Bahan Khotbah Minggu ke -20 Tanggal 20 Mei 2018, (Hari Pentakosta) ROH YANG MEMAMPUKAN ( Penaa Mepamatoto’)
Bahan Khotbah Minggu ke -20 Tanggal 20 Mei 2018 (Hari Pentakosta)
ROH YANG MEMAMPUKAN
(Penaa Mepamatoto’)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 104:24-35 |
| Bacaan 1 | : Yehezkiel 37:1-14 |
| Bacaan 2 | : Kisah Para Rasul 2:1-21 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Yohanes 16:1-15 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 54:6 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Kisah Para Rasul 2:17-18 |
Tujuan:
- Jemaat memahami peran Roh Kudus yang memberi pengertian tentang kehidupan
- Jemaat benar-benar mengandalkan Roh Kudus
Pemahaman Teks
Yehezkiel 37:1-14 adalah penglihatan nabi Yeshezkiel yang menggambarkan tentang apa yang sedang terjadi kepada umat Israel. Bangsa Israel yang saat itu sedang dalam kondisi yang memprihatinkan karena pembuangan, digambarkan sebagai tulang-tulang kering yang berserakan di bawah lembah. Lalu dengan kekuatan Roh Allah (ayat 1), nabi Yehezkiel dibawah ke lembah itu dan diminta untuk bernubuat supaya tulang-tulang kering yang berserakan itu dapat berkumpul dan hidup kembali. Dalam hal ini peranan nabi Yehezkiel adalah sebatas menyampaikan Firman Allah bahwa Allah akan memberikan nafas hidup kepada tulang-tulang kering itu dan mereka akan hidup kembali.
Nabi Yehezkiel melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan kemudian sambil mengamati apa yang terjadi. Ternyata tulang-tersebut berkumpul satu dengan yang lainnya, urat-urat melengket pada tulang-tulang tersebut. Demikian juga daging menutupinya lalu terbungkus dengan kulit sampai terbentuk seperti manusia lagi. Namun demikian belum bisa berbuat apa-apa karena belum ada kehidupan padanya. Tuhan menyuruh nabi Yehezkiel untuk bernubuat kepada nafas hidup, kemudian nafas hidup itu masuk ke dalam tubuh-tubuh itu sehingga hiduplah kembali tubuh-tubuh tersebut. Dari peristiwa ini tergambar, bahwa kehidupan yang sesungguhnya itu hanya berasal dari Allah sendiri.
Kisah Para Rasul 2:1-21 adalah sebuah peristiwa yang sangat menakjubkan, yakni saat Roh Kudus turun hinggap memenuhi para murid Yesus yang disebut rasul. Semua orang yang ada, dan menyaksikan peristiwa tersebut tercengang melihat apa yang terjadi. Betapa tidak, Roh yang turun seperti lidah api hinggap atas rasul-rasul dan kemudian yang membuat mereka dapat melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Setidaknya ada dua hal yang sangat menonjol terjadi saat itu:
- Para Rasul yang dipenuhi Roh Kudus seketika mampu menyampaikan kebenaran dalam berbagai bahasa, sesuai dengan bahasa pendengarnya. Ini adalah hal yang luar biasa, yang tak pernah terjadi sebelumnya. Para rasul yang selama ini dipandang sebagai orang biasa-biasa saja, bahkan kelompok mereka tidak dipedulikan, kini menjadi luar biasa menyampaikan kebenaran dan bersaksi dalam berbagai bahasa.
- Petrus yang sebelumnya selalu dihantui oleh rasa bersalah karena penyangkalannya terhadap Yesus, kini menjadi berani dan bersemangat berkhotbah menyampaikan apa sesungguhnya yang telah terjadi, khususnya bagi kalangan Yahudi, orang Israel dan penduduk Yerusalem (ayat 22-23). Petrus tidak segan dan tidak takut mengingatkan mereka tentang apa yang mereka lakukan terhadap Yesus. Bahwa Yesus yang mereka salibkan dan bunuh, telah dibangkitkan oleh Allah. Ini keberanian yang luar biasa dari Petrus, mengingat semula para murid Yesus sangat ketakutan terhadap orang-orang Yahudi karena peristiwa kebangkitan itu. Kini mereka malah bersaksi tentang kebangkitan itu karena mereka dipenuhi oleh Roh Kudus.
