IA ADALAH CAHAYA KEMULIAAN DAN GAMBAR WUJUD ALLAH (Iamo arrang kamala’biran sia baterupan-Na Puang Matua)
Bahan Khotbah Perayaan Natal (malam), Minggu, 25 Desember 2015
IA ADALAH CAHAYA KEMULIAAN DAN GAMBAR WUJUD ALLAH
(Iamo arrang kamala’biran sia baterupan-Na Puang Matua)
| Mazmur Pujian | Mazmur 97:1-5 |
| Bacaan 1 | Yesaya 52:7-10 |
| Bacaan 2 | Ibrani 1:1-12 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | Yohanes 1:1-14 |
| Nas Persembahan | Mazmur 97:11-12 |
| Petunjuk Hidup Baru | Mazmur 97:10 |
Tujuan:
- Agar jemaat mengerti dan meyakini bahwa Yesus Kristus adalah cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah.
- Agar jemaat mengalami dan menghayati kelahiran Yesus Kristus sebagai cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah.
- Agar jemaat hidup mencerminkan cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah.
Pengantar
Surat Ibrani adalah Surat Rasuli yang ditujukan kepada orang Yahudi yang telah menjadi pengikut Kristus. Penulisnya tidak diketahui, dan pernah menjadi perdebatan panjang di dunia teologi. Beberapa pandangan menganggap surat ini ditulis oleh Rasul Paulus berdasarkan apa yang tertulis dalam Ibrani 13:23, Ketahuilah, bahwa Timotius, saudara kita, telah berangkat. Segera sesudah ia datang, aku akan mengunjungi kamu bersama-sama dengan dia.. Tetapi pendapat lain membantah argumen itu karena tidak sebagaimana Surat Rasul Paulus, surat ini tidak dimulai dengan salam dan gaya penulisannya pun sangat berbeda. Terlepas dari itu, kita boleh berpendapat bahwa surat Ibrani ini ditulis dengan sangat rendah hati dengan tidak mencantumkan identitas penulis, tetapi mengedepankan Kemuliaan Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan Imam Besar. Waktu penulisan mungkin saja sebelum tahun 70 di mana Yerusalem jatuh ke tangan Roma dan dihancurkan, karena tidak dicatat atau disinggung dalam surat ini. Menurut sejarawan Alkitab, hal inilah yang mengakibatkan, kitab ini pada abad ke-2 baru dimasukkan dalam kanonisasi Alkitab.
Secara Umum, Surat Ibrani ini merupakan sebuah surat yang berisi teguran dan nasihat. Sekalipun demikian nasihat-nasihat yang ada di dalamnya bukanlah merupakan surat-surat tanpa dasar yang kuat. Nasihat-nasihat tersebut berdiri di atas dasar yang sangat kokoh yaitu Yesus Kristus sendiri, di mana Yesus Kristus mengadakan pembaruan dalam praktik hidup maupun dalam kultus religius ibadah orang Yahudi. Surat ini adalah suatu khotbah yang diakhiri dengan sebagaimana suatu surat dengan salam akhir.
