"MENGASUH DAN MERAWAT SEPERTI IBU”
“MENGASUH DAN MERAWAT SEPERTI IBU”
(Band. 1 Tesalonika 2:7)
Inilah tema PERTEMUAN RAYA (PRAYA) II
PERSEKUTUAN KAUM BAPA GEREJA TORAJA yang rencananya akan dilkasanakan di Ulusalu, Tana Toraja pada tanggal 25-31 Oktober 2020
Adapun sub Tema:
Potensi Kaum Bapa Gereja Toraja berdaya guna secara optimal
bagi pembangunan Gereja Toraja
Latar Belakang
Persekutuan Kaum Bapa Gereja Toraja Gereja Toraja (PKB-GT) berdiri pada tanggal 31 Oktober 2008, bertepatan dengan hari Reformasi yang ke-491. PKB-GT lahir atas dasar kebutuhan kaum bapa untuk bersekutu dalam rangka mewujudkan hakikat Gereja Toraja dalam Tata Gereja Toraja ps. 2 butir 1, bahwa Gereja Toraja adalah PERSEKUTUAN ORANG-ORANG YANG PERCAYA KEPADA TUHAN YESUS KRISTUS. Karena itu salah satu OIG dalam Gereja Toraja ini diberi nama Persekutuan Kaum Bapa Gereja Toraja yang disingkat PKB-GT. Persekutuan ini diyakini sebagai persekutuan yang dibentuk oleh Allah Bapa sendiri dalam nama Tuhan Yesus kristus oleh kuasa Roh Kudus. Persekutuan ini hadir untuk kesaksian dan pelayanan. Bersekutu untuk bersaksi dan melayani (TGT ps. 6). Persekutuan Kaum Bapa ini hadir dalam seluruh lingkup pelayanan dan kesaksian Gereja Toraja sebagai salah satu perwujudan Imamat Am orang percaya (TGT ps. 65).
Ada pun Pertemuan Raya PKB-GT merupakan salah satu wujud Persekutuan pada lingkup sinode dalam rangka kesaksian dan pelayanan. Persekutuan ini sudah disepakati dilaksanakan sekali dalam 5 tahun sebagai sarana BERSEKUTU, BERSAKSI DAN MELAYANI pada lingkup sinodal.
Landasan Ekklesiologis-Biblis
PKB-GT atau Persekutuan Kaum Bapa Gereja Toraja merupakan salah satu Organisasi Intra Gerejawi (OIG) di samping PWGT, PPGT, dan SMGT. Dalam Tata Gereja Toraja pasal 29 dijelaskan bahwa Gereja Toraja mengenal dua jabatan gerejawi yakni Imamat Am dan Imamat Khusus. Dalam Tata Gereja sebelumnya tidak jelas wujud dari Imamat Am itu. Hanya Imamat Khusus yang mewujud dengan Pendeta, penatua dan Diaken. Dalam Tata Gereja Toraja yang baru pasal 65 dirumuskan bahwa OIG adalah perwujudan Imamat Am orang percaya. Karena itu PKBGT merupakan bagian tak terpisahkan (bagian integral) dari Gereja Toraja itu sendiri.
Pasal 1
Nama
Nama gereja ini adalah
Gereja Toraja
Pasal 2
Hakikat dan Wujud
1. Gereja Toraja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2. Gereja Toraja adalah penyataan dari gereja yang esa,kudus, am dan rasuli
3. Gereja Toraja mewujud dalam gereja setempat yang disebut jemaat.
Gereja adalah umat Allah, Tubuh Kristus, Keluarga Allah
Karena Gereja Toraja adalah salah satu dari penyataan gereja yang esa, kudus, am dan rasuli maka salah satu pemahaman tentang gereja yang penting adalah pemahaman gereja sepanjang abad sebagaimana dirumuskan oleh Cyprianus pada abad ke-3 yang mengatakan “Tidak mungkin orang mempunyai Allah sebagai Bapa kalau tidak juga mempunyai
Gereja sebagai Ibu”. Kemudian hari Calvin, tokoh reformator kedua sesudah Luther menambahkan bahwa Gereja bukan hanya IBU, melainkan juga SEKOLAH. Gereja kelihatan sebagai “ibu” dan “sekolah” maksudnya:
1. “IBU” yang mengandung , melahirkan melalui Firman Allah, serta memelihara, menguatkan, dan memimpin menuju kehidupan yang sempurna.
