Bahan Khotbah Minggu ke-38 Tanggal 23 September 2018 MERENDAHKAN DIRI DALAM MELAYANI (Umpamadiongan Kale Lan Pa`kamayan)
Bahan Khotbah Minggu ke-38 Tanggal 23 September 2018
MERENDAHKAN DIRI DALAM MELAYANI
(Umpamadiongan Kale Lan Pa`kamayan)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 116:1-14 |
| Bacaan 1 | : Amsal 31:10-31 |
| Bacaan 2 | : Yakobus 4:1-10 |
| Bacaan 3 | : Markus 9:33-37 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Mazmur 54:8 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Yakobus 4:7 |
Tujuan :
- Jemaat memahami perlunya merendahkan diri di hadapan Tuhan dalam melayani
- Jemaat merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan kerelaan melayani
Pemahaman Teks
Amsal 31:10-31 menggambarkan pujian untuk istri yang cakap, yang rajin bekerja, menolong yang miskin dan tertindas, mengajar dengan lemah lembut, takut akan Tuhan serta berbuat baik kepada suaminya hingga suaminya bangga memiliki istri seperti dia. Jadi pelayanan yang baik berakhir pada pujian dari orang lain.
Yakobus 4:1-10 berisi teguran keras kepada ke-12 suku Israel di Perantauan (lihat 1:1), yakni orang Kristen di mana saja sebagai Israel baru/umat pilihan Allah yang bertengkar karena hawa nafsu dalam diri masing-masing (ayat 1), keinginan itu diusahakan untuk didapatkan sebisa mungkin, bahkan didoakan. Namun tidak dikabulkan karena dianggap salah di hadapan Tuhan (ayat 3).
Garis besar khotbah berdasarkan bahan utama:
Markus 9:33-37. Pertama, Malu Mengakui Keegoisan. Ayat 33-34 menjelaskan keengganan para murid untuk menjawab secara jujur pertanyaan Yesus pada mereka. Pertanyaan yang berisi pertengkaran tentang siapa yang terbesar di antara mereka, tidak bisa mereka kemukakan secara terus terang pada Yesus. Kemungkinan besar mereka masih ingat peristiwa saat Yesus dimuliakan di sebuah gunung, saat Musa dan Elia berbicara dengan Yesus (9:1-4). Kemungkinan besar 3 murid (Petrus, Yakobus dan Yohanes) yang melihat peristiwa itu, menceritakan kepada murid-murid lain sehingga menjadi perbincangan di perjalanan yang berujung kepada perlombaan untuk menjadi yang terbesar. Kitab Yakobus juga memperingatkan orang-orang Kristen di berbagai tempat bahwa sengketa dan pertengkaran berasal dari hawa nafsu di dalam diri (Yakobus 4:1), sehingga doa tidak dikabulkan karena hanya untuk memuaskan hawa nafsu (Yakobus 4:3).
Ilustrasi: kita tidak berani mengungkapkan apa yang kita bicarakan karena kita kuatir ketahuan bahwa kita adalah orang egois dan serakah.
Penerapan: Mungkin banyak orang yang berharap menjadi yang terbesar di lingkungannya, misalnya dengan menjadi kepala dinas, kepala kantor, tokoh masyarakat, tetapi tidak berani menyampaikan kepada orang lain. Bahkan di gereja, mungkin ada godaan untuk menjadi orang yang paling disukai, favorit, dst. Jadi kita tidak bisa mempersalahkan para murid karena kita pun mungkin sama seperti mereka. Pertanyaannya ialah apakah keinginan itu salah ? mari kita lihat apa jawaban Yesus.
Kedua, Merendahkan diri dan melayani. Yesus memanggil dan mengajar murid-Nya bahwa “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir.” Ajaran ini tidak sekedar diajarkan oleh Yesus, karena Ia sendiri melakukannya. Ia adalah Allah yang Maha tinggi, namun merendahkan diri, bahkan rela mati di kayu salib demi orang-orang yang akan binasa karena dosa. Tetapi Ia tidak berakhir dalam kematian, karena tiga hari kemudian Ia bangkit dan ditinggikan di sorga. Jadi siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan! Tetapi siapa meninggikan diri, akan direndahkan (bnd.Yakobus 4:10).
Dua hal yang dijadikan syarat di sini yaitu:Yang Terakhir dan Pelayan dari semua. Jika mau menjadi yang terdahulu di kemudian hari, maka harus menjadi yang terakhir saat ini. Jika mau menjadi terbesar di kemudian hari, maka harus menjadi pelayan saat ini. Untuk memperjelas maksud Yesus, maka Ia mengambil seorang anak kecil yang Ia tempatkan di tengah-tengah para murid, lalu Ia memeluk anak itu sambil mengatakan "Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku…”. Anak-anak dalam banyak budaya atau tradisi dianggap sebagai orang-orang yang tidak masuk hitungan, tidak punya kuasa dan kebijaksanaan. Jadi siapa yang merendahkan diri menyambut atau melayani dengan sukacita orang-orang yang dianggap tidak masuk hitungan, maka ia sudah menyambut Yesus Kristus. Dalam Amsal 31 disebutkan, bahwa istri yang menolong orang miskin dan tertindas, justru mendapat pujian (Amsal 31:20,30).
Ilustrasi: Kisah nyata dari Bunda Teresa yang hidup pada tahun 1910-1997, seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania. Selama lebih dari 47 tahun, ia meninggalkan negaranya dan mau merendahkan diri untuk melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat di Kalkutta, India. Di kemudian hari, ia menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan pemerintah India Bharat Ratna (Tahun 1980) dan Penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1979. Ia dihormati dan dipuji oleh seluruh dunia pada saat peringatan kelahirannya yang ke 100 pada tahun 2010, walau saat itu dia sudah tiada.
Penerapan: Tuhan Yesus tidak mempersalahkan orang yang mau mendapatkan kehormatan tetapi hendaklah terlebih dahulu merendahkan diri melayani orang miskin, tertindas, orang yang tidak dianggap masuk dalam hitungan, orang-orang yang selama ini kita anggap sepele, orang-orang yang termiskin di tempat kita masing-masing. Jangan pernah meninggikan diri di hadapan mereka karena di dalam diri mereka juga, Tuhan hadir (Bnd. Mat 25:40). Rendahkanlah diri dan layanilah sesama, karena Yesus telah lebih dulu melakukannya untuk kita. Pada hari penghakiman nanti, kita akan ditinggikan bersama dengan Dia dalam kerajaan-Nya yang abadi. Soli Deo Gloria
Diposting tanggal 21 Sep 2018
