Bahan Khotbah Minggu ke-2 Tanggal 13 Januari 2019 ENGKAULAH ANAK-KU YANG KUKASIHI, KEPADAMULAH AKU BERKENAN (Kamumo Anak Pa'kaboro'Ku; dio dukamo Kalemi nanii kasendeang-Ku)
Bahan Khotbah Minggu ke-2 Tanggal 13 Januari 2019
ENGKAULAH ANAK-KU YANG KUKASIHI,
KEPADAMULAH AKU BERKENAN
(Kamumo Anak Pa'kaboro'Ku; dio dukamo Kalemi nanii kasendeang-Ku)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 29:1-11 |
| Bacaan 1 | : Yesaya 43:1-7 |
| Bacaan 2 | : Kisah Para Rasul 8:14-17 |
| Bacaan 3 | : Lukas 3:15-22 (Bahan Utama) |
| Nas Persembahan | : Amsal 11:24-25 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Yesaya 43:1 |
Tujuan:
1.Jemaat meyakini dengan sungguh bahwa Yesus Kristus adalah Mesias Anak Allah.
2.Jemaat hidup dalam iman yang sungguh kepada Yesus, Anak Allah yang hidup.
Pemahaman Teks
-
Peristiwa yang terjadi di sekitar baptisan Yesus Kristus pada dasarnya merupakan bukti dari pernyataan Yohanes Pembaptis tentang diri Yesus Kristus yang luar biasa. Yohanes Pembaptis yang begitu hebat dalam pandangan orang-orang Yahudi pada masa itu, bahkan hingga dipandang sebagai mesias, ternyata melihat dirinya tak punya nilai apa-apa jika dibandingkan dengan Yesus Kristus, Mesias yang sesungguhnya. Kepada orang banyak, ia berkata "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api" (Luk. 3:16). Jadi jika Yohanes Pembaptis yang demikian hebat bisa berkata demikian, bisa dibayangkan bagaimana luar biasanya Yesus dalam pengenalan Yohanes Pembaptis.
-
Peristiwa baptisan Yesus sendiri memiliki makna yang penting, yakni merupakan peristiwa yang sejak dari awal memang telah menegaskan hal ke-Mesias-an Yesus, yakni sebagai Mesias yang menderita. Pertanyaan mendasar yang penting ialah, mengapa Yesus harus dibaptis? Bukankah baptisan Yohanes adalah baptisan orang yang bertobat (bnd. Kis. 19:4)? Yesus sendiri tidak berdosa, jadi tak mungkin Ia dibaptis sebagai tanda pertobatan. Karena itu, baptisan Yesus sesungguhnya memiliki makna solidaritas Allah dengan manusia yang berdosa. Saat Yesus dibaptis, Ia hadir berdiri dalam barisan orang-orang berdosa yang juga akan dibaptis. Karena itu baptisan Yesus sesungguhnya menjelaskan bagaimana Yesus sejak awal memang menempatkan diri-Nya pada posisi orang yang berdosa dan menjalani keberadaan yang demikian dengan setia hingga mati di kayu salib. Dalam peristiwa kematian-Nya pun, tampak begitu jelas pesan tentang kehadiran Yesus sebagai Mesias yang menderita. Yesus tidak hanya mati dengan jalan salib, jalan kematian orang yang amat berdosa dan terkutuk, melainkan juga mati tersalib di antara kedua penjahat.
-
Keberadaan Yesus sebagai Mesias yang harus menderita, selain dijelaskan melalui peristiwa Baptisan Yohanes atas diri-Nya, juga ditegaskan melalui kehadiran Roh Kudus yang turun atas diri-Nya, serta terdengarnya suara Bapa dari sorga. Dengan kata lain, turunnya Roh Kudus dan hadirnya suara Bapa dari sorga merupakan sebuah legitimasi yang begitu nyata atas diri Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang harus menderita. Hadirnya Roh Kudus dalam rupa burung merpati juga hendak menegaskan, betapa hadirnya Allah itu memang bukanlah sekedar sebuah ilusi semata, melainkan betul-betul nyata dan dapat disaksikan oleh manusia. Dalam bahasa yang sedikit berbeda, Injil Yohanes menjelaskan makna peristiwa tersebut lebih jauh. Dalam Yohanes 1:33-34 dikemukakan ucapan Yohanes Pembaptis, "Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah!” Kehadiran Roh Kudus lebih jauh menjelaskan bagaimana Allah hadir menyertai seluruh karya Yesus Kristus di tengah umat manusia.
