Bahan khotbah HUT RI, Tanggal 17 Agustus 2019 MEMPROKLAMASIKAN KABAR BAIK (Umpa’peissanan Kareba Kaparannuan)
Bahan khotbah HUT RI Tanggal 17 Agustus 2019
MEMPROKLAMASIKAN KABAR BAIK
(Umpa’peissanan Kareba Kaparannuan)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 118:1-12 |
| Bacaan | : Yesaya 61:1-11 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 118:21 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Efesus 2:19-20 |
Tujuan:
1. Warga jemaat memahami arti kabar baik.
2. Warga jemaat memproklamasikan kabar baik.
Pemahaman Teks
Yesaya 61:1-11 berisi nubuat seorang nabi setelah kembalinya bangsa Israel dari pembuangan Babel. Pada tahun 538 sm, Raja Koresy mengizinkan orang-orang Yahudi untuk pulang ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Suci (Ezr. 6:3-5). Sekelompok demi sekelompok orang-orang Yahudi mulai pulang dari pembuangan untuk bergabung dengan golongan masyarakat yang tetap tinggal di Yerusalem, dan secara bersama-sama meletakkan dasar Bait Suci (Ezr. 5:14-16). Akan tetapi yang terjadi adalah pembangunan Bait Suci tidak maju-maju. Kota seluruhnya masih reruntuhan dan karena harapan tinggi-luhur akan zaman baru tidak kunjung datang, maka timbul berbagai ketegangan di mana orang-orang, khususnya yang berkecukupan, mengutamakan pembangunan rumahnya sendiri, sedangkan orang-orang miskin tidak dapat berbuat apa-apa untuk pembangunan Bait Suci dan pembangunan rumahnya sendiri. Di bidang keagamaan, para imam menyalahgunakan kedudukan mereka; rakyat berbakti kepada dewa-dewa di samping Tuhan; perayaan hari Sabat dan pembayaran pajak dianggap remeh.
Jadi, walaupun mereka sudah kembali dari pembuangan, tetapi orang-orang Yahudi masih berada dalam tahun-tahun gelap dan penuh frustasi. Dalam situasi yang demikian, bangkitlah seorang nabi yang membawakan firman Tuhan. Teguran lama, yaitu untuk tetap setia kepada Tuhan kembali diaktualkan; harapan dan kesadaran baru ditimbulkan dengan tujuan supaya umat Tuhan hidup dan tetap percaya kepada Allah.
Inti dari pemberitaan Yesaya bagian ketiga (Pasal 56-66) adalah menghibur umat Israel dan memberitakan Tahun Rahmat Tuhan seperti yang ditemukan dalam Yesaya 61:1-11 ini. Ayat 1-3 menjelaskan tentang kabar baik yang menimbulkan kesukaan. Kabar baik ini dialamatkan kepada orang-orang sengsara, yakni mereka yang berkekurangan, miskin dan tertekan. Kabar baik ini juga diberitakan kepada orang-orang yang remuk hati (patah hati, patah semangat, putus asa), yakni mereka yang tidak mempunyai harapan untuk mendapat suatu masa depan yang baik. Demikian juga kepada orang-orang tawanan diberitakan pembebasan. Mereka yang tadinya memperhambakan diri karena utang atau dipenjarakan karena tidak sanggup membayar pajak, dinyatakan bebas dan orang-orang yang terkurung dilepaskan (atau orang-orang yang terikat diuraikan tali-talinya). Kalimat ini dapat diartikan sesuai dengan Yesaya 42:6 atau sesuai dengan 42:7, di mana orang-orang buta disembuhkan.
Kabar baik yang memberitakan datangnya tahun rahmat Tuhan ini seringkali dikaitkan dengan tahun Yobel atau tahun kelima-puluh. Pada tahun ini, setiap orang yang sebelumnya telah kehilangan tanah pusaka mereka, yakni yang menjadi sumber kehidupan mereka, diperkenankan Tuhan untuk kembali memiliki dan mengolah tanah tersebut lagi (Im.25:10-17). Pada tahun itu, orang-orang yang tertindas dilepaskan dan para penindas dihukum; orang-orang sombong direndahkan dan orang-orang sengsara ditinggikan Allah; orang-orang yang terhuyung-huyung, kaum penganggur yang lapar, wanita yang mandul, orang-orang yang hina dan miskin, mereka yang berkabung dipuaskan, ditinggikan, dan diberi kesukaan. Perubahan ini dilukiskan dengan kiasan yang indah, yakni orang-orang yang berkabung dan menaruh abu di atas kepalanya, akan dikaruniai perhiasan untuk kepala mereka. Demikian pun mereka yang menggunakan kain kabung, akan diberikan minyak untuk pesta (ay.3).
