Bahan Khotbah Minggu ke-41 Tanggal 13 Oktober 2019 TUHAN SETIA MEMELIHARA UMAT-NYA (Makaritutu tu Puang ma’paraka lako taun-Na)
Bahan Khotbah Minggu ke-41 Tanggal 13 Oktober 2019
TUHAN SETIA MEMELIHARA UMAT-NYA
(Makaritutu tu Puang ma’paraka lako taun-Na)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 111:1-10 |
| Bacaan 1 | : Yeremia 29:1-14 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 2 Timotius 2:1-13 |
| Bacaan 3 | : Lukas 17:11-19 |
| Nas Persembahan | : Yesaya 1:13 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Mazmur 111:10 |
Tujuan:
1.Jemaat memahami bahwa Tuhan tetap setia memelihara kehidupan Umat-Nya.
2.Jemaat selalu mengandalkan pemeliharaan Allah dalam segala situasi dan keadaan.
Pemahaman teks
Mazmur 111:1-10 menguraikan perbuatan Allah yang penuh kuasa bersumber dari kasih setia-Nya yang kekal telah membangkitkan pujian dalam diri pemazmur. Awal hingga akhir dari mazmur ini adalah pujian syukur yang seluruhnya berawal dari karya dan kasih setia kekal Allah.
Dalam ayat 5 digambarkan tentang kisah pemeliharaan Allah selama pengembaraan di padang gurun menuju tanah perjanjian. Dari perenungan akan perbuatan-perbuatan Allah itu, pemazmur beroleh pengenalan lebih dalam tentang siapakah Allah sesungguhnya. Seluruh karya Allah itu tidak saja menunjukkan kemahakuasaan Allah, tetapi juga menampakkan kebenaran dan kemurahan Allah. Perbuatan Allah di masa lalu itu membuat pemazmur teguh beriman, bahwa karena Allah setia adanya (ay.7), maka seluruh rencana dan semua pekerjaan Allah akan berlangsung terus selamanya (ay. 8a). Hal itu menimbulkan pujian pemuliaan dari manusia sebagai ungkapan syukur atas perbuatan-perbuatan Allah yang penuh kasih. Karena itu meskipun pujian syukur memang berkenan di hati Allah, namun mesti ditegaskan pula bahwa Alkitab tidak pernah memandang pujian syukur sebagai hal yang mengandung nilai menghasilkan pahala. Pujian syukur semata dilandaskan atas karya dan sifat Allah yang setia dan penuh kasih, seperti sebuah lagu “Kunyanyikan kasih setia Tuhan selamanya”. Pujian syukur itu merupakan sikap dari meninggikan Allah sebagai wujud ketaatan kita. Dalam penilaian Allah, orang yang sungguh paham kebenaran dan memiliki pengertian untuk menilai dan bertindak benar adalah orang yang takut akan Allah.
Yeremia 29:1-14 merupakan bagian yang tidak terlepas dari nubuat nabi palsu, Hananya. Nubuatnya telah berdampak luas bahwa Babel segera akan tumbang dan orang Yehuda yang tersisa di Babel akan segera pulang. Ciri nabi palsu dalam hal ini, ialah menyatakan yang enak di telinga dan klop di hati. Untuk menangkal pengaruh nubuat palsu itu Yeremia kembali menyampaikan pesan yang benar-benar serasi dengan maksud Allah membuang mereka ke Babel. Pembuangan ke Babel itu final dan Yehuda akan diam di sana selama tujuh puluh tahun. Yeremia meyakinkan umat di pembuangan untuk menerima situasi mereka dengan percaya bahwa dalam hal itu ada rancangan damai sejahtera Allah untuk mereka dan bukan rancangan kecelakaan. Hanya dengan menerima hajaran Allah untuk membawa mereka kepada pertobatan, mereka dapat kembali merasakan tangan kasih dan penyertaan-Nya. Mereka akan mengalami pemulihan yang berasal dari Allah sendiri. Lewat penderitaan mereka, Allah ingin menyatakan kuasa dan kasih-Nya, serta berkat untuk bangsa lain.
Oleh karena rancangan Allah adalah untuk kesejahteraan mereka, maka mereka pun dipanggil untuk menjadi alat Allah menyejahterakan lingkungan mereka. Dengan kata lain, melalui pembuangan di Babel umat Tuhan dikembalikan kepada misi semula, yakni misi yang telah dicanangkan Tuhan sejak di kaki gunung Sinai (Kel. 19:5-6) yakni menjadi model bangsa yang kudus dan menjadi imam bagi bangsa-bangsa lain. Di Babel, umat pembuangan menjadi model bagi lingkungan mereka, yakni bagaimana beribadah dan hidup suci di hadapan Allah.