-
Kehadiran Roh Kudus juga kemudian berlanjut dalam pekerjaan murid-murid Yesus, yakni para rasul di kemudian hari. Para Rasul tidak bekerja dengan kekuatan dan kemauan mereka sendiri, melainkan dipanggil, diutus, bahkan terus disertai oleh Allah sendiri. Bacaan kedua, yakni Kisah Para Rasul 8:14-17, menjelaskan hal tersebut. Saat Petrus dan Yohanes berdoa agar orang-orang Samaria dapat beroleh Roh Kudus, Roh Kudus pun turun atas orang-orang di Samaria.
-
Inti Yesaya 43:1-7 hendak menegaskan tentang keberadaan Tuhan sebagai Penebus dan Juruselamat umat-Nya. Oleh sebab itu, janji karya penebusan Allah bagi umat-Nya seharusnya membuat umat Tuhan tak lagi takut menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan. Perjalanan melalui air, sungai bahkan api sekalipun merupakan perjalanan yang akan terus dipimpin oleh Tuhan. Kehadiran Yesus Kristus sendiri kemudian hendaknya dipahami sebagai penggenapan dari janji penebusan dan penyelamatan Allah bagi umat-Nya.
Pokok-pokok pengembangan khotbah
-
Identitas dan keberadaan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, memang telah menjadi pokok utama perdebatan sedari awal, baik di masa pelayanan Yesus sendiri maupun di masa kehidupan gereja mula-mula. Dalam kitab-kitab Injil ada begitu banyak peristiwa yang menceritakan hal tersebut. Misalkan saja, sesaat setelah Yesus dibaptis dan diproklamasikan sebagai Anak Allah, iblis langsung datang mencobai-Nya dengan pernyataan, “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti” (Luk. 4:3). Selain godaan untuk mengubah batu menjadi roti guna mengatasi rasa lapar saat itu, perkataan Iblis juga sesungguhnya merupakan godaan bagi Yesus untuk membuktikan diri-Nya sebagai Anak Allah dengan jalan yang dikehendaki oleh iblis, yakni membuat mujizat dengan cara mengubah batu menjadi roti. Demikian pula dengan kisah pengakuan Petrus tentang Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, yang memang dikisahkan dalam ketiga Injil Sinoptik (Luk. 9:18-21, Mat. 16:13-20 dan Mrk. 8:27-30). Yesus pada akhirnya ternyata juga mengajukan pertanyaan kepada para murid, tentang siapa Dia menurut mereka. Lebih jauh lagi Injil Yohanes bahkan secara begitu jelas menuliskan bahwa “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias Anak Allah…” (Yoh. 20:31).
-
Salah satu hal penting yang seringkali memunculkan penolakan terhadap keberadaan Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup, ialah terkait dengan penderitaan dan kematian yang harus dialami Yesus. Jalan salib yang telah ditetapkan Allah, menjadi jalan penyelamatan umat manusia, telah menjadi penghalang bagi banyak orang untuk percaya pada Yesus sebagai Anak Allah. Tak heran jika kepada jemaat di Korintus Paulus pernah menyampaikan, bahwa jalan salib itu merupakan sebuah batu sandungan bagi orang-orang Yahudi dan sebuah kebodohan bagi orang-orang bukan Yahudi (1 Kor. 1:23).
-
Kisah pembaptisan Yesus Kristus merupakan satu peristiwa penting yang menjelaskan identitas Yesus sebagai Mesias, Anak Allah yang memang harus menempuh jalan penderitaan. Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada bagian pemahaman teks, jalan salib dan penderitaan bukanlah sebuah bentuk ketidakberdayaan Allah. Sebaliknya, ini adalah bentuk kasih dan solidaritas Allah yang begitu besar atas diri umat manusia.
-
Dengan mulut kita mengaku bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah yang hidup. Yang kemudian menjadi perenungan lebih jauh ialah, seberapa jauh kita sungguh hidup dalam pengharapan yang besar pada Yesus Kristus sebagai Tuhan kita? Hal ini penting, sebab beragam persoalan kehidupan yang ditemui seringkali membuat banyak orang, seperti halnya pula para murid, yang kehilangan imannya pada Tuhan Yesus. Misalkan saja, saat para murid diberi tanggung jawab untuk memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan yang ada pada mereka, mereka justru ragu. Tentu ironis, sebab selain Yesus yang memberikan perintah, Ia pun hadir saat itu di tengah-tengah mereka (Luk. 9:10-17). Oleh sebab itu, percaya kepada Yesus sebagai Mesias Anak Allah, seharusnya dapat diwujudkan melalui kehidupan yang sungguh penuh dengan pengharapan.
Diposting tanggal 10 Jan 2019