2. “Sekolah”; mendidik murid-murid untuk memelajari kehidupan yang kudus dan sempurna.
Setiap persidangan gerejawi Gereja Toraja merupakan wahana untuk evaluasi sejauhmana Gereja Toraja semakin mewujudkan hakikatnya sekaligus membuat program untuk semakin mewujudkan hakikatnya sebagai Gereja. Untuk maksud tersebut dibuatlah tema dan subtema serta visi-misi strategis 5 tahunan dan Pokok-Pokok Tugas Panggilam Gereja Toraja. Pada Sidang Sinode ke-24 yang lalu, dan yang masih kita jalani, mengambil tema “Berakar dalam Kristus, Berbuah Banyak dalam Dunia”. Dari tema ini lahirlah Visi Strategis Gereja Toraja Tahun 2016-2021, yaitu “Potensi Gereja Toraja berdayaguna secara optimal bagi pembangunan Tubuh Kristus ; disingkat : GEREJA TORAJA BERDAYA OPTIMAL. Potensi Gereja Toraja meliputi : “teologi, daya dan dana”. Misi Strategisnya:
1. Mengembangkan dan mengakarkan konsep2 teologi kontekstual
2. Mengembangkan kapasitas SDM & penatalayanan kelembagaan
3. Meningkatkan diversitas, intensitas dan kualitas partisipasi GT dlm upaya penanggulangan aneka persoalan kehidupan bergereja, bermasyarakat dan berbangsa.
POKOK-POKOK TUGAS PANGGILAN GEREJA TORAJA 2016-2021
- Penggalian dan pengakaran pokok-pokok iman kristen yang kontekstual;
- Pengembangan kapasitas para pelayan dan kapasitas penatalayanan kelembagaan
- Peningkatan peran & fungsi gereja dlm transformasi sosial budaya
- Peningkatan partisipasi gereja dalam pengelolaan sumber-sumber ekonomi masyarakat
- Peningkatan akuntabilitas gereja dalam bidang politik dan hukum
- Peningkatan kepedulian dan tindakan nyata gereja dalam pemeliharaan keutuhan ciptaan
- Optimalisasi pemanfaatan TIK dlm pelayanan gerejawi & pendampingan warga gereja pengguna TIK
Secara ekklesiologis (pemahaman tentang Gereja), PKB-GT merupakan salah satu OIG yang bersifat kategorial untuk mengembangkan dan mendayagunakan anggota jemaat sebagai PERWUJUDAN TUGAS IMAMAT AM ORANG PERCAYA dalam rangka pembangunan Tubuh Kristus (Lihat TGT ps. 29 dan 65). Itu berarti PKB-GT merupakan bagian integral dari Gereja Toraja yang terpanggil untuk mewujudkan hakikat Gereja secara umum dan Gereja Toraja secara khusus. Karena itu disebut PERSEKUTUAN, Persekutuan Kaum Bapa Gereja Toraja, karena secara hakikat, Gereja Toraja adalah PERSEKUTUAN ORANG-ORANG YANG PERCAYA KEPADA TUHAN YESUS KRISTUS.
Fokus pada mewujudkan Gereja sebagai Ibu dan sekolah, sebagai keluarga Allah, sebagai Persekutuan yang bersaksi dan melayani. Untuk itu Pertemuan Raya ini diberi tema, MENGASUH DAN MERAWAT SEPERTI IBU (Band. 1 Tesalonika 2:7), dan sub tema, POTENSI KAUM BAPA GEREJA TORAJA BERDAYA GUNA SECARA OPTIMAL BAGI PEMBANGUNAN GEREJA TORAJA.
Pemahaman Tema
Tema MENGASUH DAN MERAWAT SEPERTI IBU diambil dari 1 Tesalonika 2:7 yang dalam terjemahan baru tertulis, “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya”. Ayat ini tentulah mesti dipahami dalam kesatuan dengan teks perikop maupun keseluruhan kitab 1 Tesalonika, bahkan dalam keseluruhan Alkitab tentang KASIH ALLAH, bahwa Allah adalah kasih dan sumber kasih. Ayat ini kalau dibandingkan dengan terjemahan lama dan bahasa Toraja, ada perbedaan yang perlu diperhatikan. Dalam terjemahan baru bahasa Indonesia, “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya”. Sementara terjemahan lama, “Sungguhpun ada kuasa kepada kami menunjukkan kemuliaan kami sebab kami menjadi rasul-rasul Kristus, tetapi kami lemah lembut di antara kamu seperti seorang ibu mengasuh anak-anaknya sendiri”. Bahasa Toraja masih mempergunakan terjemahan lama ini, “Moi anna den kuasangki untuntun kadipangkeran, belanna rasulu’Nakan Kristus, apa masokankan misisolan butung indo’ undaranai anakna”.