Yohanes 15:26-27; 16:4b-15; berisi penjelasan Yesus sebelum Ia naik ke sorga tentang apa dan bagaimana Roh Kudus itu. Yesus menjanjikan Roh itu akan datang sebagai pengganti dan akan menuntun murid-murid termasuk seluruh orang percaya kepada kebenaran sesuai apa yang difirmankan Allah (Yoh. 16:13). Roh tersebut juga akan membuat setiap orang yang dituntunNya bersaksi tentang Yesus (bnd. Ps. 14:26-27). Dalam hal ini, menjadi sebuah kewajiban bagi setiap orang percaya untuk memberitakan kebenaran Allah lewat berbagai bentuk kesaksian.
Pokok-Pokok yang dapat dikembangkan
Beberapa tahun yang lalu, yakni sekitar tahun 80-an, terjadi pertentangan antar gereja mengenai peranan Roh Kudus. Gereja yang satu mengklaim diri sebagai gereja yang dipenuhi Roh Kudus dan menganggap gereja yang lain, termasuk Gereja Toraja tidak memiliki Roh Kudus, hanya karena ibadah mereka adem-adem saja dan tidak berbahasa roh.
Muncul pertanyaan, apa dan bagaimana membuktikan kehadiran dan peran Roh Kudus dalam kehidupan kita sebagai Gereja? Ketiga pembacaan kita memberi gambaran yang jelas tentang bagaimana sesungguhnya peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Terlihat denga jelas bagaimana Roh Kudus memakai dan memampukan nabi Yehezkiel bernubuat hingga tulang-tulang kering yang berserakan menjadi hidup kembali. Kemampuan itu bukanlah dari dalam diri Nabi Yehezkiel melainkan Roh yang datang dari Allah. Nabi Yehezkiel hanyalah alat untuk melakuakan apa yang Allah ingin lakukan. Demikian pula dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa sesungguhnya kita tidak punya kemampuan untuk menyatakan kebenaran itu, melainkan Roh Kuduslah yang memampukan kita melakukan segala yang baik.
Dalam peristiwa keturunan Roh Kudus, kita dapat menghayati beberapa peristiwa yang terjadi saat itu:
- Roh Kudus yang turun menyerupai lidah api menggambarkan bahwa Roh itu adalah Allah sendiri. Dalam beberapa peristiwa penampakan Allah, Ia selalu muncul dalam bentuk nyala api, yakni seperti ketika Allah menampakkan diri kepada Musa di semak duri yang menyala namun semak duri itu tidak terbakar. Bahkan dari semak yang menyala itu Musa mendengar suara Allah (bnd. Kel. 3:2-12). Jadi benar apa yang dikatakan Yesus, bahwa Roh itu berasal dari Allah sendiri.
- Para murid berbicara dalam berbagai bahasa, meskipun mereka bukanlah orang terpelajar (sebagian adalah nelayan). Peristiwa ini menggambarkan beberapa hal; pertama: bahwa Roh Kudus itu memampukan kita untuk melakukan sesuatu yang baik untuk kepentingan orang banyak atau kepentingan pelayanan. Kedua: Roh Kudus mempukan seseorang untuk menyampaikan kesaksian yang dapat dimengerti oleh para pendengarnya, bukan membuat seseorang mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti pendengarnya, bahkan termasuk dirinya sendiri. Jadi kalau ada orang yang menuding satu gereja sebagai gereja yang kurang Roh Kudusnya karena tidak bersaksi dengan bahasa-bahasa yang aneh-aneh, itu adalah hal yang tidak benar. Bahasa Roh yang sebenarnya adalah bahasa yang dapat dimengerti oleh para pendengarnya, bukan bahasa yang membingungkan. Ketiga: Roh Kudus memberi keberanian kepada seseorang untuk menyatakan kesaksian dan kebenaran yang sesungguhnya.
Dari kesaksian Firman Tuhan ini, maka sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita orang percaya untuk tidak melakukan tugas dan tanggung jawab kita selaku orang beriman, yakni orang yang diutus ke dalam dunia untuk menyaksikan kebenaran Allah. Dalam hal ini kita harus mulai dari diri sendiri, dalam rumah tangga kita, dalam gereja, dalam masyarakat, bahkan dalam berbagai aktivitas dan pekerjaan kita sehari-hari. Roh Kudus kiranya menuntun kita sekalian. Amin
Diposting tanggal 13 May 2018
