Sabtu, 16 Mei 2020 Kejadian 8:1-22 SYUKUR TUHAN MASIH SAYANG Kurresumanga’ ke napakaboro’siapiki’ Puang
Sabtu, 16 Mei 2020 Kejadian 8:1-22
SYUKUR TUHAN MASIH SAYANG
Kurresumanga’ ke napakaboro’siapiki’ Puang
“Syukur…. syukur …. Tuhan masih sayang” kalimat inilah yang sering keluar dari mulut kita ketika kita terluput dari sebuah musibah. Bahkan tidak jarang orang berusaha melakukan sesuatu sebagai tanda bahwa ia sungguh merasa beruntung.
Demikianlah yang dirasakan oleh Nuh bahwa dari sekian manusia di bumi, dia dan keluarganya justru dipilih Tuhan untuk luput dari bahaya maut yang sungguh mengerikan. Air bah melanda bumi 150 hari lamanya. Semua yang ada di bumi musnah kecuali Nuh beserta keluarganya dan beberapa binatang yang diijinkan Tuhan untuk masuk di dalam bahtera. Sungguh tidak ada alasan bagi Nuh untuk tidak bersyukur. Karena itu, setelah air bah surut dan mereka keluar dari bahtera, Nuh mengambil inisiatif untuk mendirikan mezbah bagi Tuhan dan dari segala burung yang tidak haram diambilnya beberapa ekor lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mesbah itu (ay.20). Kisah air bah ini sungguh menjadi pelajaran penting bagi anak-anak Tuhan saat ini. Sesungguhnya banyak dosa yang dapat memicu murka Tuhan. Inisiatif Nuh untuk memberi persembahan kepada Tuhan tanpa paksaan tidak hanya menjadi berkat bagi dirinya, namun juga menjadi berkat bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana firman-Nya bahwa “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah kulakukan”(ay.21). Itulah berkat bagi dunia.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memberi persembahan yang terbaik sebagai wujud rasa syukur kita atas pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita? Tuhan selalu baik dalam hidup kita karena itu tetaplah menghargai kebaikan-Nya. Amin
Diposting tanggal 12 May 2020
