Minggu 18 Februari 2018 Ayub 4:1-21 PENASEHAT ATAU PENILAI
Minggu 18 Februari 2018 Ayub 4:1-21
PENASEHAT ATAU PENILAI
Tau ia tu ntiro boko’ta, tannia kita, sebuah ungkapan toraja yang ingin menegaskan, bahwa oranglah yang menilai kita, dan bukan diri kita. Entah kita sudah benar, sudah baik, oranglah yang akan mengatakannya. Menariknya adalah, penilaian yang di berikan, dapat berujung pada dua hal, yang pertama untuk menasehati, yang kedua, sekedar memberi penilaian, yang justru semakin melemahkan.
Pasal 4 yang kita baca, adalah peralihan dari pasal 3 tentang keluh kesah Ayub. Ringkasnya, Ayub meneriakkan tentang ketidakpahamannya, akan bencana yang dia alami, serta rasa menyesal, atas kehidupannya (pasal 3). Di sinilah, Elifas mulai berbicara. Ayat 1-11 menjadi gambaran yang jelas, Elifas mengambil posisi untuk menilai dan memojokkan Ayub. Dia mengingatkan Ayub, yang telah mengajar banyak orang (ayat 3-4), namun takkala Ayub yang lemah, Ayub terkejut, dan tidak mampu untuk menguatkan dirinya (ayat 5). Bagi Elifas, orang yang membajak kejahatan, menabur kesusahan (ayat 9). Ringkasnya, Elifas menilai Ayub, telah bersalah di hadapan Allah, dan telah membajak kejahatan, sehingga penderitaan Ayub, adalah konsekuensi dari apa yang telah dia tabur.
Saudara-saudara, menjadi penilai itu, hal yang sangat gampang. Mulai dari menilai gaya hidup, persekutuan, pendeta kurang bagus dll. Semuanya itu sangat gampang kita lakukan. Tapi hari ini kita belajar, Tuhan menghadirkan kita sebagai saudara, untuk datang menjadi penasehat, yang menguatkan. Yesus Kristus, dalam banyak peristiwa, ketika orang membawa kepada-Nya orang yang di pandang bersalah/berdosa, dia tidaklah ikut-ikutan memberi atau mendukung penilaian orang lain. Dia selalu memberi nasehat dengan sapaan kasih-Nya, “pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” Yoh.8:11. Amin
Diposting tanggal 17 Feb 2018
