KRISTUS ITULAH RAJA (Kristus Iamo Datu)
Bahan Khotbah Minggu ke-9 Transfigurasi, 26 Februari 2017
KRISTUS ITULAH RAJA
(Kristus Iamo Datu)
| Mazmur | Mazmur 99:1-9 |
| Bacaan 1 | Keluaran 24:12-18 |
| Bacaan 2 | Petrus 1:16-21 |
| Bacaan 3 | Matius 17:1-9 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | Mazmur 45:18 |
| PHB | Mazmur 99:9 |
Tujuan:
1. Jemaat semakin memahami dan meyakini bahwa Kristus itulah Raja.
2. Jemaat hidup sebagai anak-anak raja di dalam Kristus.
Pemahaman Teks:
Perikop ini mengisahkan sebuah pristiwa misteri, dimana wajah Yesus bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya putih bersinar (ay.2, lihat juga Luk.9:28-29). Dalam hal ini Tuhan Yesus mengalami kejadian “transfigurasi”. Pengertian kata “transfigurasi” pada prinsipnya menunjuk pada arti “metamorphosis” yang mana seperti ulat berubah menjadi kepompong. Perubahan ini menunjukkan kemuliaan Yesus. Selain perubahan itu, para murid juga menyaksikan Yesus sedang berbicara dengan Musa dan Elia (ay.3). Musa dan Elia adalah dua tokoh rohani yang selalu dikenang oleh umat Tuhan, karena mereka selalu menyerukan agar umat Allah melakukan pembaruan hidup. Musa adalah penerima hukum-hukum Allah di gunung Sinai, yang pemenuhannya ada di dalam Yesus Kristus. Sedangkan Elia adalah seorang nabi yang diharapkan para nabi sesudahnya akan diutus Allah untuk memperingatkan manusia akan penghakiman Allah. Apa maksud perubahan rupa Yesus?
Perubahan rupa adalah suatu gambaran tentang keadaan-Nya kelak dalam kerajaan-Nya yang akan datang. Ini berarti perubahan rupa itu merupakan suatu pengalaman penuh sukacita yang memperkuat Yesus menghadapi kematian-Nya yang semakin dekat. Perubahan rupa diberikan untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, Sang Raja. Hal ini juga merupakan jaminan atas kebangkitan-Nya dan kerajaan-Nya yang akan datang serta membuktikan keunggulan Yesus dari Musa dan Elia seperti ditunjukkan dalam kesaksian Petrus yang diberitakan dalam 2 Petrus 1:16-21. Perubahan rupa terjadi “ketika Ia sedang berdoa”. Kita tidak tahu apa yang dikatakan-Nya dalam doa itu. Namun doa itu juga terkait dengan pujian kepada Allah atas karya keselamatan yang akan diselesaikan di kayu salib dan tentang kebangkitan-Nya. Petrus, Yohanes dan Yakobus diberi hak istimewa sebagai murid Yesus. Mereka sungguh-sungguh melihat Yesus berubah rupa dihadapan mata mereka. Mereka melihat Yesus dalam kemanusiaan-Nya dan dalam kemuliaan surgawi-Nya. Seluruh tubuh-Nya menunjukkan kemuliaan Ilahi-Nya. Mereka melihat Raja dalam kemuliaan-Nya dari bukit doa yang kudus itu, dari mata iman kita pun dapat melihat Dia dalam kemuliaann-Nya.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan:
1. Pengalaman Bersama Yesus
Pengalaman bersama Yesus ke sebuah gunung yang tinggi (ay.1). Dalam tradisi Israel, ekspedisi pendakian gunung ini mengingatkan mereka akan kisah Musa dan Elia ketika naik ke gunung Sinai (Kel.19:20, 24:12-18; 34:4-5; 1 Raj.19:8). Mereka memahami Allah dapat ditemui di gunung yang tinggi, dan penulis Matius sengaja menggiring pembacanya ke arah itu, yaitu pengalaman bertemu dengan Allah.
Pengalaman melihat Yesus yang dimuliakan, bersama dengan Musa dan Elia (ay.2-3). Kedua tokoh PL ini merupakan tokoh penting dalam tradisi Israel, bahkan Elia sendiri sering dikaitkan dengan Mesias (Mat.16:13-14). Peristiwa ini telah membawa mereka pada sebuah keterpesonaan/kekaguman yang luar biasa akan kemuliaan Tuhan yang tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga Petrus sendiri mengekspresikan rasa kagumnya itu dengan menawarkan pendirian tiga kemah (ay.4). Tawaran Petrus untuk mendirikan “kemah” ini sendiri dapat mengingatkan pembaca Yahudi akan kemah pertemuan pada zaman PL dimana Musa bertemu dengan Allah (Kel.27:21;29:4;Bil.1:1).
