Bahan khotbah Minggu ke- 45 Tanggal 10 November 2019 MEMANDANG ALLAH MELAMPAUI HIDUP INI (Mentiro lako Puang Matua Undoanni Katuoan iate)
Bahan khotbah Minggu ke-45 Tanggal 10 November 2019
MEMANDANG ALLAH MELAMPAUI HIDUP INI
(Mentiro lako Puang Matua Undoanni Katuoan iate)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 17:1-9 |
| Bacaan 1 | : Ayub 19:23-27a |
| Bacaan 2 | : 2 Tesalonika 2:1-17 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Lukas 20:27-40 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 76:12 |
| Petunjuk Hidup Baru | : 2 Tesalonika 2:15 |
Tujuan:
1.Jemaat percaya pada Allah yang hidup.
2.Jemaat selalu mengorientasikan pandangannya pada rancangan Allah dalam hidupnya.
Pemahaman Teks:
Secara ringkas, gambaran isi dari keempat bacaan di atas adalah sebagai berikut:
Mazmur 17:1-9 merupakan nyanyian permohonan kepada Allah untuk diluputkan “dari orang-orang dunia ini yang bagiannya adalah dalam hidup ini”. Dalam hal ini tampak adanya kesadaran pemazmur akan adanya ruang atau suasana kehidupan yang lain dan berbeda serta melampaui hidup ini. Pada pihak lain, dalam mazmur ini tersirat tekad pemazmur untuk “dalam kebenaran, akan memandang wajah” Allah. Baginya, memandang wajah Allah itu memberinya kepuasan tersendiri.
Ayub 19:23-27a mengisahkan tokoh Ayub yang saleh tetapi sedang dirundung derita. Namun demikian, dalam penderitaan dan bayang-bayang kehidupan itu, ia yakin pada Allah yang hidup yang akan menebusnya yakni yang disebutnya “Penebusku yang hidup”; Penebus yang akan berdiri di atas (baca: mengatasi) debu/bumi. Kepada Allah itu Ayub mengarahkan pandang, menantikan pertolongan. Walau sekarat sekalipun, harapannya tetap, ia mengatakan “tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah,” (ayat 26). Ia yakin Allah yang pasti “akan memihak” kepadanya; memperhatikan kehidupannya.
Perikop 2 Tesalonika 2:1-5, 13-17 berisi himbauan Paulus kepada jemaat untuk tidak bingung dan gelisah melihat berbagai kedurhakaan, penyesatan, kemurtadan oleh hadirnya si pendurhaka. Pendurhaka itu akan melakukan berbagai perbuatan ajaib, tanda dan mujizat palsu; melakukan tipu daya terhadap mereka yang akan binasa. Paulus mengajak jemaat untuk ‘memandang’ kepada (karya) Yesus, yang mengasihi mereka (to napakaboro’ Puang), yang telah memanggil mereka dari semula, yang menguduskan mereka, yang memberikan kemuliaan-Nya dan yang menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan.
Lukas 20:27-40 memperlihatkan cara pandang orang Zaduki, yang sama seperti orang pada umumnya (dalam ayat 35 disebut oleh Yesus sebagai “orang-orang dunia ini”), cenderung hanya memandang realitas hidup sejauh kehidupan ini. Itu sebabnya, sukar bagi mereka memahami ajaran Yesus tentang kebangkitan. Dalam kasus pernikahan, misalnya, mereka bingung bagaimana kelanjutan pernikahan orang setelah kebangkitan. Dalam hal ini, orang Zaduki telah berusaha memandang “kehidupan nanti” (kehidupan setelah kebangkitan) hanya saja masih menggunakan cara pandang “kehidupan ini” (kehidupan sebelum kebangkitan). Dengan kata lain, mereka menggunakan cara pandang dunia ini untuk memandang kehidupan di dunia yang akan datang. Bagi Yesus, mereka/orang yang “mendapat bagian dalam dunia yang lain” yakni yang akan beroleh kebangkitan dari Allah haruslah mengarahkan pandangnya hanya kepada Allah saja (belanna la lu lako nasang tu katuoanna mintu’ tau – ay. 38). Artinya, menggunakan cara pandang Allah, bukan cara pandangnya sendiri. Hal itu harus dilakukan, karena Allah itu adalah Allah yang hidup, bukan Allah orang mati (ay. 38).