Pokok bacaan kita saat ini yaitu Dia sebagai pengantara Firman Allah. Ada dua kontras di sini, yaitu zaman dulu dan zaman akhir. Pada zaman dulu pengantara Firman Allah adalah para nabi sedangkan di zaman akhir melalui Yesus (1-2). Jadi pembicaraan Allah sekarang memiliki kemuliaan yang lebih dari pada dulu, dengan kata lain Kristus adalah puncak pembicaraan Allah di zaman akhir ini. Dengan prolog tersebut, kini pembaca dibimbing untuk memerhatikan bagian pokok yang pertama dalam uraian kitab Ibrani. Tema peran Kristus sebagai Anak Allah dibahas. Khususnya, posisi Anak tersebut dikaitkan dengan janji Anak yang rajani, seperti yang diuraikan dalam perjanjian Daud. Puncak uraian ini diungkapkan melalui himbauan, agar setiap orang percaya menyediakan diri untuk menerima rahmat dan menemukan kasih karunia (4:16)
Pokok-Pokok Yang dapat dikembangkan
1. Allah telah berbicara dengan perantaraan Anak- Nya (Ay 1-4)
Pada zaman Perjanjian Lama Allah berbicara dengan umat-Nya melalui perantaraan nabi-nabi, tetapi kini Dia berbicara melalui Anak-Nya sendiri, jadi penyataan yang baru ini, penyataan yang disampaikan melalui Anak-Nya sendiri, penyataan ini mengatasi penyataan yang lama. Kenyataan ini akan diterapkan bagi kita mulai pada pasal 2:2 berikutnya. Tentu saja, Surat Ibrani disusun untuk mengubah dan meningkatkan kehidupan orang percaya. Dengan kata "dalam pelbagai cara” (1:1) si penulis bermaksud untuk menyatakan bahwa dahulu Firman Allah disampaikan melalui mimpi, visi, beban nabi, sejarah yang ditulis, berita dari malaikat, dsb. Tetapi bagaimana jika semuanya itu dibandingkan dengan penyataan Tuhan Yesus, Firman Allah yang hidup, dan pelajaran-Nya? Memang semua saluran penyataan tersebut mulia, tetapi tidaklah sebanding dengan penyataan Allah sendiri yaitu Firman yang Hidup, Yesus Kristus, Tuhan kita. Bagi kita yang bukan orang Yahudi hal ini tidaklah sulit untuk diterima, tetapi bagi mereka yang dibesarkan di dalam agama Yahudi, barangkali sangat berkeberatan. Orang Yahudi dididik untuk sangat menghargai dan menghormati Taurat Musa, tetapi ayat ini berkata bahwa semua itu tidaklah sebanding dengan penyataan yang disampaikan melalui Tuhan Yesus. Dalam bagian ini empat aspek dari kemuliaan Tuhan Yesus diuraikan:
- Ayat 1:2b ... Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai pewaris dari segala yang ada. Aspek yang pertama ini menunjukkan peranan Tuhan Yesus di masa depan. Bahwa Dia belum menerima "segala yang ada” jelas dari 2:8-9. Istilah "pewaris” di dalam bahasa aslinya adalah kleronomov/kleronomos. Memang seorang pewaris berhak menerima, maka LAI menerjemahkan istilah ini dengan kata "sebagai yang berhak menerima.” Mazmur 2, yang akan dikutip dalam 1:5, ada di balik pernyataan ini. Hal warisan dan pewaris akan dikembangkan nanti di dalam surat ini, dan keterlibatan kita akan diuraikan.
- Ayat 1:2c … Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Aspek yang kedua ini menunjuk pada peranan Tuhan Yesus pada masa lalu, di mana Dia dipakai Allah untuk menciptakan segala sesuatu yang ada.
- Ayat 1:3 … Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi. Aspek yang ketiga ini menunjuk pada peranan Tuhan Yesus pada masa sekarang. "Duduk” adalah kata kerja yang utama dalam kalimat ini, dan kata kerja ini menyatakan kuasa-Nya, yang tidak tertandingi. Sebagai "cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”. Dia menyatakan Allah kepada manusia. Sebagai yang "menopang segala yang ada dengan firman-Nya”: Dia berkuasa atas ciptaan Allah. Sebagai yang "mengadakan penyucian dosa”: Dia adalah yang menyelamatkan manusia. Dengan ini kita sudah mengerti bahwa penulis surat ini setuju bahwa manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya dengan perbuatan baik, tetapi manusia harus diselamatkan oleh Tuhan Yesus melalui menerima Dia sebagai Juruselamat.
- Ayat 1:4 Jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat. Aspek keempat yaitu kalau sebelumnya Dia dibandingkan dengan para nabi, di dalam nas ini Dia dibandingkan dengan para malaikat. Surat Galatia 3:19 mengatakan bahwa "hukum Taurat... disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara.” Jadi Perjanjian Lama itu adalah penyataan yang disampaikan melalui malaikat, sedangkan kita sudah membaca dalam 1:2 bahwa sekarang melalui Anak-Nya sendiri Allah sudah berbicara kepada kita. ... seperti nama yang diwariskan kepada-Nya jauh lebih indah ... Hal warisan-Nya dikemukakan lagi di sini, karena dalam bahasa aslinya nama yang indah itu "diwarisi” (kleronomew/kleronomeo) oleh Tuhan Yesus. Jadi pendahuluan ini diawali dan diakhiri dengan hal warisan-Nya yang sangat besar dan indah. Di dalam pendahuluan ini Tuhan Yesus dikontraskan dengan para nabi dan para malaikat. Kontras yang kedua itu dikembangkan di dalam ayat-ayat yang berikut.