Ayat 4-6 menjelaskan bagaimana umat yang kembali dari pembuangan mencita-citakan pembangunan Yerusalem dan negeri-negeri lain yang ditinggalkan penduduknya. Mereka tidak lagi mencari nafkahnya sendiri, melainkan menjadi imam dan pelayan Allah di dalam ibadah.
Ayat 7-9 menjelaskan penderitaan Israel pada masa lampau yang dipertentangkan sekali lagi dengan kesukaan yang akan datang. Dua kali lipat (Yes. 40:2), Israel mendapat malu, noda dan ludah (Yes. 50:6). Namun dua kali lipat juga ia akan beroleh warisan sebagai buah kemenangan dan memperoleh sukacita abadi. Perubahan ini datang dari Allah yang mencintai hukum.
Ayat 10-11 berita keselamatan yang disambung dengan pujian yang meriah. Sebagaimana pastinya bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, demikian pula Tuhan akan mendatangkan keselamatan-Nya yang akan menimbulkan pujian.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
1. Memproklamasikan kabar baik kepada orang sengsara. Memproklamasikan kabar baik, yang diterjemahkan dari kata Ibrani bashar, mempunyai pengertian yang luas. Secara umum kata bashar berarti membawa berita sukacita atau kebahagiaan. Sedangkan dalam Yesaya 61:1, kata bashar pertama-tama digunakan untuk memproklamasikan keagungan Allah. Kata ini juga tidak hanya sekadar memproklamirkan dan menunjuk kepada nubuatan para nabi di masa depan, tetapi juga prioritas utamanya adalah membawakan kabar baik kepada orang-orang yang menderita pada masa itu. Proklamasi itu tidak hanya mencakup penyelamatan, tetapi juga berita kebahagiaan dari Allah. Inilah yang menjadi elemen penting dalam nubuatan para nabi, termasuk Nabi Yesaya sehunbungan dengan pekerjaan mereka mencakup upaya menyembuhkan, membebaskan, memberi kenyamanan dan menyelamatkan. Adapun kabar baik itu diterima bukan hanya untuk bangsa Israel saja, tetapi juga semua orang yang sedang tertindas dalam bentuk apapun. Kabar baik itu pun tidak hanya dikabarkan dalam Perjanjian Lama saja, ketika zaman para nabi, tetapi juga pada zaman Perjanjian Baru, saat Yesus Kristus datang untuk memberitakan kabar baik bagi seluruh umat manusia dan bahkan seluruh ciptaan. Yesus Kristus adalah pemenuhan dari semua kabar baik ini. Dia adalah Pembawa kabar baik itu, bahkan Ia adalah Kabar Baik itu sendiri. Dia yang akan mewujudnyatakan nubuat nabi Yesaya itu. Dalam karya kehidupan-Nya, terlihat penggenapan nubuat Yesaya. Ia melepaskan orang-orang dari berbagai penderitaan, termasuk bentuk-bentuk penderitaan yang menghasilkan maut sebagai upah dosa. Melalui kedatangan-Nya, manusia menjadi percaya pada kabar baik yang hidup di dalam diri-Nya (bnd. Luk. 4:16-30).
2. Proklamasi HUT RI tahun ini adalah kesempatan untuk kembali merenungkan panggilan kita sebagai pembawa kabar baik. Proklamasi kabar baik yang berisi pembebasan dari berbagai bentuk penindasan, kesengsaraan dan penderitaan juga sangat diperlukan bagi masyarakat masa kini. Di sekitar kita begitu mudah ditemui orang-orang yang terhimpit oleh berbagai macam penderitaan, kesulitan ekonomi, sakit-penyakit, kekurangan pangan, mengalami remuk hati karena persoalan-persoalan rumah tangga, terpenjara oleh keinginan-keinginan duniawi dan orang-orang yang berduka. Tidak sedikit dari mereka yang tidak berdaya dan putus asa. Siapakah yang harus memberitakan kabar baik bagi mereka? Tentu saja Tuhan tetap mengutus hamba-Nya, yaitu kita sebagai gereja umat Tuhan. Karena itu sebuah hal yang patut direnungkan, ialah sudahkah kita mengerjakan tugas ini dengan baik? Semoga kita tidak pernah berhenti untuk terus memproklamasikan kabar baik bagi segenap umat manusia.
Diposting tanggal 15 Aug 2019
