Bahan Khotbah Minggu Ke-26 Tanggal 28 Juni 2020 BUAH KETAATAN Buanna Kamengkaolan
Bahan Khotbah Minggu Ke-26 Tanggal 28 Juni 2020
BUAH KETAATAN
Buanna Kamengkaolan
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 13:1-6 |
| Bacaan 1 | : Kejadian 22:1-14 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : Roma 6:15-23 |
| Bacaan 3 | : Matius 10:40-42 |
| Nas Persembahan | : Amsal 7:14 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Roma 6:22-23 |
Tujuan:
1. Jemaat meyakini bahwa Tuhanlah yang menyediakan segala kebutuhan hidup manusia.
2. Jemaat tetap hidup dalam ketaatan pada Tuhan dalam kondisi tersulit sekalipun.
Pemahaman Teks
Bahan Utama, yakni Kejadian 22:1-14 tampak sangat kaya untuk dilihat dari beragam sudut pandang. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Walter Lempp, kisah ini dapat disebut sebagai sebuah aitiologi, yakni kisah yang menjelaskan dan mengesahkan keberadaan sebuah tempat ibadat dan juga tata cara beribadat (Lempp, Kitab Kejadian 12:4 - 25:18, hlm. 267). Dalam hal ini, kisah di tanah Moria ini bisa dipahami sebagai pengesahan bagi keberadaan gunung Moria sebagai tempat Bait Allah didirikan oleh Raja Salomo, yakni di atas sebidang tanah pengirikan milik Ornan orang Yebus, yang sebelumnya telah dibeli oleh Raja Daud (2 Taw.3:1, 1 Taw.21:18-30). Selain pengesahan bagi tanah Moria, oleh Lempp kisah ini juga dipahami sebagai pengesahan bagi penghapusan ritual pengorbanan anak, yakni yang kemudian diganti dengan pengorbanan kambing/domba. Anak-anak sulung Israel memang tetap disebutkan sebagai kepunyaan Allah (Kel.22:29), namun anak-anak sulung tersebut haruslah ditebus (Kel.13:13, 15).
Namun selain sebagai aitiologi, kisah ini juga dapat dipahami dalam bingkai pengulangan atau perkembangan penyataan janji dan kehendak Allah yang sering sulit dipahami. Marthin Luther, tokoh reformasi mengemukakan, betapa kali ini Allah menguji Abraham, tidak dengan emas dan perak, atau kematian dan kehidupan, melainkan melalui sebuah kontradiksi atau pertentangan yang seolah terjadi dalam diri Allah sendiri (Lempp, hlm.283). Bagaimana harus mempertemukan janji Allah, ".... sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak (Kej.21:12), dengan perintah Allah yang mengatakan, "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu (Kej.22:2). Keduanya tampak bertentangan satu dengan lainnya.
Marten Luther, berdasarkan penjelasan surat Ibrani berpendapat, bahwa dalam iman yang luar biasa, Abraham tetap taat, sebab ia bisa melihat dua hal yang kontras dan bertentangan tersebut, sebagai sebuah hal yang tetap sejalan. Ishak memang akan mati karena pengorbanan itu, tetapi pada saat yang sama Ishak juga akan memiliki keturunan (bnd. Ibrani 11:17-19).
Tetap percaya pada Allah dalam kondisi yang sulit dimengerti sekalipun, sesungguhnya merupakan pesan utama dari kisah ini. Kita diminta percaya pada Allah yang tampak hadir dalam peristiwa-peristiwa yang seolah tampak bertolak belakang. Ia hadir mencobai di satu sisi, namun kemudian juga menjadi Allah yang menyediakan pada sisi yang lain. Brueggemann melihat gagasan ini terus terjadi dalam kehidupan umat Tuhan, yakni yang kemudian berpuncak pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (W. Brueggemann, Genesis, hlm. 194). Allah yang mengijinkan penderitaan dan kematian Yesus Kristus, ternyata pula menjadi Allah yang membangkitkan Yesus Kristus. Kebangkitan Kristus menjadi hal yang hanya bisa dialami melalui kematian Kristus. Kebangkitan adalah realitas yang hadir bergandengan bersama kematian. Demikian pula dengan segala ketersediaan dari Allah, yang hadir beriringan dengan ujian bagi Abraham.
