilan Allah. Siapapun utusan di sini, yang jelas ia merupakan gambaran yang menandakan bahwa Allah sendiri akan datang dan menghilangkan semua kenajisan serta membersihkan umat Allah dari semua kejahatan mereka setelah pembuangan. Ia memiliki kepercayaan dan kesetiaan yang kokoh kepada perjanjian Allah (Mal. 2:4,5, 8,10); mengecam ibadah yang munafik dan tak bersungguh-sungguh (Mal. 1:7-2:9); mengecam penyembahan berhala (Mal.2:10-12); mengecam kawin campur dan perceraian (Mal.2:13-16); melawan pengajaran yang tidak benar dari para imam (Mal.2:1-9); mengecam para pencuri persembahan yang menjadi milik Allah (Mal.3:8-10). Ia adalah seorang utusan yang memiliki integritas teguh dan pengabdian kuat kepada Allah. Tujuannya ada pada ayat 3, “supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan”.
Lukas 3:1-6 berisi seruan pertobatan Yohanes Pembaptis kepada orang-orang di daerah Yordan (ayat 3) dengan tujuan agar semua orang yang mau mendengar dan merespons ajakannya memperoleh pengampunan dosa (ayat 4). Yohanes melakukan tugasnya yang menyerukan pertobatan sehingga semua orang yang mau mendengar dan percaya akan mendapatkan keselamatan dari Tuhan (ayat 5-6). Seruan Yohanes bertujuan mempersiapkan umat Israel menyambut Mesias. Sambutan yang tepat bagi Mesias adalah membuka hati untuk-Nya. Tugas Yohanes adalah menyiapkan hati manusia yang seolah jalan yang jelek menjadi siap untuk dijalani. Keadaan umat pada zaman Yohanes Pembaptis memiliki kemiripan dengan keadaan umat pada zaman Maleakhi. Sebagaimana Malaekhi, Yohanes Pembaptis juga mengecam kemerosotan moral dan formalitas keagamaan yang kosong. Kedatangan Yesus Kristus harus disikapi dengan hidup bertobat, baik kedatangan kali pertama maupun kedatangan-Nya kembali.
Filipi 1:3-11 berisi doa syukur dan permohonan Paulus mengenai Jemaat Filipi. Sesudah Paulus meyakinkan anggota Jemaat di Filipi akan kasihnya kepada mereka dan akan persekutuan mereka dalam kasih-karunia Allah (ayat 7,8), ia sekarang melanjutkan ucapan syukurnya (ayat 3-6) dengan suatu syafaat. Paulus mendoakan jemaat dan semua orang yang dikasihinya, agar tetap kuat dan dapat hidup suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus (ayat 9-11).
Hubungan ketiga perikop di atas terletak pada bagaimana umat mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan dengan jalan pertobatan. Artinya, selama masa penantian umat diberi kesempatan untuk menyadari kekurangannya dan pada saat yang sama memperbaharui hidupnya. Hidup dalam pertobatan dan menjaga kesucian merupakan panggilan umat Allah. Dengan pertobatan dan menjaga kesucian hidup berarti umat Allah berusaha dengan sungguh-sungguh mempertahankan keselamatan yang telah diberikan Tuhan.
Pemahaman bahan utama
Filipi 1:3-11 berisi luapan hati Rasul Paulus dalam ucapan syukur, kasih dan doa atas kemitraan orang-orang percaya di Filipi dalam pekerjaan pelayanan Injil serta ungkapan kerinduannya yang mendalam agar mereka terus bertumbuh di dalam kasih dan ketajaman wawasan.
Luapan isi hati rasul Paulus dimulai dengan ucapan syukur (ayat 3-6). Sesudah salam, Rasul Paulus melanjutkan suratnya dengan ucapan syukur kepada Allah. Ia mengucap syukur bukan saja atas apa yang ia sendiri, langsung atau tidak langsung (dengan perantaraan jemaat), terima dari Allah, tetapi juga atas segala sesuatu yang Allah berikan kepada orang lain (1 Kor.1:4; Ef.1:16). Ia mengucap syukur kepada Allah setiap kali ia mengingat mereka, bukan karena mereka adalah orang-orang yang sempurna, orang-orang yang tidak bercacat. Alasan atau dasar ucapan syukurnya bukanlah kebaikan mereka, tetapi kebaikan Allah: kebaikan yang Ia nyatakan kepada mereka dalam hidup mereka sebagai jemaat.
Rasul Paulus bukan saja mengucap syukur, tetapi ia juga berdoa untuk mereka. Paulus tahu benar bagaimana rasanya dan susahnya memberitakan kabar baik Tuhan kepada sesama pada waktu itu. Berbagai ancaman, kejaran hingga akhirnya ia dipenjara karena memberitakan kabar baik dari Tuhan. Dengan semua yang dialaminya itu, bukankah seharusnya Paulus merasakan penderitaan yang bisa membuatnya berhenti sampai di sini saja? Akan tetapi, anehnya, alih-alih menyesali apa yang telah terjadi di dalam hidup Paulus sekarang ini yang sedang dipenjara; alih-alih meratapi penderitaan yang ia alami sekarang ini, Paulus justru menuliskan sesuatu yang luar biasa kepada jemaat di Filipi: “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita” (ayat 3-4).
