Bahan Khotbah Minggu ke-34 Tanggal 25 Agustus 2019 DARI SINAI BERALIH KE SION (Ludaomai Sinai tilengka’ lako Sion)
Bahan Khotbah Minggu ke-34 Tanggal 25 Agustus 2019
DARI SINAI BERALIH KE SION
(Ludaomai Sinai tilengka’ lako Sion)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 103:1-13 |
| Bacaan 1 | : Yeremia 1:4-10 |
| Bacaan 2 | : Ibrani 12:18-29 (Bacaan Utama) |
| Bacaan 3 | : Lukas 13:10-17 |
| Nas Persembahan | : Ibrani 12:28 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Yermia 1:8 |
Tujuan:
1.Jemaat memahami bahwa pengharapan damai sejahtera ada di Yerusalem baru.
2.Jemaat setia dalam perarakan menuju Yerusalem Sorgawi.
Pemahaman Teks
Mazmur 103 berisi tentang pujian pemazmur atas segala kebaikan Tuhan. Ada empat hal pokok yang menjadi alasan pemazmur menyatakan pujian kepada Tuhan:
- Pujian (ay. 1,2). Ia bersaksi terhadap dirinya dengan mengajak jiwanya dan batinnya untuk memuji Tuhan. Ia ingin segenap hidupnya (tubuh dan Jiwa) seutuhnya memuliakan Tuhan, karena anugerah Tuhan diyakini menjangkau bahkan menyelamatkan seantero hidupnya.
- Pengampunan (ay. 3,10-14). Pengampunan itu seperti kesembuhan dari penyakit, menebus dari kematian karena dosa, lalu menggantinya dengan mahkota kehidupan. Manusia tidak berdaya di bawah kuasa dosa, tetapi oleh kasih dan kesetiaan Allah, manusia ditarik dari lobang kubur kepada kehidupan yang diperbaharui.
- Penebusan (ay. 4-9). Allah sangat memahami keadaan kita yang hanya debu saja (ay. 14) dan berada di dalam ketidak berdayaan. Itu sebabnya Ia hadir bagaikan seorang Bapa terhadap anaknya, bahkan dengan tindakanNya sendiri menghalau kuasa dosa yang telah menguasai hidup kita. Walaupun kita berdosa, tetapi Allah yang adalah kasih tidak membalaskan setimpal dengan dosa yang kita lakukan. Sebagai Bapa, Ia dengan penuh pengertian dan kasih sayang yang tidak terbatas, merangkul kita kembali dengan memberi mahkota kehidupan.
Yeremia 1:4-10. Yeremia adalah seorang Imam yang dipanggil menjadi Nabi. Ia dipanggil untuk menegur raja-raja, nabi-nabi palsu dan imam-imam yang sarat dengan kemunafikan. Tugas ini oleh Yeremia sungguh amat berat, walaupun sesungguhnya ia tidak merasa takut terhadap manusia tetapi merasah rapuh di hadapan Tuhan, untuk itu ia menyatakan kerapuhannya dengan meratap sebagaimana diceriterakan dalam Kitab Ratapan. Yeremia menperkenalkan dirinya dan memnceriterakan bagaimana Allah memilihnya untuk bernubuat kepada bangsa Yahudi, dan sekalipun merasa tidak siap namun desakan Allah tidak bisa ditolak dan bahkan Allah terus mendesaknya. Yeremia diberi tugas untuk bernubuat tentang malapetakan sekaligus pengharapan.
Dalam Ibrani 12:18-29 diberitakan tentang peristiwa saat kekudusan Allah yang dahsyat dinyatakan dan manusia berdosa akan merasa ketakutan. Kebesaran, kekudusan dan kemuliaan Allah menyebabkan mereka berteriak ketakutan dan sangat gemetar. Di sini digambarkan betapa dahsyatnya hukum Allah yang membuat Musa sangat ketakutan dan gemetar ketika dipanggil untuk menerima hukum itu. Tetapi oleh Yesus Kristus, kita tidak lagi datang ke gunung Sinai yang menyeramkan, tetapi ke bukit Sion. Di sini terjadi perpindahan dari peristiwa yang dahsyat dan menakutkan kepada peristiwa pengharapan, yaitu Yerusalem baru. Sinai ada di padang gurun sedangkan Sion ada di tanah perjanjian. Sinai adalah gunung batu yang curam dan sarat dengan badai, sedangkan Sion adalah kota Allah, Yerusalem sorgawi penuh damai sejahtera.