Mazmur 13 yang juga menjadi bahan bacaan, cukup jelas memperlihatkan hal kontras yang demikian. Pada bagian awal sang pemazmur menyebutkan, bahwa Tuhan telah melupakannya. Namun di bagian akhir, ia ternyata tetap memuji dan mengandalkan Tuhan. Tuhan yang tampak melupakannya, ternyata juga menjadi Tuhan yang terus menolongnya. Itu sebabnya, pemazmur tidak kehilangan kepercayaannya pada Tuhan.
Jika bacaan utama ini dihubungkan dengan dua bacaan lainnya dalam perspektif tema Buah Ketaatan, maka terlihat sebuah korelasi yang cukup erat. Bacaan Roma 6:12-23 menegaskan, betapa setiap orang yang sudah dimerdekakan dari dosa, hendaknya hidup dalam ketaatan kepada kebenaran. Status mereka kini adalah hamba Allah dan bukan lagi hamba dosa, karena itu mereka hendaknya percaya sepenuhnya pada Allah yang telah memerdekakan mereka. Sebagai hamba Allah, hal penting yang diminta ialah ketaatan. Menjadi hamba adalah berarti hidup taat pada sang majikan: Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, ....” (Rm. 6:16)
Matius 10:40-42 merupakan rangkaian dari kisah pengutusan para murid. Jika pada bagian-bagian sebelumnya dijelaskan tentang tantangan yang akan dihadapi dan sikap hidup yang harus dijalani para murid, serta cara Allah memelihara para murid, maka bagian ini lebih banyak memberi penekanan pada keberadaan orang-orang yang menyambut utusan-utusan Tuhan. Menyambut utusan Tuhan ternyata merupakan penyambutan bagi Tuhan sendiri. Itu sebabnya, jemaat diminta untuk menyambut para utusan Tuhan dengan penuh keramahan. Sikap demikian, yakni yang merupakan wujud ketaatan, diyakini tidak akan sia-sia, sebab menyambut dan menerima para utusan Tuhan sesungguhnya akan menghasilkan buah yang terbaik.
Garis Besar Khotbah
Satu pertanyaan penting yang muncul dari bacaan Kejadian 22:1-14 ini, ialah mengapa TUHAN harus meminta agar Ishak harus dipersembahkan sebagai korban bakaran? Apa yang sesungguhnya Tuhan mau kita ketahui tentang diri-Nya, ketika justru yang paling penting dan berhargalah yang Tuhan minta dari umat-Nya? Atau apa yang Tuhan ingin lihat dan temukan dalam diri Abraham, ketika Ia meminta agar Ishak, dan bukannya domba atau lembu yang harus dipersembahkan sebagai korban bakaran? Bisa dibayangkan kesedihan Abraham saat mengantar Ishak menuju tempat pengorbanan. Kedua hamba yang menyertainya dimintanya tinggal, sehingga hanya ia bersama Ishak saja yang berjalan menuju tempat pengorbanan. Pada akhirnya, perjalanan menuju tempat pengorbanan, hanyalah merupakan perjalanan sang ayah dan sang anak saja.
