Bahan Khotbah Minggu ke-26, Tanggal 1 Juli 2018 KEPEDULIAN ALLAH (KamamaseanNa Puang Matua)
Bahan Khotbah Minggu ke-26 Tanggal 1 Juli 2018
KEPEDULIAN ALLAH
(KamamaseanNa Puang Matua)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 30:9-13 |
| Bacaan 1 | : Ratapan 3:22-33 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 2 Korintus 8:7-15 |
| Bacaan 3 | : Markus 5:21-43 |
| Nas Persembahan | : 2 Korintus 8:14-15 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Markus 5:36 |
Tujuan :
- Jemaat memahami bahwa dalam penderitaan, Allah tetap setia dan peduli.
- Jemaat menyatakan kepedulian kepada orang yang menderita.
Pemahaman Teks
Mazmur 30:9-13, lewat Mazmur ini Daud menceritakan dan mengungkapkan pujian kepada Allah karena perubahan-perubahan yang dia alami di dalam kehidupannya. Daud mengimani bahwa perubahan-perubahan itu terjadi semata-semata karena Tuhan peduli kepadanya. Salah satu kepedulian Allah yang dirasakan oleh Daud ialah ketika Allah mengubah tangisan atau ratapannya menjadi sukacita (ayat 12). Daud merasakan pergumulan yang sangat berat, sehingga ia memohon untuk dikasihani. Tuhan peduli dengan keadaan Daud dan Allah mengubah ratapnya menjadi sukacita.
Ratapan 3:22-33 Penulis Kitab Ratapan (Yeremia) melihat dan merasakan bagaimana kasih Allah yang luar biasa dalam penderitaan umat manusia, yakni yang tetap menyayangi dan peduli. Allah memang menjatuhkan hukuman atas dosa-dosa umat-Nya dan hukuman itu mendatangkan kesengsaraan, tetapi itu bukan berarti Allah tidak peduli lagi. Selalu ada pengharapan bahwa Allah akan bertindak memulihkan keadaan umat-Nya. Hukuman dari Allah memang membawa penderitaan bagi umat, tetapi dari hal itu umat dapat menarik pelajaran berharga karena Allah tidak sekedar menimpakan kesengsaraan. Tetapi dalam penderitaan itu umat mesti melihat bahwa selalu ada pengharapan dimana Allah akan memulihkan keadaan umat-Nya jikalau mereka kembali ke jalan yang dikehendaki Allah.
2 Korintus 8:7-15 Paulus mendorong agar Jemaat Korintus mau peduli dengan keadaan sesama pengikut Yesus di tempat lain dengan cara mengumpulkan persembahan. Paulus sudah merasakan bagaimana kepedulian orang-orang Kristen di Korintus selama ini, hal ini mendorong Paulus untuk menasehati dan mengajarkan agar orang-orang di Jemaat Korintus agar tergerak membantu pelayanan di tempat lain utamanya di Yerusalem yang sangat membutuhkan bantuan saat itu.
Markus 5:21-43, Yesus tidak hanya mengajarkan tentang kepedulian atau kepekaan terhadap keadaan orang yang menderita tetapi juga meneladankan lewat tindakan nyata. Tindakan Yesus yang membangkitan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan, adalah bentuk kepedulian yang konkrit dan tuntas. Kepeduliaan seperti ini mestinya terus hidup dalam jemaat lewat berbagai cara dan kesempatan.
Korelasi antar bacaan di atas ialah: Allah sanggup mengubah keadaan umat yang menderita menjadi sukacita. Itu adalah tanda bahwa Allah peduli dengan mereka yang mengalami penderitaan dan bersedia menolong mereka (tindakan Allah yang nyata). Tindakan Allah yang mau menolong yang menderita mestinya menjadi teladan bagi kita untuk peka dan mau menolong mereka yang mengalami penderitaan.
Pokok Pikiran yang Dapat Dikembangkan
Allah peduli kepada umat-Nya yang menderita. Kesaksian Kitab Ratapan merupakan sebuah kepiluan yang luar biasa atas penderitaan yang dialami oleh bangsa Israel. Yerusalem adalah pusat peribadahan bagi umat Allah, sedangkan Bait Suci sebagai simbol kehadiran Allah di tengah-tengah umat, telah dirampok bahkan dihancurkan oleh musuh-musuh bangsa Israel, sehingga yang terlihat hanyalah ratapan dan penderitaan yang amat sangat. Namun bait-bait puisi yang dikumandangkan oleh umat saat itu, tidak hanya mendaraskan soal penderitaan mereka, tetapi juga menggali makna yang terkandung lewat tragedi yang mereka alami saat itu, bahwa penderitaan terkadang mengungkapkan kehendak Allah yang sesungguhnya. Allah menghukum bangsa Israel karena dosa-dosa dan pemberontakan mereka, namun Allah tetap mengasihi dan peduli kepada mereka.