Inti dari 1:1-4 adalah bahwa Anak Allah, yang akan memiliki segala sesuatu, yang menyatakan diri Allah, dan yang menebus dosa kita, adalah saluran penyataan yang utama, yang mengatasi segala nabi dan malaikat.
2. Yesus Kristus lebih tinggi daripada malaikat-malaikat (5-12)
Pokok pikiran yang telah diperkenalkan pada ayat 4 sebelumnya, yaitu pernyataan bahwa Kristus lebih tinggi daripada para malaikat. Dalam pemikiran Yahudi/Yudaisme, malaikat menempati tempat yang penting sekali sebagai pengantara pernyataan Allah kepada umat-Nya. Karena itu penulis Kitab Ibrani ini menunjukkan keunggulan Kristus di atas malaikat-malaikat, untuk mengukuhkan berita yang dibawa-Nya (bnd. Ibr 1:1-4). Penulis mengawali argumentasinya bahwa Dia adalah Anak Allah yang Rajani dengan menyatakan bahwa malaikat-malaikat pun harus menyembah Dia (1:6) karena memang Dia lebih tinggi dari segala malaikat (1:7). Berikut beberapa point yang mengukuhkan bahwa Yesus Kristus lebih tinggi dari malaikat-malaikat, antara lain:
a. Yesus Kristus Anak Allah yang Rajani ditetapkan sebagai Mesias yang dijanjikan (1:5). Sebagai kelompok malaikat memang disebut Anak Allah (bnd. Kej 6:2,4; Ayb 1:6;2:1; 38:7). Dengan mendasarkannya kepada Mazmur 2:7, penulis menunjukkan gelar Anak yang sejati adalah milik Mesias. “Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini” yang diambil dari Mazmur penobatan ini, mengaitkan gagasan ini dengan peristiwa yang dijelaskan dalam 1:3, bahwa posisi ini terkait dengan perjanjian Daud (2 Sam 7:14; 1 Taw 17:13) di dalam ayat 5b. Memang kepada penggenapan nubuat ini saja hak untuk meminta seluruh bumi sebagai taklukan akan dipenuhi (bnd. Mzm 2:8). Kalau begitu gelar Anak Allah adalah karya khas untuk Kristus.
b. Yesus Kristus Anak Allah yang Rajani akan Datang Kembali (1:6).
Mulai dalam ayat ini hak Illahi Anak mulai dijelaskan. Dengan demikian kelebihan Anak atas malaikat semakin nyata. Ungkapan “Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia” menubuatkan kedatangan-Nya kembali memerintah di bumi. Inilah saat semua malaikat harus menyembah, mengakui posisi Anak sebagai Raja.
c. Yesus Kristus Anak Allah yang Rajani Pemerintahan-Nya kekal (1:7-12)
Kekekalan pemerintahan Anak ini dikontraskan dengan kesementaraan malaikat. Mazmur 104:4 digunakan untuk melukiskan kesementaraan malaikat. Dalam melaksanakan tugasnya mereka dianggap sering menyatu dengan angin dan api, sebaliknya Anak, takhta-Nya kekal (ay 8). Kutipan yang dipilih diambilnya dari Mazmur 45:6-7. Penulis juga menyebutnya, sifat dasar pemerintahan Anak ditandai dengan kebenaran dan membenci kejahatan. Ciri ini dipakai untuk menunjukkan sifat ketaatan Kristus selagi Ia melayani di bumi (bnd. Ibr 3:1-2; 5:7,8; 7:26; 9:14). Atas dasar itu raja ini berhak untuk menikmati sukacita tertinggi dalam pemerintahan-Nya.(IB)
Diposting tanggal 19 Dec 2016