Dalam 2 Timotius 2:1-13 dijelaskan, bahwa penderitaan sedapat mungkin dihindari. Tetapi ketika Timotius mengalami penderitaan karena pemberitaan Injil, Paulus malah mendorongnya untuk menjadi kuat dan ikut menderita. Dasarnya adalah kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus (ay. 1). Paulus memberi tiga gambaran kepada Timotius tentang bagaimana menjadi kuat dalam penderitaan yaitu:
-
Seperti seorang prajurit yang baik berjuang dengan komitmen penuh kepada Yesus Kristus yang memilikinya (ay. 3-4).
-
Seperti seorang olahragawan yang bertanding sesuai aturan untuk memperoleh mahkota (ay. 2 dan 5).
-
Seperti seorang petani yang bekerja keras dan menikmati hasilnya (ay. 6).
Jadi berjuang, bertanding, dan bekerja keras merupakan tiga hal yang dinasihatkan Paulus kepada Timotius untuk dilakukan agar ia menjadi pelayan Tuhan yang kuat menghadapi penderitaan. Selain itu Paulus menegaskan bahwa dalam segala sesuatu yang dialami Timotius, Tuhan akan memberikan hikmat dan pengertian yang dibutuhkannya (ay. 7). Paulus sendiri adalah bukti nyata dari anugerah dan kekuatan Allah itu (ay. 8-10). Karena pemberitaan Injil yang diberitakannya Paulus telah mengalami banyak penderitaan. Namun dengan anugerah dan kekuatan Allah, ia sabar menanggung semua penderitaan itu. Pada bagian akhir dari perikop, Paulus menguatkan Timotius dengan janji kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berubah.
Dalam Lukas 17:11-19 diuraikan bahwa keselamatan kita adalah anugerah Allah (sola gratia). Karena itu dibutuhkan kesadaran sebagai respon syukur terhadap anugerah tersebut. Kesaksian apapun tentang hidup akan senantiasa menunjuk pada Allah saja. Dalam teks ini kita melihat siapa yang beriman dan diselamatkan, serta siapa yang tidak beriman. Sepuluh orang kusta sama-sama percaya, bahwa Yesus sanggup menyembuhkan dan keyakinan mereka semua sungguh besar. Hal itu nampak dari sikap mereka kepada perintah Tuhan Yesus dan mujizat pun terjadi. Dari kisah tersebut hanya satu orang yang kembali mengucap syukur yakni orang Samaria, sedangkan sembilan orang lainnya tidak kembali. Orang Samaria ini kembali karena dia tidak hanya merasakan dan mengalami jamahan kuasa Tuhan tetapi menyadari akan anugerah-Nya. Oleh karena itu ia kembali untuk mengucap syukur. Yesus menegaskan kepada orang itu bahwa imannya sudah menyelamatkannya (ay.19).
Lalu bagaimana dengan yang sembilan orang lainnya yang juga telah beroleh kesembuhan? Sikap yang tidak mau kembali bersyukur sesungguhnya memperlihatkan, betapa mereka hanya mementingkan kesembuhan dan bukan Tuhan yang memberikan kesembuhan. Mereka merasakan mujizat ilahi tetapi tidak merasakan jamahan anugerah ilahi. Sentuhan kasih ilahi tidak mereka sadari, oleh sebab itu respons mereka pun tidak ada. Orang yang telah mengalami sentuhan anugerah pasti penuh pengucapan syukur.
Korelasi untuk pengembangan khotbah
Kita mesti membangun keyakinan bahwa Allah kita dalam Yesus Kristus adalah Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dan tetap setia memelihara ciptaan-Nya itu (Providentia Dei). Oleh sebab itu warga jemaat hendaknya senantiasa mengandalkan Tuhan dalam kehidupannya. Pemeliharaan Allah itu merupakan wujud anugerah-Nya yang tak berkesudahan. Dan karena Allah adalah kasih dan sumber kasih maka Allah beranugerah. Karena Allah adalah kasih maka Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia dan setia memelihara ciptaan-Nya itu. Anugerah artinya segala sesuatu yang kita tidak berhak tetapi diberikan kepada kita.
Bagaimana kita merespon anugerah? Hanya dengan iman (sola fide). Kita diminta untuk selalu bersyukur dalam segala hal, karena semua hanya anugerah. Hidup beriman menunjuk pada sikap yang senantiasa mau bersyukur dan memuliakan Allah sebagai Sang Sumber kehidupan. Allah punya rencana dengan ciptaan-Nya,sehingga kita diciptakan untuk memuliakan dan mencerminkan Dia. Kita terpanggil untuk memuliakan Dia dan menyaksikan Dia di manapun kita berada.
Diposting tanggal 07 Oct 2019