Dalam konteks kitab 1 Tesalonika secara keseluruhan, Paulus berusaha menjaga hubungan ganda dengan orang-orang yang sudah ia menangkan lalu menjadi sebuah jemaat. Bahwa di hadapan Allah, mereka itu, yakni warga jemaat Tesalonika, mereka semua adalah saudara seiman (lihat ps. 1:4; ps. 2:1); sekalipun demikian mereka itu adalah anak-anaknya (2:11) yang telah dibawanya memasuki hidup beriman dan yang untuk pemeliharaan mereka ia bertanggung jawab. Padahal dalam poisisnya sebagai Rasul maupun sebagai bapa untuk anak-anaknya Paulus punya kuasa untuk bertindak dengan kuasa itu: “Sungguhpun ada kuasa kepada kami menunjukkan kemuliaan kami sebab kami menjadi rasul-rasul Kristus…”, “Moi anna den kuasangki untuntun kadipangkeran, belanna rasulu’Nakan Kristus…”.
Mereka tidak bertindak berdasarkan kuasa itu, kuasa sebagai Rasul dan Bapa. Mengapa? Ayat 8 memberi jawab: “Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.” KASIH SAYANG YANG BESAR” (ομειρομαι - HOMEIROMAI). Kata ini hanya dipakai di sini saja dalam PB, yang bermakna rasa kasih sayang dan kerinduan yang hangat dan sangat. Para rasul dengan RELA, sangat senang, berbagi hidup mereka, pendeknya meninggalkan dan menanggalkan atau mengorbankan status yang patut mereka banggakan dan sombongkan sebab kasih mereka terhadap orang-orang yang baru dimenangkan itu. Bandingkan dengan “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga…” (bnd. Yoh 3:16), atau seperti sikap Yesus yang mesti diteladani yang disampaikan oleh paulus: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:5-8).
Karena itu Paulus juga tidak menyombongkan diri dengan statusnya, bahkan rela menjadi seperti seorang bayi dan memakai bahasa bayi untuk berkomunikasi dengan jemaat Tesalonika yang masih baru itu. Paulus tidak mau menjadi beban. Malahan turun tangan (hand) membantu, seperti ibu yang mengasuh dan merawat anaknya. Seorang ibu mengasuh dan merawat anak-anaknya didominasi oleh kasih, dan karena itu sebuah ajakan kepada seorang Bapa mesti belajar mengidentifikasi diri dengan Ibu dalam merawat dan memelihara anak. Ayah yang terlalu mengandalkan otak atau kepala (head) sudah harus belajar menggunakan hati (heart) seperti seorang Ibu mengasuh dan merawat anak-anaknya.
Jadi di sini Paulus dan kerabat kerjanya menunjukkan suatu teladan sikap rohani yang harus dimiliki semua pelayan gerejawi ketika memberitakan Injil, terlebih khusus lagi bagi kaum bapa sebagai imam dalam keluarganya:
- Sebagai pelayan firman Tuhan, mereka mempunyai sikap ibu yang lemah lembut dan memelihara, dengan pengorbanan besar (sungguhpun ada kuasa pada kami) mereka berusaha khusus untuk mengasuh, melindungi, dan memenuhi keperluan rohani orang-orang yang baru percaya ini.
- Kelembutan menunjukkan bahwa mereka tidak bertindak sebagai orang yang sok penting (ini juga sebuah pengorbanan), penyangkalan diri.
- Para misionaris ini memiliki kerinduan dan kasih yang begitu besar bagi orang Tesalonika sehingga mereka rela membagi hidup mereka dengan jemaat itu (ayat 8).
- Mereka mengabdikan banyak waktu, bahkan sampai kelelahan, supaya dapat memberitakan Injil (ayat 9).
- Mereka hidup kudus dan tak bercacat di hadapan jemaat itu, sambil menasihati dan menguatkan hati mereka seorang demi seorang sebagai anak-anak seperti seorang Bapa (ayat 11), dengan meminta supaya anak-anak hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya (ayat 12).
