Bahan Khotbah Minggu ke-35 Tanggal 1 September 2019 PERSAUDARAAN SEJATI (Pa’kaboro’ Matontongan)
Bahan Khotbah Minggu ke-35 Tanggal 1 September 2019
PERSAUDARAAN SEJATI
(Pa’kaboro’ Matontongan)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 112:1-10 |
| Bacaan 1 | : Yermia 2:1-13 |
| Bacaan 2 | : Ibrani 13:1-16 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | : Lukas 14:7-14 |
| Nas Persembahan | : Ibrani 13:15 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Ibrani 13:16 |
Tujuan:
1.Jemaat memahami bahwa mengutamakan kepentingan diri sendiri tidak dikehendaki Tuhan.
2.Jemaat memelihara dan mewujudkan kasih persaudaraan
Pemahaman Teks:
Mazmur 112:1-10 berisi penyampaian pemazmur kepada Tuhan tentang kebahagiaan orang yang menaati dan menghormati Allah. Orang yang menghormati Allah dan memperhatikan sesamanya pasti mendapat upah. Ia dapat bertahan terhadap goncangan hidup, merasa aman dan tidak takut. Pemazmur menggambarkan upah dalam bentuk materi, karena pada zamannya tidak terdapat konsep mengenai hidup setelah kematian (ay. 2-3), serta umat Allah yang mengalami kesukaran namun diberi perlengkapan untuk dapat menghadapinya (ay. 7-8).
Dalam Yeremia 2:1-13, Allah menyatakan umat-Nya bersalah karena mereka tidak setia kepada-Nya dan menyembah berhala. Mereka lebih suka meminta pertolongan kepada Mesir dan Asyur daripada kepada Allah (ay.18). Segala pelanggaran mereka dipaparkan di hadapan mereka dalam serangkaian gambaran yang sangat jelas. Mereka lebih suka air cemar milik mereka sendiri daripada sumber air segar yang dari Allah (ay. 13).
Dalam Lukas 14:1,7-14 Yesus menghadiri perjamuan makan. Para tamu dengan penuh hormat ditempatkan menurut tingkatan dan statusnya dalam masyarakat (seperti dalam perjamuan resmi zaman sekarang). Tetapi setiap orang ingin duduk di kursi pada ujung meja yang dianggap tempat terhormat. Tuhan Yesus memuji orang yang benar-benar rendah hati (ay.7-11). Kemurahan hati yang sesungguhnya tidak mencari pamrih (ay.12-14).
Dalam Ibrani 13:1-16 dikemukakan betapa Allah memperhatikan seluruh kehidupan kita, yakni tentang bagaimana kita memakai rumah kita, bagaimana kita menanggapi kebutuhan orang lain, bagaimana keadaan pernikahan kita, bagaimana menggunakan uang kita. Kita tumbuh menjadi kuat sebagai orang-orang Kristen bukan dengan melaksanakan berbagai peraturan agama, melainkan dengan menaati Allah. Orang-orang yang mengandalkan korban persembahan menurut agama Yahudi, tidak dapat menikmati keuntungan dari pengorbanan Kristus (yang telah memberikan diri-Nya menjadi kurban persembahan untuk menebus dosa). Ia mengajak kita untuk tidak malu mengakui Dia sebagai penanggung dosa kita (ay. 13). Ia juga menasihati kita untuk selalu berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban demikianlah yang berkenan kepada Allah (ay. 16).
Korelasi bacaan
Akhir surat Ibrani ini berisi berbagai nasihat. Nasihat untuk menjaga kasih persaudaraan dengan sesama yang dapat dinyatakan melalui tindakan nyata, yaitu peduli terhadap orang lain dalam artian tidak semata-mata untuk kepentingan diri sendiri. Hal ini pun ditekankan oleh Yesus dalam Lukas 14:1, 7-14, yakni untuk tidak mementingkan kehormatan diri sendiri, sebab sebagaimana yang dijelaskan dalam Yeremia 2:1-13, bahwa kehormatan yang sesungguhnya bersumber dari Tuhan sendiri. Sedangkan Mazmur 112:1-10 mempertegas kebahagiaan orang benar yang takut akan Tuhan
Pokok-pokok pengembangan khotbah
Surat kepada orang Ibrani ini adalah surat yang ditujukan secara khusus kepada orang Yahudi atau penganut agama Yahudi yang sudah Kristen. Oleh sebab itu, Kitab Ibrani membahas tentang Ibadah Yahudi (Israel). Namun tujuan dari Kitab Ibrani secara umum ditujukan kepada orang-orang Kristen tanpa mempedulikan latar belakang Yahudi atau bukan Yahudi yang hidup dalam berbagai bentuk pengajaran sehingga akan meninggalkan iman di dalam Yesus Kristus.