Yeremia meyakini bahwa penderitaan yang umat alami tidak akan berlangsung selama-lamanya (ayat 31-33). Selalu ada pengharapan bahwa Allah tetap peduli dengan keadaan dan situasi umat yang mengalami penderitaan. Satu hal yang mesti diingat oleh umat ialah mereka harus bertobat dan benar-benar mengandalkan Tuhan dalam menghadapi situasi penderitaan mereka.
Kepeduliaan Allah juga dirasakan dan dinikmati oleh Daud dalam Mazmur 30:9-13, bahwa sekalipun menderita, Daud tetap merasakan pertolongan Tuhan. Hal yang sama dialami oleh Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan (Markus 5:21-43). Yairus yang berharap akan kesembuhan anak perempuannya, mendorongnya untuk datang kepada Yesus. Tetapi apa daya, dalam perjalanan kembali ke rumah bersama dengan Yesus, berita duka justru mendatangi mereka. Yairus tidak berputus asa karena selanjutnya Yesus memberikan penguatan dengan memperlihatkan bagaimana anak yang dikasihinya bangkit dari kematian.
Hal yang sama juga dialami oleh perempuan yang sakit pendarahan selama 12 tahun. Ini jelas bukan waktu yang singkat. Secara fisik dan psikis perempuan ini mengalami penderitaan yang luar biasa. Tetapi imannya justru tumbuh ketika berjumpa dengan Yesus sehingga dia sembuh secara luar biasa. Itu artinya, janganlah penderitaan membuat kita terus meratap dan menangisi situasi yang terjadi, tetapi tetaplah yakin bahwa Allah peduli dengan keberadaan kita, hanya saja apakah kita memiliki iman kepada Allah ketika kita dalam penderitaan ataukah iman kita terhalangi oleh penderitaan kita sendiri.
Kepedulian Allah terhadap umat yang menderita menjadi teladan bagi gereja. Dalam Pengakuan Iman Gereja Toraja Bab IV butir 3 dituliskan bahwa “Di dalam kehidupan dan pekerjaan Yesus Kristus, Kerajaan Allah telah hadir di antara manusia yang tanda-tandanya ialah, antara lain: penyembuhan orang sakit, pembangkitan orang mati, pengusiran setan-setan dan pemberitaan Kabar Baik”. Yesus Kristus di dalam kehidupan dan pekerjaan-Nya telah memberikan contoh konkrit akan makna kepedulian sebagai wujud nyata menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia ini. Hal yang sama menjadi tugas dan panggilan gereja dalam kehidupan dan pekerjaannya di dunia ini. Gereja seharusnya memaknai kehadirannya di dunia ini dengan meneladani apa yang sudah Yesus Kristus teladankan. Gereja yang hadir di dunia ini mestinya adalah gereja yang peduli. Peduli terhadap kenyataan-kenyataan yang ada di sekitarnya dengan mengambil peran menolong orang yang menderita.
Sekarang ini, kehidupan yang mementingkan diri atau kelompok semakin merambat. Gereja hendaknya terus menyadari bahwa keadaan seperti ini merupakan sebuah kesempatan untuk terus menyatakan kepedulian kepada sesama tanpa memandang agama, suku dan ras.
Kepedulian Allah menembus batas-batas yang sering dibangun oleh manusia. Allah menyatakan kepedulian-Nya kepada Daud yang pernah melakukan dosa zinah. Yesus Kristus pun peduli dengan Yairus seorang kepala rumah ibadat orang Yahudi serta peduli dengan perempuan yang sudah dua belas tahun sakit dan telah miskin karena menghabiskan hartanya demi memperoleh kesembuhan. Yesus menyatakan kepedulian-Nya kepada mereka yang disingkirkan karena penyakitnya (orang kusta), mereka yang disingkirkan dari pergaulan karena pekerjaan-Nya (Pemungut cukai). Semua ini hal ini adalah bukti bahwa Allah sungguh peduli dengan penderitaan umat-Nya. Karena itu sebagai Gereja yang hidup sekarang kini, marilah kita menyatakan kepedulian kita.
Diposting tanggal 28 Jun 2018
