Selasa 27 Maret 2018 Filipi 2:1-11 GODAAN TERBESAR
Selasa, 27 Maret 2018 Filipi 2:1-11
GODAAN TERBESAR
“E anak, parallu mutandai, kumua ia dikka’ te to mate, ambe’mu, kenna la torro lan te tondok na iari tu ambe’ki tu ussuakan mantaya sia umpana’ta’I te mai sara’….” Demikian pengalaman seorang kawan sekerja menghadapi godaan yang cenderung mendapat tekanan dari ambe’ tondok terkait dengan sara’ pa’kaburusan ayahnya. Ambe’ tondok dan para petulakna (para pelaksana adat) mau supaya jenazah yang di bawa dari luar Toraja itu disemayamkan semalam dulu di tongkonan baru dikuburkan, tetapi anak-anak almarhum yang tahu apa maksud dibalik perkataan itu dan telah mengikatkan diri mereka kepada Kristus dan telah sepakat untuk langsung menguburkan jenazah ayah mereka. Dasar mereka adalah iman kepada Kristus yang telah mati dan bangkit (lih.Ef.2:8,9; I Tes.4:14). Pada akhirnya anak-anak almarhum tidak tergoda.
Bacaan ini meneladankan dan menegaskan kepada kita cara hidup benar yang seharusnya disaksikan oleh setiap orang percaya sebagai hamba Allah. Yesus dalam rupa Allah tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah, tetapi telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba menjadi sama dengan manusia dalam status sosial terendah sampai menempati tempat kematian terkutuk, yakni salib karena ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya (ay 5 – 8)
Ada banyak godaan yang dapat mengalihkan diri kita dari ketaatan kepada Allah. Godaan terbesar bagi orang Kristen Toraja adalah mempertahankan status sosial sebagai tana’ bulaan (bangsawan tinggi) dan tana’ bassi (anak bangsawan). Godaan ini seringkali berimplikasi pada cara hidup yang menyimpang dari cara hidup Kristus. Karena itu, waspadah dengan selalu melihat kepada Tuhan Yesus dan berakarlah di dalam Dia. Sebab godaan terbesar seringkali muncul dalam bentuk passede (pengakuan & sanjungan).
Diposting tanggal 26 Mar 2018