Karena itu secara teologis, terkait dengan fungsinya sebagai Imam dan sebagai kepala keluarga terpanggil untuk mengelola keluarganya dengan kasih dan siap sedia mengorbankan hal-hal yang biasa dibanggakan sebagai seorang bapa demi anak-anaknya. Itu semua terkait dengan salah satu pemahaman Gereja Toraja tentang keluarga-keluarga Kristen sebagai ikon Trinitas, sebagai gambaran keluarga Allah.
Tujuan Pertemuan Raya
Berdasarkan Sub tema yang dipilih yang diinspirasi oleh Tema maka tujuan Pertemuan raya ini adalah:
- Mewujudkan Gereja Toraja sebagai PERSEKUTUAN pada lingkup PKB Gereja Toraja lingkup Sinode.
- Mewujudkan dan menyaksikan pemahaman gereja sebagai IBU dan SEKOLAH, Gereja ikon Trinitas dan Gereja sebagai Keluarga Allah.
- Mengupayakan potensi Kaum Bapa menjadi kompetensi supaya berdaya guna secara optimal bagi pembangunan Tubuh Kristus.
Strategi dan Waktu Pelaksanaan
Untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan maka acara Praya ini akan dilakukan secara berjenjang dai Klasis yang disebut PraPraya yang berpuncak pada Praya ke-2 PKB Gereja Toraja pada tanggal 25 sampai 31 Oktober 2020 di Klasis Ulusalu.
Jenis Kegiatan
Seminar atau ma’kombongan (Olah Otak) dengan kegiatan : Budaya (Ambe’ sebagau muane). Bapa dan laki-laki. Politik (politik uang). Moralitas politik. Klasis dan sinode. Desain level Klasis sebatas mana. Pemberdayaan ekonomi jemaat/keluarga. osialisasi tema dan sub tema di klasis klasis prapraya. Topik-topik khusus dipilih oleh Klasis sesuai konteks.
Catatan: momentum 2020 menjadi hal penting agar klasis-klasis melaksanakan. Jadi mulai di Klasis.
Olah Seni/GCA dengan kegiatan : PS/VG/Solo, Lomba baca sura madatu (tim sesuai peran. 4 peran?). Lomba Bapa bercerita Alkitab kepada keluarga. Lomba ma’singgi’. Singgi’, seperti singgi’ banua. Gora-gora tongkon, Lomba Satire Toraja. Pentas seni dengan khas daerah masing-masing. Stand up commedy Toraja sesuai logat masing-masing. Batingna Toraya tentang…….(Keprihatinan), misalnya situasi bangsa, Pekabaran Injil, sejarah gereja.
Olah Raga/Games terdiri dari : Takraw, Volley, Catur, Domino, Tenis meja, Lomba pindah bola pimpong. 12 orang. Celana jeans. Baju harus dalam celana. Baju kaos. Dan futsal perwilayah dengan jatah: 2 tim tiap wilayah. Wilayah 1, 2, 3 masing2 dengan 4 tim
Olah lingkungan dengan kegiatan : Penanaman pohon. Pemda siapkan bibit, sudah mesti disiapkan lokasi. Kebersihan lingkungan, olah sampah. Penataan lingkungan 9di Klasis klasis dan jemaat jemaat. Pilot project sanitasi lingkungan. Pembudayaan hidup bersih. Konservasi lingkungan. Lomba inovasi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Penanaman pohon di klasis2 agar membangun kerja sama dengan pemerintah setempat untuk penyiapan bibit. Termasuk yang akan dibawa datang. Aksi sosial sebagai kepedulian sosial, mewujudkan persekutuan kepada yang “lemah”. Dimulai sejak pembukaan sampai . PERSEKUTUAN. Jemaat2 kota membangun kemitraan dengan jemaat pedesaan untuk PERSEKUTUAN.
Paulus tidak menggunakan powernya. Kaum Bapa tidak terkontaminasi . Aku menjadi segala-galanya.
Catatan:
Tema ini disusun oleh panitia pengarah Pertemuan Raya II PKBGT. Seluruh bahan sudah digumuli di rapat kerja III PKBGT yang dilaksanakan pada tanggal 28-29 Oktober 2019 di Jemaat Pengharapan Pepabri, Palopo dan sudah disetujui oleh seluruh peserta rapat kerja.
Diposting tanggal 06 Dec 2019