Paulus mengucap syukur kepada Allah dan berdoa dengan sukacita karena persekutuan mereka dalam Berita Injil. Ia dibelenggu, tetapi Injil tidak. Injil terus diberitakan oleh saksi-saksi Kristus lainnya termasuk di Filipi. Ungkapan “persekutuanmu dalam Berita Injil” di sini, bukan saja berarti menerima berita Injil dan mendapat bagian dalam keselamatannya, tetapi juga turut aktif mengambil bagian di dalamnya. Jemaat Filipi telah berbuat demikian dengan jalan memberi tumpangan kepada pemberita-pemberita Injil (Kis.16:15), berdoa untuk mereka dan pekerjaan mereka, mengirim bantuan kepada Paulus (Flp. 4:10,16,18; 2 Kor. 11:9), mengirim orang (Epafroditus) kepada Paulus untuk melayaninya dalam kekurangannya (Flp. 2:25, 30) dan dengan jalan memberitakan sendiri Injil Kristus yang mereka terima dan percayai (Flp. 1:7 2:22; 4:3,14,17).
Partisipasi mereka dalam pemberitaan Injil ini menunjukkan bahwa pemberitaan Paulus tidak sia-sia. Tuhan memberkatinya sehingga jemaat bukan saja menerima berita Injil yang ia sampaikan kepada mereka, tetapi turut juga meneruskannya kepada orang lain. Karena itu ia mengucap syukur dan mempersembahkan doa kepada Allah dengan sukacita.
Luapan isi hati rasul Paulus berikutnya ialah kasih kepada orang percaya di Filipi (ayat 7-8). Menurut Paulus, sudahlah sepatutnya ia berpikir demikian tentang mereka semua. Apa yang ia katakan tentang ucapan syukur, doa, sukacita dan keyakinannya tidaklah berlebihan. Malahan sebaliknya, hal itu baginya adalah suatu keharusan, suatu kewajiban suci. Ia harus berpikir dan merasa demikian. Dalam pikiran dan perasaannya, mereka tidak jauh darinya malahan sebaliknya, mereka sangat dekat dengannya, karena ia mengasihi mereka (bnd. Flp.4:1). Mengasihi mereka, bukan karena kebaikan mereka, tetapi karena persekutuan mereka dalam kasih yang diberikan kepadanya, baik pada waktu ia dipenjarakan maupun pada waktu ia membela dan meneguhkan berita Injil. Kasih yang diberikan Allah kepadanya membuatnya boleh bersaksi dan menderita sebagai saksi Kristus. Kasih Allah yang merangkumi semua orang, yang menghubungkannya dengan orang-orang kudus, terjadi juga bagi orang-orang kudus di Filipi. Pengetahuan ini memberikan kepadanya penghiburan dan kekuatan untuk terus bersaksi dan tahan menderita.
Rasul Paulus mau supaya jemaat di Filipi tahu hal itu dan yakin akan kebenarannya. Kasih kepada orang yang jauh ialah kerinduan: kerinduan akan kehadirannya. Kalau tidak demikian, kasih itu bukanlah kasih yang benar. Sebab kasih yang benar tidak dapat hidup tanpa orang yang dikasihi. Paulus tidak ragu-ragu menyatakan kerinduannya kepada jemaat di Filipi bahwa ia benar mengasihi mereka.
Tuhan tahu akan hal itu. Ia adalah saksinya bahwa kasih Paulus ke pada mereka bukanlah kasih biasa, kasih yang berdasar atas hubungan darah daging, tetapi kasih yang berpangkal dalam kasih Allah: kasih yang menguduskan dan menghubungkan mereka dalam Kristus. Karena itu ia mengatakan bahwa kerinduannya akan mereka adalah kerinduan dalam kasih, kerinduan yang berpangkal dalam kasih Allah yang merangkumi semua orang.
Luapan isi hati rasul Paulus yang terakhir ialah doa syafaatnya (ayat 9-11). Sesudah Paulus menyatakan ucapan syukurnya (ayat 3-6) dan meyakinkan anggota jemaat di Filipi akan kasihnya kepada mereka dan akan persekutuan mereka dalam kasih Allah (ayat 7-8), ia sekarang melanjutkan dengan suatu doa syafaat. “Inilah doaku” katanya kepada mereka, “semoga kasihmu makin melimpah”. Ia tahu dan akui bahwa mereka mempunyai kasih, kasih yang limpah. Hal itu telah berulang-ulang ia alami. Tetapi kasih mereka itu belum sempurna, masih kurang (bnd. Flp. 1:27-30; 2:1-5; 4:2). Mereka masih ada di dunia, di dalam daging. Mereka belum mencapai tujuan perjalanan mereka. Mereka sedang berada di tengah jalan. Karena itu ia berdoa, semoga kasih mereka makin bertambah, makin melimpah dalam pengetahuan dan pengertian di segala bidang.