Pengalaman bersama, melihat menjadi sempurna ketika disertai pengalaman mendengar suara Tuhan. Suara dari dalam awan yang memproklamasikan atau meneguhkan kemesiasan Yesus (ay.5). Suara dari dalam awan tentu mengingatkan mereka peristiwa penting dalam PL ketika Allah datang dan berbicara dari awan kepada bangsa Israel (Kel.19:16), dan itu juga yang terjadi dalam diri murid-murid ketika Yesus dimuliakan (ay.6). Pengalaman mendapatkan ketenangan kembali dari Yesus setelah sebelumnya mengalami ketakutan yang luar biasa (ay.7). Hal ini menunjukkan bahwa kuasa kemuliaan Allah memang menakutkan tetapi sekaligus menenteramkan.
2. Bukti bahwa Yesus Itulah Raja
Kisah ini juga merupakan kisah pengalaman akan kehadiran Allah yang hendak menyatakan kemisiasaan Yesus, bahwa Yesus itulah Raja. Transfigurasi Yesus hendak memberitahukan kita bahwa kehinaan dan penderitaan pun pada akhirnya akan menjadi kemuliaan besar, dan itulah yang terbukti melalui Yesus. Apa makna trasfigurasi Yesus? Pertama: Yesus adalah Mesias, Raja, yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Musa mewakili Hukum Taurat yang sejak awal menjanjikan seorang Nabi yang akan datang untuk mengajarkan kebenaran sejati (Ul.18:18-19). Elia mewakili para nabi yang mengarahkan hati umat Israel untuk mengantisipasi datangnya sang Mesias (ay.2-3). Tuhan Yesus sendiri menerangkan bahwa Yohanes berperan sebagai Nabi Elia mempersiapkan orang banyak untuk menyongsong kedatangan diri-Nya (ay.11-13). Kedua: Allah Bapa menyatakan perkenan-Nya atas diri Yesus berupa awan hadirat dan suara restu-Nya. Bapa memerintahkan murid-murid, yang diwakili oleh ketiga murid terdekat untuk mempercayai Yesus dan pemberitaan-Nya (ay.5). Ketiga: Yesus sebagai Mesias, Raja, nampak dalam kerendahan yang menjadi kemuliaan ini diekspresikan juga oleh Paulus kepada jemaat Kristen di Filipi: “dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan-Nya nama di atas segala nama, supaya di dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Fil. 2:8-11).
Aplikasi:
1.Pengalaman ketiga murid Yesus: Petrus, Yakobus dan Yohanes bersama Yesus bukan berarti mereka lebih baik dari yang lainnya. Ketiganya dapat mengalami pengalaman itu karena Yesus memperkenankan mereka untuk menyaksikan kemuliaan-Nya. Kita pun dapat mengalami berbagai pengalaman iman bersama Yesus di kehidupan kita sehari-hari. Dalam realitas kehidupan sesungguhnya ada begitu banyak pengalaman perjumpaan kita dengan kemuliaan Yesus yang berkuasa atas berbagai persoalan kehidupan kita (silahkan menceritakan pengalaman-pengalaman perjumpaan dengan kuasa kemuliaan Yesus). Namun, perlu kita ingat, apa pun dan bagaimana pun pengalaman perjumpaan dengan kemuliaan Yesus tidak bertujuan meninabobokkan, tetapi memberikan kita dasar kebenaran untuk hidup dalam realitas kuasa kemuliaan Tuhan, agar kita tidak menjadi sombong (bnd.ay.9). Dengan demikian, kita semakin memahami dan meyakini bahwa Yesus adalah Raja hidup kita.
2. Kata-kata Yesus yang meneguhkan dan menenteramkan ini, bukanlah sekedar penghiburan kosong. Peristiwa tranfigurasi Yesus (dengan segala bentuk proklamasi kemesiasan-Nya) memberikan kepastian kepada kita bahwa Tuhan mampu membuktikan kekuasaan sekaligus pertolongan bagi orang yang percaya kepada-Nya. Tentu, keragu-raguan berlebihan akan sangat menghalangi kita untuk melihat, merasakan, dan mengalami “kehadiran” Tuhan itu dalam kehidupan kita. Kita dapat menghayati bagaimana Tuhan selalu menjawab setiap kebimbangan kita menjalani kehidupan yang sering membingungkan ini. Seringkali Tuhan memberikan pertolongan di saat-saat dan dengan cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Suara dari dalam awan: “inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia’, boleh saja membuat kita gemetar dan tersungkur ketakutan, tetapi pada akhirnya Tuhan Yesus datang dan menguatkan kita: “anak-Ku, bangunlah, jangan takut!” Alamilah kehadiran Yesus Sang Raja dalam hidupmu, maka engkau akan tahu betapa Tuhan memang adalah Raja, Mesias, yang dari Allah yang menyelamatkan kita. Karena itu, hiduplah sebagai anak-anak Raja.
Diposting tanggal 30 Jan 2017