Sekiranya Tuhan meminta kambing atau domba, tentu lebih wajar dipahami. Tapi meminta Ishak sebagai persembahan? Ini jelas sulit dimengerti Bagi Abraham dan Sara, sesungguhnya jelas: Ishak bukan sekedar seorang anak. Lebih dari itu, Ishak adalah wujud pemenuhan janji Tuhan. Setelah sekian puluh tahun hidup dalam penantian yang berkepanjangan, barulah pada umur seratus tahun Ishak diberikan Tuhan. Karena itu, ketika anak yang sudah dinantikan hingga puluhan tahun ini kemudian Tuhan minta seketika untuk diberikan sebagai persembahan, maka tidakkah ini membingungkan dan merisaukan? Apa yang sesungguhnya Tuhan inginkan? Belum lagi kalau mengingat janji Tuhan bagi Abraham: “Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak” (Kej.17:6). Ketika Ishak diminta untuk dipersembahkan, lalu bagaimana lagi janji Tuhan ini akan diwujudkan? Janji Tuhan untuk memiliki anak-cucu jelas menjadi terancam dan mustahil lagi dapat terpenuhi. Perintah Allah tampak bertentangan dengan rencana dan janji Allah sebelumnya. Ataukah Allah memang sudah berubah pikiran tentang janji Nya? Tidakkah lebih baik, jikalau kali ini Abraham tidak perlu menuruti perintah Tuhan, agar janji Tuhan kepadanya bisa tetap tergenapi?
Karena itu, hal penting yang harus dipahami, ialah mengapa Tuhan meminta Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran? Menarik memperhatikan perkataan Tuhan kepada Abraham ketika ia sedang bersiap-siap untuk mempersembahkan Ishak: Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." (ay.11-12). Maknanya jelas, Tuhan ingin menemukan sikap takut akan Allah dalam diri Abraham, yakni yang kemudian terwujud dalam sebuah ketaatan. Dalam hal ini, ketaatan melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah, sesungguhnya merupakan cerminan keyakinan bahwa Tuhan lah pemilik dan sumber segalanya.
Lebih dari itu, menarik untuk memperhatikan makna kata “takut” (dari kata Ibrani: yare, yang juga bisa berarti hormat), yang ternyata terkait erat dengan kata Ibrani: yireh, yang berarti menyediakan (Bnd. Kej. 22:14: Tuhan menyediakan dalam TB LAI atau Jehovah Jireh). Dalam hal ini, sikap takut akan Allah sesungguhnya merupakan rasa hormat kepada Tuhan yang lahir dari sebuah kesadaran, betapa semua yang Abraham miliki, termasuk Ishak, sesungguhnya merupakan anugerah pemberian Tuhan sepenuhnya. Itu sebabnya Abraham tak ragu untuk melaksakan perintah Tuhan, meskipun perintah tersebut tampak begitu berat untuk dilaksanakan.
Beroleh seorang anak saat umur Abraham sudah mencapai 100 tahun, jelas melampaui logika pemikiran manusia. Wajar kalau Sara tertawa saat mendengar janji Tuhan. Bisa dipahami, jika dalam keputus-asaannya Sara kemudian meminta Abraham agar menghampiri Hagar, hambanya, guna beroleh keturunan. Sehubungan dengan itu, kemudian tentu pula bisa dimengerti, mengapa Abraham harus menunggu penggenapan janji Tuhan sampai umur seratus tahun. Seperti pertanyaan seorang kawan: mengapa Ishak harus diberikan justru ketika organ-organ reproduksi Abraham dan Sara mungkin tidak cukup baik lagi untuk menjaminkan kehadiran seorang anak? Jawabnya jelas: agar setiap orang sepenuhnya sadar, betapa Ishak itu sepenuhnya anugerah Tuhan, pemberian Tuhan, disediakan oleh Tuhan. Sekiranya sang anak diberikan ketika Abraham masih muda, rasanya mungkin biasa saja, tidak begitu terlihat kebesaran dan kuasa Tuhan di sana. Tapi ketika Ishak dianugerahkan saat kondisi fisik Abraham dan Sara terasa tak mungkin lagi beroleh seorang anak, maka di sana terasa kuasa Tuhan yang luar biasa, kuasa yang membuat Abraham dan umat Tuhan sadar, bahwa semuanya toh adalah pemberian Tuhan.