Yang diminta oleh Paulus ialah supaya mereka beroleh pengetahuan yang dalam, penuh dan benar, agar dengan perasaan dan pengetahuan yang murni mereka dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang wajib dilakukan dan mana yang harus ditolak, sehingga sikap mereka dalam segala sesuatu suci dan tidak bercacat menjelang hari Kristus.
Hal itu harus mereka buat di segala bidang supaya mereka suci dan tidak bercacat menjelang Hari Kristus. Itulah maksud dan tujuan doa Paulus. Ia melihat ke muka dan ia minta supaya mereka juga melihat ke sana, kepada hari Kristus: Hari, dimana Ia akan datang kembali sebagai Raja untuk menghakimi semua orang. Dengan kata “menjelang” Paulus hendak mengatakan bahwa mereka bukan saja harus suci dan tidak bercacat sampai pada hari Kristus, tetapi bahwa kemurnian hati dan hidup mereka juga harus sesuai dengan hari Kristus, dengan kebesaran, kemuliaan, keagungannya. Hari itulah yang harus menjadi norma atau ukuran dari kesucian dan kemurnian mereka.
Hidup yang demikian tidak dapat dihasilkan oleh manusia sendiri. Itu adalah pekerjaan Allah, pekerjaan Roh-Nya. Hal itu nyata dalam lanjutan kalimat atau doa Paulus: penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Kristus untuk kemuliaan Allah dan puji-pujian kepada-Nya. Karena itu ia berdoa untuk mereka. Paulus meminta supaya Allah menjaga, melindungi dan menguduskan hidup mereka, agar hidup mereka itu suci dan tidak bercacat dan agar ia menghasilkan buah kebenaran. Keduanya erat berhubungan: hidup yang suci dan yang tidak bercacat, tidak mungkin ada kalau ia tidak menghasilkan buah kebenaran, dan sebaliknya tidak ada buah kebenaran, kalau ia tidak dihasilkan oleh hidup yang suci dan yang tidak bercacat.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
1. Hidup dalam kasih. Hidup sebagai utusan yang benar dan tak bercacat berarti hidup dalam kasih. Dalam ayat 7-8, kita bisa melihat bahwa Paulus mengasihi jemaat Filipi sekalipun ia dipenjara di Roma. Hal ini jelas bahwa sekalipun mereka jauh di mata, tetapi mereka tetap dekat di hati. Dengan demikian, sebagai utusan Kristus, orang Kristen juga harus hidup saling mengasihi. Tetapi ada banyak orang Kristen yang tak bisa mengasihi. Sebaliknya mereka saling acuh tak acuh, saling fitnah satu dengan yang lain, saling sentimen, benci, dendam, dsb. Ini dekat di mata, jauh di hati. Kalau orang Kristen hidup seperti itu, maka ia harus membaca 1 Korintus 13:4-7. Karena Paulus mengasihi jemaat Filipi, maka sekalipun Paulus jauh dari mereka, Paulus banyak berdoa untuk mereka (ayat 3-5, 9-11). Apakah kita mengasihi sesama atau tidak, bisa terlihat dari apakah kita mendoakan mereka atau tidak.
2. Hidup dalam doa. Hidup sebagai utusan yang benar dan tak bercacat berarti hidup dalam doa. Jika Paulus berdoa untuk jemaat di Filipi, maka hal itu menunjukkan bahwa berdoa untuk jemaat adalah sesuatu yang sangat penting. Salah satu yang menjadi pokok doa Paulus ialah supaya jemaat di Filipi menjadi suci dan tak bercacat (ayat 10b-11). Ungkapan “suci dan tak bercacat” (ayat 10) sebetulnya sama artinya dengan “penuh buah kebenaran” (ayat 11). Sedangkan buah kebenaran itu dikerjakan oleh Yesus Kristus (ayat 11; bnd. Gal. 5:22-23). Tetapi itu tidak berarti bahwa kita boleh bersikap pasif saja dalam pengudusan diri kita. Kita tetap mempunyai tanggung jawab untuk: Banyak belajar Firman Tuhan, karena Firman Tuhan itu dipakai oleh Tuhan untuk menyucikan kita (Yoh. 15:3; Mzm. 119:9; Yer. 23:29). Banyak berdoa supaya Tuhan memberi kita kekuatan menghadapi kelemahan-kelemahan kita, godaan iblis, dsb. (Mat. 6:13 26:41). Berusaha membuang dosa dan mentaati Tuhan. Tujuan semua ini adalah supaya Allah dipermuliakan (ayat 11).
Diposting tanggal 09 Dec 2018