Dalam Lukas 13:10-17 Yesus melakukan penyembuhan pada hari sabat untuk menunjukkan perlawanan-Nya terhadap kuasa roh jahat dan kemenangan-Nya atas kuasa roh itu. Penyakit dari perempuan yang disembuhkan itu disinyalir merupakan pengaruh roh jahat. Namun demikian, tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus di hari sabat ini ternyata mengakibatkan protes kepala rumah ibadat Yahudi yang merupakan bagian dari pemuka-pemuka Yahudi. Walaupun sebenarnya Yesus sudah diberi izin untuk berbicara tentang kerajaan Allah, tetapi ketika ia melakukan penyembuhan, maka itu dianggap melanggar ketetapan Allah.
Tindakan penyembuhan pada hari Sabat ini sesungguhnya tidak hanya memulihkan perempuan yang sakit, tetapi sekaligus juga merupakan teguran kepada para pemuka Yahudi yang salah memahami Sabat. Mereka dipandang sangat mementingkan soal ritual perayaan Sabat, tapi justru mengabaikan inti perayaan sabat yang justru merupakan pemulihan Tuhan bagi manusia. Sabat bukan hanya soal berhenti bekerja, tetapi sesungguhnya merupakan kesempatan pemulihan bagi mereka yang sudah sangat letih bekerja, termasuk para hamba dan ternak (bnd.Ul.5:14-15). Kekudusan Allah yang dijaga pada hari sabat, hendaknya diwujudkan dalam pulihnya kondisi segenap ciptaan Allah, termasuk manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Itu sebabnya Yesus keras menyindir pemuka agama Yahudi. Mereka tidak mempersoalkan hewan mereka yang dilepaskan dan dipelihara pada hari Sabat, namun mereka justru tidak peduli pada pemulihan sesama mereka.
Korelasi Bacaan
Mazmur 103 menyatakan kebaikan Allah dalam pengampunan-Nya, memberi kesembuhan, melepaskan dan menyelamatkan. Dalam Yeremia 1:4-10, Allah memberi kekuatan, kemampuan dan keyakinan dalam ketidakberdayaan. Dalam Ibrani 12:18-29, Allah dalam kasih dan kesetiaannya memanggil kita untuk bertobat, sebab pertobatan menjaminkan damai sejahtera menuju Yerusalem Sorgawi. Lukas 13:10-17 menjelaskan tindakan penyembuhan yang dilakukan Yesus untuk menyatakan teguran kepada para pemuka Yahudi yang lebih mementingkan soal perayaan Sabat daripada menyatakan kasih kepada sesama. Kasih Allah adalah kasih yang mengampuni dan menyelamatkan.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
- Allah itu baik. Ia tidak membalas setimpal dengan kesalahan kita. Ia tidak menghendaki kita binasa, sehingga dengan kasih dan anugerah-Nya, Ia berinisiatif mengambil tindakan penyelamatan dengan mengangkat kita dari lobang kubur sebagai akibat dosa, lalu membawa kita kepada kehidupan dengan memberi mahkota kemenangan.
- Allah telah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah yang menyelamatkan, tetapi juga menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang menghukum setiap orang yang terus berkanjang dalam dosa. Penebusan telah dianugerahkan di dalam Yesus Kristus untuk membawa kita berpindah dari lobang kubur yang menyeramkan, menuju kehidupan di Sion yang penuh damai sejahtera.
- Sebagai bentuk penebusan yang telah diberikan, kita dituntut untuk mengabdi kepada-Nya dengan tulus tanpa kepentingan pribadi, serta menunjukkan kepedulian kita terhadap mereka yang membutuhkan pertolongan.
Diposting tanggal 21 Aug 2019