Sehubungan dengan itu, terkait dengan hal ketaatan, menarik untuk kemudian direnungkan lebih mendalam: seberapa jauh kita sungguh yakin betapa segala sesuatu memang merupakan anugerah pemberian Tuhan? Hal ini penting, sebab terlalu sering terlihat betapa ada saja orang-orang yang cenderung melakukan apa saja, termasuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, demi memperoleh hal-hal yang diinginkan, seperti kedudukan, jabatan, kekayaan dan sebagainya. Materi dan jabatan terkadang menjadi hal yang lebih penting, ketimbang Tuhan sendiri. Tuhan tidak lagi diyakini sebagai sumber segala berkat yang dicari oleh manusia. Manusia lebih percaya pada diri sendiri, serta kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki, ketimbang percaya dan bergantung pada Tuhan sepenuhnya.
Abraham jelas telah memperlihatkan hal yang luar biasa. Ia tahu betul, Ishak adalah anugerah Tuhan. Karena itulah, meskipun tentu penuh dengan pergumulan, ia tetap mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan Tuhan. Dan bagi Tuhan sendiri, sikap Abraham jelas: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Kata tidak segan-segan (Ibrani: chasak berarti tidak menyembunyikan atau tidak menahan), jelas memperlihatkan sikap Abraham. Sikap Abraham jelas berbeda misalnya jika dibandingkan dengan sikap Ananias dan Safira, suami istri yang kompak untuk menahan sebagian hasil penjualan tanah mereka (Kis. 5:2). Sikap Abraham juga jelas berbeda dengan sikap orang muda yang kaya, yang batal mengikut Yesus karena hartanya yang banyak (Mat.19:22). Sebaliknya, Abraham mampu melihat dan menempatkan sepenuhnya, beragam bentuk pemberian Tuhan, pada tempat yang semestinya. Jabatan, kekayaan, kepintaran, atau apa pun, tidak merintangi kesetiaan Abraham pada Tuhan, apalagi sampai menggantikan posisi Tuhan dalam kehidupannya.
Sehubungan dengan tema Buah Ketaatan, menjadi menarik untuk memperhatikan bagaimana dampak dari ketaatan Abraham ini! Meskipun permintaan Tuhan sungguh amat sulit dimengerti, pada akhirnya jelas terlihat betapa umat Tuhan hendaknya tak perlu kuatir untuk hidup dalam kesetiaan pada Tuhan. Hidup Abraham jelas memperlihatkan hal tersebut. Ketaatannya pada perintah Tuhan tidak membawa dirinya dan keluarganya pada kebinasaan, sebab pada akhirnya Tuhanlah yang menyediakan apa yang dibutuhkan. Bukan Ishak yang dikorbankan, melainkan domba yang disediakan oleh Allah sendiri. Dalam hal ini jelas, betapa Tuhan tidak mungkin memerintahkan umat-Nya melakukan hal yang akan mencelakakan dirinya sendiri. Tuhan senantiasa punya maksud yang baik dalam setiap titahNya. PerintahNya terarah pada kehidupan dan bukan pada kebinasaan. Abraham tentu saja sudah belajar banyak dari perjalanannya bersama Tuhan. Berkali-kali Tuhan telah melakukan hal-hal yang melampaui akal dan pemikirannya demi mewujudkan janji Nya bagi Abraham.
Hal itu juga dikemukakan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma: Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal (Rm. 6:22). Buah dari keberadaan sebagai hamba Allah, ialah pengudusan yang kesudahannya ialah hidup kekal. Gagasan menjadi hamba Allah jelas memberi penekanan pada dua hal, yakni karya penebusan Allah dan juga ketaatan kita. Kita menjadi hamba Allah, kepunyaan Allah karena kita telah ditebus dan dimerdekakan dari kuasa dosa, yakni melalui pengorbanan Yesus Kristus. Karena itu, sebagai seorang hamba Allah, kita juga hanya akan melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah sang Pemilik hidup kita.
Diposting tanggal 26 Jun 2020