Kitab Ibrani juga menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Pencipta, Cahaya Kemuliaan Allah, Gambar dan wujud Allah, Penopang segala yang ada, Penebus dosa dan duduk di tempat tertinggi di sebelah kanan Yang Maha Besar (1:2-3). Dengan demikian, Yesus lebih tinggi daripada malaikat-malaikat dan juga lebih tinggi daripada Musa dan Harun. Yesus adalah Imam Besar Agung.
Dalam ayat sebelumnya (Ibrani 12:28-29) dikatakan, “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan”. Oleh Iman dalam Yesus Kristus kita menerima kerajaan Yang Tak Tergoncangkan sehingga kita datang beribadah kepada Allah dengan hati yang dikuasai oleh ucapan syukur dan dengan cara yang berkenan kepada-Nya.
Apakah cara yang dikenan oleh Allah? Ibrani 13:1 mengatakan, “Peliharalah Kasih persaudaraan”. Jadi, ini adalah sifat hati atau cara hidup orang Kristen, hidup yang dikenan oleh Allah, yaitu hidup dalam kasih persaudaraan, hidup dalam kebenaran (Mzm. 112), hidup dalam kerendahan hati (Luk. 14:7-11). Kasih persaudaraan bukanlah kasih antara saudara dengan saudara (keluarga) atau sesama orang Kristen saja, tetapi secara rohani kasih persaudaraan adalah bagi semua orang tanpa dibatasi oleh agama, bahasa, kedudukan dan berbagai perbedaan lainnya. Persaudaraan yang berdasar pada hubungan keluarga dan agama tidak dapat menjadi dasar untuk mendapatkan persaudaraan yang sejati. Orang yang hidup dalam persaudaraan yang sejati adalah orang yang hatinya dipenuhi oleh kasih.
Dalam Perjanjian Lama (Im. 19:18, 34), Allah memerintahkan kepada orang Israel untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri. Sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain, maka terlebih dahulu kita juga harus berbuat untuk orang lain. Jadi standar untuk mengasihi adalah diri sendiri. Kalau mau diperlakukan baik, maka berbuat baiklah kepada sesama. Kalau mau dihormati, maka hormatilah orang lain. Dalam Perjanjian Lama, standar mengasihi sesama adalah diri sendiri.
Yohanes 13:34 mengatakan “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Kalau umat pilihan (Israel) atau orang Yahudi diajarkan untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri berdasarkan hukum Taurat, maka Yesus Kristus mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk saling mengasihi sama seperti Yesus telah mengasihi. Jadi ada perubahan standar dalam mengasihi. Jika sebelumnya dalam perjanjian lama, mengasihi diri sendiri menjadi ukuran dalam mengasihi sesama, maka sekarang tidak lagi demikian. Yesus Kristus kini menjadi standar dalam mengasihi, sebab satu-satunya Pribadi yang mengasihi dengan sempurna adalah Yesus Kristus. Jadi, kasih yang sejati adalah mengasihi sesama seperti Yesus mengasihi kita. Kasih sejati adalah mengasihi sesama, seperti Kristus mengasihi manusia berdosa, yakni dengan cara mengorbankan diri-Nya sendiri demi keselamatan umat manusia.
Oleh sebab itu, surat Ibrani 13:1-16 lebih jauh mengingatkan agar umat Tuhan senantiasa bersedia memberi tumpangan (ay.2), mengingat orang-orang yang diperlakukan dengan sewenang-wenang, serta terus berbuat baik kepada orang lain.
Diposting tanggal 30 Aug 2019
