MAKNA PENGORBANAN YESUS KRISTUS (Gai’na kamaparrisanNa Yesus Kristus)
Bahan Khotbah Kamis Putih, 13 April 2017
MAKNA PENGORBANAN YESUS KRISTUS
(Gai’na kamaparrisanNa Yesus Kristus)
| Mazmur | Mazmur 116:1-2;12-19 |
| Bacaan 1 | Keluaran 12:1-14 |
| Bacaan 2 | 1 Korintus 11:23-26 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | Yohanes 13:1-17, 31b-35 |
| Nas persembahan | Mazmur 116:17,18 |
| PHB | Mikha 7:18-19 |
Tujuan:
1. Memahami makna penderitaan/pengorbanan Yesus Kristus.
2. Menghayati makna Pembasuhan kaki dan PK.
3. Menghargai pengorbanan Yesus Kristus dengan meneladani kehidupan Kristus
Pemahaman Teks
Perikop ini tidak dapat dipisahkan dari perikop sebelumnya yang berbicara tentang kebiasaan-kebiasaan yang dianggap keliru oleh Paulus dalam peribadatan jemaat. Melalui surat ini, Paulus memberi nasihat mengenai bagaimana seharusnya orang Korintus beribadat dan mengambil bahagian dalam Perjamuan Tuhan. Ia juga memberi nasihat tentang penggunaan karunia-karunia Roh, yang dapat membantu mengembangkan keteraturan dalam peribadatan yang sungguh-sungguh menyembah Allah dan membangun persekutuan umat Allah. Ada kebiasaan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu, yakni bertemu dalam acara makan bersama. Ada semacam perjamuan khusus yang disebut “eranos”. Dalam perjamuan itu setiap peserta membawa makanannya sendiri. Pada gilirannya semua makanan yang dibawah itu disajikan dalam sebuah acara makan bersama. Gereja mula-mula juga mempunyai kebiasaan seperti itu (mungkin mengingat Perjamuan malam Yesus dengan para murid dalam Yoh. 13:2). Sebuah perjamuan yang disebut “agape” atau Perjamuan Kasih, orang-orang Kristen termasuk di Korintus datang ke perjamuan tersebut dengan membawa makanan yang kemudian disajikan bersama lalu duduk makan bersama. Kebiasaan ini merupakan hal yang sangat menyenangkan sebagai sebuah cara untuk menciptakan dan memelihara persekutuan Kristen yang sejati. Tetapi, ternyata dalam pelaksanaan perjamuan, Paulus mendapati adanya kekeliruan. Cara mereka dalam melaksanakan perjamuan sangat egois, mereka tidak menunggu teman yang datang terlambat (misalnya para hamba) juga tidak membagi apa yang mereka miliki. Masing-masing hanya memperhatikan makanannya sendiri sehingga ada yang kenyang bahkan mabok tetapi ada juga yang lapar (ay. 21) dan itu bukan hakekat Perjamuan untuk mengenang Tuhan. Bagi Paulus, jemaat Korintus itu telah menghinakan baik kehormatan maupun persaudaraan jemaat serta penciptan-Nya yaitu Allah. Latar belakang dari kekeliruan itu ialah adanya perpecahan dikalangan internal jemaat yang semakin memperluas jarak antara yang kaya dan yang miskin, Yahudi-bukan Yahudi, orang merdeka, para budak. Hakekat Perjamuan Kasih telah hilang yakni “berbagi” dengan mereka yang tidak punya apa-apa.
Paulus memberikan perintah yang benar tentang makna Perjamuan yang sesungguhnya, perintah yang diterima langsung dari Tuhan Yesus. “Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan” (ayat 23). Perintah ini bukan dari Paulus melainkan dari Tuhan yang kemudian diteruskan kepada jemaat untuk dilaksanakan. Menurut Paulus, tradisi makan bersama yang sudah ada dalam jemaat seharusnya didasarkan pada pengorbanan Yesus Kristus untuk dosa-dosa manusia. Ia menyerahkan tubuh-Nya dan darah-Nya yang adalah simbol makanan dan minuman untuk hidup yang kekal. Tubuh dan darah Tuhan terbagi diantara orang-orang yang percaya dan mengasihi-Nya. Setiap kali melakukan perjamuan makan bersama, seharusnya yang terjadi adalah mengenang pengorbanan Tuhan Yesus sampai Ia datang kembali (ay.26).