Pesan yang terdapat dalam keempat bagian Alkitab ini dikorelasikan oleh konsep tentang dunia. Ada dua dunia yang disebutkan di dalamnya: dunia ini dan dunia yang lain, yang akan datang. Ada orang yang hidup menurut dunia ini serta mengorientasikan pikirannya pada dunia ini. Mereka ini tidak dapat memahami dunia yang lain. Sebaliknya, ada yang mengorientasikannya pada dunia lain. Mereka itulah yang walaupun menjalani hidup di dunia ini dengan penuh penderitaan dan penindasan, namun tidak kehilangan harapan. Alasannya jelas, yakni karena orientasi hidupnya tidak sebatas dunia ini, melainkan mengatasi atau melampauinya. Itulah sebabnya kita memilih tema: Memandang Allah melampaui hidup ini. Melalui tema ini, kita diajak untuk memahami dan menghayati eksistensi Allah dan realita kehidupan ini berdasarkan cara pandang Allah sendiri, Sang Pemilik dan Pengatur kehidupan baik kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang.
Pokok–pokok pengembangan khotbah
-
Semua manusia, dalam kesadaran religiusnya, menyadari bahwa ada “dunia ini” dan ada “dunia nanti.” Semua menyadari bahwa kehidupan tidak berakhir setelah kehidupan ini, tetapi masih ada kelanjutannya di dunia nanti itu. Masing-masing memiliki cara pandang yang berbeda, tetapi pada dasarnya mengakui bahwa ada hubungan antara cara kita menyikapi kehidupan di dunia ini dengan keadaan kita dalam kehidupan di dunia nanti itu. Bagi iman Kristen, kepercayaan kepada Kristus merupakan jaminan kepastian kehidupan di dunia nanti. Kepercayaan kepada Allah, di dalam Kristus, itulah yang memberikan inspirasi terhadap kehidupan ini.
-
Keempat bacaan Alkitab kita hari ini mengungkapkan kesadaran orang-orang beriman yang mampu ‘melihat’ dunia nanti melampaui dunia ini: pemazmur, Ayub, Paulus, dan Yesus. Bagi mereka, bersama dan melihat Allah dalam kehidupan ini maupun untuk kehidupan nanti, itulah yang sangat didambakan. Hal itu menyebabkan mereka sanggup dan tiada lelah menghadapi berbagai persoalan dan tantangan kehidupan di dunia ini. Sebab itu, benarlah kata bijak bahwa “jika pandangan kita selalu diarahkan pada urusan duniawi, maka yang akan dirasakan hanyalah kelelahan.”
-
Bagi rasul Paulus, pada akhir zaman Allah akan menyatakan diri-Nya dalam kedatangan Kristus untuk menghukum “manusia durhaka” dan membawa umat percaya dalam kemuliaan-Nya. Oleh sebab itu, jemaat perlu mawas diri di tengah-tengah berbagai usaha pemurtadan yang mendahului datangnya hari Tuhan. Jemaat hendaknya tetap berdiri teguh dan berpegang pada ajaran yang benar.
-
Setiap orang percaya dipanggil untuk merespons karya Allah yang telah memilihnya dengan hidup kudus. Sikap percaya kepada Allah yang hidup, seharusnya membawa konsekuensi etis, yaitu menghadirkan anugerah kehidupan Allah tersebut dalam realita kehidupan. Walaupun kehidupan di dunia ini akan berlalu, namun realita kehidupan di masa kini begitu bernilai sama halnya dengan keselamatan di masa mendatang. Kita, selama kehidupan di dunia, dipanggil untuk menghadirkan tanda-tanda keselamatan dan berkat Allah.
-
Allah kita adalah Allah yang hidup. Ia bukan Allah yang mati dan lalai atau tidak lagi memperhatikan kehidupan kita. Di dalam persekutuan dengan Allah yang hidup, semua orang percaya sudah dan pasti akan memperoleh anugerah kehidupan. Anugerah kehidupan itu melampaui kehidupan di masa kini. Ia menjangkau kehidupan setelah kehidupan ini. Sebab itu, patutlah bagi kita untuk tidak memandang kehidupan melampaui kehidupan ini. Kita harus memandang hanya kepada Allah saja.
Diposting tanggal 04 Nov 2019