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan dalam Khotbah
1. Perjamuan makan bersama: mengingat pengorbanan Kristus
Tradisi makan bersama telah diberi makna baru oleh Rasul Paulus seperti dalam uraian di atas. Hakekat perjamuan makan ialah mengenang karya Tuhan Yesus melalui pengorbanan tubuh dan darah-Nya untuk menebus dosa-dosa kita serta menghilangkan sekat-sekat perbedaan di antara kita. Melalui perjamuan, kita semua dari berbagai latar belakang menjadi satu dalam Kristus, kita diberi makan dan minum dari sumber yang sama yakni Tubuh dan darah Kristus. Perjamuan Kudus yang dilakukan oleh gereja dimaksudkan mengenangkan pengorbanan Yesus di kayu salib ke dalam kehidupan beriman sehari-hari. (silahkan dikaitkan dengan formulir-kada mangullampa).
2. Saling berbagi sebagai wujud persaudaraan
Salah satu esensi penting dari tradisi perjamuan makan pada zaman gereja mula-mula ialah, saling berbagi yang kemudian telah luntur praktekanya di Jemaat Korintus. Perjamuan makan bukan sekedar acara makan-makan bersama tetapi saling berbagi makanan satu dengan yang lain. Sehingga unsur-unsur perbedaan menjadi hilang. Perbedaan tertutupi oleh semangat persaudaraan yang mau berbagi dengan mereka yang kekurangan. Ada pesan persekutuan di sana, bukan sekedar berbagi makanan melainkan menikmati kebersamaan sebagai satu keluarga (bnd. Pemahaman ekklesiologi: gereja sebagai keluarga Allah). Bagaimana dengan tradisi makan bersama yang digelar pada setiap acara baik Rambu Tuka’ maupun Rambu Solo’ apakah masih mencerminkan prinsip saling berbagi seperti anjuran Paulus?.
3. Pembasukan Kaki: komitmen pelayanan
Tradisi pembasuhan kaki yang terjadi pada masa itu (Yoh.13:1-17) dilakukan oleh seorang yang lebih rendah kedudukannya kepada yang lebih tinggi kedudukannya. Seorang hamba pantas membasuh kaki tuannya. Tetapi apa yang dilakukan oleh Yesus yang adalah guru dan Tuhan dengan membasuh kaki murid-murid-Nya hendak menjungkirbalikkan konsep manusia tentang status. Jika mau memberi penghormatan yang sepantasnya kepada Yesus yang adalah guru dan Tuhan kita, ternyata kita harus menerima pembasuhan-Nya terhadap dosa kita, tetapi juga membasuh kaki sesama bahkan mereka yang lebih rendah kedudukannya daripada kita. Di beberapa jemaat telah dilaksanakan acara “pembasuhan kaki” pada perayaan Kamis Putih, hal ini baik tetapi jangan sampai hanya sebatas ritus belaka tanpa pemaknaan secara benar dalam kehidupan sehari-hari. Ritus pembasuhan kaki adalah simbol kesiapan untuk melayani dengan rendah hati terhadap mereka yang dianggap kecil dan rendah dalam masyarakat.
4. Meneladani Kristus dengan hidup rendah hati
Setiap orang mau dihargai, bahkan menuntut dihormati, walaupun tidak selamanya dengan sadar mau juga menghargai dan menghormati sesama. Betapa banyaknya masalah terjadi dalam pelayanan, keluarga dan masyarakat hanya karena ada pihak yang selalu merasa harus mendapat penghargaan dan penghormatan sementara yang lain dianggap harus memberi penghargaan dan penghormatan. Momentum Kamis Putih, menjadi saat yang tepat untuk merenungkan apakah pengorbanan Kristus masih menjadi prinsip dan motivasi dalam kehidupan beriman kita. Kerendahan hati merupakan syarat penting untuk saling melayani. Hal ini penting, karena orang yang tidak mau melayani dalam kerendahan hati menempatkan dirinya lebih hebat dari Yesus. Hidup rendah hati sama sekali tidak akan mengurangi tingkatan status sosial yang melekat pada diri seseorang, seperti Yesus setelah membasuh kaki murid-murid-Nya bahkan setelah Ia berkorban sampai mati di kayu salib tidak mengurangi status-Nya sebagai Anak Allah. Malahan kepada-Nya diberikan nama di atas segala nama yang oleh-Nya manusia diselamatkan dan memuliakan Allah Bapa (bnd. Filipi 2:1-11). (YP).
Diposting tanggal 27 Mar 2017
